Senin, 01 Agustus 2016

Seminari Mataloko, Yang Menyejukan dan Mencerahkan.

Penulis di Depan Asrama Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko (dok.Pribadi)
Sabtu sore itu, ada rencana berkunjung ke Danau Kelimutu. Semua rencana kunjungan sudah dipersiapkan matang. Kamera, kendaraan, perbekalan. Termasuk jam berangkat dari Nagekeo. Agar tiba di Kelimutu jam enam pagi, kami berencana berangkat jam tiga pagi.
Namun, ditengah persiapan pergi malam minggu itu. Ada berita, ada hal yang lebih urgent untuk dikerjakan di Bajawa. Maka, berubahlah arah perjalanan, dari awalnya ke Kelimutu menjadi ke kota Bajawa. Tak  ada masalah, dua-duanya belum pernah saya kunjungi.
Perjalanan pagi itu, seperti perjalanan hari-hari sebelumnya, kendaraan asyik meliuk-liuk mengikuti jalanan yang tak pernah lurus, berbelok ke kiri dan kanan, mengikuti alur perbukitan sepanjang perjalanan. Di sisi jalan yang satu jurang, sementara sisi jalan yang lain tebing, tanpa pagar pengaman, kecuali tanaman perdu. Sungguh “ngeri-ngeri sedap”. Gambaran singkatnya seperti perjalanan di daerah Puncak plus jurang menganga. Dan itu, terjadi sepanjang perjalanan. Semantara di setiap keloknya Gunung Inerie terlihat selalu mengawasi perjalanan kami.
Penulis bersama Pastor dan Suster (dok.Pribadi)

Tiba di daerah berhawa sejuk, yang bernama Mataloko, setengah jam menjelang masuk kota Bajawa,  saya dikejutkan dengan hadirnya sekolah seminari menengah “Santo Yohanes Berkhmans”. Kendaraan saya hentikan, perjalanan ke Bajawa sementara di tunda. Kesempatan langka ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Inilah, catatan yang saya peroleh dari Seminari “Santo Yohanes Berkhmans” untuk pembaca sekalian.
Minggu pagi itu, jam baru baru saja menunjukkan pukul 10.30. suasa seminari Santo Yohanes Berkhmans atau yang akrab dipanggil masyarakat dengan Seminari Mataloko terlihat sepi dari luar seperti hari-hari biasanya. Saya yang sedang mengabadikannya bentuk fisik sekolah, lalu menuju Gerbang utama, dengan tujuan sama, mengabadikannya.
Tiba-tiba saya dikejutkan dengan keluarnya serombongan suster-suster di dampingi seorang Pastor. Pucuk dicinta ulam tiba. ada kesempatan untuk berfoto bersama dengan suster dan Pastor, sekaligus ada tempat untuk bertanya tentang  hal-ikhwal seminari Mataloko dari sumber yang dapat dipercaya.
Plank Nama Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko (dok.Pribadi)
Bangunan kokoh Seminari yang menggambarkan sentuhan Belanda itu, ternyata menjawab pertanyaan saya. Ternyata, Seminari Mataloko didirikan pada tanggal 15 September 1929, dengan visi melahirkan siswa yang unggul dalam hal pengetahuan (scientia), kekudusan (santitas), kesehatan (sanitas), kebajikan (sapientia) dan kehidupan social (socialitas).
Berbeda dengan sekolah seminari yang saya kenal selama ini, pada Seminari Mataloko ternyata siswanya bukan hanya mereka yang setara SMA saja, melainkan ada juga yang setara dengan SMP.
Ide awalnya, sekolah seminari ini, berawal dari niat luhur Mgr A.Verstraelen, SVD.  Lalu ide awal itu, mulai diwujudkan oleh  Pater Fransiskus Cornelissen, SVD dengan membangun seminari kecil di Maumere, kabupaten sikka pada tahun 1926. Lalu dengan pertimbangan untuk lebih memajukan dan mengembangkan pendidikan, sekolah itupun dipindahkan ke Mataloko kabupaten Ngada yang berjarak 264 km dari Maumere  pada tahun 1929.
Pastor dan Suster di depan Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko (dok.Pribadi)
Dengan peristiwa perpindahan lokasi ini, maka tanggal 15 September 1929 dinyatakan sebagai titik awal Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko berkarya. Dengan begitu, hingga kini, sudah 87 tahun sudah, kiprah Seminari St Yohanes di bumi Flores.
Ribuan alumnus telah dilahirkan, tak terbilang Pastur sudah dihasilkan, dan enam belas Uskup telah yang telah dilahirkannya. Agaknya, hal demikian, akan tetap berlangsung selama seminari ini tetap eksis dalam pendidikannya.
Mengapa saya menuliskan Seminari Menengah “Santo Yohanes Berkhmans”? agar pembaca semua tahu, bahwa inilah seminari kedua tertua di Indonesia setelah Seminari Mertoyudan di Jawa Tengah. Jadi, seminari ini, adalah asset bangsa yang turut mewarnai perjalanan Bangsa Indonesia.  
Bagian lain bangunan sekolah yang memprihatinkan (dok.Pribadi)
Tak  ada gading yang tak retak…. beberapa bagian bangunan gedung Seminari Menengah “Santo Yohanes Berkhmans” Nampak kusam, bahkan pada sisi kanan gedung terlihat kaca ruang belajar ada pecah dan belum diganti. Saya tak tahu persis masalahnya. Namun, jika masalahnya hanya pada soal dana, pemerintah perlu turun tangan untuk menyelamatkan asset bangsa ini, agar tetap terjaga keberadaannya. Bukan hanya pada semangatnya yang harus tetap prima melainkan juga pada fisik bangunannya yang harus tetap terjaga…. Semoga!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar