Jumat, 05 Agustus 2016

Kota Bajawa. Kota Dingin Nan Damai, di FLORES, NTT

Gereja dan Mesjid saling berhadapan di Bajawa (dok.Pribadi)
Jika saja saya tak mengunjungi kota Bajawa, tentu saja anggapan bahwa Flores daerah yang panas dan gersang, akan saya sepakati. Namun anggapan demikian, seakan sirna ketika minggu diakhir Juli 2016 saya mengunjungim Bajawa.
Awalnya, sejak dari Mbay, ibu kota kabupaten Nagekeo, yang merupakan Kabupaten pecahan dari Kabupaten Ngada, yang Ibu Kotanya Bajawa, udara terasa demikian panas dan kering, hingga saya tiba di Mataloko.  Udaranya menjadi sejuk, hingga tidak salah jika di Mataloko ada sekolah Seminari, sekolah yang dipercaya sebagai sekolah Seminari kedua di tanah air setelah sekolah sekolah Seminari Mertoyudan, Yogyakarta sebagai sekolah Seminari pertama di Indonesia.
Gapura Selamat Datang di Bajawa (dok.Pribadi)
Adik yang duduk di sebelah saya mengatakan bahwa, Bajawa adalah sebuah kota yang berhawa sejuk. Sama seperti Bandung di Jawa Barat, Bajawa di kelilingi Bukit dan di lereng Gunung Inerie, sehingga berbentuk kota bak sebuah kuali dan sang kota berada di dasar kuali. Udara yang dimiliki Bajawa, juga sesejuk kota Bandung, demikian adik saya memberi info tentang Bajawa pada saya, siang itu.
Tak memerlukan waktu lama, sekitar sepuluh menit melewati Mataloko, sang adik meminta saya melongok ke  arah kanan jalan, dan benar. Di Bawah sana, terletak sebuah kota, kota Bajawa. Tidak membuang waktu, saya segera meng”abadi”kan view Bajawa yang sedang terbentang dihadapan saya, saat itu.
Kota Bajawa dari atas (dok.Pribadi)
Memasuki kendaraan, sang adik melanjutkan, bahwa di tengan kota Bajawa, Mesjid Agung tepat berhadap-hadapan dengan Gereja Protestan. Mereka Nampak akur, demikian celoteh sang adik. Hahaha… karena dinginnya udara, makanya mereka tak ingin berjauhan, jawab saya pula, menimpali celoteh sang adik. Kami semua tertawa.
Benar, ternyata lima menit kemudian, saya menyaksikan sendiri Mesjid dan Gereja salin berhadap-hadapan, hanya dipasahkan jalan yang lebarnya kurang dari enam meter. Sebuah pemandangan yang langka, mengisyaratkan sebuah pesan bisu, bagaimana rukunnya antar umat beragama di kota Bajawa.
Nama Bajawa, menurut sejarahnya berasal dari kata Bhajawa, salah satu dari nama Kampung terbesar dari tujuh kampung yang berada di sisi barat kota Bajawa. Tujuh kampung yang disebut “Nua Limazua” tersebut adalah Bhajawa,Bongiso, Bokua, Boseka, Pigasina, Boripo dan Wakomenge.
Kantor Bupati Ngada di Bajawa (dok.Pribadi)
Sedangkan sebagai ibu kota Daerah tingkat dua Ngada, didasarkan pada Undang-undang nomer 69 Tahun 1958, tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat II Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, tanggal 12 Juli 1958. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 1958.
Seorang adik lain, putra NTT yang bersama saya siang itu, menyatakan bahwa sejak dia tahu, kota Bajawa tidak mengalami kemajuan yang berarti. Itu artinya, sejak empat puluh tahun terakhir, Bajawa mengalami stagnan dalam perkembangannya. Meski pendapat demikian tidak seluruhnya benar. Sepenglihatan saya, di sebelah Utara Pusat kota, sedang dibangun Kantor DPRD yang cukup refresentatif, Posisi Kantor DPRD itu, tepat di seberang kantor Bupati Ngada Jl.Soekarno-Hatta no.1. Di sebelah kantor DPRD, juga ada kantor Pos yang cukup baik kondisinya.
Gereja Khatolik Mater Boni Concilii di Bajawa (dok.Pribadi)
Di selatan pusat kota, berada lokasi kota yang dibangun Belanda. Di sana ada, alun-alun dengan view yang sungguh cantik. Pada Sisi barat alun-alun, ada gereja khatolik Mater Boni Concilii,  sedang sisi selatan ada Kapolres, yang dulu dilokasi yang sama pernah berdiri bangunan pemerintahan colonial belanda.
Sebagai kota yang berhawa sejuk, Bajawa juga sebagai tempat istirahat mereka yang ingin berlibur, sekaligus juga tempat transit dan bermalam mereka yang mengunjungi obyek wisata yang berada di kabupaten Ngada, NTT. Seperti kampung Bena dan Riung.
Alun-alun kota Bajawa (dok.Pribadi)
Siang itu, kebetelan hari minggu, saya berkesempatan melihat kaum ibu yang pulang dari Misa di gereja khatolik Mater Boni Concilii. Banyak diantara ibu-ibu, masih menggunakan kain tenun khas Ngada, Flores. Bentuknya seperti kaun sarung dengan corak tenun khas Ngada. Perpaduan antara gaya modern dengan busana yang masih kental dengan tradisi local Ngada, Flores.
Penulis dengan latar Belakang Gunung Inerie yang mengayomi Bajawa (dok.Pribadi)
Rasanya, tidak lengkap mengunjungi Flores, jika tidak mengunjungi Bajawa. Kota Afdeling yang dulu, digunakan belanda sebagai pusat Administrasi kebun sekaligus kota peristirahatan yang berhawa sejuk.
Kaum Ibu Pulang Dari Gereja dengan Kain Tenun Ngada (dok.Pribadi)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar