Selasa, 02 Agustus 2016

Kampung “Megalitikum” Bena, Flores. Nan Eksotis

Kampung Bena, dilihat dari Utara ke Selatan (dok.Pribadi)
Selesai dengan kegiatan di Seminari Mataloko, perjalanan diteruskan ke Bajawa. Tidak memerlukan banyak waktu, akhirnya urusan di Bajawa selesai.
Waktu baru menunjukkan pukul satu siang. Lalu kemana selanjutnya? pilihan akhirnya jatuh, pada kampung Bena. Sebuah perkampungan Megalitikum yang terletak sekitar 19 km selatan Bajawa. Tepatnya berada di desa Tiwuiwu, kecamatan Aimere, kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Ada dua pilihan jalan, satu jalan yang tidak begitu berliku, namun ruas jalannya sangat sempit, sehingga jika berpapasan dengan mobil yang lain, akan membuat jantung berdegub kencang, tersebab di kiri-kanan jalan, jurang terjal yang landasannya tidak terlihat. Sementara pilihan kedua, agak jauh dengan jalan berliku dan tikungan tajam, dengan kontur naik turun, tetapi ruas jalannya cukup lebar. Ketika kami, tanyakan pada beberapa pemuda yang bertemu di pinggir jalan, mereka menyebut jalan berliku naik turun itu sebagai “jalan Gajah”.
Untaian kepala Kerbau beserta tanduknya yang digantung (dok.Pribadi)
Kami memutuskan untuk memilih “jalan Gajah”. Dengan segala konsekwensinya. Maka dimulailah jalan menurun yang tiada henti, sementara tikungannya patah-patah menghadang di depan. Di seberang jurang terlihat punggung Gunung Inerie begitu eksotik.  Sebanding antara keindahan yang tersaji dengan resiko yang kami hadapi.
Kondisi jalan menuju kampung Bena, perlu diberikan acungan jempol pada Pemda Ngada, jalan yang menurun dan menanjak tajam dengan belokan yang patah-patah itu, kondisinya sangat mulus. 
Setengah jam kemudian, tibalah kami di kampung Bena. Waktu seakan berhenti di kampung Bena, kami seakan keluar dari ujung time tunel lalu berakhir ke zaman Megalitikum. Sebuah perkampungan kuno yang masih dihuni masyarakat dengan bahasa yang kami mengerti. Hanya bedanya, bentuk rumah dan adat istiadatnya masih berada pada zaman Megalitikum.
Rangkaian batu pekuburan yang dinamakan megalitikum (dok.Pribadi)
Bentuk kampung Bena berbentuk perahu dengan ujung yang satu lebih tinggi dari ujung yang lain, ujung yang rendah berada di sisi utara dan ujung yang tinggi berada pada sisi selatan. Pintu masuk ke kampung Bena hanya melalui sisi pintu di sebelah utara. Antara sisi utara dan selatan itulah berderet rumah-rumah yang saling berhadapan. Itulah kampung Bena dengan jumlah 40 rumah.  Sisi kosong antara deretan rumah yang berhadapan itu, di jadikan halaman mereka, pada halaman itu berderet kuburan anggota masyarakat Bena.
Kuburan-kuburan yang masih tetap dipelihara dan dirawat, jelas terlihat sisa pembakaran lilin, sebagai bukti mereka mengadakan kebaktian di sana. Diantara beberapa kuburan, ada batu-batu berlempeng tipis dan panjang serta tajam yang terhunjam ke dalam tanah dan menjulang keatas, membentuk semacam kurungan. Dipercaya, diantara kurungan batu itulah letak mayat dikuburkan. Beberapa diantaranya juga,  ada yang pada ujung batu sisi atas diletakkan lempengan batu, sehingga membentuk semacam meja.
Rangkaian batu pekuburan itulah yang dinamakan megalitikum. Zaman batu besar.
Warga Kampung Bena sedang makan sirih dan menyapa tamu dengan ramah  (dok.Pribadi)
Pada halaman itu juga, terdapat beberapa bangunan kecil yang bentuknya dua macam. Mereka menyebutnya dengan Bhaga dan Ngadhu. Bangunan Bhaga berbentuk pondok kecil tanpa penghuni yang merupakan miniatur dari rumah orang Bena, juga merupakan symbol nenek moyang perempuan. sementara Ngadhu, bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk. Merupakan symbol nenek moyang laki-laki. Tiang tunggal pada bangunan Ngadhu, terbuat dari kayu keras, karena pada tiang-tiang Ngadhu inilah hewan-hewan kurban digantungkan pada saat pesta adat.
Seorang pengunjung, yang berasal dari Mbay menceritakan pada saya, bahwa orang Bena menganut system kekerabatan mathrialchat. Garis keturunan dari Ibu.
Ketika memasuki kampung Bena, saya diminta untuk mengisi buku tamu. Tak ada tarif resmi yang harus dibayarkan. Hanya saja, penerima tamu yang menunggu buku tamu, meminta saya untuk memberikan sumbangan suka rela ke dalam kotak yang tersedia.
Kampung Bena dilihat dari Selatan ke Utara  (dok.Pribadi)
Lalu perjalanan di lanjutkan ke selatan, melalui rumah-rumah penduduk. Mereka biasanya duduk di beranda rumah sambil mengunyah sirih, beberapa ibu-ibu, mempersilahkan saya mencoba sirih mereka, sementara di rumah yang lain, seorang bapak menawarkan pada saya sebuah golok milik suku Bena. Penduduk yang sangat ramah dan bersahabat.
Hampir pada setiap rumah yang saya datangi, ada rangkaian untaian kepala Kerbau beserta tanduknya yang digantung, juga pajangan rahang dan taring Babi. Sebagai lambang status social, jumlah hewan yang dikorbankan saat upacara adat.
Makin ke selatan kita harus melewati undakan-undakan batu, hingga diujung paling selatan kampung Bena, akan tibai pada ujung tertinggi dan di bawahnya jurang yang cukup terjal. Melihat kondisi demikan. Saya membayangkan, kampung Bena, adalah bak sebuah perahu besar yang terdampar di punggung Gunung Inerie.
Bangunan Bhaga dan Ngadhu di halaman Kampung Bena (dok.Pribadi)
Sesaat sebelum tiba di ujung selatan, ada sebuah Gua Maria. Sebagai isyarat bahwa seluruh penduduk kampung Bena, seluruhnya beragama khatolik. Namun, tetap dengan menjalankan kepercayaan leluhur, termasuk menjalankan adat istadat dan tradisi nenek moyang.
Sore itu, ketika saya hendak meninggalkan kampung Bena, saya berjumpa dengan  sekelompok rohaniawan yang baru tiba, saya memperkirakan akan ada semacam missa yang akan berlangsung di kampung Bena.
Setibanya di kota Bajawa, kami melepas lelah sejenak, minum kopi di salah satu kedai kopi,  sambil menghirup udara sejuk Bajawa yang terkenal itu. (kota Bajawa sesejuk udara Puncak). Selesai semuanya kami melanjutkan perjalanan kembali ke Mbay, sesaat sebelum melewati alun-alun yang diseberangnya ada gereja, saya melihat rohaniawan yang tadi bertemu di Kampung Bena, memasuki halaman Gereja Khatolik Mater Bonic Consili Bajawa.
Sebuah harmoniisasi, antara adat istiadat dan tradisi nenek moyang dapat berjalan harmonis dengan agama telah terjadi. Paling tidak, saya telah melihatnya sore itu di Kampung Bena.
Pajangan Rahang dan Taring Babi sebagai status social (dok.Pribadi)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar