Sabtu, 25 Juni 2016

Stasiun Cilegon, Sebagai Cagar Budaya Nasional

Penulis di Depan Stasiun Cilegon. (dok. Pribadi)
Malam itu, 24 Juni 2006, Setelah selesai taraweh dan makan malam, teman saya Isson Khaerul berpesan, kalau besok pagi, tolong diantarkan ke Stasiun Cilegon. Beliau ingin pulang ke Jakarta setelah kunjungannya, selama dua hari di Cilegon. Spontan saya bertanya, mengapa tidak dengan Bus saja. Setiap saat Bus jurusan Merak – Jakarta yang melewati Cilegon tersedia. Prosesnya, tentu lebih sederhana.
Sahabat saya menjawab, ada nuansa Kereta Api yang tidak ditemui pada Bus Antar Kota. Sebagai penggemar Kereta Api, saya sependapat dengan sahabat saya itu, meski saya tidak bertanya, apa persisnya nuansa yang berbeda itu. Tentunya, untuk setiap orang, nuansa yang dimaksudkan akan berbeda.
Bagi saya, nuansa berbeda dalam berKereta Api antara lain, lokasi stasiun selalu dalam kota, view dalam perjalanan eksotis untuk dilihat, seperti sesaat setelah menikung tajam, lalu Kereta Api memasuki jembatan, sebagian rangkaian gerbong sudah berada diatas jembatan sementara sebagian lain belum masuk. Jika dilihat dari gerbong tiga atau dua gerbong terakhir, perpaduan gerbong Kereta Api yang menikung, Jembatan besi pada rangkaian Kereta Api dan beda elevasi antara rel Kereta Api dan sungai, menghasilkan kombinasi sebuah view yang sungguh eksotis. View lain ketika melewati areal persawahan yang hijau, sementara dilator belakang ada pegunungan hijau yang menjaganya. Untuk Kereta Api tempo dulu yang kini tak pernah lagi hadir, adalah adanya pedagang asongan yang mengasongan jajanan khas rakyat, seperti tempe bacem, tahu bacem, sayur pecel, teh manis dan berbagai jajanan pasar khas panganan lokal dimana stasiun berada. Sayang, hal terakhir ini, tak pernah lagi dijumpai.


View depan Stasiun Cilegon, pagi itu (dok.Pribadi)
Kembali ke Stasiun Cilegon. Pagi itu, jam 6 Pagi saya sudah ,meluncur pada titik yang telah kita sepakati, Stasiun Cilegon.
Letak Stasiun Cilegon, berada di belakang Mesjid Agung Cilegon, sangat dekat, kurang lebih hanya sekitar 150 meter. Tepatnya di jalan Stasiun. Pada posisi +14 m dpl –dari permukaan laut-, masuk dalam kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang. Kota Cilegon. Stasiun yang telah berumur 130 tahun ini (mulai beroperasi pada 13 Maret 1887), tak banyak mengalami perubahan, paling tidak sejak tahun delapan puluhan lalu. Mengingat usia stasiun yang sudah tua dan bentuknya yang masih sama seperti ketika dibangun, maka Stasiun termasuk dalam bangunan cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-undang kepurbakalaan.
Pagi itu, saya bersama dengan teman yang akan ke Jakarta, tiba pukul 6.15 menit, sang teman langsung memesan tiket seharga Rp.7.000,- untuk tujuan Jakarta. Sesaat setelah lewat dari loket pembelian tiket, teman saya mengacungkan jempol. Setengah berteriak dia mengatakan bahwa Kereta Api akan tiba pukul 6.30. Itu artinya akan  ada waktu untuk mengabadikan beberapa view dari Stasiun Cilegon. Mengetahui alasannya, mengacungkan jempol itu, saya hanya tersenyum. Pemikiran yang khas blogger atau Jurnalis. Taka da cerita tanpa dokumentasi. Cerita tanpa dokumentasi berarti hoax. Bohong.
Calon penumpang di Emplasemen menunggu KA (dok.Pribadi)

Stasiun Cilegon terdiri dari dua pembagian ruangan, ruangan pertama berupa ruang control perjalanan KA dan ruang Kepala Stasiun. Ruang kedua terdiri dari ruang loket penjualan tiket KA dan ruang Administrasi serta ruang tunggu penumpang.
Sementara disisi luar pada emplasment KA ada berjejer kursi sebagai ruang tambahan bagi calon penumpang yang menunggu KA.
Untuk penumpang KA Krakatau Express dapat naik dan turun di Stasiun Cilegon.
Berikut rincian jadwal keberangkatan KA Krakatau Ekspres terbaru sesuai dengan data Gapeka 2015,
KA Krakatau Ekspres 165 (Kediri – Merak)
KA Krakatau Ekspres 166 (Merak – Kediri)
Stasiun
Tiba
Berangkat
Stasiun
Tiba
Berangkat

Kediri

-

07.45

Merak

-

09.15

Kertosono

08.21

08.24
Cilegon
09.31
09.33

Caruban

09.11

09.13

Serang

09.57

10.00

Madiun

09.27

10.00

Rangkasbitung

10.39

10.45

Barat

10.11

10.13

Tigaraksa

11.10

11.12

Paron

10.27

10.31

Parung Panjang

11.32

11.34

Walikukun

10.47

10.53

Tanah Abang

12.13

12.26

Purwosari

11.37

11.42

Pasar Senen

12.50

13.00

Klaten

12.04

12.06

Cikampek

14.09

14.11

Lempuyangan

12.28

12.43

Haurgeulis

14.51

14.53

Wates

13.13

13.16

Jatibarang

15.25

15.27

Kutoarjo

13.43

13.54


15.57

16.30

Kutowinangun

14.20

14.26

Purwokerto

18.28

18.36

Kebumen

14.35

14.39

Gombong

19.31

19.38

Gombong

15.17

15.22

Karanganyar

19.47

19.55

Purwokerto

16.13

16.25

Kutowinangun

20.15

20.31

Cirebon

18.23

18.49

Kutoarjo

20.48

20.54

Jatibarang

19.19

19.21

Wates

21.20

21.23

Haurgeulis

19.53

19.55

Lempuyangan

21.51

22.06

Cikampek

20.34

20.36

Klaten

22.28

22.30


21.23

21.25

Purwosari

22.52

22.57

Jatinegara

21.42

21.44

Walikukun

23.52

00.02

Pasar Senen

21.53

22.00

Paron

00.18

00.20

Tanah Abang

22.24

22.30

Madiun

00.43

00.50

Parung Panjang

23.10

23.12

Caruban

01.06

01.08

Tigaraksa

23.32

23.34

Kertosono

01.55

01.58

Rangkasbitung

23.59

00.45

Kediri

02.35

-

Serang

01.23

01.25
Cilegon
01.49
01.51

Merak

02.07

-
Ruang tunggu calon penumpang (dok.Pribadi)

Kereta api Krakatau Ekspres pertama kali diresmikan pada 24 Juli 2013 di Stasiun Merak, di masa jelang musim mudik lebaran 2013. KA Krakatau Ekspres merupakan KA kelas ekonomi ke-5 di Indonesia yang mendapat fasilitas pendingin udara (AC) setelah KA Menoreh.
KA Krakatau Ekspres juga menjadi satu-satunya kereta api di Pulau Jawa yang melewati semua provinsi di pulau Jawa, mulai dari provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, hingga ke Jawa Timur.
Seorang temen yang melihat tulisan ini, sebelum saya posting, setengah bergumam bertanya, kapan ya nasib stasiun Menes di Pandeglang dan Stasiun Malingping di Lebak akan memiliki nasib yang sama dengan Stasiun Cilegon. Artinya, kedua stasiun yang telah almarhum itu, dihidupkan kembali oleh Pemerintah.

Saya tak menjawab pertanyaan teman saya itu, semoga pemerintah membaca postingan ini, dan segera mewujudkan apa yang menjadi impian sahabat saya itu. InsyaAllah!!!.

2 komentar:

  1. Terima kasih pak Iskandar. Jadi rindu naik kereta api.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu dicoba ulang pak Rifki..
      suasana KA sekarang, sudah sangat nyaman pak..

      Hapus