Kamis, 02 Juni 2016

“Munggahan” Jelang Ramadhan

Dalam sebuah acara Munggahan beberapa tahun silam (dok.Pribadi)
Indonesia memang kaya, bukan hanya keindahan alamnya, juga kekayaan alam yang terkandung di dalam perut buminya. Serta kaya Budaya.
Islam yang berkembang di Indonesia, dengan mendapat sentuhan budaya lokal Indonesia. Telah menjadi begitu kaya, penuh pernak-pernik. Hari raya iedul fitri yang di daerah asalnya hanya dilakukan dengan semprotan minyak wangi dan makan minum ala kadarnya. Di Indonesia menjadi sesuatu yang “Wah”.
Ada budaya mudik lebaran yang menyita perhatian seluruh masyarakat Indonesia, segala pernik yang mengiringinya begitu berwarna. Ada kemacetan yang mengular dimana-mana, ada perburuan tiket Kereta Api, yang bahkan sebelum Ramadhan tiba, telah habis terjual. Ada tiket Pesawat yang habis menjelang hari H, ada operasi ketupat selama dua minggu pada hari-hari lebaran, acara sungkeman, lebaran ketupat hingga hingar-bingarnya acara halal bi halal. Semua kegiatan yang di Arab sendiri tidak pernah ada.

Demikian juga dengan kondisi menjelang masuknya Ramadhan . Segala seminar diadakan, pengajian nisfu sya’ban dan segala ritualnya dilakukan. Pengajian dengan tema membedah Ramadhan intensif diadakan, bedah buku yang membahas Ramadhan, hingga kiat sehat selama Ramadhan dan manfaat Ramadhan untuk kesehatan.
Juga dengan segala “kegaduhan” yang mengiringinya, seperti; Sebulan sebelumnya tiket KA untuk mudik dan arus balik telah habis terjual. Ucapan permohonan saling maaf-memaafkan yang inten mulai ramai di media sosial. Hingga serbuan iklan di media elektronik, tentang panganan khas Ramadhan dan busana untuk peribadatan selama Ramadhan dan busana ketika lebaran. Semuanya, khas Indonesia.
Intinya, segala persiapan menyambut Ramadhan intensif dilakukan. Ramadhan dipercaya dapat mensucikan umat dari perbuatan dosa, mensucikan dosa umat dengan ampunan dari  Allah SWT yang menjalankan Ibadah puasa dengan benar selama Ramadhan. Dengan pengertian itu, maka perlu dilakukan usaha-usaha yang intens agar ibadah ramadhan dapat berjalan sukses.
Salah satunya ada yang disebut dengan Munggahan.
Munggahan adalah sebuah budaya lokal. Khas masyarakat Jawa-Barat dan Banten. Ritual munggahan yang dilakukan, bukan dalam pengertian berbentuk ibadah vertical pada sang khaliq, melainkan lebih pada sebuah persiapan pshykis guna memantapkan jiwa dalam menghadapi bulan Ramadhan. Bentuknya, bisa dengan mandi di sungai, mandi di laut, makan-makan di tengah sawah, makan-makan di tepi laut atau gunung.  Ada juga yang melakukan ziarah ke makam wali, makam orang tua, makam ulama penyebar Islam.  
Di luar masyarakat Jawa-Barat dan Banten, tradisi munggahan inipun sudah lama di kenal, meski dengan nama yang berbeda. Seperti Padusan di Jawa Tengah, Balimau untuk masyarakat Minang di Sumatera Barat, serta Balimau kasang di Masyarakat Kampar. Riau.

Sebuah koreksi.
Munggahan yang memiliki arti filosofis munggah atau naik, merupakan budaya yang sangat baik. Ada persiapan mental yang dilakukan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dengan cara, mensucikan jasad kasar atau tubuh terlebih dahulu, paling tidak. Dengan cara mandi di sungai atau laut.
Namun, pada pelaksanaannya, terdapat ketidak-cocokan antara tujuan yang hendak dicapai dengan cara mencapai tujuan yang dimaksud. Seperti mandi bersama antara wanita dan pria. Hingga, kemungkinan besar, ada aurat yang terlihat, yang mestinya tertutup rapat, ada bagian yang mungkin saja tersentuh, yang mestinya tidak boleh tersentuh kecuali muhrimnya.
Budaya yang awalnya dimaksudkan untuk menjunjung datangnya nilai-nilai kesucian, justru ternoda oleh praktek-praktek yang kurang elok dan tidak Islami. Tidakkah membersihkan lantai harus dilakukan dengan sapu yang bersih pula? Mengharapkan perolehan kesucian hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang suci pula.
Semua hal diatas, bisa terjadi. Salah satu sebabnya, ketidak tahuan dari mereka yang melakukannya. Oleh sebab itu, menjadi tugas kita semua, untuk memberitahu pada mereka yang tidak mengetahui dan menyadari apa yang dilakukannya. Sebuah koreksi pada praktek budaya.
Islam tidak anti pada budaya lokal, yang menjadi masalah, bagaimana kita menerapkan dan melestarikan budaya itu, sesuai dengan nilai-nilai Islami…. InsyaAllah.


2 komentar: