Kamis, 23 Juni 2016

Menjemput Harimau Lain

View sesaat sebelum tiba di Merak (dok. Pribadi)
Sore itu, sahabat Thamrin Sonata memastikan bahwa pertemuan besok bersama dengan kompasianer  –istilah untuk blogger yang acap menulis di blog keroyokan kompasiana-  lain, pasti. Tempatnya Pelabuhan Merak. Jamnya, pukul sepuluh pagi.
Jadilah, setelah sahur dan subuh ditunaikan, saya berangkat menuju titik pertemuan yang telah disepakati bersama. Saya hanya berharap, bahwa saya akan tiba pada titik yang telah disepakati –Pelabuhan Merak-  tidak didahului oleh sahabat-sahabat yang lain. Maklum saja, perjalanan dari rumah menuju lokasi titik pertemuan yang disepakati membutuhkan  waktu sekitar 5 Jam.
Perjalanan secara umum lancar jaya, tak banyak menemui halangan, sehingga tak banyak yang perlu dicatat, kalau bisa sedikit disebut kendala, maka, kendala itu, bernama kantuk. Jadilah sebelum masuk ke downtown Serang, saya menepikan mobil. Sebentar melepaskan kantuk, mencoba memejamkan mata sejenak, mengejar rasa segar, setelah beberapa saat memejamkan mata, melenakan rasa. Hanya butuh 32 menit, semuanya terpenuhi. Tubuh menjadi segar bugar, siap untuk akivitas selanjutnya.
Tiba di Serang, masuk Telpon dari Isson Haerul, kalo posisi rombongan teman-teman yang datang dari Jakarta, posisinya baru tiba di Stasiun Maja. Itu artinya, perjalanan masih jauh untuk sampai di Pelabuhan Merak, taksiran saya sekitar 2,5 jam lagi. Padahal, dari posisi saya sekarang untuk sampai Merak kurang sari satu jam lagi.
Temen-teman ngebolang tiba di Merak (dok. Pribadi)
Sesaat menjelang Merak, ada view yang bagus, jadilah saya menepi. Tak ingin melewati view yang terpampang indah di depan mata, begitu saja. Harapannya, dapat dibagikan pada semua.
Saat tiba di Merak, kegiatan pemudik yang ingin menyeberang ke Sumatera, sudah mulai terlihat geliatnya, Pelabuhan yang hari-hari biasa lengang dari mereka yang parkir, siang itu hampir tak tersedia tempat. Setelah membutuhkan usaha ekstra, saya dapat mendapatkan posisi yang saya cari. Beberapa tenda, untuk memberikan pelayanan yang nyaman bagi pemudik telah didirikan. Suasanya sudah demikian meriah, sebuah hajat besar yang tiap tahun dilakukan, Mudik Lebaran, barun saja dimulai.
Tak perlu tergesa-gesa, sahabat-sahabat yang lain baru sampai stasiun Tenjo, masih perlu waktu satu jam untuk Pelabuhan Merak. Menanti temen-temen yang akan datang, saya habiskan waktu dengan memperhatikan perilaku mereka yang sedang mudik.  
Benar, sejam kemudian, Bang Isson menghubungi, bahwa mereka telah masuk stasiun Merak. Masalahnya, bagaimana cara keluar dari Stasiun Merak, demikian kata Bang Isson, agaknya Stasiun Merak direncanakan untuk mereka yang meneruskan perjalanan ke Sumatera, begitu kesimpulan Bang Isson.  Saya katakan, bahwa coba lewat atas saja, perlu konfirmasi dengan security Pelabuhan. Singkat kata, setelah melewati sedikit kendala, bertemulah saya dengan Kompasianer yang baru tiba. Semuanya ada tujuh harimau, demikian Pak Thamrin Sonata mengkomentari, kompasianer yang berkumpul siang itu.
Iskandar Zulkarnain, Thamrin Sonata dan Walikota Cilegon Dr. TB. Iman Hariyadi (dok. Pribadi)
Anggota tujuh harimau itu, Thamrin Sonata, Isson Khaerul, Maria Margaretha, Mbak Tamita, Mbak Muthiah, Mbak Arum dan Iskandar Zulkarnain.
Hahaha… ternyata, ide bertemu di Merak ternyata hanya tak-tik, agar temen-temen tahu lengkapnya perjalanan KA ke ujung barat Pulau Jawa. Merak.
Selesai melepaskan penat perjalanan, serta selfi heboh ala kompasianer, perjalanan di arahkan ke Kota Cilegon.
Bang Isson dan Pak TS mengusulkan untuk sowan ke rumah kang Nasir, kompasianer asal Cilegon. Ke rumah beliaulah perjalanan ini diarahkan.  Biasa…, ketemu kang Nasir, itu artinya suasana akan heboh, hahahaha—hihihihi, sepanjang perbincangan, hingga pembicaraan serius sekalipun.
Hasil pembicaraan dengan kang Nasir, pertemuan dengan wali kota, tak perlu menunggu sore, tapi siang itu juga harus ketemu. Soal mengurus penginapan dan lain-lain, bisa dilakukan setelah pertemuan dengan walikota. Hasilnya, siang itu juga, kompasianer –tujuh Harimau-  diterima Wali Kota Cilegon Dr. TB. Iman Hariyadi.
Dari kiri ke kanan, Mbak Arum Thamrin Sonata, Mbak Muthiah, Iskandar Zulkarnain, Walikota Cilegon Dr. TB. Iman Hariyadi, Isson Khaerul, Mbak Tamita,  Maria Margaretha, (dok. Pribadi)
Dalam prolog pada pertemuan dengan Walikota Cilegon Dr. TB. Iman Hariyadi, Kang Nasir, nyeletuk, berhubung Ramadhan, pak Wali tak dapat menyuguhkan apa-apa… hehehe. Dengan Spontan pak Wali, nyeletuk, nanti sore, semua kompasianer akan di jamu di rumah kediaman resmi walikota. Sebuah Joke cerdas dari walikota. Karena sesungguhnya, sore nanti, di kediaman Resmi walikota, ada acara Peringatan Nuzulul Qur’an 1437 H dan Buka Bersama Walikota Cilegon.
Kesepakatan dengan walikota siang itu, Kami, kompasianer, akan diikut sertakan selama dua hari ke depan dalam acara Tarling -Taraweh Keliling- Aparat Pemda Cilegon ke berbagai Mesjid yang ada di Cilegon.

Pasca pertemuan dengan Walikota, sorenya, sesuai janji, Tujuh kompasianer tamu plus kang Nasir, kompasianer tuan rumah, mengikuti acara Peringatan Nuzulul Qur’an 1437 H dan Buka Bersama Walikota Cilegon.

2 komentar:

  1. Aiih, catatan perjalanan yang menyenangkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjemput Kompasianer dari Jakarta Mas Ryan..
      kapan-kapan mas Ryan ikutan..

      Hapus