Sabtu, 18 Juni 2016

Ini Yang Terjadi, Ketika Marwan Ja’far Lengser




Seorang teman di Bekasi Selatan, memiliki kehidupan yang makmur, segalanya dia punya. Untuk ukuran masyarakat sekelilingnya, “sobat” saya itu, termasuk kategori “sangat berada”. Apakah kerja atau bisnisnya?
Beliau berprofesi sebagai calo Menteri. Untuk setiap perusahaan atau bidang usaha baru,  ketika akan melakukan launching produk barunya atau peresmian pabrik barunya,  dapat menghubungi beliau. Kapan waktu peresmian, menteri siapa yang akan meresmikan, semua bias diatur. Ada harga yang berbeda untuk itu. Menteri A akan berbeda harganya dengan mentri B, bulan dan tanggal tertentu, akan berbeda harga dengan tanggal dan bulan yang lain pula.
Semua kejayaannya terjadi ketika orde baru, setelah orde reformasi, saya sempat ketemu dengan beliau dan beliau, pada pertemuan itu, sempat curhat pada saya, bahwa dunia sudah berubah. Sekarang benar-benar “repotnasi”. Begitu beliau katakana pada saya, mem-peleset-kan kata reformasi dengan repot nasi.  Pertemuan curhatan itu, terjadi pada tahun 2000.
Pada zaman BJ Habibi, siapa yang dapat menyangkal sukses beliau sebagai Presiden? Dunia politik yang sedang kacau balau, carut marut dan dipenuhi euphoria reformasi. Habibie mampu menstabilkan dolar pada angka 8.600’an. Tapi, begitulah politik, hanya karena “citra” bahwa Habibie merupakan bagian dari orde sebelumnya, pertanggung jawaban beliau ditolak.

Pada zaman SBY, ada kosa kata yang jadi akrab dengan telinga bangsa ini, “masuk barang tu”. dan kata “peniiing” serta kata “tantee”. Yang jadi pertanyaan sekarang,  kemana si manusia “masuk barang tu”? kok tidak ada lagi kabar beritanya, apa karena dia benar-benar sudah masuk?. Juga kemana si manusia yang “peniiing” dan “tantee” itu? Kok, sudah tak terdengar lagi. Apa karena SBY sudah masuk kotak.
Lalu, ketika Gus Dur jadi ketua umum PKB, ada beberapa nama yang  sangat akrab dengan kita. Sebut saja misalnya Alwi Shihab. Politikus yang doctor dan menjabat sebagai mentri luar negri. Lebih banyak mendampingi Gus Dur kemana-mana dibandingkan mengurusi Kementrian luar negrinya. Ketika Muhaimin Iskandar mengambil alih tampuk pimpinan, kemana nama-nama itu. Tenggelam tanpa tahu apa yang kini terjadi pada mereka. Apa karena Gus Dur tak menjadi ketua umum PKB lagi?
Begitulah… Dunia politik adalah dunia yang dalam sekejap berubah, sebagaimana ilustrasi yang saya tulis diatas. Sekarang ada, besok tak ada, lalu, anda bukan siapa-siapa lagi. Tak ada kawan yang abadi, taka da juga lawan yang abadi. Yang ada, kepentingan yang abadi.
Kini apa yang terjadi, jika saja, prediksi sementara orang benar, Marwan Ja’far akan digeser pada reshuffle cabinet pasca lebaran besok?
Saya tidak ingin mengatakan, akan ada “sebagian orang” yang bertanya, apa saja yang sudah dilakukan MJ selama satu setengah tahun kepemimpinannya? Selain membuat gaduh dan memberikan PHP saja. Bahkan untuk merekrut pendamping desa saja, MJ tak mampu? Terbukti, proses rekrutment yang amburadul dan tidak selesai-selesai. Masuk akalkah, sebuah kementrian yang setelah satu setengah tahun bekerja, masih berkutat pada masalah rekrutmen pendamping desa?
Saya tidak ingin mengatakan, tidak ada kebanggaan menjadi TA,  karena untuk mencapaii pada posisi itu, hanya dibutuhkan sejumlah nominal uang dan kedekatan dengan “petugas” partai tertentu?
Saya juga tak ingin mengatakan bahwa, PLD, PD dan jajaran seterusnya keatas, seleksinya bukan pada “anda mampu apa?”,melainkan “anda siapa, anda kenal siapa?”
Saya hanya ingin mengatakan, bahwa sekuat-kuatnya mereka yang bergantung, masih kuat mereka yang berdiri.
Sebahagia - bahagianya mereka yang berharap belas kasihan, masih bahagia mereka yang bekerja nothing to loose.
Dunia pemberdayaan bukan dunia politik. Melainkan, dunia kerja. Dunia yang berhubungan dengan masyarakat akar rumput, dunia tentang bagaimana membuat mereka berdaya. Tanpa, peduli partai politik mana yang sedang berkuasa. Karena focus kita bukan pada siapa yang mengerjakan apa, tetapi bagaimana mengerjakannya. Bukan pada siapa yang mendapat apa dan mendapat nama, tetapi siapa yang memperoleh manfaat dari kerja kita.
Agaknya, kebijakan yang membebaskan para tenaga yang setengah volunteer, dalam hal ini PD, bebas dari intrik politik. Merupakan kebijakan yang sudah tepat. Tinggal bagaimana mereka yang kini berada pada level pembuat kebijakan mau mengerti masalah ini dan mau mengejewantahkannya dalam praktek dilapangan.

7 komentar:

  1. Jadi maksudnya, mereka yg bergantung akan jatuh, sedangkan yg berdiri tetap akan lebih kuat ya Pa Is? Itu yg terjadi saat Marwan Jafar Lengser

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kira" begitu Mas Aguus, paling tidak, mereka tidak memiliki Marwah sebagai volunteer.

      Hapus
    2. Kira" begitu Mas Aguus, paling tidak, mereka tidak memiliki Marwah sebagai volunteer.

      Hapus
  2. super sekali Pa Iskandar.... semoga demikian adanya... Salam pemberdayaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Achmad Tirmidzi sudah hadir. Semoga begitu pak. Kita yang melihat jadi gimana githu.
      Sayang aja, akselerasi yang sudah berjalan, jadi terganggu olehnya..

      Hapus
  3. superr... skali pa is,.., waktu akan berjalan terus, kebohongan, ketidak adilan sedikit demi sedikit akan mulai terlihat, dan saksikan realita yang ada di desa saat ini adalah buah dari smua itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat dengan pak Sardipan. Retorika boleh saja bagus, namun realitanya yang terjadi, akibat dari kerja yang dibuat.
      Salam Ramadhan barokah pak Sar

      Hapus