Minggu, 12 Juni 2016

Napak Tilas perjalanan Cut Nyak Dien, di Sumedang

Makam Cut Nya’ Dien di pemakaman keluarga milik yayasan Pangeran Sumedang di Gunung Puyuh. (Dok. Pribadi)

Pertengahan tahun delapan puluhan, saya, setiap bulan mengadakan perjalanan antara Cirebon–Bandung. Perjalanan rutin yang disebabkan oleh kegiatan tugas. Perjalanan itu, berlainan dengan biasanya yang dilakukan teman-teman, saya lebih sering menggunakan sepeda motor, tepatnya sepeda motor Vespa. Perjalanan dengan Sepeda motor, ketika itu, belum lazim dilakukan oleh para anak muda. Sehingga perilaku saya yang demikian, merupakan sesuatu yang aneh, bagi teman-teman saya.
Biasanya, rute yang saya ambil, dari Cirebon, melalui  Sumber, terus menuju Galuh, terus ke Majalengka dan dari Majalengka akhirnya, perjalanan bertemu dengan jalan Raya Palimanan-Bandung di kota Kadipaten. Selanjutnya, sekitar dua puluh menit perjalanan dari Kadipaten, saya istirahat di tepian Sungai Cimanuk daerah Tomo yang ketika itu banyak warung-warung kaki lima. Beberapa panganan yang dijual warung tepi kali Cimanuk antara lain, kopi, kelapa muda dan beberapa jajanan khas Kadipaten. Hal ini, saya lakukan untuk menghindari istirahat di daerah Nyalindung yang banyak juga terdapat warung-warung, tetapi dengan konotasi “warung plus” atau  “warung reman-remang”.
Belakangan, warung remang-remang itu, berangsur-angsur hilang setelah beridiri dengan Megahnya Mesjid Nyalindung. Agaknya, peribahasa lama, bahwa air dan minyak tak mungkin akan bersatu. Berlaku di daerah Nyalindung ini. Dengan terbangunnya Mesjid Nyalindung, perlahan-lahan warung remang-remang tutup dengan sendirinya.  

Mesjid Raya Nyalindung, yang merubah kondisi masyarakat sekitarnya. (Dok. Pribadi)
 Tempat istirahat selanjutnya yang merupakan tempat pavourite saya, sebelum alun-alun Sumedang, dekat Lapas. Biasanya, setelah dari situ, sholat di Mesjid Agung Sumedang. Selesai semuanya perjalanan dilanjutkan hingga Bandung.
Namun, ada beberapa kali saya mengunjungi makam Cut Nyak Dien di pemakaman keluarga milik yayasan Pangeran Sumedang di Gunung Puyuh. Setelah kita memasuki komplek pemakaman, perjalanan sedikit menanjak, lalu sesaat sebelum memasuki Gerbang Makam Pangeran Soeria Kusumah Dinata atau juga dikenal Pangeran Sugih, Bupati Sumedang pertama, pada sisi kanan terdapat makam Sitti Saleha, Ibunda Bung Hatta.
Jika kita berbelok ke kiri dan menuruni jalan yang lumayan curam, tibalah kita di Makam Cut Nyak Dien. Makam yang sederhana, di pagari dengan besi dan ditutupi atap.
Namun, semua itu, kondisi dulu ketika saya sering kesana pada pertengahan delapan puluhan. Namun, ketika saya pada pertengahan Juni 2016 kembali mengunjungi makam Cut Nyak Dien, saya dibuat kaget. Semuanya sudah berubah.  
Sejarah singkat Cut Nya’ Dien di batu nisan Makam Cut Nya’ Dien. (Dok. Pribadi)


Siapa Cut Nyak Dien.
“Disinilah dimakamkan Pahlawan Nasional
Tjut Nya’ Dien.
Isteri
Teuku Umar Djohan Pahlwan.
Panglima Besar Dalam Perang Atjeh.
Selama hidupnya Tjut Nya’ Dien.
Berjoang mati-matian sebagai seorang
Pahlawan putri Yang setia di samping soeaminja.
Menentang Belanda dalam perang Atjeh,
Setelah suaminya wafat, Tjut Nya’ Dien
Meneruskan djihad memimpin perdjoeangan
Sehingga beliau tertawan oleh Belanda pada
Tanggal 6 November 1905 di Atjeh Barat.
Tjut Nya’ Dien dilahirkan di Aceh pada tahun
1848 dan wafat dalam pembuangan di Sumedang
(Jawa Barat) pada tanggal 6 November 1908
Semoga Allah memberi berkah kepada Arwah suci
Pahlawan Putri jang amat berdjasa dan setia ini. Amin

Demikianlah bunyi kalimat pada nisan Cut Nya’ Dien, kalimat singkat tentang siapa Cut Nya’ Dien. Kalimat yang tak saya jumpai dulu, ketika saya mengunjungi makam Cut Nya’ Dien.
Pada Nisan tak disebut jika Cut Nya’ Dien lahir di Lampadang, wilayah VI Mukim  dari kesultanan Aceh. Ayah Cut Nya Dien bernama Teuku Nanta Seutia. Seorang uleebalang. Keturunan Datuk Makhudum Sati yang berasal dari Minangkabau. Beliau datang ke Aceh pada masa Sultan Jamalul Badrul Munir. Sedangkan Cut Nya’ Dien adalah putri Uleebalang lampagar.
Memasuki makam Cut Nya’ Dien, jalan menurun yang cukup curam dan licin dulu, kini kondisinya sudah di batu, hingga kecil kemungkinannya untuk tergelincir, di pintu masuk pemakamannya, yang kini sudah berbentuk kompleks itu, ada semacam pintu gerbangnya ketika memasukinya. Di dalam komplek pemakaman ada dinding beton yang dilapisi kaca tebal berisi sejarah singkat tentang Cut Nya’ Dien serta catatan sejarah perjuangan beliau, dan diakhiri dengan tanda tangan Zaini Abdullah (Gubernur Aceh, Sumedang, 17 Agustus 2013).
Pada sisi lain makam, terdapat Musholla atau (Meunasah bhs Aceh) berlantai dua, mungkin dimaksudkan untuk beristirahat melepas lelah bagi pengunjung dari jauh pada lantai dasar dan untuk sholat pada lantai atas.
Musholla atau Meunasah, di komplek pemakaman Cut Nya’ Dien. (Dok. Pribadi)

Juga pada komplek pemakaman yang sama, di kubur juga KH. Sanusi yang merawat Cut Nyak Dien yang meninggal 1907, setahun sebelum meninggalnya Cut Nya’ Dien. Juga R. Sitti Hodijah, sebagai Pendamping Cut nya’ Dien yang wafat pada tahun 1967.
Ada sedikit kesalahan informasi tentang letak makam Cut Nya’ Dien. Umumnya masyarakat mengatakan Makam Cut Nya’ Dien adalah tanah milik keluarga Pangeran Sumedang. Namun sesungguhnya, tanah makam Cut Nya’ Dien adalah tanah milik R. Sitti Hodijah yang letaknya persis berbatasan dengan komplek Makam yayasan Pangeran Sumedang di Gunung Puyuh, bahkan dengan asces masuk melalui Makam yayasan Pangeran Sumedang, maka anggapan demikian tidak mudah untuk dibantah. Di tanah makam seluas 1.500 M2 itu pula R Sitti Hodijah dimakamkan.
Mengenai bagaimana perjuangan Cut Nya’ Dien semua kita sudah tahu, saya tak akan mengulanginya kembali. Saya hanya ingin menceritakan Cut Nya’ Dien setelah tiba di Sumedang, sebagai tanah pembuangan seorang pahlawan putri Aceh.
Cut Nya’ Dien, tiba di Sumedang pada 11 Desember 1906 dengan di damping dua pengikutnya. Tak  ada yang istimewa pada wanita tua renta yang bermata rabun itu. Berpakaian lusuh, sebuah tasbih tak pernah lepas dari tangannya dan periuk nasi dari tanah liat, itulah yang dibawa  Cut Nya’ Dien ketika tiba di Sumedang.
Belanda menitipkan Cut Nya’ Dien pada Bupati kedua Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja yang bergelar Pangeran Makkah. Dengan pertimbangan kondisi fisik dan ketaatan Cut Nya’ Dien, Pangeran Makkah tidak menempatkan beliau di Penjara, melainkan menitipkannya di rumah H. Ilyas dibelakang Mesjid Agung Sumedang.
R. Sitti Hodijah Pendamping Cut Nya’ Dien (dok.Pribadi)
KH. Sanusi yang merawat Cut Nya’ Dien (dok.Pribadi)

Cut Nya’ Dien yang seorang hafidz (hafal al-Qur’an) menghabisi hari-hari akhirnya dengan mengajarkan al-Qur’an pada ibu-ibu di Mesjid Agung Sumedang, tanpa diketahui jati dirinya oleh Jemaah beliau. Jemaah hanya mengetahui Cut Nya’ Dien sebagai putri dari seberang atau panggilan untuk beliau Ibu Perbu.  
Kondisi misterius tentang siapa Ibu Perbu terjawab ketika Prof. Dr. Ali Hasjmi yang menjabat sebagai Gubernur kala itu, memerintahkan untuk mencari jejak keberadaan makam Cut Nya’ Dien sekembalinya beliau dari negeri Belanda.
Sejak itu, bermacam-macam perbaikan dilakukan pada komplek pemakaman Cut Nya’ Dien, dimulai dengan pemugaran pemakaman oleh Gubernur Ibrahim Hasan pada tahun 1987. Dilanjutkan pada masa gubernur Zaini Abdullah.

Tidak hanya makam yang dipugar dan diperbaiki, Juga rumah tempat beliau diasingkan, juga dikembalikan pada bentuk aslinya. Bahkan, rumah yang beralamat di Jalan Pangeran Suriaatmaja, nomer 174A lingkungan Kaum, kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan. Sumedang itu, kini sudah menjadi situs sejarah yang dilindungi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar