Jumat, 03 Juni 2016

Analisa Kemahalan Ramadhan

Sore menjelang Ramadhan (dok.Pribadi)
Jika pada masa rezim orde baru, issue yang dapat dijual adalah bahaya laten Komunis. Maka sebagian masyarakat, pada awal-awal reformasi menjadikan kebangkitan golongan karya sebagain issue laten. Namun, ada issue laten yang luput dari perhatian kita, seluruh rakyat Indonesia. Issue kenaikan harga pada setiap tahun pada saat Menjelang Ramadhan, selama Ramadhan dan Pasca Ramadhan. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Apa saja factor yang mempengaruhi? Bagaimana solusinya? Untuk itulah, tulisan ini dibuat.
Pada setiap tahun, menjelang bulan Ramadhan, masyarakat Indonesia selalu dikagetkan dengan naiknya harga. Baik itu harga sembako, harga sandang hingga kebutuhan sekunder.  Padahal, peristiwanya dating setiap tahun. Waktunya dapat diprediksi, perulangan peristiwa kejadian, jelas. Lalu, mengapa antisipasi akan kenaikan harga selalu saja gagal.
Rasanya tak adil, jika kenaikan harga-harga menjelang, pada dan pasca Ramadhan hanya menjadikan Pemerintah sebagai tersangka. Karena, menurut saya, banyak pihak yang terlibat dalam masalah ini. Disamping pemerintah, para mafia sembako, industriawan, Umat Islam, juga memiliki andil didalamnya.
Parameter kenaikan harga-harga itu, penyebabnya antara lain;
Satu, Mafia Sembako.
Mafia sembako, memberikan informasi yang menyesatkan pada Pemerintah bahwa stok sembako kurang untuk menghadapi puasa dan Lebaran, kondisi cuaca yang tak menentu, serta akan terjadi kemarau panjang, mengakibatkan gagal panen. Solusi sederhananya, maka harus dilakukan Impor. Sesederhana itukah pemerintah dapat dibohongi oleh Mafia? Ternyata tidak. Harus diakui bahwa pemerintah tidak memiliki data lengkap yang akurat tentang stok bahan sembako. Sehingga tidak memiliki bargaining kuat dari Issue yang dilempar Mafia sembako. Dilain pihak, dan ini yang paling menarik untuk dikaji. Issue yang dilempar Mafia untuk harus melakukan import, ditangkap oleh sebagian oknum pemerintah sebagai peluang untuk memperoleh pemasukan “lain”. Akan ada pemasukan yang tak kecil kedalam saku oknum kementrian tertentu dan juga oknum DPR. Maka, dilakukanlah impor bahan sembako, akibatnya petani dirugikan, konsumen dirugikan. Ramadhan dijadikan momen seksi untuk “menghalalkan” aksi “haram” oleh Mafia dan oknum-oknum kementrian dan DPR  mengisi pundi-pundi kekayaannya dari usaha pemasukan “lain”.   
Dua, Stok Sesungguhnya Cukup.
Hendaknya pemerintah, dalam hal ini, kementrian perdagangan, memiliki data akurat siapa-siapa saya yang bermain dalam perdagangan sembako. Berapa rasio sembako yang mereka miliki dalam men-stock barang yang menjadi haknya. Sehingga, tidak terjadi overload dalam melakukan stock barang. Jika sudah melampaui batas volume dari hak yang menjadi kewenanganya, dapat disimpulkan sebagai upaya penimbunan.
Menghindarkan para pemasok dari upaya penimbunan, akan menjamin distribusi yang merata pada pengecer, menghindari monopoli barang berada pada satu oknum atau institusi. Dengan demikian, maka harga di pasar akan sesuai dengan hokum permintaan dan ketersediaan barang.
Adalah aneh, jika terjadi lonjakan harga, pemerintah hanya melakukan upaya operasi pasar. Operasi pasar tidak akan menurunkan harga secara permanen, melainkan hanya sementara. Para Mafia dengan capital besar hanya perlu menahan untuk sementara keuntungan yang mestinya mereka peroleh. Setelah operasi pasar selesai, maka harga akan bertengger pada harga semula.
Berbeda halnya, jika pemerintah melakukan operasi kelebihan stock para Mafia. Kelebihan stock itu, disita pemerintah untuk dijual langsung pada para pengecer dengan harga yang sesuai dengan harga kekinian sebelum kenaikan harga. Dengan demikian, harga akan stabil untuk waktu yang lama.
Apa hubungannya antara Puasa Ramadhan dengan kenaikan harga bawang misalnya. Bawang yang diimpor jauh-jauh hari sebelum ramadhan, kenapa harus naik ketika Ramadhan tiba? Bahkan bawang yang masuknya ke Indonesia diragukan legal, kebanyakan justru lewat penyelundupan ikut-ikutan latah naik. Penyelundupan bawang yang gagal, sebagai indikasi banyaknya bawang yang masuk illegal. (40 ton gagal diselundupkan di jambi. Merdeka.com, 2/6. 10 ton gagal diselundupkan di Langkat Sumatera Utara. Merdeka.com, 27/5. 60 ton di Aceh. Merdeka.com 24/4).
Tiga, Pola distribusi yang salah.
Masih dengan stok yang aman, namun dalam pendistribusiannya, terjadi kesalahan. Sebut saja kasus daging untuk DKI. Berapapun jumlah daging yang diimport dari Austalia, tidak akan berpengaruh pada harga daging untuk DKI. Mengapa? Karena ada aturan yang mengharuskan bahwa daging yang beredar di DKI, harus di potong di RPH (Rumah Potong Hewan) DKI. Akibatnya, Mafia daging dapat mengkooptasi RPH, lalu dengan menggunakan kekuatan uang yang mereka miliki, mereka dapat menentukan berapa harga jual di DKI.
Ketika harga melonjak, dan para pemilik ternak diluar di luar DKI ingin mengirim daging ke DKI, akan terkendala dengan cara pemotongan. Dipotong sendiri salah, menggunakan RPH resmi tidak dapat jatah potong. Akibatnya, mereka kerugian dan kapok untuk mengulangi kembali.
Mengapa pemerintah, tidak memberikan kemudahan RPH di daerah penyangga DKI, seperti Bekasi, Tangerang, Bogor dll untuk melakukan pemotongan dan hasilnya dipasarkan di DKI? Sehingga harga dapat ditekan dan dominasi Mafia dapat dihilangkan.
Kegagalan pemerintah dalam pola ditribusi, mengakibatkan harga menjadi naik dan mahal, lalu sekali lagi, konsumen dirugikan.
Empat, Prilaku Umat Islam.
Ada anggapan bahwa ketika Ramadhan, menu yang dihidangkan, tidak mengapa jika agak special dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Anggapan yang sepintas terlihat baik dan tidak masalah. Tetapi, anggapan ini sesungguhnya, sangat salah!. Catat.sangat salah.!!
Puasa sesungguhnya dimaksudkan untuk mengurangi segala fasilitas yang kita miliki. Dan itu, berlaku selama sebulan. Bukan hanya pada waktu siang hari. Dengan demikian, akan timbul rasa empaty pada mereka yang tak berpunya.
Jika, pada siang hari kita melakukan puasa, tidak menikmati fasilitas yang kita miliki, makanan dan minuman di rumah, atau uang yang kita miliki untuk makan dan minum di Restaurant atau istri atau suami untuk tidak melakukan hubungan siang hari. Ketika berbuka tiba, kita melampiaskan sepuas-puasnya, bahkan lebih special dari hari-hari biasa. Lalu, dimana rasa empaty pada mereka yang tak berpunya akan timbul? Tindakan yang melampiaskan dengan menu special, bisa dikatakan sebagai tindakan balas dendam.
Bahkan, dalam bahasa ekstreemnya, tindakan itu. Menjadikan Allah sebagai terdakwa dan pesakitan. Logika berpikirnya. Betapa tidak adilnya Allah. Memberikan kesempatan “balas dendam” setelah berbuka pada kaum berpunya, sedangkan kesempatan yang sama, tidak diberikan pada kaum tak berpunya. Sungguh naïf.
Dampak ekonomi dari tindakan balas dendam itu, kebutuhan akan bahan sembako selama Ramadhan akan naik. Maka, akan logis pula, jika harga sembalo naik.
Lima, Sebuah Solusi.
Kadung semua sudah naik, maka saya mengusulkan, bagaimana jika membeli “sesuatu” yang sangat mahal sekalian. Jika semua kemahalan lain, kita gunakan untuk Ramadhan dan lebaran. Maka “Sesuatu” yang sangat mahal itu, kita gunakan untuk Ramadhan dan setelah Ramadhan, bahkan sesudah individu yang menjalani puasa itu, berpulang keharibaanNya.
Caranya? Lakukan ibadah puasa sesuai dengan nilai idealnya. Kurangi semuanya selama sebulan, selisih nilai dari kebutuhan biasa dengan kebutuhan setelah dikurangi, berikan semua pada kaum tak berpunya.
Ganti semua waktu untuk membeli yang mahal itu dengan yang “sangat” mahal. Dengan mengganti waktu untuk ke Mall dengan ke Mesjid, waktu ngerumpi dengan mengaji, waktu ngopi yang berlama-lama dengan temen-temen dengan taraweh, ganti melakukan persiapan mudik dengan melakukan iktikaf di Mesjid dan memperbanyak ibadah-ibadah sunat untuk memperoleh lai latur khodar.
Dengan cara-cara ini, saya yakin, harga sembako tak akan melonjak naik, jalanan selama mudik tak akan krodit dengan kemacetan dan kecelakaan.
Last but not least, apa yang kita beli sangat mahal itu, kelak, ketika kita meninggal, akan menjadi bekal yang cukup, selama menempuh perjalanan yang sangat panjang menuju haribanNya…. Wallahu A’laam. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar