Minggu, 22 Mei 2016

Solusi Tentang Rezeki

Dalam Usaha menjemput Rezeki. (dok.Pribadi)

Rezeki nyaris dimaknai dengan jumlah uang yang dimiliki. Makin banyak uang dimiliki, makin banyak rezeki yang dipunyai. Begitu, hampir semua kita memaknai rezeki. Akibatnya, berlomba kita mengais rezeki, tepatnya, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Tujuannya, untuk dinikmati saat ini dan nanti.
Untuk mereka yang kini telah memiliki banyak uang, bagaimana tetap mempertahankan jumlah nominal pundi-pundi uangnya. Sementara, merancang untuk masa yang akan datang, dengan pertanyaan bagaimana jumlahnya pundi-pundi itu, semakin bertambah.
Sepintas pola pikir demikian terlihat baik dan ideal, patut untuk diikuti. Namun, pengalaman mengajarkan, bagaimana pola pikir demikian telah banyak menelan korban.
Dari mulai mereka yang tak mengenal siang dan malam, mengumpulkan uang, lupa makan dan istirahat, sehingga bonus lain dari uang yang diperoleh, berupa penyakit fisik dan pshykis. Lupa menikmati uang yang telah diperoleh, karena jumlah perolehan tidak sesuai dengan target yang direncanakan. Lupa bersyukur atas apa yang telah diterima, karena rencana masa depan masih meragukan apakah perolehan kelak, akan sama dengan nominal yang diterima pada saat ini.
Bayang-bayang masa depan yang suram begitu akut membawa petaka. Bagaimana orang tua berpikir, menyekolahkan anak-anak mereka, bukan dengan pertimbangan agar anak-anak memperoleh  kebahagiaan hidup dengan ilmu yang dimiliki. Melainkan, agar anak dapat bekerja. Lalu, dengan bekerja, akan memperoleh uang sebanyak mungkin, dengan perolehan uang yang banyak itu, kebahagiaan akan menyusul dibelakangnya. Akibatnya, jangan salahkan anak, jika sang anak, ketika bekerja akan mengumpulkan uang sebanyak mungkin, tanpa memilah halal dan haram. Alih-alih akan memperoleh bahagia, akhirnya berakhir di penjara.
Betapa banyak mereka yang akan memasuki usia pensiun, dihinggapi ketakutan akan masa depan yang suram. Alasannya, karena perolehan uang akan berkurang. Ketika masih bekerja, penghasilan murni dari gaji saja, sudah kurang. Lalu, bagaimana kondisinya, jika uang pensiun yang lebih kecil dari gaji, kelak akan mereka terima. Belum lagi tanpa penghasilan tambahan berupa uang tunjangan jabatan, dan lain-lain.  Padahal pensiun belum dimulai, tetapi gelisah sudah dimulai dari sekarang.
Untuk menjamin bahwa sang buah hati yang telah menghabiskan uang tidak sedikit itu bekerja, tak sedikit orang tua yang bersedia memberikan suap, agar sang anak dapat bekerja sebagai PNS, ABRI, perusahaan Bonafide dll. Tujuan utamanya jelas, bukan kebahagiaan sang anak, melainkan bagaimana agar sang anak memperoleh kerja bagus, lalu memperoleh uang banyak dan terakhir bahagia. Jadi urutan kebahagiaan bukan prioritas. Hanya akibat samping dari runutan sebelumnya.
Dari uraian diatas. Bagaimana Islam memandang tentang rezeki? Apakah tujuannya sama?
Ternyata Islam memandang Rezeki dengan terminology yang berbeda. Islam memandang rezeki sebagai keseluruhan yang diterima manusia. Bukan hanya uang semata.
Kesehatan, kebahagiaan, kenyamanan, ketenangan jiwa semua masuk kategori rezeki. Rezeki bagi seorang muslim adalah sesuatu yang mutlak harus diterima. Rezeki bukanlah sesuatu yang musti dicari. Melainkan sesuatu yang musti dijemput.
Jika dicari, pengertiannya, adalah sesuatu yang keberadaannya belum  pasti ada, bisa saja ada, atau juga tidak ada. Akibat pshykis yang diterima oleh sang “pencari”, tak adanya ketenangan jiwa. Karena usaha yang dilakukannya, masih dalam tanda tanya besar. Selanjutnya, kemana pertanyaan itu, akan dialamatkan. 
Jika dijemput, sudah tertanam dalam jiwa sang “penjemput” bahwa apa yang akan dijemput itu, sudah pasti keberadaannya. Keyakinan demikian, menimbulkan ketenangan jiwa pada sang penjemput. Jika dalam usaha menjemput, sang penjemput tak menemukan apa yang dijemput, maka sang penjemput, dengan mudah akan bertanya pada yang “Meletakkan” rezekinya. Allah SWT. Dimakanah keberadaan yang akan dijemput itu. Agaknya inilah tafsiran dari ayat :”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Alloh-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud [11] : 6)
Tujuan utama rezeki dalam Islam adalah kebahagiaan. Manusia akan dibuat bahagia dengan pengertian rezeki merupakan sebuah kesatuan. Jumlah total yang akan diterima tidak akan berkurang satu senpun, tak akan tertukar pada makhluk lain, bahkan pada saudara kembar sekalipun. Itu artinya, jika jumlah nominal uang yang diterima kurang banyak, seorang muslim akan mengkonversikannya dengan kesehatan yang diperoleh, dengan ketenangan berkeluarga, dengan terhindarnya dari kesibukan menjemput rezeki yang tak mengenal waktu. Bahkan konversi yang paling mahal untuk dihitung, kenikmatan yang diperoleh saat seorang muslim “asyik masuk” dengan sang Pemberi Rezeki.
Usaha menjemput rezeki, tidak dimaknai sebagai usaha mengumpulkan pundi-pundi uang semata. Melainkan, untuk merealisasikan fungsinya sebagai makhluk, guna mensejahterakan makhluk yang lain. Sebab, usaha menjemput rezeki, akan memakmurkan, bukan hanya sang penjemput melainkan seluruh mereka yang terlibat didalam usaha menjemput. Dalam usaha menjemput rezeki, ada etika yang harus dilakukan, seperti harus halal, tidak curang, tidak merugikan pihak lain. Ketika usaha menjemput rezeki selesai, masih ada nilai sosial yang lain, seperti mengeluarkan zakat mall, infak, dan sadaqah.
Karena sifatnya menjemput, dan sang penjemput tidak mengetahui dimana posisi “barang” yang akan dijemput. Maka dibutuhkan usaha yang intent, berupa pendekatan antara penjemput dengan yang “Meletakkan” barang yang akan dijemput itu.
Kesatuan antara usaha menjemput, dan pendekatan pada yang “Meletakkan”  barang nan akan dijemput, proses dalam menjemput dan apa yang harus dilakukan pasca penjemputan, agaknya inilah tafsiran dari “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)
Konsep tentang rezeki sudah ditentukan oleh Allah, tak tertukar antara satu manusia dengan manusia lain serta tak akan meninggal anak Adam, sehingga jatah rezeki untuk dirinya, telah tuntas dia terima, akan memposisikan manusia pada ketentraman, ketenangan bathin, dan tak perlu jegal menjegal dalam usaha menjemput rezeki.
Ketika akan pensiun, apa yang perlu dirisaukan? Tokh rezeki sudah ditentukan. Soal biaya anak sekolah, apa yang perlu dikhawatirkan? Tokh, apa yang dihabiskan sang anak memang sudah bagian rezeki sang anak. Ketakutan yang akut akan kehadiran anak serta biaya hidup untuk sang anak, bahkan sudah diperingatkan Allah.”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rizqi kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Al-Isra/17:31)

Jika saja, konsep rezeki dalam Islam dipahami dan diimani, lalu apa yang perlu dirisaukan dan dikhawatirkan. Hidup optimis tanpa kekhawatiran adalah kunci sukses, itulah kebahagiaan sejati..… InsyaAllah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar