Sabtu, 07 Mei 2016

Soal Makan dan Jokowi

Jamuan makan siang di Istana, 12 Desember 2015 (dok.Pribadi)

Banten dengan segala pernik budayanya, kadang berbeda dengan budaya daerah lain. Ada hal yang real diketahui masyarakat di luar Banten, ada yang hanya sekedar cerita dari mulut ke mulut. lalu, dianggap sebuah kebenaran.
Seorang sahabat dari Sumatera, mengadakan perjalanan dari Serang menuju kediaman saya di pedalaman Banten. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, tibalah beliau di rumah saya. Di rumah saya, sebelum cerita tentang perjalanan yang dilakukannya, sang tamu terlebih dahulu minta air minum. “sangat haus” demikian celoteh sang teman. Masih menurut beliau, dia dipesankan oleh istrinya, untuk tidak membeli minuman di sepanjang jalan menuju rumah saya. Masih menurut istrinya, daerah tempat tinggal saya, termasuk daerah yang angker. Sehingga, jika membeli minuman sepanjang perjalanan. Khawatir akan diracun oleh penjual minuman. Apalagi, jika diketahui sang pembeli adalah orang  “asing”.
Mendengar cerita sang sahabat, saya hanya tersenyum. Ini bukti nyata, bahwa asumsi yang dibangun oleh mereka yang tinggal di luar Banten. Tak selalu benar.
Hal yang sama, juga, mungkin terjadi untuk daerah lain. Brand yang dilekatkan pada suatu suku atau daerah tidak selamanya benar.
Masih di Banten, saya memiliki sahabat yang lain lagi. Seorang yang dikenal sebagai Jawara. Tidak satupun orang yang berani pada sahabat saya ini. Bahkan tidak sedikit orang yang datang ke rumah beliau dengan maksud untuk berkelahi atau menyelesaikan masalah secara “jantan” berakhir dengan saling rangkul. Semua masalah selesai dengan damai.
Apa rahasia sang Jawara hingga mampu mendinginkan semua masalah? Benarkah sahabat saya benar-benar Jawara. Setelah lama ngobrol dengan beliau. Ternyata rahasia sukses beliau, ada pada makan. Ya,… makan.!.
Semua tamu yang datang ke rumah sahabat saya, selalu dipersilahkan untuk makan dulu. Apapun masalahnya. Tak ada pembicaraan yang serius, setengah serius atau sama sekali tidak serius, sebelum makan. Filosofinya, menurut sang Jawara, ketika perut sudah kenyang, maka semua masalah menjadi ringan. Tak  ada masalah yang tak selesai, jika dikerjakan oleh mereka yang sudah kenyang. Apapun itu.
Mendengar filosofi sang Jawara, saya teringat teman SMA dulu, dari suku Tionghoa. Teman saya selalu makan malam. Filosofinya, orang Tionghoa tidak boleh tidur dalam kondisi lapar.Jika dalam kondisi tidur lapar dan meninggal, maka meninggalnya dalam kondisi Su’ul Khotimah (akhir yang tidak baik). Sebaliknya, jika meninggal dalam tidur dalam kondisi kenyang, maka meninggalnya dalam kondisi Khusnul Khotimah (akhir yang baik dan masuk syurga).
Hal yang sama, sebagai jawaban saya, ketika saya pulang kerja (mengerjakan pembangunan hotel bintang lima di daerah Kota tua) bersama teman saya, ketika kami melewati jalan Hayam Wuruk dan jam telah lewat tengah malam, masih ada mereka yang makan-makan. Lalu, teman saya bertanya, bagaimana penjelasannya terhadap fenomena yang dia lihat itu.
Pada kesempatan lain, ketika kita melewati Malioboro malam hari, coba lihat wajah-wajah mereka yang sedang makan-makan di lesehan Malioboro. Semua sumringah. Salah satu jawabannya karena mereka kenyang.
Ada pemeo, bahwa suku Minangkabau, adalah suku yang sangat memperhitungkan jumlah uang yang keluar. Bahkan, nyaris pelit. Tetapi, kondisi demikian, akan berbeda jika mereka sedang mentraktir temannya makan. Mengapa? Alasannya, karena, apa yang dimakan oleh teman yang ditarktir, memang sudah rezeki sang teman. Adapun sebabnya, karena ditraktir, maka Allah akan segera menggantikannya dengan nominal yang sama, bahkan lebih. Alasan lain, biaya traktir makan, tak sebanding dengan jumlah nominal yang akan diperoleh dari hasil lobby setelah makan-makan usai.
Pada Medio Desember 2015, kompasianer diundang ke Istana oleh Jokowi untuk jamuan makan siang. Beliau mengundang bukan dalam kapasitas sebagai pribadi. Melainkan sebagai Presiden. Hebohlah jagad kompasiana. Ada yang merasa tersanjung dengan undangan makan siang dari Presiden, ada juga yang menanggapi sinis. “Tidak  ada makan siang gratis” demikian alasan dari mereka yang sinis. Sebaliknya bagi yang diundang, memberikan alasan, tidaklah mungkin mereka akan ter”gadai” hanya dengan makan siang gratis.
Tapi yang pasti, mereka yang diundang makan siang, semuanya senang. Apapun alasannya.
Jadi, ternyata benar, banyak masalah yang awalnya terasa rumit, akan menjadi sederhana ketika perut sudah kenyang. Banyak masalah yang terselesaikan ketika perut tidak lagi lapar.
Saya membayangkan, akan banyak sekali masalah negri ini, yang akan terselesaikan dengan cara elegant dan cepat. Jika saja, Jokowi mampu membuat semua perut rakyatnya kenyang. Caranya bagaimana? Awak ini apalah, cuma bisa menulis ringan, tak memiliki ilmu yang cukup untuk itu. Jokowi dengan sejibun menteri yang membantunya, tentu memiliki cara untuk itu. Membuat semua rakyatnya kenyang….Wallahu A’laam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar