Senin, 30 Mei 2016

Puasa Dengan Aroma Korupsi

Kegiatan yang tak dapat lagi dilakukan pada siang hari di Bulan Ramadhan (dok.Pribadi)

Semua kita tahu, bahwa Puasa diwajibkan bagi orang-orang beriman. Dasarnya, ayat 183 dalam surat Al-Baqarah 183. Sebagaimana tertulis: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berPuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).
Jelas, tujuan Puasa agar dihasilkan manusia yang bertakwa. Jelas pula, bahwa Puasa bukan hanya dominasi umat Islam. Umat-umat lain selain Islam, juga menjalankan ibadah Puasa.
Umat Yahudi misalnya, melakukan Puasa pada hari Thisa B’Av. Pada hari itu, umat Yahudi melakukan Puasa dan membaca do’a pada Kitab Ratapan dan Kitab Ayub. Hari Thisa B’Av dianggap sebagai hari yang paling menyedihkan dalam kalender Yahudi dan dianggap sebagai hari yang penuh tragedy.

Umat Khatolik, juga melakukan Puasa. Dasarnya:”Dan apabila kamu berPuasa…”(Math: 6 : 16). Waktu pelaksanaanya, pada masa Pra Paskah. Di Indonesia dikenal dengan hari rabu Adhi. (tolong dikoreksi kalau saya salah. Hal ini hanya berdasarkan ingatan saya, ketika sekolah di SMP Xaverius, 42 tahun Silam).
Dalam pelaksanaannya, Puasa diartikan sebagai menahan. Umat Islam, menahan makan dan minum mulai Imsa’ atau sesaat sebelum terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, Umat Khatolik menahan dari makan dan minum yang berlebihan dan dari makan daging.
Jika prinsipnya, Puasa menahan mengkonsumsi makanan, maka logikanya, kebutuhan akan bahan makanan akan berkurang. Tetapi kenyataan yang terjadi,  harga-harga sembako menjelang Bulan Puasa –Ramadhan-, selama Ramadhan dan hingga Lebaran, setiap tahun naik.
Benarkah kenaikan harga kebutuhan sembako, disebabkan karena jumlah kebutuhan sembako selama ramadhan meningkat, yang artinya, terjadi anomaly dalam praktek Puasa dibanding dengan prinsip Puasa. Atau ada sebab lain. Misalnya terjadinya  praktek korupsi disemua lini dalam pengadaan sembako, yang muaranya akan terbongkar pada bulan Ramadhan atau bisa juga, bulan Ramadhan dijadikan kambing hitam untuk melakukan praktek korupsi sembako selama setahun? Untuk itulah tulisan ini dibuat.
Sumber korupsi.
Secara garis besarnya, kenaikan sembako menjelang Ramadhan, selama Ramadhan dan pasca Ramadhan, karena terjadi korupsi. Sebab-sebabnya antara lain;
Satu, Data base kebutuhan pangan tidak akurat.
Idealnya, Pemerintah memiliki data akurat tentang kebutuhan pangan rakyat Indonesia perkapita pertahun.
Jika satu orang perbulan diasumsikan menkonsumsi 10 kg beras, maka kebutuhan perkapita pertahun 120 kg, kita bulatkan saja 125 kg/tahun. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa. Maka jumlah kebutuhan total untuk beras/tahun sebesar 31,25 juta Ton.
Jika asumsi panen padi 5 ton/ha sekali panen, sedangkan panen dapat dilakukan dua kali pertahun, maka jumlah sawah yang dibutuhkan seluas 3.125.000 hektar. Atau 3,125 juta hektar. Jumlah yang sangat kecil dibanding dengan data yang dimiliki BPS tentang luas lahan pertanian persawahan. Menurut data BPS lahan persawahan yang dirilis Kementrian Pertanian 2014. Luas lahan sawah irigasi 4.819.525  hektar dan sawah non Irigasi 3.292.578 hektar. Total jendral luas lahan persawahan 8.112.103.hektar (8.112 juta hrktar). Artinya, lahan yang tersedia, dua setengah kali lipat dari luas lahan yang dibutuhkan.
Apa artinya semua data itu?  Artinya,
·         Ada kelebihan lahan seluas 4,987 juta hektar sawah.
·         Jika tidak boleh disebut kelebihan lahan, maka data BPS adalah data bodong, yang tingkat ke-akurat-annya diragukan.
·         Hal yang paling krusial, akan terjadi tingkat korupsi besar-besaran. Mengingat harga pupuk adalah harga subsidi, maka Negara akan mengalami kerugian untuk menyediakan pupuk untuk 4,987 juta hektar lahan bodong. Dengan asumsi kebutuhan pupuk 200 kg untuk setiap masa tanam. Maka Negara akan  kecolongan pupuk sebesar 1,99 Juta ton Pupuk. Setara dengan 8 Trilyun Rupiah.
Demikian juga dengan data kebutuhan lain selain beras. Apakah Pemerintah memilikinya. Data yang dimiliki apakah akurat.

Dua, Jalur distribusi yang amburadul.
Peristiwa Ramadhan adalah peristiwa yang datang setiap tahun. Bulan dan tanggalnya dapat diprediksi dengan mudah. Mengapa tidak ada rencana matang untuk menghadapi event ini? Koordinasi antara Kementrian Perdagangan, Kementrian Pertanian serta Kementrian  Perhubungan, dalam mendistribusikan sembako bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Kegagalan setiap tahun dalam mendistribusikan masalah sembako, dapat disimpulkan bahwa ketiga kementrian diatas “kalah”  dengan mafia perdagangan.  
Pertanyaan turunannya, apakah benar tiga kementrian diatas benar-benar kalah, atau ada permainan diantara keduanya. Jika ada permainan, sekali lagi, logikanya, tak kan mungkin hal demikian dapat terjadi, jika tidak ada “simbiosi mutualistis”  antara para pihak. Akibat logisnya, masyarakat terbebani dengan harga yang melambung.
Hal yang sama, perlu dipertanyakan bagaimana rangkaian distribusi sembako selain untuk beras. Seperti bawang, cabe, daging dll. Pengalaman membuktikan kenaikan harga, bukan hanya ditentukan oleh tingkat ketersediaan, melainkan juga, bagaimana kebutuhan itu sampai pada tingkat pengecer.
Akhirnya, Puasa yang idealnya akan menghasilkan manusia bertakwa, yakni manusia yang berjalan sesuai dengan nilai-nilai Illahiah. Tetapi pada kenyataannya menjadi manusia yang tertuduh sebagai  manusia yang telah melakukan pemborosan disana-sini, hingga berakibat naiknya harga sembako.

Padahal akar masalahnya tak sesederhana yang kita bayangkan. Dibalik semua itu, ada kerja yang tak efisien, tidak professional dan terindikasi korup... Wallahu A’laam.   

9 komentar:

  1. Wah bener juga pa Is, dari sekian kali ganti pimpinan, sepertinya mustahil diantara mereka semua satu pun tidak ada yang tahu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah lama umat Islam dituduh sebagai umat yang tak efisien. Puasa yang mestinya menjadikan efisien, malah berindikasi boros, indikasinya harga sembako naik semua.
      Padahal, mungkin saja, ada pihak lain mengambil keuntungan dari kondisi puasa itu.
      makasih Mas Agus sudah mampir.

      Hapus
    2. Ulasan yang menarik pa Is, mestinya mereka baca ini...

      Hapus
  2. Ini terjadi karena umat islam yang hobbynya berlebihan saat sahur dan berbuka puasa serta saat lebaran. Coba umat islam berlaku wajar dalam berpuasa, saya pikir kejadian tersebut berangsur hilang. Dan Puasa tidak lagi menarik sebagai bahan komoditi, layaknya Natal bagi umat nasrani.
    Puasa ternyata cukup hanya seteguk air teh manis saat berbuka dan sahur. Yang lain-lain? Ya disitulah setan bekerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.... bener pak Haryo, soal perilaku umat Islam, akan jadi pokok bahasan dalam tulisan sendiri lagi.
      makasih untuk kjunjungannya pak Haryo.
      salam,IZ

      Hapus
  3. "Jika prinsipnya, Puasa menahan mengkonsumsi makanan, maka logikanya, kebutuhan akan bahan makanan akan berkurang. Tetapi kenyataan yang terjadi, harga-harga sembako menjelang Bulan Puasa –Ramadhan-, selama Ramadhan dan hingga Lebaran, setiap tahun naik."
    Pak IZ, saya juga punya pemikiran yang sama. Dua hari yang lalu, saya bawa topik ini di radio dan banyak yang menelpon. Sebagian besar, mereka justru memaklumi lebih banyaknya pengeluaran untuk konsumsi dan naiknya harga kebutuhan pokok adalah suatu hal yang wajar. Adapun alasan mereka bermacam-macam:
    * menu yang agak spesial di bulan ramadhan dibanding hari biasa, tak masalah, asalkan jangan berlebih-lebihan.
    *Untuk mengatasi kenaikan harga di bulan ramadhan, sebaiknya menabung di bulan biasa. 11 bulan menabung, 1 bulan dibelanjakan di bulan ramadhan.
    * kenaikan harga dipicu oleh spekulan dan mafia. Digembar-gemborkan stok kurang, jadi untuk mencukupi stok diperbolehkan impor. Itu artinya duit masuk (baik itu dari dpr atau kementrian terkait)
    * Bulan puasa disabotase oleh para kapitalis sehingga kaum muslimin menjadi lebih konsumtif di bulan puasa.
    * Tidak masalah adanya permintaan yang berlebih di bulan puasa, itu tandanya perekonomian jalan, dan semua akan kecipratan keuntungan.

    Jadi, situasi seperti ini sengaja diciptakan, pak. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat dengan pak Boy, banyak parameter yang menyebabkan harga sembako naik, uraian pak Boyke menginspirasi saya untuk membuat tulisan baru.
      Terima kasih untuk kunjungan pak Boyke.
      salam,IZ

      Hapus
  4. Terima kasih atas informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama,
      terima kasih sudah sudi mampir,
      salam,IZ

      Hapus