Senin, 09 Mei 2016

Jalan di Banten Selatan Mulus Jaya

View Bayah, semakin maju seiring jalan yang semakin mulus (dok.Pribadi)
Jika ada keluhan yang disuarakan seluruh masyarakat Banten, maka keluhan itu, soal infra struktur jalan. Daerah yang jaraknya sepelemparan batu dari Jakarta, Ibu Kota Negara Republik Indonesia, kondisi jalannya, bagaikan malam dan siang.
Kondisi terparah, dirasakan oleh mereka yang tinggal di pedalaman Banten. Khususnya di daerah Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang. Lebih spesifik lagi, terletak pada ruas jalan antara Bayah-Malingping-Saketi. Ruas jalan sepanjang seratus kilometer itu, demikian menyiksa. Baik untuk pengendara roda dua maupun roda empat.
Cerita tentang jalan Bayah-Malingping-Saketi. Jika dianalogikan dengan buku, maka, buku yang dimaksudkan adalah semacam buku yang dikarang oleh Kho Ping Hoo. Cerita yang tak pernah selesai. Bersambung dan terus bersambung. Semua isi buku bercerita tentang keluhan dan penderitaan pemakai jalan, sementara sang jalan tak pernah selesai diperbaiki. (Lihat disini http://www.kompasiana.com/isz.singa/jalan-saketi-malingping-the-never-ending-story_552fc1126ea83491308b4583)
Kerusakan jalan antara Bayah-Malingping-Saketi dengan segala usaha perbaikan tambal sulam yang tak pernah selesai itu, bahkan ditengarai telah mengikiskan rasa bangga anak bangsa. Masyarakat sudah apatis dengan segala perbaikan yang dilakukan. Kesimpulan konyol yang didapatkan masyarakat, menyatakan, bahwa bangsa ini, benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk membangun, bahkan untuk membangun jalan saja gagal. Apalagi untuk membangun hal-hal lain yang lebih besar. Catatan yang diingat masyarakat, bahwa jalan antara  Bayah-Malingping-Saketi pernah baik dan mulus ketika di bangun oleh kontraktor asing “PT. Kumagai” dari Korea. Korea adalah bangsa yang patut dibanggakan, bangsa yang mampu membawa masyarakatnya menjadi maju. Sedangkan kita apa? Membuat jalan saja gak mampu, apalagi untuk hal yang lebih besar.
Hahaha…. kesimpulan yang perlu kita tangisi, hanya disebabkan jalan yang tak pernah selesai diperbaiki, yang tak pernah baik dan nyaman untuk dilalui. Menimbulkan bangsa ini menjadi MC (minderheids Complex) penyakit minder akut.
Kondisi jalan sebelum perbaikan (dok.Pribadi)
Demikian juga, ketika KPK menangkap Wawan dan Atut, masyarakat Banten marah besar. Mereka marah, bukan karena masyarakat Banten membela Ratu Atut dan Wawan. Melainkan, masyarakat kecewa dengan pemberitaan yang bombastis tentang keberhasilan KPK terhadap penangkapan Atut dan Wawan. Dari kaca mata masyarakat Banten, hal demikian terasa aneh. Apanya yang hebat dan berhasil? Persoalan di Banten itu, bukan hanya Atut dan Wawan. Tetapi, masih ada sejibun lain masalah yang urgent diselesaikan, dan dari sejibun masalah yang urgent untuk diselesaikan itu, adalah masalah infra struktur jalan. Dari daftar jalan yang urgent diselesaikan itu, maka jalan jalan Bayah-Malingping-Saketi, adalah yang paling urgen untuk segera diselesaikan.

Akibat lain dari masalah infra struktur jalan buruk itu, masyarakat Banten, menjadi apatis pada pilpres kemarin. Mereka sudah biasa digombali dengan segala rencana sang kandidat Presiden. Bagi masyarakat Banten, siapapun Presiden yang kelak terpilih, tak memiliki imbas langsung pada mereka, selama jalan masih dalam kondisi memprihatinkan. Pemeo bagi masyarakat khususnya Banten Selatan, siapapun Presidennya, gak ada bedanya. Jika harus berbeda, maka perbedaan itu, tolak ukurnya pada jalan  Bayah-Malingping-Saketi. Faktanya, mulai Soekarno hingga SBY jalan mereka tetap memprihatinkan. Jadi, emang siapa Jokowi, emang siapa Prabowo? Kami tak kenal anda. Kalo anda ingin kami kenal, tolong perbaiki jalan kami yang sudah menyengsarakan kami selama puluhan tahun itu.
Pertanyaannya, apakah Pemda Banten tak pernah berbuat untuk perbaikan jalan? Pemda memang selalu mengadakan perbaikan, tetapi sepotong-sepotong dan dengan kualitas yang jelek. Dengan kualitas jelek, maka dalam hitungan sebulan dua bulan, jalan kembali hancur, maka ada anggaran baru untuk tahun berikutnya, akan  ada proyek baru, akan terjadi bancakan baru. Lalu, masyarakat dapat apa? Paling dapat uang receh, dari jasa sebagai pak ogah yang mengatur lalu lintas jalan selama proses perbaikan jalan berlangsung.
Kondisi jalan terkini setelah perbaikan (sumber Pemda Banten)
Awal 2014, di Banten Selatan dibangun pabrik Semen Merah Putih, pabrik yang digadang-gadang akan menjadi pabrik semen terbesar di Indonesia. Pelaksana pembangunan pabrik Semen Merah Putih dikenal dengan PT. Gama. Semua material yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik semen diangkut melalui jalan darat, jalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Maka, malapetaka itupun datang, jalan yang awalnya sudah parah, kini seluruhnya berubah menjadi kubangan.  Pemda jadi bingung, tak ada lagi yang dapat diperbaiki, ketika seluruh jalan berubah jadi kubangan. Tak  ada lagi perbaikan, tak  ada lagi bancakan. Ternyata PT. Gama lebih sakti dari Pemda Banten. Semuanya hilang akal dan hilang harga diri. Kalau dulu yang mengalami hal demikian masyarakat, kini Pemda pun mengalami hal yang sama.
Kini semua cerita tentang jalan yang rusak di Banten sudah usai, termasuk jalan antara Bayah-Malingping-Saketi. Ruas jalan sepanjang seratus km itu, kini sudah mulus sejak April 2016. Ruas jalan yang mulus itu diberikan perkerasan dengan betonisasi. Specifikasi tekhnik untuk beton dengan kualitas fc. 45. Jika sesuai rencana, maka dua puluh tahun ke depan, jalan di Banten Selatan, akan aman dari kerusakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar