Jumat, 13 Mei 2016

Guru Diyah Dan Hamzah

Icon UPI Bandung
Siang itu, Guru Hamzah dipanggil kepala sekolah, Ibu Diyah. Antara Diyah dan Hamzah sebenarnya teman semasa waktu SMA dulu. Lulus SMA mereka sama-sama masuk IKIP.  Diyah jurusan Management Pendidikan sedangkan Hamzah fakultas MIPA jurusan Kimia. Selesai di IKIP, mereka mengajar di sekolah yang sama.
Nasib berkata lain, Diyah menjadi kepala sekolah, sedangkan Hamzah masih sebagai Guru Kimia. Persamaan antara mereka berdua, hanya pada status. Mereka, Hamzah dan Diyah, masih berstatus lajang. Ada apakah Diyah memanggilku. Begitu tanya Hamzah dalam hati.
*******
“Silahkan duduk Pak Hamzah”
“Makasih Bu..” jawab Hamzah, sambil menggeser sedikit kursi, di depan Diyah. Sang Kepala sekolah. Mereka terpisahkan Meja. Meja kerja Kepala Sekolah.
“Ada apa ya, Ibu memanggil saya?” demikian Hamzah, bertanya pada Diyah.
“Begini pak Hamzah. Karena tahun ajaran akan dimulai, saya ingin tahu, pilihan pak Hamzah, apakah akan mengajar di kelas 1 atau 2 atau 3. Mumpung jadwal belajar-mengajar belum disusun..” kata Diyah.
Tak  ada jawaban dari Hamzah. Hamzah hanya diam. Sesekali dia memandang. Diyah. Teman SMA nya dulu itu, memang cantik.  Kenapa kau masih lajang saja Diyah? Begitu kata Hamzah dalam bathin. Akh, ngomong apa kau Hamzah? Bukankah kau sendiri masih lajang? Kata sisi bathin Hamzah yang lain.

“Bagaimana pak Hamzah? Bapak pilih yang mana? Satu atau dua?” kata Diyah lagi, membuyarkan lamunannya, tergagap Hamzah mendengar pertanyaan Diyah. Hamzah sadar, dia belum memberikan jawaban. Ternyata, Diyah menunggu jawabannya.
“Boleh saya berkata jujur Bu?” Alih-alih menjawab. Kini, balik Hamzah yang bertanya.
“Okh, silahkan pak. Mungkin bapak punya usulan lain selain tawaran saya. Saya akan pertimbangkan itu” jawab Diyah.
“Apakah hanya sekedar dipertimbangkan, bukan untuk diterima?” Tanya Hamzah lagi.
“Akan saya terima” jawab Diyah pendek.
“Yakin..?” kejar Hamzah lagi. Ada nada memburu di kalimat Hamzah.
“Katakan saja pak” jawab Diyah lagi. Masih dengan sifatnya yang kalem. Sikap yang selalu membuat Hamzah kagum pada Diyah.
“Soal kelas satu atau dua, terserah bu Diyah saja. Bagi saya, itu tidak penting. Yang penting bagi saya, saya akan memilih….” Jawab Hamzah, dengan kalimat tak selesai.
“Memilih apa pak? Katakan saja, jangan ragu?”
Hamzah tak segera memberikan jawaban, dia geser kursinya ke muka, mendekat pada meja. Jarak antara Hamzah dan Diyah semakin dekat, hanya terpisahkan oleh meja kepala sekolah itu.
Kini, Hamzah mengangkat tubuhnya, berdiri sembari mencondongkan wajahnya ke depan, mendekati pada Diyah.
“Aku memilihmu Diyah, untuk jadi pendampingku” kata Hamzah, perlahan suara Hamzah. Namun, nada yang keluar dari mulut Hamzah sepenuh hati. Wajahnya serius.
“Apa…..???” kaget Diyah mendengar ucapan Hamzah. Diyah tak menyangka Hamzah akan berkata begitu. Diyah juga tahu, bahwa teman SMA nya itu, bukanlah type laki-laki yang suka becanda. Hal itu, yang membuat Diyah kaget bukan kepalang.
“Aku yakin, tadi aku bicara dalam bahasa Indonesia, itu artinya, kau tahu yang aku maksudkan. Kau juga tahu, aku tak suka becanda” jawab Hamzah tenang. Hamzah sendiri heran pada dirinya, dia mampu melakukannya semuanya dengan sangat tenang. Tapi, kalau bukan sekarang kapan lagi? Apa harus menunggu dia dan Diyah menua.
Tak  ada suara, tak ada jawaban dari Diyah. Tak juga Hamzah mengejar jawaban dari Diyah. Suasana begitu hening. sepi, nyaris mencekam. Hanya ada dua orang dewasa, di ruang kepala sekolah, dua pendidik yang dulu sama-sama satu kelas waktu mereka di SMA.
“Baiklah Bu, saya sudah memberikan pilihan, dan sesuai janji Ibu, Ibu akan mengabulkan pilihan saya. Saya hanya menunggu kabar dari Ibu, tentang terkabulnya pilihan saya”. Kata Hamzah lagi, kini dia sudah lega, beban berat itu sudah dia tuntaskan. Biarlah kata-kata Hamzah tadi, mencari jalan keberuntungannya sendiri. Jika Allah memberikan izin, tentu akan dikabulkan Diyah.
Diyah masih diam, belum memberikan jawaban, dari pernyataannya tentang pilihan Hamzah maupun dari kata-katanya yang terakhir.
“Saya rasa, semua sudah selesai bu, pilihan sudah saya berikan. Saya tinggal menunggu keputusan Ibu, jika tak  ada lagi yang perlu disampaikan, saya permisi” kata Hamzah lagi.
“Baik pak”. Hanya itu jawaban Diyah, pendek.
“Permisi Bu..Assalamu’alaikum”
“Waalaikum salaam”.
*******
Mobil Avanza yang dikendarai Hamzah sudah berbelok ke kiri, mengambil arah keluar melalui Pintu Toll Pasteur, mereka rencana akan terus ke Ledeng. Lalu naik terus dan terus ke atas, ke kampus UPI.
Perjalanan mereka dari Jakarta ke Bandung terasa begitu lancar. Duduk di sebelah Hamzah yang mengemudikan mobil, Diana. Anak semata wayang, buah cinta Hamzah dan Diyah. Sedangkan Diyah duduk di kursi tengah.  
Sementara dari tape mobil mengalun lagu jadul “Greenfields” oleh the Brothers four.
Once there were green fields kissed by the sun
Once there were valleys where rivers used to run
Once there were blues skies whit white clouds high above
Once they were part of an everlasting love
We were the lovers who strolled through green fields

Awalnya hanya suara Hamzah yang bersenandung, lalu diikuti suara Diyah. Membuat duet yang sempurna. Tak mau ketinggalan Diana ikutan nimbrung.
“Pa… seneng banget sih dengerin  lagu ini?” tanya Diana.
“Hehehe… itu lagu Papa & Mama waktu di IKIP dulu”. Jawab Hamzah.
“Pasti ada kenangan dengan lagu ini deh?” tanya Diana lagi.
“Pastilah…. “ jawab Diyah, mendahului Hamzah.
“Cerita dong…” bujuk Diana lagi, sambil menggeser tubuhnya, menghadap ke belakang ke arah Diyah.
“Nanti sayang, kalo kamu sudah diterima di UPI, Papa pasti akan cerita” balas Hamzah lagi.
Pintu Toll, baru saja mereka lewati, kini makin terasa sejuknya udara Bandung. Meski tak sesejuk dulu. Tapi bagi Hamzah, kesejukan di dalam Avanza ini, tak bisa dibandingkan dengan sejuknya Bandung. Diana dan Diyah lebih membawa kesejukan yang sempurna baginya. Bagi Hamzah paripurna sudah semua.
Bandung tempo dulu yang sejuk ditambah tetesan embun yang membasahi rambutnya, ketika Hamzah menyanyikan “Greenfields” untuk mencuri hati Diyah. Belumlah cukup bagi Hamzah. Tokh, Diyah masih tetap tak tertaklukan.  Hingga akhirnya, dengan gaya yang “tak biasa” di ruang kepala sekolah itu, akhirnya membuat Diyah luluh.
Kini Diyah dan Diana sudah mengisi hari-hari Hamzah, lalu mau cari apa lagi?
“Greenfields” hanya tinggal kenangan, kenangan yang perlu sekali-kali dikenang kembali, untuk memposisikan Diyah, agar tetap  pada posisi yang patut dia kagumi sepanjang hayat Hamzah.
Once there were green fields kissed by the sun
Once there were valleys where rivers used to run
Once there were blues skies whit white clouds high above
Once they were part of an everlasting love
We were the lovers who strolled through green fields





6 komentar:

  1. An overlasting love finally bring happiness .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo jodoh, kagak ke mane Bang..
      makasih sudah mampir,
      salam,IZ

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasih Bang Erwin sudah mampir,
      salam,IZ

      Hapus
  3. Dibalik memori greenfields nya gak diceritakan ya..
    #tanya kenapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mestinya gitu, cuma takut kepanjangan aja..

      Hapus