Minggu, 22 Mei 2016

Amir Hamzah Sang Pecinta, Sang Satria

Penulis dengan latar belakang Mesjid Azizi Stabat Langkat. Sumut (dok.Pribadi)
Biarlah daku tinggal di sini
Sentosa diriku disunyi sepi
Tiada berharap tiada berminta
Jauh dunia disisi Dewa
……………………………………….
Datanglah engkau wahai maut
lepaskan aku dari nestapa
engkau lagi tempatku berpaut
Diwaktu ini gelap gulita.

Demikianlah bait-bait syair yang tertera pada sisi kanan dan sisi Nisan makam Amir Hamzah. Betapa syair yang tergambarkan, bermakna, sang Pahlawan Nasional itu telah menyadari hari datangnya saat kematiannya dengan sepenuh sadar. Mereka yang berani menyambut datangnya hari kematian adalah mereka yang berani menjalani kehidupan. Termasuk sang pahlawan Amir Hamzah.
Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, lahir di Tangjung Pura, Langkat. Sumatera Utara. Pada 28 Februari 1911 dan meninggal di kuala Begumit, Binjai, Langkat, Sumatera pada tanggal 20 Maret 1946.
Pada Usia 35 Tahun. Dalam usia muda, perjalanan hidup yang singkat. Sosok Amir Hamzah mampu menjadi Pahlawan Nasional. Beruntung saya, pada tanggal 19 April 2015 berkesempatan menziarahi makam beliau di halaman Mesjid Azizi, Stabat, Langkat Sumatera Utara. Siapakah beliau ini? hingga dalam usia sangat muda mampu, menjadi pahlawan Nasional? Bahkan, nama itu, diabadikan sebagai nama sebuah taman, pada sudut Taman Monumen Nasional (Monas). Apa saja karya yang telah beliau buat, hingga beliau pantas untuk dijadikan sebagai Pahlawan Nasional?. Untuk itu tulisan ini dibuat.
Makam Amir Hamzah di sisi Barat Mesjid Azizi Stabat Langkat. Sumut (dok.Pribadi)

Amir Hamzah menulis Puisi sejak Usia sangat muda. Karya beliau meliputi 50 Puisi, 18 Prosa, 12 Artikel, 4 Cerita Pendek, 3 koleksi Puisi, dan 1 Buku. Disamping menterjemahkan 44 Puisi, 1 Prosa, dan 1 Buku. Antalogi yang lahir dari tangan beliau “Nyanyi sunyi” (1937) dan “Boeah Rindoe” (1941). Semuanya diterbitkan oleh Poejangga Baroe.
Amir Hamzah bersama Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana, mendirikan Majalah Poejangga Baru, Majalah yang kelak ditandai sebagai kebangkitan sastra baru Indonesia, serta dikenal dengan angkatan Pujangga Baru. Meskipun, secara jumlah, Amir Hamzah, tidak menghasilkan karya dengan jumlah yang banyak. Namun, kualitas karya beliau, membuat decak kagum para sastrawan. Hingga Ahli sastra Indonesia asal Belanda A. Teeuw, menggambarkan Amir Hamzah sebagai satu-satunya penyair Indonesia berkelas dunia, dari masa revolusi Indonesia.
Tema yang beliau tulis juga bervariasi. Boeh Rindoe. Sebuah Antologis yang ditulis secara kronologis, dipenuhi rasa rindu dan kehilangan. Sementara Njanji Soenji bernuansa religi.
Syair pada Makam Pahlawan Nasional Amir Hamzah (dok.Pribadi)
Pujian berikutnya, datang dari HB Yassin. Yassin menjulukinya sebagai Raja PenyairZaman Poejangga Baroe. Sang pecinta, sang satria Dalam perjalanan melanjutkan pendidikan di Surakarta, diantara gelora muda untuk memajukan bangsa, Amir Hamzah menjadi kepala cabang dari “Indonesia Moeda”, beliau menyampaikan pidatonya dalam kongres Pemuda 1930 dan mengabdikan diri sebagai editor pada majalah organisasi pemuda itu, “Garoeda Merapi”. Cinta tanah air dan gelora muda, membawa sang Raja Penyair Zaman Poejangga Baroe akhirnya menemukan cintanya pada sang gadis Jawa bernama Ilik Soendari, putri Raden Mas Koeseomodihardjo. Rasa cinta itu, telah banyak menginspirasi Amir Hamzah, layaknya Laura terhadap Petrarch, layaknya Mathilde terhadap Jacques Perk. Pengaruh Ilik Soendari, makin terasa kental pada “Njanji Soenji”. Sedangkan, NH Dini, percaya, bahwa istilah-istilah Jawa yang ditemukan pada Karya Amir Hamzah disebabkan oleh pengaruh Ilik Soendari. Dipercaya, kedekatan Amir Hamzah pada Ilik Soendari, terjadi ketika Amir mengajarkan bahasa Arab pada Ilik Soendari dan Ilik Soendari mengajarkan bahasa Jawa pada Amir Hamzah.
Perpustakaan Amir Hamzah, pada sisi Timur Mesjid Azizi Langkat. (dok.Pribadi)
Sejauh apapun Amir Hamzah larut dalam cintanya pada Ilik Soendari, sang kesatria, tetap pada komitmennya untuk lebih mengedepankan kepentingan yang lebih besar diatas kepentingan dirinya sendiri. Pada tahun 1937, Amir bersama dengan dua pengikut Sultan Langkat yang bertugas mengawal beliau, naik kapal Opten Noort dari Tanjung Priok untuk kembali ke Sumatera. Setelah tiba di langkat. Amir menyatakan kesanggupan dirinya untuk menikah dengan putri tertua Sultan Langkat, Tengku Putri Kamiliah. Wanita yang hampir tak pernah ditemuinya sebelumnya. Dari pernikahan ini, Amir Hamzah dikaruniai seorang anak lelaki yang bernamaTengku Tahura. Betapapun tak bahagianya rumah tangga yang dijalankan tanpa cinta. Namun, dengan kesatria Amir menjalani semuanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Termasuk mengambil tanggung jawab di lingkungan Keraton.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 1945. Amir menjabat sebagai wakil Pemerintah di Langkat. Atas jasa-jasanya, Amir Hamzah diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI nomer 106/tahun 1975, tanggal 3 November 1975

Mesjid Azizi Langkat. Pada Sisi Barat Mesjid, dimakamkan Pahlawan Nasional Amir Hamzah  (dok.Pribadi)











Tidak ada komentar:

Posting Komentar