Minggu, 08 Mei 2016

Biaya Sosial Hasil Kerja Ahok

Ahok (Sumber gambar aktual.com)
Untuk menjadi atlit lari yang sukses, dibutuhkan latihan lari yang keras tiap hari. Petinju sukses bukan hanya mereka yang mampu memukul lawannya hingga KO. Melainkan, juga mereka yang kenyang dipukul hingga babak belur dalam proses latihannya.  Tak ada yang instant, kemudian, tiba-tiba jadi.
Ada hukum sebab akibat. Ada proses yang mengiringinya. Semuanya dapat dijelaskan. Semakin kuat kita mengejar mimpi, semakin dekat kita pada peraihan dari mimpi itu.
Ada hukum kekekalan energi yang berlaku. Semakin kuat kita melemparkan bola pada dinding, sekuat itu pula, pantulan bola kembali pada kita.
Demikian juga dengan mereka yang menorehkan sejarah dalam kehidupan umat manusia. Mereka yang kita sebutkan sebagai pribadi luar biasa. Bukanlah hasil pendidikan yang biasa. Mereka adalah hasil tempa-didik yang luar biasa.
Sebut saja misalnya Ibrahim. Dalam hitungan hari setelah dilahirkan, beliau ditempatkan dan ditinggalkan sendiri di dalam gua oleh sang Bunda. Alam yang menempa beliau. Hasilnya? Ibrahim diakui sebagai bapak para nabi.
Demikian juga dengan nabi Isa, nabi Muhammad dan lain-lain utusan Allah. Mereka ditempa dengan sesuatu yang keras. Bagaimana Musa harus membawa umatnya keluar dari penjajahan bangsa Mesir yang dipimpin oleh Fir’aun. Di belakang Musa, ada tentara Fir’aun yang mengejar sementara di depan Musa ada laut yang siap menenggelamkan Musa dan pengikutnya. Akhirnya, kemenangan dan keberhasilan berpihak pada Musa.
Lalu apa yang membedakan para pemimpin yang membawa kedamaian itu, dengan pemimpin yang kejam. Pembawa bencana. Sebut saja, misalnya seperti Yoseph Stalin, Muammar Khadafi, Saddam Husein?
Ternyata, perbedaan diantara mereka terletak pada kejadian yang menimpa mereka, saat masa kecil mereka. Pada pemimpin yang disebutkan terakhir ini, ada kejadian yang menjadikan traumatik pada masa awal-awal kehidupan mereka, sehingga, akhirnya membawa akibat yang serius, ketika mereka dewasa.
Yoseph Stalin yang dilahirkan pada tahun 1879 di kota Gori, dibesarkan dalam kondisi miskin papa. Ayahnya yang tukang Sol sepatu, pemabuk berat. Sering memukuli Stalin kecil hingga melintir-melintir. Dan Stalin kecil, baru bebas dari kekejaman sang ayah saat berusia 11 tahun, ketika sang Ayah meninggal dunia.
Saddam Hussein dilahirkan di kota Al-Awja, tiga belas kilometer dari kota Tikrit. Ibunya, Subha Tulfah al-Mussallat, menamai anaknya “Saddam” yang berarti “dia yang menantang, dia yang melawan”. Saddam kecil tak pernah mengenal ayahnya, Hussein Abd al-Majid. Selanjutnya, Saddam dibesarkan pamannya dengan cara “keras”
Muammar Khadafi lahir di Surt, Tripolitania, 7 Juni 1942. Di dalam tenda Badui, ditengah padang pasir. Besar dalam angin  Padang Pasir yang keras. Suasana dunia yang sedang bergolak saat itu, terserap habis dalam jagad khadafi kecil. Khadafi muda seorang penganut gelora nasionalisme Arab yang diperjuangkan pemimpin Mesir Gammal Abdul Nasser pada 1952.
Pengalaman traumatis semasa kecil seperti merasa sebagai anak terbuang, terabaikan dan terancam, meninggalkan luka pshykis yang dalam. Pengalaman traumatis semacam ini, ternyata mengakibatkan kerusakan emosi dan pshikologis yang lama dan akut
Dalam presentasinya, Dr. Nadine Burke Harris, dokter anak terkemuka dan CEO pendiri CYW (Center for Youth Wellness) San Fransisco, mendefinisikan trauma masa kecil akut, sebagai “ancaman-ancaman yang begitu parah atau meresap sehingga mereka  merasuk ke dalam diri kita dan merubah fisiologis kita: hal-hal seperti pelecehan atau pengabaian, atau tumbuh dengan orangtua yang berjuang melawan penyakit mental atau ketergantungan obat-obatan”
Pusat respon takut di otak, akan menyebabkan seseorang mengambil tindakan yang beresiko tinggi manakala menghadapi tekanan
Jadi, tidaklah mengejutkan apabila korban-korban trauma masa kecil, bergulat dengan emosi-emosi amarah, kenangan-kenangan menakutkan, penyakit, dan depresi di masa dewasa.
Turunan  dari traumatik masa kecil ini, melahirkan tindakan-tindakan yang sulit untuk diterima, terutama oleh mereka yang tidak mengalaminya.
Lalu bagaimana, jika korban traumatik bukan hanya dialami oleh person-person perorangan, melainkan dalam sebuah  komunitas. Mereka  inilah yang dalam aksinya kelak dikenal dengan teroris. Mereka dalam menjalankan aksinya, bisa saja membawa agama sebagai dasar ideology, membawa nama suku, nama daerah atau yang lainnya. Tersebar hampir diseluruh belahan dunia. Terutama yang  system pemerintahannya masih memarginalkan kelompok tertentu. Apakah  itu kelompok agama, suku atau daerah.
Contoh konkret yang  dapat kita lihat seperti kelompok separatis bersenjata Spanyol di Basque, ETA. Di era delapan puluhan hingga Sembilan puluhan, ada kelompok bersenjata IRA di Irlandia, Al-Qaeda di Afhganistan. Dan yang kini hangat dibicarakan adalah kelompok Abu Sayaf di Philipina dalam kaitannya  penyanderaan terhadap WNI.
Apakah Indonesia akan memiliki kemungkinan itu? Saya berharap, jawabannya tentu saja tidak. Akan sangat mengejutkan, jika kelak, terjadi kelompok-kelompok  pembuat kerusuhan disana-sini. Setelah ditelusuri. Ternyata, mereka adalah  anak-anak yang kini mengalami trauma berat akibat penggusuran yang dilakukan Ahok di Pasar Ikan Luar Batang.
Masalahnya, bukan pada, apakah yang dilakukan Ahok itu, salah atau benar. Tetapi apakah Ahok sudah memikirkan, kemungkinan akibat yang akan terjadi, dari tindakan yang diambilnya, akan berbuah demikian.  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar