Selasa, 31 Mei 2016

PNPM-MPd, Program Setengah Hati

 Pembukaan Pelatihan Penyegaran oleh Korprov Banten. Dari kiri ke kanan Usep, Sugiharto, Widi (dok.Pribadi)
Pada tanggal empat desember hingga 14 desember 2012, di hotel Parama Cisarua Puncak, Bogor. Diadakan acara pelatihan Fasilitator Teknik, Fasilitator Pemberdayaan dan asistent Fasilitator Pemberdayaan untuk wilayah Provinsi Banten.
Acara pembukaan yang dilakukan oleh Korprov Ir Sugiharto dimaksudkan untuk merefresh kembali para fasilitator yang selama ini bertugas pada setiap kecamatan yang berada di Provinsi Banten. Sehingga diharapkan kelak, bila para fasilitator ini telah kembali ke kecamatannya masing-masing, mereka lebih fresh baik secara mental maupun ke-ilmu-annya
.
PNPM-MPd atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan, dimaksudkan sebagai program yang berpihak pada masyarakat miskin di perdesaan, dengan misi mengentaskan kemiskinan di Pedesaan. Dengan SOP dan Tupoksi yang dibuat sedemikain rapi, lalu melakukan pelatihan-pelatihan intensif pada pelaku-pelakunya yang dibuat berjenjang mulai dari Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa, diharapkan seluruh aktivitas yang dilakukan di lapangan akan sesuai dengan SOP dan Tupoksi. Untuk maksud demikianlah maka pelatihan untuk FT, FK dan Asisten FK untuk Provinsi Banten TA 2012 dilakukan di Cisarua Puncak.

Senin, 30 Mei 2016

Puasa Dengan Aroma Korupsi

Kegiatan yang tak dapat lagi dilakukan pada siang hari di Bulan Ramadhan (dok.Pribadi)

Semua kita tahu, bahwa Puasa diwajibkan bagi orang-orang beriman. Dasarnya, ayat 183 dalam surat Al-Baqarah 183. Sebagaimana tertulis: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berPuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).
Jelas, tujuan Puasa agar dihasilkan manusia yang bertakwa. Jelas pula, bahwa Puasa bukan hanya dominasi umat Islam. Umat-umat lain selain Islam, juga menjalankan ibadah Puasa.
Umat Yahudi misalnya, melakukan Puasa pada hari Thisa B’Av. Pada hari itu, umat Yahudi melakukan Puasa dan membaca do’a pada Kitab Ratapan dan Kitab Ayub. Hari Thisa B’Av dianggap sebagai hari yang paling menyedihkan dalam kalender Yahudi dan dianggap sebagai hari yang penuh tragedy.

Minggu, 29 Mei 2016

Atok, Yang Terkulai

Pertigaan yang sepi sebelum kejadian itu (dok. Pribadi)

Makin lama, kerumunan manusia di simpang tiga menjelang pasar pagi itu semakin ramai. Entah darimana mereka  datang? Antusias manusia untuk melihat, sangat kental terasa. Berbondong-bondong, bergelombang-gelombang yang semakin lama semakin besar. Begitulah kerumunan itu, makin membesar dan membesar. Dalam sekejap saja sudah terkumpul banyak orang.
Mereka mengerumuni sesosok manusia yang tergeletak lemah. Tak berdaya, memelas dan tubuh itu, meringkuk terkulai. Darah masih tampak segar sembari menetes di pelipis matanya, pada sisi wajah yang lain, tampak lebam kebiru-biruan. Baju biru kotak-kotak abu-abu kemerahan yang dipakainya sudah tak jelas lagi warnanya. Mungkin saja, karena tubuh itu sudah diseret oleh sekelompok orang sebelumnya.
Entah siapa yang memulai, lalu, ada teriakan..
Bakar..
Bakar..
Bakar!!!!
Teriakan yang semakin lama, semakin membahana. Diikuti hampir semua mereka yang ada disekeliling kerumunan.
Terlihat seorang anak muda menyeruak masuk ke dalam kerumunan, menenteng botol plastik. Dari tampilan botol plastik yang bening transparan, jelas isinya bensin.  Prosesi pembakaran pada manusia yang meringkuk dan masih bernapas ditepi jalan, pada pertigaan menjelang pasar pagi itu, agaknya akan segera dimulai.
Beberapa orang yang tadinya berdiri dalam kerumunan, ada yang meninggalkan kerumunan, kepalanya menggeleng-geleng, mungkin saja, dia berpikir, itu pekerjaan gila, membakar pencoleng yang masih hidup. Kalaupun sang pencoleng itu salah, apakah patut dibakar? Sudahkah seimbang antara kesalahan yang diperbuatnya sebanding dengan hukuman yang akan dia terima? Koruptor yang menghabiskan milyaran uang Negara, yang nota bene uang rakyat, jangankan dipukuli, dibentak saja mungkin tidak. Bahkan ketika mereka ditahan, tahanan mereka ruangan ber-AC. Bebas dikunjungi keluarga, masih bisa keluyuran ke luar tahanan. Ada  yang menikah sirri, bahkan isteri-isteri mereka masih sempet hamil. Lalu, apakah sosok yang tergeletak itu, lebih jahat dari koruptor hingga harus dibakar.
Tiba-tiba, masuk ke dalam kerumunan, seorang yang bertubuh besar, berwajah teduh namun garis-garis wajahnya yang keras jelas terlihat, memakai kopiah Haji. Beberapa dari mereka yang sedang berkerumun, memberi jalan pada  sosok yang baru datang itu. Mereka mengenali siapa yang baru datang itu. Haji Murad.
Siapa yang btak kenal Haji Murad. Tokoh yang terkenal tegas, berwibawa, penolong pada masyarakat lemah, berani membela kebenaran. Tokoh yang jika bicara tanpa tedeng aling-aling. Beberapa mereka yang tak mengenal dekat Haji Murad akan memiliki kesan  bahwa tokoh ini kasar. Tetapi, mereka yang mengenalnya, itulah Haji Murad dengan segala keterus-terangannya.
“Berhenti… Berhenti…” suara lantang Haji Murad jelas terdengar oleh mereka yang berkerumun.
“Apa-apaan kalian? Jangan karena kebencian kalian, menyebabkan kalian berbuat tidak adil”
“Tapi dia pencoleng, pak Haji” sorang anak muda teriak, tak kalah kerasnya dengan suara Haji Murad. Wajahnya, jelas terlihat, tak suka pada Haji Murad.
“Saya tahu. Saya tahu bahkan lebih tahu dari apa yang kalian tahu.” Lanjut Haji Murad. Wajahnya kini terlihat keras, matanya mulai merah, kumis baplang yang sebesar pisang ambon diatas bibir Haji Murad, mulai naik turun. Dia benar-benar marah kini.
“Dengan membakar si pencoleng, kita lebih biadab dari dia. Padahal, apalah dia? Pencoleng yang akan kalian bakar itu bernama Atok. Saya kenal dia. Bahkan kenal sekali, dia dulu, pernah jadi santri saya. Atok yang saya ajar bertahun-tahun itu, memang memiliki kecenderungan untuk jadi bangsat.  
Dasar Atok teni Horbo. Dasar Atok Bodat.  Dia dulu pernah merantau ke Banten, di Banten kelakuannya makin menjadi-jadi, semua dia makan, mulai barang haram sampai isteri orang dia makan, dasar Kandiak si Atok itu.  Waktu baru tamat belajar, dia saya angkat jadi guru. Karena  Atok punya otak encer. Tapi  apa lacur, muridnya dia gagahi. Guru yang lain, diGugu lan ditiru,  bagi Atok Guru, Wagu lan Saru. Nah, sekarang kalian lihat, si teni Horbo itu sudah tak berdaya, meringkuk memelas, sudah tak ngaceng lagi, tak bisa lagi makan barang haram dan tak bisa lagi makan isteri orang. Lalu, untuk apa kalian bakar?” mereka yang berkerumun hanya diam.
Tak disangka pesakitan yang kini meringkuk penuh lumuran darah itu, bekas santri Haji Murad. Pemuda yang membawa bensin, sudah tak terlihat lagi. Apakah dia kecewa karna gagal membakar di Kandiak  Atok  atau karena alasan lain, tak jelas. Jumlah kerumunan itupun semakin berkurang. Tak sebanyak tadi l;agi.
“Jadi saudara-saudara. Jangan kalian kotori tangan kalian dengan membakar si Kandiak Atok itu, cukuplah si Bodat itu telah menerima balasannya dengan babak belur kalian hajar. Biarkan si Teni Horbo itu, diadili dengan hukum positif yang berlaku di Negara kita. Pengadilanlah kelak yang akan memutuskan berapa tahun si Bodat itu akan dihukum” demikian Haji Murad, masih dengan suara lantangnya. Mata merah dan kumis baplangnya.
Dari arah timur tempat kerumunan itu, terdengar jeritan sirine dari mobil polisi, dibelakangnya turut serta sebuah mobil Pick-Up bak terbuka.  Suara lolongan sirine mobil Polisi, menelan habis suara Haji Murad. Tak berapa lama kemudian, mobil Polisi dan pick-up bak terbuka itu, telah tiba dikerumunan orang banyak. 
Dua orang polisi turun untuk mengangkat sosok kandiak Atok ke pick-up bak terbuka. Agaknya sosok berat kandiak Atok menyebabkan Polisi kesulitan untuk mengangkatnya, dengan ditolong kerumunan orang yang ada, sosok teni Horbo itu, sekali lempar mendarat dengan suara berdebam di lantai pick-up bak terbuka.
Tak berapa lama, rombongan Polisi itupun berangkat, meninggalkan  kerumunan orang banyak. Tujuannya jelas, ke RSUD. Tapi apakah sosok teni Horbo  itu, akan selamat sampai RSUD atau meninggal diperjalanan, tak seorangpun tahu. Mengingat kondisi si Bodat  itu, sudah hancur lebam.



Catatan:
Teni Horbo    artinya tahi Kerbau (bahasa Batak)
Bodat   artinya monyet (bahasa Batak)
Kandiak   artinya Babi (bahasa Minang)
Wagu   artinya tidak pantas (bahasa Jawa)

Saru  artinya tidak senonoh (bahasa Jawa)

Jumat, 27 Mei 2016

Ramadhan Yang Penuh Pernik

”Kembali sore hari, untuk berbuka bersama keluarga” (dok.Pribadi)

Ramadhan prinsipnya menahan hawa nafsu, guna mencapai derajat manusia yang memiliki empaty pada sesama manusia dan sesama makhluk hidup. Dunia sudah begitu gersang dengan tiadanya empaty sesama manusia. Ramadhan hadir untuk menjawab semua kebutuhan itu.
Namun, kenyataan yang ada, jauh panggang dari api. Rona budaya sangat kental membelenggu Ramadhan. Salahkah budaya? Tidak, jika budaya diartikan sebagai budaya adiluhung Bangsa. Namun yang terjadi, budaya hedonis mendominasi pengertian kita tentang budaya.
Ramadhan sendiri belum datang, masih sebulan lagi. Tetapi tiket Kereta Api untuk mudik dan balik telah habis terjual. Alasannya dibuat sungguh indah, menjalin silahturahmi. Sungkem pada orang tua dan mencari akar budaya dimana sang perantau berasal. Kenyataan yang terjadi, mudik hanya sebagai ajang pamer dan unjuk keberhasilan. Bahwa sang putra daerah telah berhasil menundukan Ibu Kota. Indikasinya, dengan materi yang dipamerkan saat mudik, bisa berbentuk mobil mewah yang dikendarai, pakaian bagus yang dikenakan dan segala pernak-pernik lainnya.   

Selasa, 24 Mei 2016

Untuk ex Fasilitator yang Belum Move On


Kita adalah Mentari Pagi, bukan Mentari yang kan Tenggelam (dok.Pribadi)

Sejak satu Januari 2015 program PNPM resmi dibubarkan, oleh Pemerintahan Jokowi. Sejak itu pula, dimulailah berbagai aneka cerita tentang nasib fasilitator yang mengalami kegalauan karena kehilangan pekerjaan. Bahkan hingga kini, memasuki bulan ketiga tahun 2015, keluh kesah tentang kegalauan itu, belum juga hilang. Terutama bagi ex fasilitator yang belum bisa move on dari kondisi Jobless yang dialami.
Benarkah kehilangan pekerjaan, telah berakibat membuat galau? Apakah bukan justru sebaliknya, justru kehilangan pekerjaan, merupakan hikmah yang perlu disyukuri. Apa saja, hikmah yang diperoleh dibalik kehilangan pekerjaan? Untuk itulah tulisan ini dibuat.
Diantara hikmah yang bisa diperoleh dari berhentinya program pemberdayaan, hingga berakibat kehilangan pekerjaan, antara lain;

Senin, 23 Mei 2016

Haruskah Pergi Jauh

Untuk tanah harapan di ujung jalan yang kutempuh. (dok.Pribadi)

Selepas Maghrib seorang sahabat mengajak  saya untuk mengunjungi kerabatnya yang baru datang dari merantau “Jauh”. Sebuah budaya yang baik menurut saya. Selain untuk mengucapkan “welcome home” bagi kerabat yang merantau. Secara kejiwaan, ada sebuah kenyamanan bagi yang dikunjungi, bahwa mereka tetap diakui sebagai warga, meski sudah lama merantau. Bagi kita yang berkunjung, tentu ada manfaat juga yang diperoleh, paling tidak, ada oleh-oleh informasi tentang budaya dan situasi geografis, dari daerah  tempat  kerabat  sang sahabat merantau.
Dalam perjalanan pulang, sehabis mengunjungi kerabatnya. Sang sahabat bertanya pada saya, apakah memang perlu untuk merantau? Meninggalkan anak isteri begitu lama, demi memenuhi kebutuhan ekonomi.
Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya tadi, maka, tulisan ini saya buat. Tidak sepenuhnya ilmiah memang, melainkan, lebih pada sebuah pendekatan dari apa yang pernah saya alami, ketika “harus” meninggalkan anak isteri karena lokasi pekerjaan berada “jauh” diluar kota.

Istana Maimun, Salah Satu Ikon Medan

Singgasana Sultan Deli di Istana Maimun. (dok.Pribadi)
Dua hari sudah saya di Medan, kota yang pernah begitu akrab dalam kehidupan masa lalu saya. Pagi itu, selepas menikmati kopi sidikalang yang terkenal itu, salah seorang teman mengingatkan saya tentang Istana Maimun. Saya tersadar, ada sebuah ujaran yang mengatakan bahwa, belum lengkap mengunjungi Kota Medan, sebelum singgah di Istana Maimun. Analoginya, seperti belum sempurna mengunjungi Jakarta sebelum melihat Monas. 
Sadar akan ketidak-sempurnaan saya mengunjungi Medan, kamipun bergerak, dari Taman Merdeka, sebagai pusat Kota Medan, yang di Pulau Jawa disebut sebagai alun-alun. Menyelusuri jalan A. Yani, kami melalui kantor Harian Analisa, kantor harian yang punya kenangan khusus, di harian itulah, dulu pada tahun sembilan puluhan, setiap hari Jum’at, tulisan saya selalu muncul pada rubrik “agama”, sesekali pada hari Rabu dalam rubrik Budaya. Kenangan itu muncul kembali, begitu melintas di depan kantor Harian Analisa. Kami, terus melangkah.

Minggu, 22 Mei 2016

Amir Hamzah Sang Pecinta, Sang Satria

Penulis dengan latar belakang Mesjid Azizi Stabat Langkat. Sumut (dok.Pribadi)
Biarlah daku tinggal di sini
Sentosa diriku disunyi sepi
Tiada berharap tiada berminta
Jauh dunia disisi Dewa
……………………………………….
Datanglah engkau wahai maut
lepaskan aku dari nestapa
engkau lagi tempatku berpaut
Diwaktu ini gelap gulita.

Demikianlah bait-bait syair yang tertera pada sisi kanan dan sisi Nisan makam Amir Hamzah. Betapa syair yang tergambarkan, bermakna, sang Pahlawan Nasional itu telah menyadari hari datangnya saat kematiannya dengan sepenuh sadar. Mereka yang berani menyambut datangnya hari kematian adalah mereka yang berani menjalani kehidupan. Termasuk sang pahlawan Amir Hamzah.
Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, lahir di Tangjung Pura, Langkat. Sumatera Utara. Pada 28 Februari 1911 dan meninggal di kuala Begumit, Binjai, Langkat, Sumatera pada tanggal 20 Maret 1946.

Solusi Tentang Rezeki

Dalam Usaha menjemput Rezeki. (dok.Pribadi)

Rezeki nyaris dimaknai dengan jumlah uang yang dimiliki. Makin banyak uang dimiliki, makin banyak rezeki yang dipunyai. Begitu, hampir semua kita memaknai rezeki. Akibatnya, berlomba kita mengais rezeki, tepatnya, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Tujuannya, untuk dinikmati saat ini dan nanti.
Untuk mereka yang kini telah memiliki banyak uang, bagaimana tetap mempertahankan jumlah nominal pundi-pundi uangnya. Sementara, merancang untuk masa yang akan datang, dengan pertanyaan bagaimana jumlahnya pundi-pundi itu, semakin bertambah.
Sepintas pola pikir demikian terlihat baik dan ideal, patut untuk diikuti. Namun, pengalaman mengajarkan, bagaimana pola pikir demikian telah banyak menelan korban.
Dari mulai mereka yang tak mengenal siang dan malam, mengumpulkan uang, lupa makan dan istirahat, sehingga bonus lain dari uang yang diperoleh, berupa penyakit fisik dan pshykis. Lupa menikmati uang yang telah diperoleh, karena jumlah perolehan tidak sesuai dengan target yang direncanakan. Lupa bersyukur atas apa yang telah diterima, karena rencana masa depan masih meragukan apakah perolehan kelak, akan sama dengan nominal yang diterima pada saat ini.

Rabu, 18 Mei 2016

Tour De Banten, sebuah keniscayaan.

Salah satu sudut Anyer yang dilewati Tour De Banten (dok.Pribadi)
Tour De Banten, rasanya hampir semua kita, belum pernah dengar. Memang Tour De Banten belum pernah ada. Lalu, mengapa tidak diadakan saja. Begitu yang terlintas di kepala saya.
Jika saja Tour De Banten kelak ada, tersebab oleh ide dari tulisan ini, atau sebab yang lain. Maka, beberapa keuntungan akan dapat diperoleh oleh Banten tentu banyak. Diantaranya;
Satu, Akan membuka mata dunia. Bahwa, ada sejengkal tanah diujung barat pulau Jawa yang jaraknya sepelemparan batu dari Ibu Kota Negara, dengan potensi pariwisata yang tak kalah elok dengan provinsi lain, ada sumber daya alam yang selama ini hanya dimanfaatkan segelintir orang, ada budaya lokal yang khas yang tidak dimiliki oleh provinsi lain dan sejibun kekayaan lain yang selama ini tersembunyi.

Jumat, 13 Mei 2016

Guru Diyah Dan Hamzah

Icon UPI Bandung
Siang itu, Guru Hamzah dipanggil kepala sekolah, Ibu Diyah. Antara Diyah dan Hamzah sebenarnya teman semasa waktu SMA dulu. Lulus SMA mereka sama-sama masuk IKIP.  Diyah jurusan Management Pendidikan sedangkan Hamzah fakultas MIPA jurusan Kimia. Selesai di IKIP, mereka mengajar di sekolah yang sama.
Nasib berkata lain, Diyah menjadi kepala sekolah, sedangkan Hamzah masih sebagai Guru Kimia. Persamaan antara mereka berdua, hanya pada status. Mereka, Hamzah dan Diyah, masih berstatus lajang. Ada apakah Diyah memanggilku. Begitu tanya Hamzah dalam hati.
*******
“Silahkan duduk Pak Hamzah”
“Makasih Bu..” jawab Hamzah, sambil menggeser sedikit kursi, di depan Diyah. Sang Kepala sekolah. Mereka terpisahkan Meja. Meja kerja Kepala Sekolah.
“Ada apa ya, Ibu memanggil saya?” demikian Hamzah, bertanya pada Diyah.
“Begini pak Hamzah. Karena tahun ajaran akan dimulai, saya ingin tahu, pilihan pak Hamzah, apakah akan mengajar di kelas 1 atau 2 atau 3. Mumpung jadwal belajar-mengajar belum disusun..” kata Diyah.

Banten Selatan....Wow!!!

Pasukan Kera di Pulo Manuk (dok.Pribadi)
Pernah bermimpi setiap hari liburan? Pekerjaan utama adalah liburan, sedangkan pekerjaan mencari nafkah adalah selingan. Seakan tak mungkin dan khayalan semata.  Semua, impian itu, akan menjadi nyata ketika kita berada di Banten Selatan.
Kadang, kata tak mampu untuk merefleksikan apa yang terlihat kedalam kata dan tulisan. Namun, gambar bisa  mewakili apa yang tak mampu tersampaikan di dalam kata dan kalimat itu.

Untuk jelasnya, kita ikuti saja, apa yang terpampang di bawah ini. Biarlah gambar itu sendiri yang berbicara.

Rabu, 11 Mei 2016

Hukuman Mati, Selebrasi Gembong Narkotika

Pelaksanaan Hukuman Mati
Kembali soal pelaksanaan hukuman mati yang segera akan dilaksanakan untuk para gembong narkotika, menjadi berita hangat. Berita yang sesungguhnya menggelikan dan kontra produktif. Negara yang sudah demikian akutnya menjadi korban narkotika, masih kurang jeli dalam pelaksanaan tindakan eksekusi.
Coba bedakan antara kerja keras dan jeli. Kerja keras yang dilakukan oleh BNN patut diacungi jempol. Tapi soal jeli dalam bertindak, tunggu dulu. Disinilah masalah itu bermula.
Kerja BNN dari penangkapan hingga berkas perkara sampai pengadilan, cukup mendapat acungan jempol. Demikian juga ketika, pesakitan itu dijatuhkan hukuman. Hingga sebagian ada yang dijatuhkan hukuman mati. Setelah itu? Memble.. bleh… tak ada yang patut diapresiasi.
Setelah vonis hukuman mati dijatuhkan hakim untuk terpidana, lalu masalahnya jalan ditempat. Tidak ada pelaksanaan yang membuat masyarakat lega. Banyak kendala yang dijadikan pembenaran dari tertundanya pelaksanaan hukuman mati. Seperti,
Berbagai masalah diperdebatkan, apakah hukuman mati perlu atau tidak perlu, sebuah perdebatan yang berlarut-larut dan menghabiskan waktu. Padahal semua pihak yang berdebat sepakat dalam satu hal. Bahwa kejahatan  “Narkotika” merupakan kejahatan ekstra ordinary.

Senin, 09 Mei 2016

Jalan di Banten Selatan Mulus Jaya

View Bayah, semakin maju seiring jalan yang semakin mulus (dok.Pribadi)
Jika ada keluhan yang disuarakan seluruh masyarakat Banten, maka keluhan itu, soal infra struktur jalan. Daerah yang jaraknya sepelemparan batu dari Jakarta, Ibu Kota Negara Republik Indonesia, kondisi jalannya, bagaikan malam dan siang.
Kondisi terparah, dirasakan oleh mereka yang tinggal di pedalaman Banten. Khususnya di daerah Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang. Lebih spesifik lagi, terletak pada ruas jalan antara Bayah-Malingping-Saketi. Ruas jalan sepanjang seratus kilometer itu, demikian menyiksa. Baik untuk pengendara roda dua maupun roda empat.
Cerita tentang jalan Bayah-Malingping-Saketi. Jika dianalogikan dengan buku, maka, buku yang dimaksudkan adalah semacam buku yang dikarang oleh Kho Ping Hoo. Cerita yang tak pernah selesai. Bersambung dan terus bersambung. Semua isi buku bercerita tentang keluhan dan penderitaan pemakai jalan, sementara sang jalan tak pernah selesai diperbaiki. (Lihat disini http://www.kompasiana.com/isz.singa/jalan-saketi-malingping-the-never-ending-story_552fc1126ea83491308b4583)

Minggu, 08 Mei 2016

Biaya Sosial Hasil Kerja Ahok

Ahok (Sumber gambar aktual.com)
Untuk menjadi atlit lari yang sukses, dibutuhkan latihan lari yang keras tiap hari. Petinju sukses bukan hanya mereka yang mampu memukul lawannya hingga KO. Melainkan, juga mereka yang kenyang dipukul hingga babak belur dalam proses latihannya.  Tak ada yang instant, kemudian, tiba-tiba jadi.
Ada hukum sebab akibat. Ada proses yang mengiringinya. Semuanya dapat dijelaskan. Semakin kuat kita mengejar mimpi, semakin dekat kita pada peraihan dari mimpi itu.
Ada hukum kekekalan energi yang berlaku. Semakin kuat kita melemparkan bola pada dinding, sekuat itu pula, pantulan bola kembali pada kita.
Demikian juga dengan mereka yang menorehkan sejarah dalam kehidupan umat manusia. Mereka yang kita sebutkan sebagai pribadi luar biasa. Bukanlah hasil pendidikan yang biasa. Mereka adalah hasil tempa-didik yang luar biasa.

Sabtu, 07 Mei 2016

Soal Makan dan Jokowi

Jamuan makan siang di Istana, 12 Desember 2015 (dok.Pribadi)

Banten dengan segala pernik budayanya, kadang berbeda dengan budaya daerah lain. Ada hal yang real diketahui masyarakat di luar Banten, ada yang hanya sekedar cerita dari mulut ke mulut. lalu, dianggap sebuah kebenaran.
Seorang sahabat dari Sumatera, mengadakan perjalanan dari Serang menuju kediaman saya di pedalaman Banten. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, tibalah beliau di rumah saya. Di rumah saya, sebelum cerita tentang perjalanan yang dilakukannya, sang tamu terlebih dahulu minta air minum. “sangat haus” demikian celoteh sang teman. Masih menurut beliau, dia dipesankan oleh istrinya, untuk tidak membeli minuman di sepanjang jalan menuju rumah saya. Masih menurut istrinya, daerah tempat tinggal saya, termasuk daerah yang angker. Sehingga, jika membeli minuman sepanjang perjalanan. Khawatir akan diracun oleh penjual minuman. Apalagi, jika diketahui sang pembeli adalah orang  “asing”.

Kamis, 05 Mei 2016

Gagal Paham Ustadz dan Ustadzah

Oki Setiana (sumber gambar: Bintang)

Beberapa waktu lalu, marak tulisan tentang Ustadzah Oki Setiana. Ada tulisan, menganjurkan untuk memboikot sang Ustadzah, dengan alasan Oki Setiana belum fasih melafalkan al-Qur’an dan Hadist, memamerkan gaya hedonis dan minta fasilitas berlebih setiap ceramah serta melakukan plagiat. Benarkah semua tuduhan yang diarahkan pada Oki itu benar?
Tulisan ini, tidak dimaksudkan untuk menjawab semua pertanyaan diatas. Sudah banyak tulisan yang membahas masalah itu. Saya hanya ingin fokus, membicarakan apa sebenarnya makhluk yang bernama Ustadz dan Ustadzah itu.
Istilah Ustadz dan Ustadzah adalah perkembangan istilah dari kata ustaz, yang berarti pendidik atau Guru. Sampai sini, kita tidak mempermasalahkan istilah Ustadz atau ustdzah. Kata Ustadz dimaksudkan untuk pendidik/Guru pria, sedangkan pendidik/Guru wanita disebut Ustadzah.

Minggu, 01 Mei 2016

Resensi Buku “Hidup Yang Lebih Berarti” Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia

Buku  "Hidup Yang Lebih Berarti" Penerbit PT. Elex Media Komputindo (dok.Pribadi)
Pagi itu, jam baru saja menunjukan pukul Sembilan, tanggal 21 April 2016, ketika saya tiba di Kantor Pusat Bank BTPN yang beralamat di Menara Bank BTPN, lt 27. SCBD Mega kuningan. Setelah rehat sejenak, maklum perjalanan panjang yang saya lakukan untuk sampai di tempat yang saya tuju itu, cukup jauh. Dari sebuah kecamatan kecil di Ujung Banten Selatan yang berbatasan dengan Sukabumi. Untuk sampai di Serang saja, saya membutuhkan waktu empat jam, lalu Serang–Jakarta membutuhkan waktu 2 Jam, ditambah setengah jam untuk mencari alamat yang dituju. Saya yang berangkat jam dua belas tiga puluh malam dari rumah, Alhamdulillah…jam Sembilan pagi sampai dengan selamat di alamat yang saya tuju.
Tujuannya jelas, mengikuti acara bedah buku “Hidup yang lebih berarti” sosok Inspiratif untuk dayakan Indonesia. Alasan saya ngotot untuk mengikuti acara bedah buku “Hidup yang lebih berarti” karena, ada keterikatan emosi antara buku yang akan di bedah dengan saya. Saya salah satu, diantara dua puluh Blogger yang tulisannya disertakan dalam buku “Hidup yang lebih berarti”.