Jumat, 29 April 2016

Marwan atau Budiman, Gak Penting



Sebenarnya sudah lama, saya ingin menulis  tentang kisruh Pendamping Desa -PD- pada Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi. Tetapi selalu saja saya tunda. Mengapa? Karena, makin lama, nuansa politik yang menyelimuti kasus ini, makin kental. Padahal, yang diharapkan oleh mereka yang terlibat, terutama pada PD, jauh dari itu. Mereka tak hiraukan soal politik itu. Bagi mereka yang kini disebut PD, adalah, bagaimana membangun Desa, bagaimana kepastian status mereka, sehingga mereka dapat bekerja dengan tenang. Untuk tujuan itulah maka, tulisan ini dibuat.

Sejak lama sudah bermasalah.
Berbicara tentang Pendamping Desa, tidak dapat dilepaskan dengan PNPM. Program yang diklaim sebagai program terbaik pada era SBY. Tetapi, begitu Jokowi menggantikan SBY. Dengan hanya selembar “Email”, program yang sudah berjalan selama 7 tahun pun tamat. Tanpa pesangon dan tanpa evaluasi. Sementara leading sektor yang selama ini berada di Kementrian Dalam Negri, dipindahkan ke Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi.
Buku "Catatan kecil, Perjalanan PNPM-MPd" (dok.Pribadi)

Rabu, 27 April 2016

HBD, Apaan Sih?



Singa yang diharapkan mampu mengaum dengan kerasnya. (dok.Pribadi)
Beberapa hari ini, saya kok dihinggapi rasa galau, hehehe… kayak anak abg saja. Sebabnya apa? Itulah yang jadi masalahnya, saya tak tahu sebab pastinya. Sore itu saya mengajak anak isteri saya ke laut, kegiatan yang sebenarnya sangat rutin saya lakukan. Karna, hampir tiap minggu, hal itu saya lakukan.
Jangan pembaca pikir. Karena, saya banyak duit, hingga dapat ke pantai hampir tiap minggu, bahkan kadang bisa, seminggu dua kali.  Sebab, untuk ke pantai, dengan roda empat hanya dibutuhkan bensin satu liter pergi-pulang, tanpa biaya parkir dan biaya kuliner, secangkir kopi, secangkir teh manis dan satu botol teh botol serta beberapa potong gorengan, jika ditotal harganya, paling besar dua puluh ribu.