Senin, 08 Februari 2016

Panggilan Yang Terabaikan

Mesjid Azizi Stabat, di halam Mesjid ini Amir Hamzah, Pahlawan Nasional di Makamkan (dok.Pribadi)
Tetes peluh itu, membasahi punggung Reno, sementara  terik Matahari seakan tak mau kompromi, mencorong garang, di atas lazuardi. Di Jalur lambat jalan Sudirman Jakarta Pusat itu, kendaraan bergerak merayap. Penuh sesak. Belum lagi, pantulan sinar Surya dari dinding kaca di gedung-gedung pencakar langit yang kini ditapaki Reno. Sempurna sudah. Tak ada belas kasih di sini.
Semuanya rasional. Terukur dan dapat dijabarkan. Jika anda pengangguran, silahkan melamar kerja. Jika persyaratan cukup, silahkan test. Jika lulus test, silahkan kerja. Jika anda memiliki sepeda motor, silahkan kendarai sepeda motor anda. Jika anda memiliki mobil, silahkan naiki mobil anda, nikmati segala kenyamanan di dalamnya, meski jalanan harus merayap. Jika anda tak memiliki semuanya, silahkan jalan kaki, nikmati terik Matahari dan debu jalanan yang berterbangan di trotoar, serta karbon dioksida dari sisa pembakaran dari kendaraan yang sedang merayap, di sebelah anda. Hal terakhir itulah yang kini sedang dialami Reno.

Pagi ini, Reno akan melakukan test. Kemarin, panggilan itu dia terima. Itulah kenapa, Reno ikut menambah bagian dari sumpeknya trotoar di Jalan Sudirman pagi ini. sebuah asa, masih dia gantungkan, mudah-mudahan dia lulus test, lalu bekerja.
*****
Semuanya, harus rasional. Harus bisa dijelaskan denga akal. Kurang apa Reno. Lulus dari perguruan terbaik negri ini. kerja rajin, berdedikasi. Kenapa harus diberhentikan? Jangan sebut ini nasib. Bukankah nasib, yang menentukan manusia sendiri? Jika kita malas, maka kita tidak mendapat apa-apa. Jika kita rajin, apa yang tak mungkin diraih. Jika tidak lulus SD mana mungkin jadi direktur?  Untuk Reno semuanya sudah memenuhi syarat. Pintar, Rajin, Lulus dari perguruan terbaik negri ini. Apa yang kurang? Apa yang salah?.
Bahkan Allah sendiri berjanji, Aku tak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tak mau merubahnya. Jangan paksa Reno untuk menjadi “durhaka” pada janji Allah, dengan mempertanyakan ke-akurat-an janji Allah itu.
Itulah hal-hal yang ingin Reno tanyakan pada ustadz Yunan.
Tak perlu menunggu lama, Ustadz Yunan sudah keluar dari kamarnya. Menyalami Reno, mempersilahkan Reno untuk minum kopi hangat yang disajikan isteri ustadz Yunan.
Ruang tamu tempat Reno duduk itu, sederhana. Tak ada kursi, mereka duduk bersila di atas karpet murah. Tapi, dari kesederhanaan itu, terasa ada yang lain, kesejukan dan keakraban. Yunan, teman sekolahnya dulu, telah menemukan dunianya. Dunia sederhana, cara hidup sederhana serta pencapaian-pencapaian hidup sederhana. Bahkan, ketika Reno baru saja di wisuda, Yunan sudah menjadi suami dari wanita yang dicintainya. Wanita sederhana yang kini mendampingi kehidupan Yunan.
“Kok kelihatan kusut aja, Ren. Ada apa?” tanya Yunan. Yunan, selalu begitu, masuk pada pokok masalah. Tepatnya, mengatakan apa yang dia lihat. Tanpa tedeng aling-aling.
“Hehehe… Kau, selalu dapat melihat apa yang aku rasa” jawab Reno pendek.
Reno bersyukur dengan pertanyaan Yunan. Itu artinya, dia bisa lebih cepat masuk pada masalah yang akan dia tanyakan.
“Kita kan teman lama. Aku dapat melihat perbedaan, kapan kau senang, kapan kau suntuk” jawab Yunan lagi.
“Itulah… ada hal yang ingin kutanyakan”
“Tanya aja, jangan sungkan” jawab Yunan pula.
“Dengan satu syarat”
“Apa syaratnya?” jawab Yunan lagi.
“Jangan kau bawa-bawa ayat dan hadist dalam jawabannya. Aku ingin jawabanmu rasionil, masuk akal dan terukur” kata Renon lagi. Dia ingin, masalah hidupnya dijabarkan secara rasional.
“Siiip, aku akan usahakan itu” balas Yunan.
Lalu, Reno menceritakan persoalan hidupnya. Bagaimana dia yang sedang di puncak karier harus berhenti. Bagaimana Reno, harus tertolak setiap melamar kerja. Padahal CV yang dia punya penuh dengan riwayat kerja menantang. Dia yang lulusan perguruan terbaik di negri ini, seakan bukan sesuatu yang jadi pertimbangan. Soal bahasa jangan tanya, bahasa Inggris, Mandarin dan Jepang dia kuasai. Dia pernah menduduki jabatan yang cukup tinggi di tempat kerja yang lama. Tapi, kenapa kenyataannya begini? Apa penjelasan rasionalnya?
“Mungkin karna kau pelit, Reno….” kata Yunan.
“Apa alasannya?” tanya Reno lagi.
“Buktinya, sampai sekarang, kau belum juga married” jawab Yunan.
“Eeeeit’s… kita sepakat membahas masalah ini dengan rasional. Itu tidak rasional” jawab Reno.
“Atau kau gak pernah sedekah?” sela Yunan.
“Justru karena itu masalahnya”
“Maksudnya?”
“Setelah aku, memberikan bantuan yang cukup besar pada rumah yatim piatu, ketika aku baru saja dipromosikan pada jabatan baru, semuanya jadi berantakan”
“Salah minta do’a kali?”
“Salah apanya? Mereka mendo’akan agar harta yang kuperoleh berkah. Agar aku lebih sukses lagi. Agar aku selamat dunia akherat. Lalu, dimana salahnya?”
“Apakah kau sholat?”
“Sholatlah… walau masih bolong-bolong”
“Dimana bolongnya?”
“Gak pasti…, tapi yang pasti Isya dan Subuh”
“Nah, disitulah akar masalahnya. Dari sana kita cari solusinya” kata Yunan.
Wajahnya bersinar, sumber masalah sudah dia temukan. Tinggal kini, bagaimana cara  menjelaskannya secara rasional pada Reno.
“Ingat  ya, harus rasional” Reno memperingatkan Yunan.
Reno gak mau digiring dengan hal-hal yang tidak rasional. Hal-hal yang berbau doktrin.
“Sekarang aku mau tanya?” Yunan mulai, melancarkan serangannya, menggiring logika Reno dengan hal yang rasional. Dengan men-analogi-kan masalahnya.
“Kalau kau, dipanggil seorang yang sangat kau hargai, apa reaksimu?”
“Aku akan datang”
“Kalau dia bukan hanya memanggil, tapi menjanjikan memberikan sejumlah uang?”
“Aku akan datang lebih cepat lagi”
“Kalo bukan sejumlah uang, tapi memberikan sebuah perusahaan?”
“Akan lebih cepat lagi”
“Kalau yang memanggil Presiden?”
“Akan lebih cepat lagi”
“Presiden yang memanggil ini, menjanjikan jabatan Mentri?”
“Akan lebih cepat lagi”
“Apakah jawabanmu itu rasional?” tanya Yunan lagi.
“Sangat rasional” jawab Reno dengan pasti. Reno sudah mulai curiga, Yunan akan menggiring pemikirannya pada suatu hal. Tapi, apa? Reno tak mau berandai-andai.
“Tahu kau, siapa yang memanggilmu, waktu subuh itu?”
“Allah…”
“Tahu kau, apa yang akan diberikan Allah, kalau kau datang menghadap?”
“Gak tahu…”
“Allah akan memberi sesuatu  yang nilainya, lebih mahal dari seluruh kekayaan yang ada pada permukaan bumi dan di dalam perut bumi. Yang memanggil kau itu, Zat yang menciptakan Presiden. Dan yang akan diberikannya, sesuatu yang Presiden sendiripun gak mampu, bahkan untuk menghayalkannya sekalipun” Jawab Yunan agak panjang lebar.
Yunan melihat sobatnya mulai terdiam. Bathin Yunan. Masuk barang tu. Sekalian sudah masuk, Yunan kembali melakukan serangan.
“Itulah artinya, do’a anak Yatim itu terkabul. Mereka mendo’akan kau, untuk selamat dunia akherat. Itu artinya, kau harus menjemput jatah yang sudah dijanjikan Allah diwaktu subuh itu. Bukan memburu pekerjaan yang tidak ada jaminan sama sekali untuk diterima”. tambah Yunan lagi.
“kok terasa bodoh aku, Nan. Kemana akal ku yang cerdas selama ini?” sahut Reno perlahan.
“Hahaha… kau aja yang merasa, diri kau pintar Ren, padahal masih banyak orang lain, yang lebih pinter dari kau” ledek Yunan pula. Sengaja Yunan melakukan itu, bukan untuk menjatuhkan Reno. Tapi untuk mengikis rasa sombong yang ada pada diri Reno. Karena, sifat sombong, kadang, mengakibatkan pikiran jernih tak mau singgah.
“Jadi aku harus gimana, Nan?” tanya Reno.  
“Datangi segera, ketika ada panggilan dari yang Menjadikan Presiden. Terutama, ketika waktunya Dia menjanjikan, akan membagi-bagikan pada mereka yang datang, sesuatu yang lebih bernilai dari bumi beserta seluruh isinya”.
“Mentok akal ku, Nan” lirih suara Reno.
Jika akal yang sibuk sudah mentok, buntu, bodah dan bebal. Mari.. kita bersihkan hati kita, dari hingar bingar dunia. Bersihkan dari kotoran nafsu, usirlah kalbun (sifat hewan) yang bercokol di dalamnya. Jadikan dia benar-benar bersih. Sehingga layak disebut baitullah. Jadikan dia, tempat singgahnya kebenaran dan Nur Ilahiah.
*****
Sudah tiga bulan ini, Reno tak berkunjung ke rumah Ustadz Yunan. Yunan tahu itu artinya. Sahabatnya tentu sudah dapat pekerjaan yang baru. Kalau tidak, mana mungkin dia tak datang ke rumahnya.


3 komentar: