Jumat, 15 Januari 2016

Suatu Hari Bersama Seno Gumira Ajidarma

Thamrin Sonata, Seno Gumira Ajidarma, Iskandar Zulkarnain, pada acara Kompasianival (dok.Pribadi)
Seno dalam bahasa pergaulan di Masyarakat Papua berarti gila. Pada ajang kompasianival 2015, saya benar-benar bertemu dengan “Seno”. Beliau benar-benar “gila”. Bagaimana tidak? Penulis ini, benar-benar mampu menulis dengan beragam genre. Mulai Novel, Cerpen, Catatan ringan, Catatan perjalanan, Reportase dan Opini.
Kegilaan itu, makin komplit saja, ketika Seno berani menolak penerimaan bergelimang uang dari Ahmad Bakrie Award, sebagai bentuk solidaritas pada korban lumpur Lapindo.
Beliau bernama lengkap Seno Gumira Ajidarma. Lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Itu, berarti, usianya kini 57 tahun.
Beberapa buku karya Seno, Atas Nama Cinta, Malam, Wisanggeni, Sepotong Senja Untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi dan Negeri Senja.
Isson Khaerul, Seno Gumira Ajidarma, Iskandar Zulkarnain, Taufik uieks, Tjiptadinata Effendi (dok.Pribadi)
Sayang, dalam acara Kompasianival 2015, Seno tak dapat perlakuan sepantasnya, sebuah kritik Admin Kompasiana perlu dilayangkan untuk ini. Kehadiran Seno juga atas undangan Booth Kutu Buku yang dikomadoi  oleh Thamrin Sonata.  Beberapa Kompasianer yang juga sebagai Blogger seakan tak acuh atau memang tidak mengenal sosok Seno Gumira Ajidarma. Hal itu, dapat dilihat dari mereka yang hanya sekedar berlalu lalang di hadapan sang Maestro tanpa mencoba untuk mengenal, salaman atau berfoto bersama.
Padahal sebagai Blogger, Seno, bukanlah orang yang asing-asing bener, pada tahun 2014, dia meluncurkan blog bernama Panajournal.com.
Ironis lagi, pada panggung utama, hiruk pikuk dengan musik dan beberapa tokoh yang diundang. Apakah ini artinya, kita sebagai komunitas blogger terbesar di Republik ini lebih menghargai sesuatu yang hinggar bingar dibandingkan dengan blogger yang setia menulis seperti halnya Seno?.  Sebuah pertanyaan yang memerlukan perenungan kita semua.
Sudah saatnya dipikirkan, untuk Kompasianival berikutnya, acara talk show lebih dominan diisi oleh tokoh semacam Seno.
Lulusan SMA De Brito Jogya ini, masih memiliki kharisma, seperti halnya ketika SMA dulu, masih dengan rambut gondrong yang sudah ditingkahi dengan warna putih. Bak pendekar Shalolin yang sudah pada tingkat Suhu.
Hingga saat ini, Seno telah menghasilkan puluhan Cerpen yang dimuat di beberapa media massa, cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993, Buku kumpulan cerpennya antara lain Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993). Saksi Mata (1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1955), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Sedangkan karya Seno berupa Novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Penghargaan yang telah diperoleh Seno berupa Sea Write Award. Berkat Cerpennya Saksi Mata Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.



5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. hmmm... om Seno emng top, buku" beliau bagus"
    begitulah om, kadang kita lupa di sekitar kita sudah lebih dulu mengada para penulis beken spt om Seno :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah, kadang kita asyik dengan diri sendiri, padahal mereka sudah berbuat apa yang baru kita wacanakan..
      salam,IZ

      Hapus
  3. Sayangnya saya tak hadir di kompasianival, sejak SMP saya suka karya beliau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan tahun depan Uni Ika bisa hadir, semoga juga Seno dapat "tempat" di tahun 2016.
      salam,IZ

      Hapus