Sabtu, 23 Januari 2016

Pajak Untuk Pembaca

Revolusi Perancis  yang terkenal itu,  ditandai dengan penyerbuan rakyat jelata, pada penjara Bastile yang terjadi pada  tanggal 14 Juli  1789. Gejalanya kalau mau disederhanakan, adanya beban Pajak yang mencekik Masyarakat di satu sisi serta pencerahan yang terjadi masyarakat pada sisi lain.
Di Inggris Pajak yang dipungut, besarannya tergantung jenis usaha dan cara memperoleh penghasilan, serta besaran perolehan perbulan yang kita terima. Ketika penghasilan mencapai 50.000,-  Poundsterling, besar pajak 40 % penghasilan, diatas 50 Poundsterling hingga 100 Poundsterling, pajak yang dikenakan hingga 50%. Ironisnya lagi, penghasilan yang kita terima, setelah di potong pajak. Artinya, kita tidak pernah melihat besaran gaji kita yang sebenarnya.
Di Amerika, Pajak dipungut tidak sebesar di Inggris, kisarannya sebesar 25% dari gaji. Sudah termasuk pajak Federal (Pemerintah Pusat) dan pajak State (Negara Bagian). Besaran pajak untuk sertia Negara bagian bervariasi. Tak berbeda jauh dengan Indonesia, jenis pajak yang ditarik variasinya sangat beragam, seperti; pajak penghasilan, pajak kendaran, pajak jual beli barang, pajak barang mewah dll.
Bagaimana dengan Indonesia. Hampir sama dengan Amerika, di Negara dikenal dengan pajak yang dikelola oleh Pusat (Dirjen Pajak- Departemen Keuangan) dan pajak yang di kelola oleh daerah. Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Pajak yang dikelola Pusat seperti Pajak Penghasilan (PPH), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sedangkan Pajak untuk Ptovinsi seperti, Pajak Kendaran Bermotor dan Kendaraan di atas air, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan kendaraan di atas air, Pajak Bahan Bakar Kendaraan bermotor dll.
Lalu apa sebenarnya pajak itu? Pajak, adalah kewajiban bagi masyarakat untuk membayarkan sebagian penghasilannya, pada Negara. Digunakan untuk membiayai penyelenggarakan Negara dan peruntukan lain guna memakmurkan masyarakat itu sendiri.
Jadi, Pointnya. Ada kewajiban masyarakat membayar, ada hak masyarakat untuk memperoleh kemakmuran, kenyaman.  
Karena dia kewajiban. maka Negara memiliki hak untuk memaksa mereka, sebagai wajib pajak untuk membayar pajak. Selanjutnya, Negara memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan dan memberikan kenyamanan pada masyarakatnya. Adil bukan? Pada zaman pak Harto, mereka yang taat membayar pajak diberikan “award”
Pada masa pemerintahan Abu Bakar Sidiq, Pajak atau zakat diberlakukan ketat, pada mereka yang tidak mau membayarkannya dengan suka rela, diberikan sanksi.
Urutannya, nikmati kenyaman, nikmati kemakmuran, lalu bayarkan kewajiban pajak. Ada hak, ada kewajiban.
Pola bayar pajak itu, ternyata berlaku secara universal. Terjadi pada semua Negara, juga pada semua agama. Bukankah sepersepuluhan dalam agama Kristiani, dalam bahasa lain, bisa juga disebut pajak. Bukankah membayar zakat dalam agama Islam, dalam bahasa lain, dapat juga disebut sabagai pajak.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang telah diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu? Mereka yang telah diberi kesempatan untuk banyak membaca? Apakah ada “pajak” untuk mereka?
Mestinya, adagium, nikmati semua kenyaman dan kemakmuran, lalu penuhi kewajiban, berlaku juga untuk mereka?.
Oleh karenanya, pada mereka yang telah diberi kesempatan menimba ilmu. Bayarkanlah pajak anda. Berupa apa? Berikan sedikit ilmu yang ada pada anda untuk mereka yang tidak memiliki kesempatan menimba ilmu. Caranya? Dapat dengan mengajar langsung mereka yang kurang beruntung tidak diberi kesempatan menimba ilmu itu, atau sisihkan sebagian harta anda untuk meningkatkan ilmu pada masyarakat sekitar anda.
Inilah, agaknya Tafsir; sebaiknya-sebaiknya pelajar, adalah mereka yang mempelajari al-Qur’an dan sebaiknya-baiknya yang mempelajari al-Qur’an, adalah mereka yang mengajarkannya kembali.
Untuk mereka yang telah diberi kesempatan untuk banyak membaca demikian pula. Bayarkan pajak anda. Caranya? Menulislah. Tebarkan ilmu yang anda dapat dari membaca, dengan cara menulis.
Membaca, ibaratnya, menjadikan anda, sebuah pohon yang rindang. Menulis adalah buahnya.
Maukah anda menjadi pohon rindang, tanpa menghasilkan buah?
Jawabnya, anda lebih tahu tentang itu.


Jayalah Negri ini, jika kita selalu dapat berbagi


sumber gambar : 


4 komentar:

  1. Pajak untuk pembaca ya, Pak. Kalo gitu, mungkin pembaca blog diberikan kewajiban pajak dengan men-share apa yang dibacanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha... maksudnya, dari sekian banyak yang dibaca, ya berbagilah, dengan menulis.
      Makasih Mas Ryan untuk masukannya.
      salam,IZ

      Hapus
  2. Setuju dengan mas Ryan Mintaraga he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe... kalao gitu, jawabannya sama dengan diatas.
      Makasih Uni Ika sudah mampir.
      salam,IZ

      Hapus