Jumat, 22 Januari 2016

Kita Memang Beda, Emang Kenapa?

Kita semua memang berbeda, manusia memang makhluk unik, tak satupun yang sama persis, bahkan pada mereka yang kembar sekalipun perbedaan itu ada. Dalam keluarga, antara ayah dan ibu berbeda, antara kakak dan adik berbeda. Demikian juga, dalam lingkup yang lebih besar, dalam komunitas kerja misalnya, perbedaan makin terasa jelas, beda asal usul keluarga, beda suku dan beda agama. Lalu, kalau kita memang berbeda, emang kenapa?
Tak ada yang salah dalam perbedaan itu, karena perbedaan adalah fitrah, sudah dari sananya ada. Tentu bukan tanpa tujuan Tuhan menciptakan perbedaan, ada banyak hal yang menjadikan perbedaan itu indah. Bisa dibayangkan jika hanya ada siang saja, lalu kapan kita akan tidur, merebahkan tubuh setelah seharian lelah mencari nafkah. Atau jika ada pria saja, betapa sepinya dunia ini, pak De Kartono tentu tidak akan melahirkan tulisan yang hebat-hebat seperti “Kisah Anak Muda Pacaran, Check In di Hotel Transit”, “Istri Selingkuh Dengan Boss di Hotel Melati”, atau tulisan Tubagus Encep yang sangat indah “Surat untuk Istri”.
Masalahnya sekarang, kita jarang memandang perbedaan itu dari sisi positive, hampir semua kita memandang perbedaan dari sisi negative saja. Hingga, kekuatan positive dari perbedaan itu tidak terlihat, padahal sejak awal kita memang sudah beda, hatta ketika kita dilahirkan oleh ibu yang sama dan berasal dari ayah sama.
Dari pada kita mempermasalahkan perbedaan yang memang dari sananya sudah berbeda, alangkah indahnya jika kita sesama manusia, sepakat untuk tidak sama, sepakat untuk berbeda, tetapi tetap dalam koridor tidak sama dan berbeda yang menghasilkan keutuhan sebagai manusia. Tidak sama dan berbeda yang menghasilkan keindahan bersama sebagai anak bangsa dan manusia Indonesia.
Kebersamaan yang dijalin dalam perbedaan itu, ibarat perbedaan antara pasir, split dan semen yang menghasilkan beton yang keras dan rigit, dengan kekerasan dan kerigitan itu, kita menjadi berkah bagi sesama manusia. Atau seperti bumbu, lengkuas, cabe, kelapa, garam, jahe, kunyit dan daging, yang semuanya saling berbeda, ketika bersinergi menghasilkan rendang, yang konon katanya, merupakan makanan terlezat didunia.
Bentuk bumbu perbedaan yang menghasilkan kasih sayang diantara kita, bisa saja seperti,
Menerima perbedaan itu sendiri
Semua kita, sedari awal sudah menyadari bahwa kita berbeda, maka selayaknya sejak awal kita sudah menyadari kalau kita berbeda. Kita tidak memaksakan pendapat kita harus sama dengan manusia yang lain. Perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita, merupakan ajang untuk mengerti jalan pikiran orang lain, cara pandang orang lain. Demikian juga dengan keyakinannya, ada prinsip yang kita pegang bersama, agamamu agamamu dan agamaku agamaku.
Bisa dipercaya
Sesama kita hendaknya bisa saling percaya, tidak berkhianat di belakang, jika kita berjanji, maka janji itu harus ditepati, jika kita bicara hendaknya bicara dengan jujur, ada kesesuaian antara yang kita bicarakan dengan apa yang ada dalam hati. Bentuk kepercayaan ini, akan melahirkan kepastian, sehingga dengan kepastian itu, akan ada ketenangan. Ketenangan inilah yang melahirkan sikap kasih sayang diantara kita, meskipun kita berbeda.
Pintar-pintarlah bercanda
Karena sejak awal kita sudah menyadari bahwa kita berbeda, maka sebelum akrab bener, kita berhati-hati dalam bercanda. Tujuan bercanda tentu baik, dia dapat meleburkan adanya kekakuan diantara kita, tetapi karena kita berbeda, baik suku, kebiasaan dan lain-lain, maka apa yang kita anggap lucu belum tentu lucu bagi yang lain, apa yang menurut kita biasa, belum tentu biasa untuk yang lain.
Tulus dan bijak
Ada adagium yang mengatakan, bahwa, apa yang keluar dari hati akan sampai dihati pula. Jika kita tulus dari hati ingin menjalin persahabatan, tentu yang akan menerima dari ketulusan itu, hati teman pula. Tak ada rekayasa  dan manipulative disana. Tetapi, karena kita memang berbeda, maka kadang ketulusan itu bisa saja diartikan yang lain oleh sahabat kita. Pamungkas dari penerimaan yang tidak sesuai dengan ketulusan itu, adalah bijak.
Jika saja, semua kita, mampu mensinergikan semua perbedaan itu, maka alangkah indahnya perbedaan itu, alangkah indahnya damai itu. Maka benarlah, sesunguhnya Allah menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling bertemu, bersilaturahmi dan menciptakan kedamaian diatas bumi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar