Jumat, 01 Januari 2016

KIsah Inovasi Dua Lagu



Text Lagu Indonesia Raya (sumber: Google)

Pagi menjelang siang itu. Dalam sebuah upacara peringatan hari lahir kemerdekaan RI, di kampung saya. Para pemuda dengan gagah menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.  Tengah asyik dan khidmatnya lagu “Indonesia Raya”  dinyanyikan. Tiba-tiba ada sebagian hadirin menyanyikan lagu “Njer Genjer”. Kolaborasi dua lagu itu, membuat suasana begitu hidup, irama yang dihasilkan begitu syahdu, melenakan dan dengan semangat penuh merasuk ke dalam jiwa.
Selesai acara, peserta upacara memuji inovasi cerdas yang dilakukan para pemuda. Segala pujian dan sanjungan membahana melingkupi tempat upacara.
Tiba-tiba, majulah seorang veteran tua,  ke tengah lautan manusia yang sedang dimabuk pujian atas inovasi cemerlang yang baru saja mereka lakukan.
“Saudara-saudara” demikian sang veteran memulai pidatonya.
“Sesungguhnya, kita baru saja, telah melakukan kekonyolan. Mengkolaborasikan  minyak dengan air. Lagu kebangsaan dengan lagu para penghianat Negara” demikian sang veteran, melanjutkan pidatonya.
“Tapi, mereka juga kan, warganegara syah Negara besar ini?” sanggah seorang anak muda. Memotong pembicaraan sang veteran tua.
“Seharusnya, sebagai anak bangsa. Kita harus  bertoleransi dengan mereka”. Lanjut anak muda itu lagi.
“Saya setuju dengan toleransi itu. Tetapi, bukan dengan mencampur adukkan hal yang tak bisa dicampur adukan” jawab sang veteran tua.
“Bisa kasi contoh pak Tua” lantang sang anak muda, dengan nada merendahkan veteran tua.
“Bisa, mengapa tidak?”
“Silahkan anak muda minum air bir dicampur duren, atau minum obat dengan air susu” lanjut sang veteran tua.
“Mana mungkin itu dilakukan?” Jawab anak muda
“Untuk yang pertama, bisa membuat kita mati, orang tua. Untuk yang kedua, sia-sia minum obat dengan air susu, pengaruh obatnya jadi luntur” lanjut sang anak muda.
“Nah… itulah contoh, kalau toleransi diartikan selalu dilakukan berbarengan, akibatnya bisa mematikan atau menjadikan sesuatu yang sia-sia” Kata veteran tua itu lagi.
Anak muda itu terdiam. Merasa kalah. Namun, itu hanya sesaat. Lalu;
“Tapi… itu kan, contoh makanan. Bapak Tua bisa kasi contoh dengan hal yang sama. Dengan contoh nyanyian?”
“Bisa… kenapa tidak?”
“kali ini, saya akan kasi contoh di Negara induknya toleransi dan demokrasi. Inggris dan Perancis. Coba kalian nyanyikan lagu “La Mareseillaise” dan “God save the Queen” secara bersamaan seperti yang kalian lakukan barusan?”
“Emang kenapa, pak Tua” Tanya anak muda itu polos
“Pasti dunia akan gempar, kenapa gempar? Tanya pada mereka yang tau, anak muda” jawab sang veteran tua lagi.
Seluruh peserta upacara terdiam. Mereka menyadari akan kesalahannya. Namun, tiba-tiba, mereka gaduh dengan spontan kembali. Awalnya mereka berbantah-bantahan. Kemudian, makin lama, suara itu makin terpecah dalam dua bagian besar. Antara suara yang pro dengan veteran tua dengan mereka yang pro dengan sang pemuda.
Melihat kondisi yang tak kondusip itu, saya yang dari tadi hanya menyaksikan ulah mereka, perlahan-lahan, meninggalkan lapangan upacara itu.
Untuk memperingati kelahiran sebuah Negara dengan dua lagu saja mereka jadi rebut begitu. Apalagi untuk memperingati kelahiran seorang Nabi? Dan itu, bukan hanya lagu, melainkan bagian dari ritual keagamaan. Bagaimana masyarakat gak heboh dibuatnya…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar