Minggu, 31 Januari 2016

Haruskah Rumah Tangga Dibangun Dengan Cinta

ilustrasu rumah tangga bahagia (dok.Pribadi)
Tadi siang saya kedatangan tamu. Sahabat lama saya, usianya sebaya dengan saya. Yang membedakan antara saya dengan sang tamu, soal anak.
Anak saya masih duduk di bangku sekolah, sedangkan anak sahabat saya, telah berumah tangga. Soal anak inilah yang menjadi perbincangan kami. Menurut sahabat saya, beliau dulu menikah, karena dijodohkan orang tua. Namun, pernikahan itu, hingga kini, masih awet. Toto tentrem kerto raharjo. Sedangkan anaknya, menikah dengan modal cinta. Tetapi, mengapa rumah tangga yang dijalani sang anak, sudah berada di tubir kehancuran. Hanya menunggu waktu, sebelum akhirnya hancur berantakan.
Lalu apa yang salah? Demikian, tanya sahabat saya. Apakah benar, rumah tangga yang dibangun tidak mutlak dibutuhkan Cinta?
Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya itu. Maka, tulisan ini, saya buat.
Menurut saya, tak ada yang salah dengan cinta. Yang salah, ketika, kita salah dalam menilai cinta dan meletakkan posisi Cinta pada posisi yang seharusnya diletakkan.
Asumsi yang umum berlaku, ada banyak cinta. Cinta Nusa Bangsa, Cinta pada orang tua, cinta pada lawan jenis, cinta orang tua pada anaknya dan cinta suami-istri serta, dan masih banyak cinta yang lain.  
Padahal, menurut saya. Cinta itu hanya satu. Cinta yang melingkupi keseluruhan. Masalahnya, bagaimana kita memposisikan cinta itu, sehingga sang cinta, berada pada posisi yang benar. Sesuai menurut urutan prioritas.
Cinta juga, ibarat sebuah suara. Akan terdengar gaungnya, jika berada pada frekwensi yang sama dan getar amplitude yang sama. Jika di luar itu, maka, itu bukan cinta. Melainkan nafsu semata.
Baiklah, bagaimana urutan-urutan cinta itu?
Urutan pertama, Cinta pada Allah.
Inilah pamungkas dari segala cinta. Semua kerja dan karya kita, hendaklah refleksi cinta pada Allah. Sehingga, ketika kita bekerja, maka bekerjalah dengan cinta. Karena Allah sesungguhnya cinta pada mereka yang bekerja. Pada mereka yang berkarya. Jika Allah sang kreator besar, maka manusia diharapkan menjadi kreator kecil. Memiliki capaian-capaian kreasi kecil. Minimal, manusia dapat menciptakan kedamaian diatas permukaan Bumi.
Urutan kedua, Cinta pada orang tua.
Kenapa cinta orang tua? Karena, orang tua, adalah kreator kecil yang mencipta kita. Meski sesungguhnya, kreator besar yang mencipta kita adalah Allah. Mencintai orang tua, karena refleksi cinta pada Allah, adalah versi cinta yang benar, versi cinta yang sesungguhnya. Getar frekwensi dan amplitudonya pas, inilah yang kadang juga disebut dengan naluri. Bagaimana seorang bayi yang belum memiliki memori di kepalanya, tahu dan mengerti ketika sang Ibu menyodorkan putting susunya untuk diminum oleh sang bayi.
Urutan ketiga, Cinta pada kreasi.
Allah sebagai sang maha kreator, mencintai mereka yang berkreator pula. Meski, kreasi kita tak dapat disebandingkan dengan kreasi yang sang Maha Segalanya itu. tetapi, melakukan hal yang sama pada “sosok” yang kita cintai, merupakan bukti cinta itu sendiri.
Bisa dibayangkan, hasil kreasi yang kita lakukan, jika niatan awalnya, proses pelaksanaan dan hasil akhir, semuanya berlandaskan cinta. Sungguh sempurna.
Urutan keempat, cinta pada yang dicintai orang tua.
Ketika kita menikah, maka itu bukan dilakukan hanya sebagai cinta kita pada sang kekasih. Tapi, sebagai refleksi cinta kita pada orang tua dan sebaliknya, refleksi cinta orang tua pada kita. Apa maksudnya. Ketika kita menikah, orang tua, menghendaki kita bahagia dalam membina rumah tangga. Maka, untuk memenuhi keinginan orang tua, agar kita bahagia, kita harus mencintai isteri/suami kita. Ketika terjadi ketidak-sesuaian atau selisih paham, maka perlu dicari solusinya dengan dasar pemikiran cinta. Jika suami/isteri harus mengalah, itu dilakukan bukan atas dasar cinta kedua pihak an sich. Melainkan untuk menyenangkan pihak yang dicintai diatasnya, orang tua dan Allah. Karena, kedua cinta yang berada diatasnya, menghendaki kita bahagia. Jika, semua yang kita lakukan terhadap pasangan kita, berdasarkan refleksi cinta diatasnya. Maka sudah dapat dipastikan, bahagia, sudah dalam genggaman.
Allah menghendaki kita sebagai kreator kecil, orang tua menghendaki kita memberikan mereka cucu. Maka pergaulilah isteri dan atau suami kita. Hubungan suami isteri yang dilakukan, bukan hanya sebagai pelepasan saja. Disana ada nilai sakralnya. Menunaikan perintah Allah agar menjadi sang kreator kecil dan memberikan cucu pada orang tua yang kita cintai.
Ketika hasil kreasi kita itu lahir, maka pemeliharaannya, tentu akan disesuaikan nilai-nilai yang diberikan oleh sang kreator besar dan orang tua yang kita cintai. Kita akan memberikan hal terbaik pada buah hati kita, sebagaimana Allah sudah memberikan yang terbaik untuk kita, demikian juga yang dilakukan orang tua pada kita.
Ketika suami tergoda dengan WIL demikian juga isteri dengan PIL. Maka nalar akan berkata, bahwa yang saya lakukan ini, tidak sesuai dengan keinginan Cinta Allah pada saya, juga cinta orang tua pada saya. Artinya, frekwensi dan amplitude getarnya tidak nyambung. Maka, segera simpulkan bahwa itu bukan cinta, melainkan nafsu semata. Solusinya. Segera hentikan.
Saya masih akan meneruskan tentang cinta yang merupakan satu kesatuan. Tapi, berhubung topik kita hanya soal cinta dalam rumah tangga. Maka saya rasa cukup hingga disitu saja.
Jika saja kita dapat meletakkan posisi cinta sesuai dengan kedudukannya. Maka saya rasa, tak dibutuhkan lagi jawaban, apakah rumah tangga itu, harus dibangun dengan cinta atau tanpa cinta.  Wallahu A’laam.



3 komentar:

  1. Super sekali pak, ketika kita meletakan cinta pada Dzat nan hakiki, maka kita akan berada pada jalan yang damai, teduh, berhias bunga2 cinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Uni sudah mampir..
      saya yakin, cinta pada dasarnya menjadikan kita nyaman. ketika kenyataan tidak berbuah nyaman, pasti ada kesalahan dalam memandang atau meletakkan cinta..

      Hapus
  2. Super sekali pak, ketika kita meletakan cinta pada Dzat nan hakiki, maka kita akan berada pada jalan yang damai, teduh, berhias bunga2 cinta.

    BalasHapus