Sabtu, 16 Januari 2016

Cinta yang sangat

Ilustrasi Kebun Sawit  (sumber gambar di sini)
Kelam belum sempurna menutupi mayapada. Memang seharusnya begitu. Jam baru saja menunjukkan pukul empat sore. Jadi, mestinya, memang masih terang, jika saja tidak turun hujan sejak satu jam yang lalu.
Rusman masih berdiri dibawah rindang kebun Sawit, sementara hujan masih terus turun membasahi lahan perkebunan Sawit dimana dia berdiri saat ini. Tak  ada tempat berteduh, ada jarak beberapa ratus meter dari tempat Rusman berdiri kini, dengan jalan raya, dia seorang diri. Rasanya sempurna sudah persembunyian ini, jika saja tidak turun hujan sejak satu jam lalu.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, reflex Rusman mengangkatnya, tertera nama lastri, istrinya.
“Abang dimana?” terdengar suara keras dari Lastri, selalu saja Lastri bersuara dengan keras.
“Lagi di jalana, Las”
“Cepat pulang Abang, gawat..”
“Kenapa gawat?”
“Andy, Abang… “
“Iya, kenapa Andy?”
“Pokoknya Abang harus pulang. Sekarang” teriak Lastri sebelum ponselnya dia matikan.
Rusman bingung, apa harus pulang sekarang? Detak jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian satu setengah jam yang lalu, untung setengah jam kemudian, turun hujan lebat, sehingga dia putuskan untuk berteduh di bawah pohon kelapa Sawit di perkebunan ini, satu jam diguyur hujan hujan, cukup menenangkan hatinya.
Tapi, pulang sekarang? Apakah tidak terlalu cepat. Apakah dia bisa menampilkan wajahnya sebagaimana biasanya, sebagaimana orang tak berdosa.
Namun, berlama-lama disini buat apa? Bukankah Lastri sudah menyuruhnya pulang. Itu bukan soal perintah. Tapi, memenuhi keinginan orang yang Rusman cintai, merupakan obsesi terbesar dalam hidupnya. Sampai saat ini, hingga dua puluh enam tahun pernikahan mereka, hal itu sebisa mungkin Rusman lakukan. Apalagi, mengenai Andy, putra yang sangat Rusman sayangi, buah cinta dia dengan Lastri.
Refleks, Rusman menghidupkan motor tuanya, dengan sekali gas, motor tua itu berlari kencang menuju jalan raya, tujuannya jelas. Pulang.!
*****
Rusman baru saja keluar  dari ruang HRD di kantor pusat dimana dia bekerja, selembar surat PHK baru saja dia terima. Tuduhannya sungguh menyakitkan, Rusman didakwa telah menggelapkan uang perusahaan, proyek terakhir yang dia kerjakan, setelah di audit, ternyata terjadi pengelapan uang cukup besar. Rusman tak dapat menyangkal. Semua tuduhan akurat. Semua bukti temuan mengarah padanya.
Namun, Rusman masih tetap bisa tersenyum. Semua yang dia lakukan untuk Lastri, wanita yang dengan sepenuh jiwa raganya, dia cintai. Apa yang tidak dia lakukan untuk Lastri. Semua. Bahkan kalau bisa korupsi lebih besar lagi, dan jika itu semua untuk kesenangan Lastri, akan dia lakukan.
Wanita yang dia temui ketika membuat Pabrik Kelapa Sawit di Pedalaman Sumatera itu, sangat menyita perhatiannya, menyita seluruh cintanya, membuat semua tak ada, kecuali lastri. Wanita kebun itu, memiliki pesona yang membuat Rusman selalu mabuk dalam gelora cintanya.
Rusman masih menapaki tangga kantor untuk yang terakhir kali, ini merupakan kejadian PHK yang kedua kalinya dia terima. Empat tahun lalu, hal sama dia alami, seluruh hasil korupsi yang dia lakukan sudah dia jadikan lahan Sawit seluas delapan hektar. Semua atas permintaan lastri. Lastri ingin Rusman menjadikan Lastri wanita terhormat di kampungnya dengan pemilikan lahan Sawit. Rusman telah memenuhi keinginan Lastri. Meski imbalannya, selembar surat PHK.
Tak sepenuhnya Rusman gontai, tokh surat PHK ini, sebagai tebusan dari kepemilikan rumah dan kendaraan roda empat yang kini dia miliki. Persisnya, Rusman dan Lastri serta Andy.
Tokh, pekerjaan lain, dapat dia cari lagi. Tapi kesenangan Lastri? Adalah segalanya.
*****
Sudah beberapa hari ini, Lastri selalu merengek-rengek agar pernikahan Andy dibuat semeriah mungkin. Lastri ingin agar semua kerabatnya tahu, bahwa anak semata wayang mereka, bisa mereka hantarkan ke pelaminan dengan sesuatu yang lain dari yang biasa.
“Tapi, harga Sawit sekarang sedang jatuh Las”
“Lastri tahu itu, tapi Abang bisa pinjam sama teman-teman Abang” kelah Lastri.
“Mereka juga sama Las, Sawit murah, bukan hanya kita yang rasakan akibatnya, mereka juga mengalami hal sama”
“Kan Abang masih punya temen-temen di kota? Mereka kan bisa bantu?” kelah Lastri lagi.
“Abang sudah enam belas tahun Las, gak pernah kontek dengan mereka” Jawab Rusman lagi.
“Pokoknya, Lastri gak mau tahu” teriak Lastri, lalu berdiri meninggalkan Rusman sendiri.
Memang, setelah PHK yang kedua, Rusman masih coba untuk mencari pekerjaan yang lain. Tapi, hingga enam bulan kemudian, pekerjaan yang dicarinya masih belum dapat, padahal kebutuhan rumah tangga, tidak menunggu hingga Rusman dapat pekerjaan baru. Sebelum semuanya tandas, Rusman putuskan untuk kembali ke desa Lastri. Tokh mereka punya delapan hektar kebun Sawit, punya rumah dan mobil di kota yang dapat mereka jual, untuk mereka bangunkan rumah yang sama di Desa lastri.
Sementara Andy, telah tumbuh menjadi remaja. Namun, sifat manja dan kekanakannya masih saja tak berubah. Kini, memasuki usia 26 tahun, Andy minta dinikahkan. Sudah S1 memang. Namun, belum bekerja. Lalu, bagaimana dia akan menafkahi Maria kelak?
Boro-boro untuk menafkahi Maria, melamar dan pesta pernikahan saja, menjadikan Rusman pusing tujuh keliling. Belum lagi, permintaan Lastri, agar pesta pernikahan Andy, dibuat semeriah mungkin.
Dari mana uangnya? Inilah yang membuat Rusman galau.
Kalau saja, harga Sawit tak jatuh seperti sekarang ini. Mungkin saja dia tak segalau sekarang. Mau pinjam? Tokh, semua teman pemilik Sawit merasakan hal yang sama. Sedangkan teman-teman sesama kerja di kota dulu, mereka entah dimana?
****
Sudah dua jam Rusman bersembunyi di balik pokok Sawit, tak satupun kendaraan yang lewat. Sudah gatal rasanya muka Rusman dengan “sebo” penutup wajahnya. Keringat yang bereaksi dengan penutup wajah itu, menimbulkan rasa gatal dan panas. Tapi tak ada pilihan, inilah satu-satunya cara, agar dia tidak kenali orang.
Sudah dua hari ini, Rusman tak menemui cara untuk menutupi dana pesta pernikahan Andy. Semua saran Lastri untuk cari pinjaman, pada sesama pemilik kebun Sawit, sudah dia lakukan. Namun, tak ada hasil. Semua dengan alasan yang sama. Harga Sawit sedang jatuh-jatuhnya.
Tak ada pilihan lain. Rusman sudah tekadkan, dia akan merampok kendaraan yang lewat pada areal kebun Sawit. Dia tahu, mereka-meraka yang melintas, kadang dari daerah jauh, lintas Provinsi, mereka inilah yang akan menjadi korban.
Tapi tak disangka, hingga dua jam, sasaran yang ingin dijadikan korban, belum juga terlihat.
Tiba-tiba, Rusman melihat sebuah sepeda motor, dikendarai oleh sepasang remaja. Dilihat dari tampilannya, sepeda motor itu, keluaran tahun terbaru. Tak sebesar mobil memang hasil perolehannya. Tapi, daripada pulang nihil? Kenapa tidak? Demikian bathin Rusman.
Lalu, bagaimana menghentikannya? Penghalang yang Rusman sediakan hanya dapat dipakai untuk mobil. Bukan untuk sepeda motor. Akh, sebagai mantan atlit lempar lembing, Rusman masih yakin, jika lemparannya akan tepat sasaran. Kenapa gak dicoba dengan cara begitu? Sekali lempar dengan sasaran dada atau kepala, pasti korban akan jatuh. Lalu, motor akan berpindah tangan pada Rusman. Selang dua hari berikutnya, motor sudah jadi uang. Seorang penadah sudah siap untuk itu.
Rusman bersiap….. syuuuuut. Batu sebesar kepalan tangan itu, melayang dengan cepatnya, sasarannya dada pengendara motor. Batu mengenai tubuh pengendara motor, tapi bukan dada. Tepatnya antara dada dan kepala sang pengendara, 5 senti dibawah pundak pada sisi tangan kanan.
Motor oleng, berjalan dengan zig-zag, namun tak jatuh. Korban sasaran masih melaju. Tak ada jalan lain, kecuali melarikan diri. Jika saja, korban melapor pada kesempatan pertama, lalu mereka menyisir tempat persembunyian Rusman, itu artinya, nyawa taruhannya.
****   
Rusman masih melajukan motor tuanya, sesaat menjelang memasuki halaman rumahnya, dia lihat, para tetangga berkerumun sekitar rumahnya. Ada apa ini? ada apa dengan Andy?
Bergegas Rusman memasuki ruangan, Lastri sedang meratapi sosok yang tergeletak membujur di tengah ruangan. Andy telah tewas, korban perampokan pada areal kebun di simpang sei brumbang, pendarahan akut yang dialaminya, menyebabkan nyawanya tak tertolong lagi.
Baju itu, Masih dikenakan Andy, baju yang sangat Rusman kenal, karena korban dengan baju yang sama, ketika Rusman lempar dengan batu sebesar kepalan tangannya, dua setengah jam yang lalu.
*****
Sudah dua hari andy dikebumikan, rumah itu, masih dalam kondisi berduka. Tak ada yang bisa Rusman katakan, ketika pagi ini, Polisi menggelandangnya dari rumah duka dengan tangan di borgol. Sempurna sudah semuanya. Dua hari lalu, Andy pergi meninggalkannya, akibat perbuatan tangannya sendiri. Sekarang, Lastri, orang yang sangat dicintainya harus hilang pula, akibat perbuatannya menghilangkan nyawa Andy. Cinta yang Rusman miliki pada Lastri dan Andy, cinta yang sangat, cinta yang tak ternilaikan harganya, yang dia tebus dengan segala pengorbanan seumur hidupnya. Haruskah berakhir begini?



Catatan.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Munaafiquun: 9)

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar