Minggu, 31 Januari 2016

Haruskah Rumah Tangga Dibangun Dengan Cinta

ilustrasu rumah tangga bahagia (dok.Pribadi)
Tadi siang saya kedatangan tamu. Sahabat lama saya, usianya sebaya dengan saya. Yang membedakan antara saya dengan sang tamu, soal anak.
Anak saya masih duduk di bangku sekolah, sedangkan anak sahabat saya, telah berumah tangga. Soal anak inilah yang menjadi perbincangan kami. Menurut sahabat saya, beliau dulu menikah, karena dijodohkan orang tua. Namun, pernikahan itu, hingga kini, masih awet. Toto tentrem kerto raharjo. Sedangkan anaknya, menikah dengan modal cinta. Tetapi, mengapa rumah tangga yang dijalani sang anak, sudah berada di tubir kehancuran. Hanya menunggu waktu, sebelum akhirnya hancur berantakan.
Lalu apa yang salah? Demikian, tanya sahabat saya. Apakah benar, rumah tangga yang dibangun tidak mutlak dibutuhkan Cinta?
Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya itu. Maka, tulisan ini, saya buat.
Menurut saya, tak ada yang salah dengan cinta. Yang salah, ketika, kita salah dalam menilai cinta dan meletakkan posisi Cinta pada posisi yang seharusnya diletakkan.

Partai PNPM sebuah Utopia

Buku Catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd (dok. Pribadi)
PNPM sudah tamat. Sudah almarhum. Kalaupun ada yang perlu diingat dan dikenang dari PNPM adalah semangat dan ruhnya. An sich, hanya itu. Titik.
Lalu, ada status yang bermimpi, menginginkan agar PNPM yang sudah almarhum itu, coba dihidupkan kembali menjadi partai politik. Bernama Partai Nasional Pemberdayaan Masyarakat.
Secara tekhnis, pembentukan partai PNPM, akan segera memenuhi syarat. Mengingat mereka akan mudah membentuk cabang mulai dari DPD, DPC, ranting kecamatan hingga Desa. Karena, mereka dulu, pernah memiliki jalur demikian. Di DPD dulu ada RMC, di DPC ada Faskab dan di kecamatan ada FK di Desa ada KPMD.
Dengan perangkat lengkap hingga ke Desa. Jika dilakukan pemilu 2019. Partai PNPM dijamin akan menang. Pertimbangan lain, PNPM telah melekat di hati pelaku dan masyarakat penerima manfaat, selama kehadiran PNPM di Republik tercinta ini.

Selasa, 26 Januari 2016

Sang Guru OCD

bagai burung onta 
Selalu saja, ruang pemeriksaan pada bagian kriminal tindak pidana, dianggap, sebagai ruang yang menakutkan. Di balik meja, di depan tersangka, ada Polisi yang bertanya, dibalik layar monitor. Semua pertanyaan dan jawaban, langsung diketik. Pertanyaan yang diajukan, selalu, berulang-ulang. Ketika jawaban yang di berikan berubah-ubah, akan ada Polisi lain, yang akan mengingatkan, atau bisa juga marah. Pesakitan akan grogi. Sangat melelahkan.
Tapi, untuk kasus yang satu ini, tidak ada polisi yang bertanya, tidak ada polisi yang duduk diseberang meja, dibalik layar monitor. Karena, kasus yang sedang diselidiki kini, bukan kasus kriminal biasa. Kasus pembunuhan mutilasi yang berbeda.
Pelakunya seorang guru, korban mutilasi, juga guru. Pelakunya seorang suami dan korban mutilasi adalah isterinya sendiri. Pelaku dan korban, adalah keluarga bahagia. Keluarga yang membuat iri keluarga-keluarga lain. karena, kebahagiaan dan keharmonisan yang mereka sudah perlihatkan pada tetangganya, pada masyarakat sekitarnya. Bukan hanya kini, tapi, jauh sebelumnya. Paling tidak, yang dokter Fadli tahu, sejak dia SMA. Pelaku, adalah guru Fisika dokter Fadli ketika dia di SMA. Pak Ridwan, siapa yang tidak kenal dengan beliau?. Guru SMA yang paling populer. Ganteng, baik, cerdas dan mempunyai isteri yang cantik, Ibu Guru Dessy. Guru SMP mata pelajaran bahasa Indonesia, di sekolah yang sama. Dalam yayasan yang sama.
Yayasan “Gemah Ripah”. Siapa yang tak kenal yayasan ini? Yayasan yang sangat terkenal, memiliki sekolah  lengkap sejak SMP dan SMA di satu kompleks. Lulus dari “Gemah Ripah”, itu artinya, sudah jaminan akan di terima di Universitas terkenal negri ini, sebut saja, ITB, UI, ITS, UNPAD dll. Dokter Fadli, alumnus “Gemah Rifah” yang masuk FK UI, lalu mengambil spesialisai kejiwaan.

Sabtu, 23 Januari 2016

Pajak Untuk Pembaca

Revolusi Perancis  yang terkenal itu,  ditandai dengan penyerbuan rakyat jelata, pada penjara Bastile yang terjadi pada  tanggal 14 Juli  1789. Gejalanya kalau mau disederhanakan, adanya beban Pajak yang mencekik Masyarakat di satu sisi serta pencerahan yang terjadi masyarakat pada sisi lain.
Di Inggris Pajak yang dipungut, besarannya tergantung jenis usaha dan cara memperoleh penghasilan, serta besaran perolehan perbulan yang kita terima. Ketika penghasilan mencapai 50.000,-  Poundsterling, besar pajak 40 % penghasilan, diatas 50 Poundsterling hingga 100 Poundsterling, pajak yang dikenakan hingga 50%. Ironisnya lagi, penghasilan yang kita terima, setelah di potong pajak. Artinya, kita tidak pernah melihat besaran gaji kita yang sebenarnya.

Jumat, 22 Januari 2016

Kita Memang Beda, Emang Kenapa?

Kita semua memang berbeda, manusia memang makhluk unik, tak satupun yang sama persis, bahkan pada mereka yang kembar sekalipun perbedaan itu ada. Dalam keluarga, antara ayah dan ibu berbeda, antara kakak dan adik berbeda. Demikian juga, dalam lingkup yang lebih besar, dalam komunitas kerja misalnya, perbedaan makin terasa jelas, beda asal usul keluarga, beda suku dan beda agama. Lalu, kalau kita memang berbeda, emang kenapa?
Tak ada yang salah dalam perbedaan itu, karena perbedaan adalah fitrah, sudah dari sananya ada. Tentu bukan tanpa tujuan Tuhan menciptakan perbedaan, ada banyak hal yang menjadikan perbedaan itu indah. Bisa dibayangkan jika hanya ada siang saja, lalu kapan kita akan tidur, merebahkan tubuh setelah seharian lelah mencari nafkah. Atau jika ada pria saja, betapa sepinya dunia ini, pak De Kartono tentu tidak akan melahirkan tulisan yang hebat-hebat seperti “Kisah Anak Muda Pacaran, Check In di Hotel Transit”, “Istri Selingkuh Dengan Boss di Hotel Melati”, atau tulisan Tubagus Encep yang sangat indah “Surat untuk Istri”.
Masalahnya sekarang, kita jarang memandang perbedaan itu dari sisi positive, hampir semua kita memandang perbedaan dari sisi negative saja. Hingga, kekuatan positive dari perbedaan itu tidak terlihat, padahal sejak awal kita memang sudah beda, hatta ketika kita dilahirkan oleh ibu yang sama dan berasal dari ayah sama.

Kisah Sedekah yang Membebaskan

Mari sedekah 
Saya tidak tahu harus menuliskannya bagaimana, jika ditulis nama pelaku, serta detail lokasi, takut akan ini menjadi ajang perdebatan apakah masuk unsur SARA atau bukan. Tapi yang jelas, semua yang saya tulis, semua kisah nyata, meskipun hanya penggalan-penggalan kisah yang terjadi pada beberapa orang. 

Kisah pertama. Ketika itu, waktu menunjukkan pukul tiga sore, Bus kota nomer 58 jurusan Pasar Baru – Pulo Gadung sedang penuh-penuhnya, seorang anak muda sedang duduk dekat jendela, yang sengaja jendela dia tutup rapat, karena kondisinya sore itu sedang demam tinggi.
Di Depannya, duduk seorang ibu dengan balita berumur tiga tahun, sang balita menangis karena kepanasan, dengan “terpaksa” anak muda ini, membuka jendela, sang balitapun diam.
Tetapi yang dirasakan anak muda itu, angin yang menerpa tubuhnya, sungguh terasa perih, dia yang sedang demam tinggi itu, harus merasakan kepedihan itu, hingga Halte Sumur Batu.

Stasiun Cibatu, harta terakhir Garut

Stasiun Cibatu, Garut (dok..Pribadi)
Tahun 1976 saya ikut KA ekonomi ke Jawa Tengah dari Stasiun Bandung (seluruh keberangkatan tahun itu dari Stasiun Besar Bandung, termasuk KA ekonomi. KA Jurusan mana dan nama KA ekonominya apa, saya lupa.

Sampai di Stasiun Cibatu pukul tujuh sore, KA uap yang dijuluki si Gombar Jurusan Garut telah berangkat, terpaksa saya bermalam di stasiun, untuk menunggu subuh ketika si Gombar bersiap melakukan perjalanan ke Garut.

Suasana malam di stasiun Cibatu waktu itu sungguh hidup, bajigur hangat, bandrek panas & pedas, katimus, leupeut, dan tahu merupakan menu yang menemai mereka yang menunggu si Gombar menjelang subuh, saya yang ketika itu masih murid SLTA mencoba Bajigur, ketimus dan sebatang rokok Jarum 76. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Kamis, 21 Januari 2016

Onta Arab, sebuah antitesa

Ilustrasi Onta Arab (sumber gambar di sini)
Ada yang khas dalam cara mengolok-olok mereka yang berpikiran “cenderung” pada Arab. Dengan menyebutkannya sebagai onta Arab.
Bahwa memang ada beberapa pelecehan, kalau memang bisa disebutkan demikian, juga merupakan sebuah fakta. Sebut saja misalnya, trompet tahun dari kertas sampul al-Qur’an, sandal yang bertuliskan ayat dari surat al-ikhlas, sajadah yang menggambarkan sesuatu yang berbau aurat terbuka, sajadah yang dipakai untuk alas menari. Yang paling mengenaskan, bahwa yang terakhir ini, dilakukan oleh Departemen yang mengatas-namakan agama.
Jika ada peristiwa makar, maka segera meluncur kesimpulan, adalah terror yang dilakukan oleh teroris. Teroris adalah identik dengan Islam. Ironisnya, hampir saja peristiwa Sudirman depan Sarinah tidak disebut terror, hanya karena pelakunya tidak memakai celana cingkrang dan berjenggot.

Selasa, 19 Januari 2016

Akar Masalah Angkutan di Sumatera, Solusi Kereta Api?

Stasiun Binjai, Sumatera Utara (dok.Pribadi)
Kemarin saya memposting tulisan dengan judul “Jalan Toll Trans Sumatera, Sebuah Musibah”. Beragam tanggapan yang muncul. Dari yang mendukung hingga yang mencemooh, hingga ada juga kesan, seakan saya tidak kenal daerah yang saya tulis.
Untuk membahas itu, agar lebih jelas dan detail, saya buat tulisan ini.
Perjalanan dari Medan ke Binjai, jika hari-hari biasa, bukan hari libur, memakan waktu 45 menit hingga satu jam. Padahal jarak Medan – Binjai, hanya 20.08 Km. sebuah perjalanan yang sangat lama, mengingat jaraknya hanya 20 km. Untung ada Kereta Api. Hingga untuk mereka yang ingin tepat waktu, dapat menggunakan KA yang hanya butuh waktu 25 Menit.

Minggu, 17 Januari 2016

Bertemu Mohammad Sobary

Kang Pepih Nugraha, Isson Khaerul, Mohammad Sobary, Iskandar Zulkarnain di ajang Kompasianival (dok.Pribadi)
Peristiwa ini, terjadi pada pertengahan Desember 2015 kemarin. Masih tentang kompasianival tahun 2015. Inilah salah satu catatan yang tertinggal dari ajang pertemuan blogger terbesar di Republik ini.
Siang itu, saya bertemu dengan seorang yang pada puluhan tahun lalu, saya tahu sering tafakkur berlama-lama di sebuah Mesjid di kawasan Depok. Kalau saja mereka tahu, siapa yang sedang tafakkur berlama-lama itu, tentu akan meninggalkan kesan mendalam.
Betapa tidak. Dialah salah satu budayawan besar Republik ini. Mantan Pemimpin Umum Kantor Berita Antara. Pengagum sekaligus sahabat kental Gus Dur. Pria yang lahir di Bantul Yogyakarta, 7 Agustus 1952 itu bernama Mohammad Sobary.
Dalam usianya yang sudah menginjak 63 tahun, kang Sobary, demikian budayawan gaek ini akrab di panggil, masih terlihat gagah, masih tetap nyeleneh dan masih menghisap rokok bersama penulis siang itu, ditemani dengan sobat kental saya Isson Khaerul.

Jalan Toll Trans Sumatera, Sebuah Musibah

Jalan Trans Sumatera di daerah Lubuk Linggau yang selalu sepi (dok. Pribadi)
Ide pembangunan jalan Tol Trans Sumatera seakan indah, sebuah terobosan menghapus apa yang disebut ketertinggalan Sumatera terhadap Jawa. Benarkah pemikiran demikian? Atau malah sebaliknya? Pembangunan Tol Trans Sumatera justru membawa bencana bagi Sumatera. Atau paling tidak, dia tidak akan membawa pengaruh apa-apa bagi perbaikan ekonomi masyarakat kecil. Untuk itulah tulisan ini dibuat.

Beberapa waktu lalu, saya  mengunjungi Lampung. Kebetulan, daerah tujuan, Bandar Jaya, daerah yang terlewati oleh rencana Tol Trans Sumatera. Dari pembicaraan yang saya tangkap, masyarakat yang tanahnya dibebaskan, menyimpulkan bahwa pembebasan lahan untuk Tol Tran Sumatera merugikan mereka. Nilai NJOP tanah mereka Rp. 100.000/M². Tetapi, mereka menerima ganti rugi pada nominal Rp. 30.000/M². Belum  lagi, jika dihitung kerugian material yang berada diatas tanah mereka, seperti rumah dan tanaman yang nominal penggantiannya dibawah harga standard umum pasar yang berlaku.
Selain, kerugian diatas. Maka menurut hemat saya, kerugian-kerugian lain, akibat dibangunnya Tol Tran Sumatera sebagai berikut.

Sabtu, 16 Januari 2016

Cinta yang sangat

Ilustrasi Kebun Sawit  (sumber gambar di sini)
Kelam belum sempurna menutupi mayapada. Memang seharusnya begitu. Jam baru saja menunjukkan pukul empat sore. Jadi, mestinya, memang masih terang, jika saja tidak turun hujan sejak satu jam yang lalu.
Rusman masih berdiri dibawah rindang kebun Sawit, sementara hujan masih terus turun membasahi lahan perkebunan Sawit dimana dia berdiri saat ini. Tak  ada tempat berteduh, ada jarak beberapa ratus meter dari tempat Rusman berdiri kini, dengan jalan raya, dia seorang diri. Rasanya sempurna sudah persembunyian ini, jika saja tidak turun hujan sejak satu jam lalu.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, reflex Rusman mengangkatnya, tertera nama lastri, istrinya.

Jumat, 15 Januari 2016

Suatu Hari Bersama Seno Gumira Ajidarma

Thamrin Sonata, Seno Gumira Ajidarma, Iskandar Zulkarnain, pada acara Kompasianival (dok.Pribadi)
Seno dalam bahasa pergaulan di Masyarakat Papua berarti gila. Pada ajang kompasianival 2015, saya benar-benar bertemu dengan “Seno”. Beliau benar-benar “gila”. Bagaimana tidak? Penulis ini, benar-benar mampu menulis dengan beragam genre. Mulai Novel, Cerpen, Catatan ringan, Catatan perjalanan, Reportase dan Opini.
Kegilaan itu, makin komplit saja, ketika Seno berani menolak penerimaan bergelimang uang dari Ahmad Bakrie Award, sebagai bentuk solidaritas pada korban lumpur Lapindo.
Beliau bernama lengkap Seno Gumira Ajidarma. Lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Itu, berarti, usianya kini 57 tahun.

Jumat, 01 Januari 2016

KIsah Inovasi Dua Lagu



Text Lagu Indonesia Raya (sumber: Google)

Pagi menjelang siang itu. Dalam sebuah upacara peringatan hari lahir kemerdekaan RI, di kampung saya. Para pemuda dengan gagah menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.  Tengah asyik dan khidmatnya lagu “Indonesia Raya”  dinyanyikan. Tiba-tiba ada sebagian hadirin menyanyikan lagu “Njer Genjer”. Kolaborasi dua lagu itu, membuat suasana begitu hidup, irama yang dihasilkan begitu syahdu, melenakan dan dengan semangat penuh merasuk ke dalam jiwa.
Selesai acara, peserta upacara memuji inovasi cerdas yang dilakukan para pemuda. Segala pujian dan sanjungan membahana melingkupi tempat upacara.
Tiba-tiba, majulah seorang veteran tua,  ke tengah lautan manusia yang sedang dimabuk pujian atas inovasi cemerlang yang baru saja mereka lakukan.
“Saudara-saudara” demikian sang veteran memulai pidatonya.
“Sesungguhnya, kita baru saja, telah melakukan kekonyolan. Mengkolaborasikan  minyak dengan air. Lagu kebangsaan dengan lagu para penghianat Negara” demikian sang veteran, melanjutkan pidatonya.