Sabtu, 31 Desember 2016

Selamat Tahun Baru 2017

Mentari 2016 Segera Kan  Masuk  Peraduan (dok. Pribadi)

Hari ini tanggal 31 Desember 2016. Itu artinya, usia tahun 2016, hanya tinggal  menghitung jam, lewat itu, kita akan memasuki tahun baru 2017. Selamat Datang tahun 2017.
Ucapan dan do’a yang selalu kita dengar setiap pergantian tahun, “semoga tahun depan lebih baik dari tahun lalu” atau “harapan kita, segala aral dan melintang dapat kita lalaui dengan survive pada tahun depan”. Sementara teman yang diajak bicara selalu dengan wajah sumringah meng”aminkan”nya.
Layaknya sebuah do’a, tentunya do’a itu ditujukan pada yang memberikan kehidupan pada kita, juga pada makhluk yang melata dipermukaan bumi,  Dia yang menentukan takdir kehidupan kita.  Baik sekarang maupun yang akan datang.
Layaknya juga sebuah permintaan, maka yang meminta seyogyanya memberikan sesuatu yang menyenangkan pihak yang diminta, bentuknya, bisa berupa hadiah materi atau paling tidak berupa perilaku yang disenangi oleh yang memberi. Yang membuat sang pemberi tersenyum.
Lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk menyenangkan pihak yang kita minta itu? 
Umumnya, ketika menyambut tahun baru, kita malah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkanNya, kita berpesta pora, bermewah-mewahan bahkan, bahkan kalangan muda atau mereka yang merasa belum tua, hingga melakukan sex bebas di malam pergantian tahun itu.
Apakah pesta ria tidak boleh? Jawabnya  boleh saja, tetapi tidak bermewah-mewahan. Lalu apa kriteria bermewah-mewahan itu? jawabnya relative, mewah menurut Si A belum tentu mewah menurut si B. Tetapi, penjelasannya jelas, mewah itu, sesuatu yang dipaksakan. Sesuatu yang setelah selesai kita lakukan, ada sesuatu yang membuat hati merasa “gelo”. Entah karena jumlah pengeluaran yang tidak biasa kita keluarkan atau ada sesuatu yang hilang dari kita. Harga diri, uang, bahkan kehormatan.
Maka, seyogyanya, lakukan pesta penggantian tahun baru sesuai kemampuan masing-masing saja, jangan memaksa diri, jangan sampai kita harus berhutang kesana-kemari untuk melakukan pesta pergantian tahun. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan, daripada melakukan pesta yang hanya selesai dalam satu malam. Sesudah itu, datanglah penyesalan.
Jika saja, langkah awal kita, di tahun baru ini, sudah benar dan dapat memberikan rasa senang pada Sang Pemberi, maka paling tidak, sudah layak bagi sang Pemberi untuk memberikan apa yang kita harapkan ketika memasuki tahun baru.


Selamat Tahun Baru 2017 M
Selamat Menggapai apa yang belum tergapai di tahun 2016 M
Sejahteralah Indonesiaku,

Damailah Negriku.


Kamis, 29 Desember 2016

Labuhan Bajo, Kota Terakhir, Hari-hari Terakhir

Dermaga Labuhan Bajo untuk Turis (dok. Pribadi)
Pagi itu, setelah sarapan pagi di sebuah penginapan kecil dekat alun-alun kota Ruteng, perjalanan  saya selanjutnya, dalam rangka menyusuri Pulau Flores adalah Labuhan Bajo. Jika saja, semuanya lancar dan informasi tentang Labuhan Bajo telah saya peroleh, sebagai oleh-oleh untuk para pembaca. Maka saya berencana akan mengakhiri perjalanan di Flores. Itu artinya, entah malam atau sore hari, saya akan meninggalkan Labuhan Bajo menuju Pelabuhan Sape di Nusa Tenggara Barat. Saya berharap, semuanya akan jadi lancar. Sehingga, apa yang saya sudah  direncanakan dapat terrealisir.
Jarak antara Ruteng – Labuhan Bajo sekitar 126 Km, kendaraan roda dua yang saya gunakan menapaki daratan Pulau Flores kondisinya cukup sehat, sementara jam di tangan  baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi WITA. Maka, jika saja saya berjalan santai, saya perkiraan sekitar pukul sepuluh atau bahkan kurang, saya akan tiba di Labuhan Bajo. Bismillah…. Berangkat!!!.

Rabu, 28 Desember 2016

RIUNG 17, di Ngada, Flores, NTT

Perahu yang akan membawa wisatawan mengelilingi Riung 17 (dok.Pribad)
Masih tentang Nagekeo yang merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Ngada, Flores.  Dengan Ibu Kota berada di Mbay. Setelah dua minggu lamanya saya mukim di Mbay, perbincangan dengan teman-teman dari Flores, masih didominasi tentang keindahan destinasi wisata Pulau Riung 17. Bagaimana indahnya Riung 17, bagaimana kondisi laut ketika jernih-jernihnya pada jam enam pagi serta bagaimana sekumpulan kalong yang terbang beriringan di sore hari.
Namun, keinginan menuju Riung 17 baru terlaksana pada minggu ketiga saya berada di Flores, tepatnya di Mbay. Lokasi Riung 17 yang terletak di kecamatan Riung, sebelah utara wilayah kabupaten Ngada dengan jarak dari Bajawa, ibu kota Ngada 75 km. Namun, karena saya berada di Mbay, maka saya mendatangi Riung 17 bukan melalui Bajawa. Melainkan melalui Mbay dimana saya tinggal, jaraknya lebih pendek, sekitar 45 km dan akses menuju Riung lebih baik, tak begitu banyak tanjakan dan turunan serta jalan yang dapat dikatakan mulus. Hanya, beberapa kilo sebelum masuk ke Kecamatan Riung, jalan menjadi sempit, tikungan tajam di bawah bukit batu terjal, di beberapa tempat diantaranya berbatasan langsung dengan air laut yang ditanami pohon Bakau.

Selasa, 27 Desember 2016

Kiat Bersama Rasulullah di Syurga

 Jalan menuju syurga nan penuh liku (dok.Pribadi)
Beberapa diantara kita, begitu bangga dan bahagia jika dapat bertemu dengan sang idola, dapat berjabat tangan dan foto bersama. Ada pula yang bahagia dan bangga jika dapat bertemu dengan pejabat tinggi. Bahkan, jika mungkin, dapat berjabat tangan dan berfoto dengan orang nomer satu dinegri ini. Padahal, pertemuan dengan sang Idola atau dengan pejabat tinggi, hanya bersifat sementara, hanya dalam hitungan jam dan setelah itu, sang pejabat atau sang idola kembali dengan kesibukannya dan kita kembali dengan dunia kita. Waktu dalam kebersamaan sangat singkat, hanya dalam hitungan jam.
Ada juga yang mengidam-idamkan, jika saja dapat menikah dan berumah tangga  dengan orang yang dicintainya, maka bahagia yang akan diperolehnya luar biasa. Jasmani rohani. Benarkah? Jika juga benar, maka sifatnya, juga sementara, selama kita hidup di dunia, selama pasangan kita hidup. Lalu, kita berpisah dengan batas umur yang kita miliki, apakah pasangan kita yang mendahului, atau kita yang meninggalkannya.

Minggu, 25 Desember 2016

Baca Buku Kala Cekak Uang

Sumber gambar : Kaskus
Tahun-tahun dipenghujung 1960-an, daerah tempat tinggal saya. Kondisinya, amat berbeda dengan sekarang. Ketika itu, di sudut pasar kota kami, hanya ada satu tempat persewaan buku. Masih segar dalam ingatan saya, nama persewaan buku itu, “Toko Buku Aneka”. Di toko yang berukuran 2 x 3 meter dijual segala macam Koran, majalah dan buku bacaan. Khusus buku bacaan, ada yang dijual, ada juga yang disewakan. Buku-buku yang disewakan itu, ada yang bisa dibawa pulang dengan waktu tertentu, biasanya 3 hari, ada juga yang dibaca di tempat.  
Harga sewa buku yang dibaca ditempat persewaan, seharga Rp 2,5/buku. Orang daerah saya menyebut nominal angka Rp 2,5 itu, sebagai seringgit. Jadi, jika kita memiliki duit Rp 5, maka kita dapat membaca dua buku buah ditempat persewaan.
Ketika itu, saya masih SD, pergi pulang sekolah selalu dengan berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 1,5 km sekali jalan, jadi pergi pulang sejauh 3 km. suatu yang sangat biasa ketika itu. Dan yang sangat kebetulan, dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah saya selalu melewati toko buku Aneka. Entah, karena kota kecil atau selalu lewat toko Aneka, sang pemilik toko Aneka kenal dengan saya. Jangan tanya siapa nama pemiliknya, karena tidak lumrah di daerah kami ketika itu, menyebut nama orang tua dengan namanya, seperti pak A… atau pak B.. saya menyebut dan memanggil beliau dengan sebutan pak Tuo.

Sabtu, 24 Desember 2016

Refleksi Akhir Tahun 2016. Harapan untuk 2017

Sumber gambar; Suara Merdeka.com.17/12/2016

Tak terasa, kembali kita sampai pada penghujung tahun 2016. InsyaAllah tahun baru, hanya tinggal menghitung hari. Setelah itu, kita akan katakan pada tahun 2016, selamat tinggal dan selamat datang tahun 2017  .
Berbagai capaian telah kita torehkan pada tahun 2016, meski jujur, tentu ada juga pencapaian yang gagal untuk kita capai.  Untuk selanjutnya, pada tahun 2017. Kita berharap akan lebih banyak lagi perolehan yang akan kita capai pada tahun 2017, baik secara kualitas maupun kuantitas dengan seminimal mungkin, akan menemui kegagalan yang akan menyertainya, seperti yang kita alami selama tahun lalu.
Untuk merayakan pencapaian ditahun sebelumnya, serta harapan yang lebih baik lagi ditahun berikutnya. Maka, kita biasaanya merayakan penyambutan tahun baru. Caranya bermacam ragam, ada yang keluar kota, ada yang dengan pesta pora ada pula yang merenung. Mengkalkulasi apa sebenarnya yang telah terjadi serta yang akan terjadi?

Rabu, 14 Desember 2016

Misteri Rezeki

Jemput Rezeki, ketika Pagi menjelang (dok.Pribadi)
Beberapa hari lalu, saya kedatangan seorang teman. Ketika itu, saya sedang duduk di beranda rumah, tiba-tiba sang teman muncul dengan kendaraan roda dua. Bayangkan, dengan usia kepala enam, sang teman naik motor ke rumah saya, dengan jarak lebih 240 km dari rumahnya.
Malam hari kami ngobrol, saling bertanya kondisi teman-teman lama. Beberapa teman kami sudah tak ada lagi, beberapa lagi, masih ada. Namun, dengan kondisi kesehatan yang memprihatinkan.
Alhamdulillah… meski rezeki begini, badan selalu sehat, anak-anak sudah selesai semua Bang. Demikian kata sahabat saya ketika saya tanyakan kondisi sang teman.  Makjleeeb.. ada sesuatu yang menyadarkan saya dari jawaban sahabat saya itu.  Apa kesadaran itu? Bagaimana menjelaskannya, untuk itulah tulisan ini saya buat.

Minggu, 11 Desember 2016

Kegunaan Penulisan Karya Ilmiah

Prinsipnya semua bidang keilmuan, penemuan dan hasil cipta karya manusia. Perlu diteliti ulang, serta ditingkatkan fungsi perannya hingga memperoleh hasil yang lebih tepat guna, lebih efisien dan akurat. Semua itu diperlukan penelitian ulang, pengkajian ulang. Hasil dari penelitian ulang dan pengkajian ulang serta perbaikan-perbaikan yang menyertainya, perlu dibuatkan laporan tertulisnya. laporan tertulis itulah secara umum disebut sebagai karya ilmiah.   
Bagi seorang peneliti professional, keuntungan yang paling besar dan berharga dari semua karyanya adalah jika ia menemukan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan.
Tujuan karya tulis ilmiah itu adalah :
·         Pengakuan Scientifik Objective untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dengan pemaparan teori-teori baru yang shahih dan terandalkan.
·         Pengakuan Practical Objective guna membantu pemecahan problema praktisi yang mendesak.

Jumat, 09 Desember 2016

Yang Tengah: Yang Nikmat

Harmoninya alam, pada alam sore itu di Pantai Senggigi (dok.Pribadi)
Ketika sudah duduk di depan laptop, saya acapkali suka lupa. Berjam-jam melihat tulisan yang ditayangkan pada blog beberapa sahabat, makin dilihat makin asyik. Selalu saja ada hal-hal yang baru, selalu ada ilmu yang manfaat, apalagi jika membaca tulisan mereka yang sudah jadi. Beberapa blogger menulis dengan sangat serius, bahasa yang digunakan tegas, lugas, bernas dan tuntas…tas..tas.
Lupa waktu, lupa pada kewajiban. Hingga ketika adzan tiba, saya masih duduk di depan laptop, masih “melototi” tulisan-tulisan yang bernas pada blog mereka. Lalu….istri saya sengaja sengaja memakaikan sarung yang rapi, pada anak semata wayang saya, kemudian, disuruhnya sang untuk mendekat pada Bapaknya. Sayapun, refleks berdiri meninggalkan laptop untuk berwudhu dan mengimami sholat.
Musim hujan begini, kendaraan yang saya gunakan selalu saja kotor. Saya yang biasanya suka mengelus dan membelai kepala sang buah hati, kini sibuk membelai dan mengelus kendaraan yang kotor, berjam-jam, lupa waktu dan lupa segalanya. Rasanya, ada kenikmatan tersendiri, ketika satu-satu kotoran itu gugur dari kulit kendaraan, lalu tuntas tak bersisa. Kelihatan  kinclong, terlihat wujud aslinya, tanpa asesories tanah dan lumpur. Istri yang sejak tadi hanya melihat, lalu datang membawa handuk, ada pesan terselubung, kini giliran yang membersihkan kendaraan untuk dibersihkan.

Kamis, 08 Desember 2016

Lakukan Ini Ketika Marah

Ilustrasi marah (sumber gambar google)
Semua kita pernah marah, karena marah naluri manusia yang bisa datang dimana saja dan kapan saja. Alasan untuk marahpun bermacam-macam, ada yang karena merasa tersinggung, harga dirinya merasa dilecehkan. Sehingga untuk mengangkat harga diri yang terlanjur dilecehkan, maka kita marah, atau untuk membela diri sehingga marwah diri dan keluarga atau negara dapat dipertahankan.
Tetapi apakah benar, marah diperlukan? Dalam skala kecil, jawabannya mungkin iya, tetapi, sebenarnya lebih banyak merugikan kita dibanding manfaat yang akan kita dapat. Ketika marah tiba, control diri berkurang jauh, banyak hal yang sifatnya merugikan terjadi. Namun, satu hal yang pasti, kemampuan mengontrol diri, menunjukkan kualitas manusia itu sendiri.
Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang dilarang secara moral bahkan sampai pada taraf melanggar hukum. Pelanggaran secara moral, seperti mencaci maki, mengeluarkan kata-kata kotor, dan sejumlah sumpah serapah lainnya. Kelanjutannya tindakan marah itu, bisa pada tingkat perkelahian dan saling membunuh. Kelanjutan terakhir ini, tentu berdampak pada tindakan pelanggaran hukum.

Rabu, 07 Desember 2016

Ketika Abidin Protes Pada Allah.

Mesjid Jamik, Pancor, Lombok. (dok.Pribadi)
Abidin bukanlah nama seseorang. Melainkan alias atau gelar seseorang yang dilekatkan padanya karena perilaku kesehariannya. Kata Abidin berasal dari kata Abid yang berarti ibadah. Seseorang yang dikenal sangat rajin beribadah, maka layak disebut atau digelari dengan nama Abidin.
Alkisah, Abidin yang satu ini, demikian rajinnya beribadah, hingga demi kenyamanan diri dalam beribadah pada Allah dan demi agar terhindar dari segala godaan yang akan memalingkan kekhusu’an dirinya dalam beribadah pada Allah. Maka, sang Abidin mengasingkan diri dari keramaian masyarakatnya. Meninggalkan anak istrinya, kaum kerabat dan pergi jauh dari kampong halaman, menuju ke suatu daerah yang tak berpenghuni.
Dengan terhindarnya dari pertemuan dengan manusia, maka sang Abidin dengan leluasa siang malam dan setiap detik waktunya dia habiskan hanya untuk beribadah pada Allah. Tak ada waktu yang terlewatkan baginya, kecuali hanya beribadah. Tak ada yang lain.

Akulah Batu, Kaulah Debu

Akulah batu, kaulah debu (foto. Pribadi)
Menikah adalah menggabungkan dua keluarga besar, antara keluarga besar isteri dan keluarga besar suami. Bukan hanya antara dua manusia, suami dan isteri, an sich. Menggabungkan antara suami dengan keluarga isteri dan isteri dengan keluarga suami. Terlebih antara suami dengan kedua Mertua demikian juga Isteri dengan kedua Mertuanya. Prinsipnya, sangat sederhana, kedua Mertua itu, kedudukannya sama dengan orang tua sendiri. Kedua Mertua itu, telah melahirkan dan membesarkan pasangan kita dengan sepenuh cinta. Cinta yang kadang kadarnya lebih besar dari cinta yang mampu diberikan oleh sang Suami ataupun Sang istri.
Jika kedua Mertua telah tiada, maka idealnya, hubungan inten pada saudara-saudara Isteri dan saudara-saudara Suami tetap harus dijaga sebagaimana sebelum kedua Mertua masih ada. Bukankah mereka, anak-anak Mertua juga, anak-anak yang Mertua telah memberikan cintanya, sama dalam kualitas dan kuantitasnya dengan pasangan kita.

Sabtu, 03 Desember 2016

Fenomena Cinta, Apa itu?

Cinta yang fenomenal  (dok.Pribadi)
Ada rumah tangga yang dibangun tanpa cinta. Namun, awet hingga kakek nenek, model rumah tangga yang model begini, umum kita lihat pada rumah tangga tempo dulu. Mereka menikah karena dijodohkan orang tua. Pertemuan yang dilakukan sekali dua kali menjelang pernikahan. Lalu, dilanjutkan pada pernikahan. Aneh, ternyata rumah tangga yang mereka bina, sukses hingga usia kakek nenek. Rumah tangga yang dipenuhi oleh Toto tentrem kerto raharjo.
Namun, ada juga rumah tangga yang dibina dengan sepenuh cinta. Mereka pacaran hingga beberapa tahun, beberapa, bahkan hingga lebih sepuluh tahun. Tetapi, setelah menikah, usia pernikahan yang mereka bina, lebih singkat dari usia pacaran. Upacara pernikahan yang gegap gempita masih hangat dalam kenangan pada kerabat, tetapi, rumah tangga yang dibina pada kenangan itu sudah bubar jalan.

Jumat, 02 Desember 2016

Karya Ilmiah. (tm.3)


Karya  ilmiah  (dok.Pribadi)
Apakah Karya Ilmiah itu?
Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang membahas suatu masalah berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang diperoleh dari suatu penelitian lapangan, test laboratorium atau kajian pustaka.
Data-data yang diperoleh dari penyelidikan, pengamatan, penelitian lapangan, test laboratorium atau kajian pustaka itu, lalu dipaparkan dan dianalisa secara ilmiah.

Kamis, 01 Desember 2016

Judul Artikel. (tm.2)

Ilustras Artikel
Judul Artikel.
Dalam menulis artikel, memilih judul memerlukan kejelian tertentu. Judul yang menarik akan menjadi perhatian khusus bagi redaktur media massa. Sehingga, redaktur media massa akan tertarik dan memuat tulisan  artikel yang ditulis.
Itulah sebabnya, memilih judul dalam penulisan sebuah artikel, memerlukan pemikiran, pertimbangan dan penyesuaian secara khusus. Ada penulis yang menuliskan judul ketika akan membuat artikel, ada yang menuliskan pada pertengahan menulis, ada juga beberapa yang menuliskan judul ketika seluruh artikel telah selesai ditulis.

Rabu, 30 November 2016

Apakah Artikel Itu ? (tm.1)

Apakah   Artikel Itu ?
Artikel dalam bahasa Inggris ditulis “article”
Menurut kamus lengkap Inggris-Indonesia karangan Prof. Drs. S. wojowasito dan WJS Poerwodarminto, article  berarti karangan.
Artikel dalam bahasa Indonesia, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, berarti karangan di Surat Kabar, Majalah dan lain sebagainya.
Pengertian Artikel menurut Istilah
1.    Artikel adalah suatu tulisan tentang berbagai soal, mulai politik, social, ekonomi, budaya, tekhnologi, olehraga dll.  Demikian menurut R. Amak Syarifudin, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa (STIKOSA-AWS) Surabaya.
2.    Artikel adalah karangan yang menampung gagasan dan opini penulis. Baik gagasan murni atau memungut dari sumber lain, referensi, perpustakaan, pernyataan orang dll. Demikian menurut Tjuk Swarsono, wartawan senior. Penulis artikel harus mencantumkan nama secara lengkap sebagai tanggung jawab atas kebenaran tulisannya.
3.    Artikel sebagai karangan factual (non fiksi) tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat di surat kabar, majalah, bulletin dsbnya. Demikian Asep Syamsul M Romli, mantan ketua laboratorium dan Pusdiklat Mingguan Hikmah.
4.    Dalam menulis artikel dapat memasukkan fakta sebagai data dari apa yang akan ditulisnya.  Dari data yang ada itulah penulis dapat memberikan pendapat, pandangan, gagasan atau bahkan interpretasi dari data yang ada tersebut.
Berdasarkan pendapat para praktisi dan pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua tulisan di surat kabar atau majalah yang bukan berbentuk berita bias disebut artikel.

Maltus dan Kondisi kekinian Indonesia

An Essay on the Principle of Population ,
Karya MalThus
Malthus (1776-1824)  pada tahun 1798 mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk sesuai deret ukur (2, 4, 8, 16, 32,64), sedangkan pertumbuhan ekonomi sesuai deret hitung(1,2,3,4,5,6). Artinya, ketersiadaan akan bahan pangan, semakin hari, akan semakin berkurang. Sehingga suatu hari akan habis. Sesaat, sebelum bahan pangan habis, maka manusia akan saling bunuh untuk memperoleh sesuap bahan makanan. Kondisi yang sangat menakutkan akan terjadi. Dan Malthus memperkirakan semuanya akan terjadi pada abad ke 19.
Semua tergambar jelas dalam bukunya “An Essay on the Principle of Population.” Dan pada era akhir 79’an ada sebuah film yang menggambarkan kondisi yang digambarkan Malthus. Kondisi yang menghebohkan. Banyak keluarga yang pesimis menghadapi masa depan. Tahun-tahun menjelang sisa abad ke 19 akan segera menjelang, itu artinya, ramalan Malthus akan segera terjadi.
Namun, hingga kini, abad 21 kita masih aman-aman saja. Apa yang terjadi?

Minggu, 27 November 2016

Bidang-Bidang yang tercakup dalam Perencanaan Wilayah (pertemuan ke 4.)

1, Bidang Perencanaan Ekonomi Sosial wilayah.
a.    Ekonomi social wilayah
b.    Ekonomi social perkotaan.
c.    Ekonomi social perdesaan.

2, Perencanaan Tata Ruang Atau Tata Guna Lahan.
a.    Tata ruang tingkat nasional.
b.    Tata ruang tingkat Provinsi.
c.    Tata ruang tingkat Kabupaten atau Kota.
d.    Tata ruang tingkat Kecamatan atau Desa.
e.    Detail Design. Untuk wilayah yang lebih sempit lagi.

Masalah yang Dihadapi Perencanaan Wilayah. (pertemuan ke.5)

     Pada perencanaan pembangunan daerah, selalu ada masalah dan kendala yang dihadapi. Untuk suksesnya suatu perencanaan, seorang perencana perlu tahu, apa saja kendala dan masalah yang dihadapi, lalu dengan masalah yang diketahui, diupayakan solusinya. Sehingga, perencanaan yang dilakukan mampu memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan perencanaan itu sendiri.
     Diantara masalah-masalah yang dijumpai pada perencanaan pembangunan daerah, antara lain: 

Jumat, 25 November 2016

Cerita Sekitar Guru

Kondisi salah satu sekolah di Malingping, Banten (dok.Pribadi)
Jum’at, 25 November 2016  ini, kita memperingati hari guru. Idealnya, kita seluruhnya memberi apresiasi pada guru, karena merekalah, kini, kita dapat menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Tanpa mereka, kita bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa. Nothing.

Lebih baik lagi, jika kita seluruhnya, mampu memberi sumbangsih pada para guru, apakah berupa buah pikiran untuk lebih baiknya kualitas pendidikan, atau memberikan perhatian untuk berubahnya sarana pendidikan, dari yang yang kurang memadai menjadi memadai atau bisa juga sebuah solusi dari ketertinggalan kesejahteraan social beberapa guru yang berdomisili pada daerah terpencil.

Jumat, 11 November 2016

Mengubah NTT, Nasib Tak Tentu

Gunung Batu sepanjang jalan, pandangan yang terjadi dibanyak tempat di Flores (dok.Pribadi)
Flores memang terletak di Nusa Tenggara Timur. Tetapi, Nusa Tenggara Timur bukan hanya Flores. Banyak pulau lainnya, sebut saja Timor, Lembata dan banyak lagi lainnya.
Namun, yang terekspos di media massa, NTT didominasi dengan tanah yang kering, tanah yang gersang dan air yang sulit didapatkan, dengan runutan berikutnya, adalah kemiskinan yang akut pada masyarakatnya. Sehingga, NTT sering dipelesetkan dengan Nasib Tak Tentu . Gambaran yang tidak sepenuhnya benar. Paling tidak, untuk pulau Flores.
Secara garis besar, kemiskinan memang ada di Flores. Indikasinya, bagaimana rumah-rumah di Flores didominasi dengan dinding yang terbuat dari Bambu. Di Flores disebut dengan Naja. Sehingga, jika malam tiba, angin dan nyamuk dengan leluasa masuk ke dalam rumah.
Indikasi lain, pemuda-pemuda Flores pada merantau, lihat saja, pada hampir setiap kota besar di Pulau Jawa, pemuda-pemuda Flores dapat kita jumpai, demikian juga kota yang memiliki Industri, sebuat saja Batam sebagai contoh, belum lagi di Malaysia, dengan mudah kita bertemu dengan pemuda-pemuda berasal dari Flores.
Sayangnya, para perantau dari Flores, memilih bidang kerja yang mengandalkan pada kekuatan fisik, seperti menjadi security, menjadi karyawan, dll. Sehingga, keberhasilan secara ekonomi, tidak signifikan mereka peroleh. Akibatnya, keberadaan mereka tidak menembus kelas menengah. Mereka tetap berada pada kelas pekerja.

Rabu, 02 November 2016

60 Hari Hafal al-Qur’an (Resensi Buku )

“60 Hari Hafal Al-Qur’an”  karya Saiful Aziz Al-Hafiszh, D.Pd.I (dok.Pribadi) 

Al-Qur’an bagi umat Islam, merupakan suatu yang sangat Istimewa. Di Dalamnya merupakan teks panduan dalam meraih kehidupan yang selamat. Baik di dunia maupun di akherat. Mengamalkannya, merupakan kewajiban, demikian juga mempelajarinya. Bahkan membacanya saja memperoleh pahala.
Sedangkan, mereka yang mampu menghafalkan al-Qur’an secara keseluruhan akan memperoleh keistimewaan yang tiada tara dari Allah SWT. Itu sebabnya, berbagai lapisan masyarakat berbondong-bondong berupaya menghafalkan al-Qur’an.
Buku yang berjudul “60 Hari Hafal Al-Qur’an” merupakan salah satu jawaban dari keinginan masyarakat yang ingin menghafalkan al-Qur’an.

Senin, 24 Oktober 2016

Mengapa Motivator Tumbang?

Motivator sejati yang tetap berdiri kokoh ditengah lautan (dok.Pribadi)

Membicarakan motivator yang tumbang, sebenarnya bukanlah membicarakan sang motivator an sich. Melainkan, membicarakan kita semua. Membicarakan kompasianer secara keseluruhan. Mengapa? Karena, kerja kita –kompasianer- mirip dengan apa yang dilakukan sang  motivator. Memberikan pencerahan pada masyarakat –baca pembaca, yang menyimak tulisan kita- 
Berangkat dari kejatuhan sang motivator dan rasa “sayang” pada kompasianer, tulisan ini dimaksudkan.
Tak ada makan siang yang gratis, tak ada kejadian yang tak dapat diambil hikmahnya, begitu juga dengan kejatuhan sang motivator. Untuk itu, marilah kita lihat, mmengapa sang motivator bias jatuh? Hal yang sama mungkin saja terjadi pada kita semua. Diantara sebab-sebabnya, antara lain.

Minggu, 23 Oktober 2016

Rencana Pembangunan Wilayah

Cover buku “Perencanaan Pembangunan Wilayah” oleh Prof. Drs. Robinson Tarigan. M.S.P (dok.Pribadi) 
Coba bayangkan apa jadinya hasil Pembangunan di suatu wilayah, jika Pembangunan yang dilakukan tidak melalui Perencanaan. Tentu, akan mengecewakan banyak pihak. Mulai dari masyarakat yang akan menikmati hasil Pembangunan, Pemerintah sebagai institusi yang mempertanggung-jawabkan Pembangunan serta stakeholder yang ikut terlibat dalam Pembangunan. 
Bukan hanya pada hasilnya yang mengecewakan, melainkan mulai dari Perencanaan, pelaksanaan dan hasil Pembangunan. Tentu akan mengecewakan. Apa yang akan diraih dari Pembangunan itu, tak sepenuhnya dimengerti, bagaimana melaksanakannya juga tak sepenuhnya jelas, demikian juga pasca pelaksanaan. Berapa besaran anggaran sesungguhnya, bagaimana mengauditnya, nilai manfaat apa yang akan dicapai serta parameter manfaat dari hasil Pembangunan itu, semuanya sulit untuk dikalkulasi dan dinilai berdasarkan angka-angka dan nilai yang disepakati dalam milleu dimana wilayah Pembangunan dilakukan.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kali Bersih, Marwah Yang Terabaikan

Postingan yang membuat saya meradang (dok.Pribadi)

Ini kisah lama di Stasiun Gambir. Ketika Gambir masih di tanah, belum dibuat megah seperti  sekarang. Sehingga Kereta Api berada dilantai dua.
Sambil menunggu KA datang yang akan membawa saya ke Bandung. Seorang teman yang searah dalam perjalanan ke Bandung, pria usia senja yang baru saya kenal di Stasiun Gambir siang itu, dengan menggebu-gebu menceritakan tertibnya lalu lintas Jakarta pada Era Belanda, Jernihnya sungai Ciliwung pada Era Belanda. Bahkan Noni-noni Belanda tak jarang, mandi di sungai yang berada di depan Bina Graha.
Lelah dengan segala celoteh kehebatan Jakarta pada Era Belanda, dengan sedikit berkelakar saya berkata;”Bagaimana kalau kita undang kembali Belanda ke Indonesia, untuk membenahi Jakarta?”. Mendengar kelakar saya, sang Bapak terkejut dan menyatakan tak mungkin hal itu dilakukan. Karna masalahnya bukan hanya sekedar pada lalu lintas yang lancar dan sungai yang bersih. Melainkan juga pada Arogannya sang Belanda pada masyarakat kecil.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Setelah Demo, Lalu Apa?

Suasana demo, menuntut agar Ahok diproses. 14 oktober 2016. (dok.Pribadi)

Hari Jum’at kemarin, terjadi demo besar-besaran di Ibu Kota, peristiwa yang sama, juga terjadi di Bandung dan Palembang. Penyebabnya jelas, Ahok diduga “melecehkan” Agama Islam. Terkait dengan ucapan Ahok di Pulau Seribu, tentang surat Al Ma’idah ayat 51. Akibatnya, umat Islam berdemo, menuntut marwah, karena agama Islam dilecehkan. Salahkah? Tentu tidak salah. Hal yang serupa, juga akan timbul reaksi yang sama pada pemeluk agama lain. Jika, agama mereka dilecehkan.     
Pertanyaannya, apa selanjutnya setelah demo berlangsung?

Kamis, 13 Oktober 2016

Pantai Maropokot, Nan Eksotis Di Nagekeo. Flores.

Pantai Maropokot, Kecamatan Aesesa (dok.Pribadi)
Flores secara keseluruhan kaya akan destinasi. Apakah itu destinasi laut, Gunung, budaya dan benda peninggalan sejarah. Saya yang berada di Pulau ini, lebih dari satu bulan lamanya, berkesimpulan, bahwa destinasi wisata di Flores terdapat pada kesembilan kabupaten yang ada di Flores.
Demikian juga dengan di Kabupaten Nagekeo, kabupaten yang merupakan pecahan dari Kabupaten Ngada dengan Ibu Kota Mbay, memiliki banyak tujuan destinasi, yang berada dihampir seluruh wilayah kecamatannya, yang terdiri dari, kecamatan Aesea, kecamatan Aesesa Selatan, kecamatan Boawae,  kecamatan Keo Tengah, kecamatan Mauponggo, kecamatan Nangaroro dan kecamatan Wolowae. Untuk Kecamatan Aesesa, salah satunya, Pantai Maropokot.

Rabu, 12 Oktober 2016

HBD, Nusron Wahid, Bah!

Sumber: TV One
Nusron Wahid, bintang mencorong pada ILC kemarin, tanggal 11 Oktober 2016. Begitu sebagian orang mengatakannya. Sekaligus membuat pria yang hari ini genap berusia 42 tahun itu, semakin top… Markotop. Namun begitukah sejatinya? Jika hanya sekedar  soal top saja. Sesungguhnya Nusron masih kalah Top dibanding dengan Jessica.
Mana  mungkin membandingkan Nusron dengan Jessica, karena Nusron adalah tokoh muda yang akan memimpin bangsa ini ke depan kelak, atau setidaknya akan jadi tokoh penting. Pemikiran demikian, juga sangat jauh panggang dari api. Lalu dimana meletakkan posisi Nusron? Untuk itulah, tulisan ini dibuat.
Saya memiliki beberapa catatan pada laki-laki yang lahir di Kudus, Jawa Tengah pada tanggal 12 Oktober 1973 silam itu.

Selasa, 11 Oktober 2016

Si “Hitam Jahanam” di Maumere




Pulau Flores dan Pulau Lambata (dok.Pribadi)

 Sore baru saja beranjak menuju malam hari, masih pukul delapan Waktu Indonesia Tengah. Di teras sebuah penginapan murah, di jalan Kartini, kota Maumere, Flores, NTT. Duduklah tiga orang yang sudah tidak muda lagi, saya dan seorang Bapak dari Lambata dan seorang Bapak lain dari Larantuka, Flores Timur.
Bapak Yohanes dari Larantuka ke Maumere mengantarkan anaknya yang baru masuk kuliah di Universitas Nusa Nipa di Kota Maumere, beliau yang berprofesi sebagai tenaga Guru di Larantuka sengaja mencari penginapan murah, karena hanya untuk merebahkan tubuh semalam saja, besok akan kembali ke Larantuka. Begitu alasan BaPak Yohanes. Masuk akal juga.
Bapak  Ahmad yang dari Pulau Lambata, kabupaten Lambata sedang mengurus bisnis di Maumere. Saya sedang mengurus sedikit usaha di Maumere, bisa tiga hari atau bisa juga sepuluh hari di sini. Itu sebabnya, untuk soal bermalam, harus sedikit berhemat. Begitu alasan Pak Ahmad.
Sedangkan saya, hanya seorang yang sedang menyusuri daratan Pulau Flores dengan sepeda motor. Badan tua yang letih, hanya butuh tempat berbaring, sebelum akhirnya terlena disebabkan keletihan, agar esok hari dapat melanjutkan perjalanan dengan tubuh segar.

Senin, 10 Oktober 2016

Adoh Ko Watu, Cerak Ko Ratu


Manusia memiliki kebebasan memilih area, apakah Area Batu atau Ratu (dok.Pribadi)


Kata-kata diatas adalah pribahasa Jawa lama. Artinya, jauh dari batu, dekat pada Ratu. Lengkapnya pribahasa itu adalah,.. Adoh ko Watu, cerak ko Ratu. Adoh ko Ratu, cerak ko watu. Artinya, jika kita menjauh dari batu, maka kita akan mendekat pada Ratu. Demikian pula sebaliknya, jika menjauh dari Ratu, maka otomatis akan mendekat pada Batu.
Ratu dan Batu diposisikan pada dua kutub yang berseberangan. Utara-Selatan atau Timur-Barat. Diantara dua kutub yang berseberangan itu, manusia berada. Manusia, memiliki kebebasan mutlak untuk memilih apakah akan mendekat pada kutub Ratu atau kutub Batu. Jika, pilihannya mendekat pada kutub Ratu, maka akibat logisnya, akan menjauhi dari  kutub Batu. Demikian juga sebaliknya. Ketika pilihan mendekat pada kutub Batu, maka akibatnya, akan menjauhi kutub Ratu. Tidak bisa memilih kedua kutub untuk didekati dalam waktu bersamaan. Pilihan hanya satu diantara dua kutub. Ratu atau Batu.
Ratu dilambangkan sebagai symbol kebaikan dan Watu dilambangkan sebagai symbol keburukan. Manusia berada diantara kedua kondisi itu, dengan kebebasan untuk memilih ke symbol mana mau mendekat.

Minggu, 25 September 2016

Ruteng Pu’u Manggarai, Flores. Satu Nenek Dengan Saya




Kepala Suku Ruteng Pu’u, Lambertus Dapur di depan Rumah Tambor.  Perhatikan Kepala Kerbau pada ujung atap rumah (dok.Pribadi)

 Memasuki Kota Ruteng ada rasa lega. Untuk sementara, perjalanan yang penuh dengan medan berat, naik turun dan berliku-liku berakhir sudah. Jam menunjukkan pukul 15.30, masih siang. Kota Ruteng terasa sejuk. Kemana saya akan pergi?
Saya putuskan untuk  mengunjungi  Ruteng Pu’u. Sebuah kampung yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota Ruteng. Tepatnya, lokasi yang ingin saya tuju itu, berada di kelurahan Golo Dukal. Kecamatan Langke Rembong. Manggarai, NTT.
Mengapa Ruteng Pu’u? untuk mengetahui, budaya suatu daerah, idealnya, ketahui dulu, akarnya budayanya. Ruteng Pu’u adalah cikal bakal budaya Ruteng. Itulah alasan kuat, mengapa saya perlukan datang ke Ruteng Pu’u.

Sabtu, 24 September 2016

Pantai Raja, Ende. Aroma Soekarno.




Pantai Ende,  beberapa kapal kecil di perairan laut Flores (dok.Pribadi)

 Ende, bagaikan cerita tak berujung. Ada saja bahan yang bisa diceritakan tentang kota bersejarah di Pulau Flores ini. Dan hebatnya, satu dengan lainnya saling berhubungan.  Salah satu ikon pusaran cerita itu, tentang Soekarno dan pusaran yang mengelilinginya.
Diceritakan, bahwa di kala senja, biasanya Soekarno duduk di bawah Pohon Sukun yang bercabang lima, pada sebuah taman yang kini disebut dengan Taman Perenungan Bung Karno.  Posisi duduk  Soekarno, menghadap ke laut Flores dan ketenangan  laut Flores, serta biru laut yang terbentang dihadapnnya, melahirkan imajinasi yang kelak menjadi butir-butir yang disebut lima sila dalam Panca Sila.

Rabu, 21 September 2016

Gunung Inerie, Sang Bunda Agung




Gunung Inerie, sore itu.. (dok.Pribadi)

Sebenarnya, kedatangan saya ke Flores, bukan dalam rangka wisata, tetapi kerja. Di sela-sela perjalanan kerja itulah saya menyempatkan menulis apa yang saya lihat dan dengar. Seperti pagi itu, dalam perjalanan ke Mauponggo, sebuah kecamatan di Kabupaten Nagekeo, yang letaknya di daerah pesisir selatan. Namun, untuk mencapai daerah itu, harus  melalui dataran yang cukup tinggi dan terjal. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba mata ini disuguhi pemandangan ekstrem, seakan jalan yang dilalui tegak lurus menuju sebuah Gunung yang mengepulkan asap.
Itu, Gunung Ebolobo, Bang. Demikian celoteh salah seorang diantara kami. Beliau sudah lama bermukim di Flores dan banyak tahu tentang legenda yang beredar di masyarakat. Saya hanya tersenyum, berusaha mengabadikan view indah yang berada di depan mata.
Seminggu kemudian, masih dalam rangka kerja, saya ke Bajawa. Ibu Kota Kabupaten Ngada. Ternyata, urusannya selesai dalam waktu singkat. Lalu, atas usulan salah satu diantara kami, diputuskan acara selanjutnya jalan-jalan ke Kampung Bena. Sebuah Kampung Tradisionil yang masih memegang ketat adat istiadat dan keaslian kampungnya selama ratusan tahun.  Memasuki Kampung Bena, kita seakan dibawa ke masa lalu, zaman abad megalitikum.  Soal Kampung Bena, saya ceritakan dalam tulisan yang lain lagi.

Senin, 19 September 2016

Kisah Penyelamatan Naskah Soekarno, Tonil Kelimutu


Penulis Bersama Yusuf Ibrahim di Beranda Rumah Beliau di Ende (dok.Pribadi)

Tengah hari di Ende, udara cukup menyengat, sementara  itu, saya masih mencari rumah Pak Yusuf Ibrahim. Di depan rumah besar itu, pak. Begitu jawaban terakhir yang saya terima. Ketika tiba di Jalan Nusantara IV. Rukun Lima. Ende. Sebelum memasuki rumah yang dimaksud, suara adzan dzuhur terdengar dari Mesjid terdekat.
Sebelum saya mengetuk pintu, seorang lelaki dengan usia mendekati senja keluar dari dalam rumah. Setelah bertegur-sapa, beliau berpesan agar saya menunggu saja di rumah, beliau akan Sholat dzuhur dulu di Mesjid. Lelaki yang berpesan itu, Yusuf Ibrahim, sosok yang saya cari.
Untuk  pembaca ketahui, Yusuf Ibrahim adalah putra dari Ibrahim Haji Umarsyah. Pemain Tonil Kelimutu sekaligus teman dekat Soekarno, ketika masa pembuangan Soekarno  di Ende.
Naskah asli yang ditulis tangan oleh Soekarno, sesungguhnya tidak pernah ditemukan. Yang ingin kita bahas disini, adalah naskah yang diketik oleh Ibrahim Haji Umarsyah yang dipercaya sebagai salinan dari naskah asli yang ditulis Soekarno.