Kamis, 03 Desember 2015

Refleksi Cinta Pada Bunda



Cover Buku "Mandeh, aku Pulang" (dok. Pribadi)


Ibu adalah kata kramat bagi seorang anak.
Air dari dada Ibu, itu yang pertama dinikmati seorang anak, untuk kelangsungan hidup diri sang anak selanjutnya. Hanya seorang Ibu yang rela menumpahkan darah untuk menyambut kedatangan sang buah hati. Dengan dekapan ibu yang hangat, sang anak mampu merasa tentram ketika dunia yang baru dilihatnya demikian luas. Keluasan yang menimbulkan ketakutan. Namun, ketakutan itu, segera enyah dalam hangat dekapan sang Ibu.

Lalu, tak cukup rasanya waktu, sepanjang usia sang anak, untuk membalas segala apa yang telah diterimanya dari sang Ibu. Walau bagaimanapun sang anak berusaha untuk  membalasnya.
Untuk Itulah, maka buku “Mandeh Aku Pulang” dihadirkan. Dihadirkan untuk sedikit upaya membalas jasa sang Ibu –Ibu dalam bahasa Minangkabau sering disebut juga dengan Mandeh- walau jelas, sekali lagi, tak mungkin akan membalas segala jasanya, hingga seluruh umur dihabiskan untuk itu.
Ibu, juga kadang,  bukan hanya “dia” yang melahirkan kita dalam pengertian biologis. Melainkan, dia yang telah membuat kita menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya. Seperti Guru, yang mendidik kita. Atau wanita yang kita cintai, yang telah memberikan seluruh cintanya pada kita, yang telah memberikan keturunan pada kita, yang telah mendidik buah cinta kita dengan segala kasih dan saying dan kepedulian.
Mereka yang menyinari kita, bagai sang surya yang menghangatkan seluruh mayapada. Yang memberikan sinar kehangatan dan kehidupan tanpa berharap untuk kembali. Untuk mereka inilah, kita sebagai laki-laki mutlak untuk melindungi dan menyayangi mereka, membalas sedapat yang kita bisa lakukan terhadap apa yang telah mereka “persembahkan”.
Maka, “Mandeh Aku Pulang” dalam soal isi, dimaksudkan sebagai persembahan  untuk sang Ibu dalam pengertian yang pertama, sedangkan “ghirahnya” dimaksudkan untuk mereka-mereka yang kita cintai dan mereka yang mencintai kita. Siapapun dia, apapun dia.
Tak ada seorangpun anak yang akan sempurna melakukan “persembahan” bagi Ibunya. Termasuk saya dalam penyelesaian “Mandeh Aku Pulang”. Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesarnya untuk Kang Pepih Nugraha, yang kata-katanya telah “direlakan” untuk ditera pada halaman Cover “Mandeh Aku Pulang”. Demikian juga, rasa terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Apak Ambo, Tjiptadinata Efendi, Pak Much.Khoiri serta sohib saya pak Isson Khairul yang telah dengan suka rela meng”endors” buku “Mandeh Aku Pulang”. Semoga jasa-jasa beliau semua, dalam rangka “Bhakti pada sang Mandeh”. Apakah itu dalam pengertian Biologis ataupun Mandeh pada pengertian kedua. Kompasiana.
Rasa terima kasih ini juga saya haturkan pada Ito Fitri Manalu, Zoel Z’Anwar serta semua admin RTC yang dengan penuh suka cita menyambut kelahiran “Mandeh Aku Pulang” dengan Bedah buku online-nya. Tak kecuali semua sahabat-sahabat yang ikut terlibat dalam acara bedah online tersebut. Seperti Awan Lee, Buyut Trader, Risqia Thufhil Laeli, D’n Ans Hoki, Little Purple Sandal, Denting Kemuning, Wahyu Sapta, Inem Octora, Nuzulul Arifin, Elang Libra, Marla La’sappe Thalib, Akhmad Fauzi, Ay Mahening, Lumban Raja Parroha Sada, Tara Jio, Syafriansah Viola,  Yudhi Fraendra, Beni Guntarman, Tubagus Encep Encep, Nur Hasanah swd, Umi Azzurasantika, Ikhwanul Halim, Ken Shara Odza, serta seluruh sahabatku yang duduk manis dengan memberikan jempolnya pada acara bedah buku online tersebut.
Rasa Terima kasih juga, special saya aturkan pada Pak Thamrin Sonata. Beliau yang  telah mampu mentransformasikan dari tulisan terpisah menjadi sebuah buku. Sehingga lahirlah kehadapan kita buku “Mandeh Aku Pulang”.
Akhirnya, agaknya tak berlebihan, jika saya berharap dengan kehadiran buku “Mandeh Aku Pulang” akan lebih menyemarakkan rasa cinta anak pada Ibunya, rasa cinta suami pada isterinya serta rasa cinta ayah pada sang buah hati.
Saya berharap apa yang saya hadirkan itu, merupakan sedikit upaya guna melakukan “persembahan” anak pada sang Bunda. Persembahan yang tak akan cukup, walau seluruh waktu hidup dihabiskan untuk itu.
Akhirnya, saya teringat akan adagium, bahwa seorang laki-laki yang mencintai ibunya, akan memiliki cinta yang sama pada isterinya. Seorang laki-laki yang menghormati Ibunya akan memiliki penghormatan yang sama pada isterinya. …. Wallahu A’laam.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar