Kamis, 31 Desember 2015

Refleksi Akhir Tahun 2015, Kita Hanya Pandai Bicara

Pencapaian tahun 2015, berkunjung ke Istana (dok.Pribadi)
Tulisan ini, agaknya tidak popular bagi mereka yang tersentil didalamnya. Maka, sebelum saya lanjutkan, saya terlebih dahulu, mohon dibukakan pintu maaf.
Tahun baru, hanya tinggal menghitung jam. Setelah itu, kita akan katakan pada tahun 2015, selamat tinggal dan tahun 2016 selamat datang.
Berbagai capaian telah kita torehkan pada tahun 2015, meski jujur, tentu ada perolehan yang gagal untuk kita capai.  Untuk selanjutnya, di tahun 2016. Kita berharap akan lebih banyak lagi perolehan yang akan kita capai pada tahun 2016, baik secara kualitas maupun kuantitas dengan seminimal mungkin, kegagalan yang akan menyertainya, seperti yang kita alami selama tahun lalu.
Untuk merayakan pencapaian ditahun sebelumnya, serta harapan yang lebih baik lagi ditahun berikutnya. Maka, kita  merayakan penyambutan tahun baru. Caranya bermacam ragam, ada yang keluar kota, ada yang dengan pesta pora ada pula yang merenung. Mengkalkulasi apa sebenarnya yang telah terjadi dan akan terjadi?
Fenomenanya? Lihat kemacetan yang mengular di jalan Toll  Cikampek, kemacetan di jalan toll Jagorawi, kemacetan di jalan Toll Tomang hingga Merak. Habis tandasnya semua tiket KA semua jurusan di Pulau Jawa. Melambung harga tiket pesawat Udara.
Belum cukup? Lihat status facebook, mereka memajang semua kegiatan liburannya di sana. Dari mulai liburan local, ada juga liburan ke Negara tetangga seperti Malaysia, singapura, hingga ke Eropah dan Amerika.
Apakah semua itu salah?  Tentu, tidak salah,  selama kita memiliki dana untuk itu. lalu, apa masalahnya?
Coba lihat bencana yang kita alami selama tahun 2015. Bencana asap terparah di Sumatera dan Kalimantan, gunung api meletus di beberapa tempat, tenggelamnya kapal laut. Semua bencana itu, umumnya yang menjadi pesakitan adalah saudara-saudara kita yang berasal dari ekonomi lemah. Mereka tak memiliki akses untuk memberitakan penderitaannya pada masyarakat luas di luar lingkungannya. Mereka masih tenggelam dalam kesulitan yang dialaminya, karena bantuan pemerintah sifatnya hanya temporary dan terbatas. Masih ada masalah anak yang belum jelas sekolahnya, masih banyak rumah yang belum terbengun kembali karena boro-boro untuk membuat tempat berteduh dalam kondisi minimal sekalipun, sementara untuk makan dan minum saja sulitnya minta ampun.
Untuk semua itukah kita merayakan kemenangan dan menjemput asa? Dengan segala dana yang tidak sedikit kita habiskan di jalan raya dan ditempat-tempat wisata, hingga di hotel-hotel mewah.
Masihkah kita menyebut, semua kegiatan yang kita lakukan itu, tiada yang salah, karena uang yang kita belanjakan, milik kita sendiri.
Tidakkah kita berpikir, jika jumlah nominal uang yang habiskan dijalan raya, tempat destinasy serta hotel-hotel itu, kita alihkan untuk saudara-saudara kita yang mengalami musibah di tahun 2015 kemarin? Sehingga kita dapat dengan legawa mengharapkan asa pencapaian yang lebih besar untuk tahun berikutnya, disebabkan kita telah melengkapi asa saudara-saudara kita lainnnya terlebih dahulu, ditahun sebelumnya?.
Tak ada langkah ke seratus, ketika tidak dimulai dengan langkah pertama dan kedua dstnya, tak ada asa yang lebih besar jika tak dimulai dengan memenuhi asa yang lebih kecil dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Tak ada penerimaan yang lebih besar, jika kita tidak mempersiapkan diri untuk menyediakan tempat bagi penerimaan itu. Penyediaan tempat untuk datangnya penerimaan yang lebih besar itu, antara lain, menahan sedikit keinginan untuk pencapaian yang lebih besar. Member sedikit untuk memperoleh dua dikit.
Jika, memasuki tahun baru nanti, perilaku kita masih sama dengan tahun sebelumnya, maka kita hanyalah mereka yang pandai bicara, pandai berwacana. Semuanya menjadi nothing, jika dibandingkan dengan satu saja aksi, sekecil apapun itu.  


5 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih sdh mampir mas Xamthone
      salam,IZ

      Hapus
  2. Artikel yang menyentil tapi membamgkitkan kesadaran. Oh ya alamat blog bapak telah saya masukan dalam blog saya semoga pembaca saya bisa mampir ke sini dan.memdapatkan inspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk inisiatif positipnya Uni Ika..
      salam,IZ

      Hapus
  3. Artikel yang menyentil tapi membamgkitkan kesadaran. Oh ya alamat blog bapak telah saya masukan dalam blog saya semoga pembaca saya bisa mampir ke sini dan.memdapatkan inspirasi.

    BalasHapus