Kamis, 31 Desember 2015

Refleksi Akhir Tahun 2015, Kita Hanya Pandai Bicara

Pencapaian tahun 2015, berkunjung ke Istana (dok.Pribadi)
Tulisan ini, agaknya tidak popular bagi mereka yang tersentil didalamnya. Maka, sebelum saya lanjutkan, saya terlebih dahulu, mohon dibukakan pintu maaf.
Tahun baru, hanya tinggal menghitung jam. Setelah itu, kita akan katakan pada tahun 2015, selamat tinggal dan tahun 2016 selamat datang.
Berbagai capaian telah kita torehkan pada tahun 2015, meski jujur, tentu ada perolehan yang gagal untuk kita capai.  Untuk selanjutnya, di tahun 2016. Kita berharap akan lebih banyak lagi perolehan yang akan kita capai pada tahun 2016, baik secara kualitas maupun kuantitas dengan seminimal mungkin, kegagalan yang akan menyertainya, seperti yang kita alami selama tahun lalu.
Untuk merayakan pencapaian ditahun sebelumnya, serta harapan yang lebih baik lagi ditahun berikutnya. Maka, kita  merayakan penyambutan tahun baru. Caranya bermacam ragam, ada yang keluar kota, ada yang dengan pesta pora ada pula yang merenung. Mengkalkulasi apa sebenarnya yang telah terjadi dan akan terjadi?

Selasa, 15 Desember 2015

Istana dan Cinta Istri



Iskandar Zulkarnain, Thamrin Dahlan, Isson Khaerul di Depan Istana (dok.Pribadi)

Saya baru saja mandi, siang itu. Maklum, hari itu, hari jum’at tanggal 11 Desember 2015, rencana mau berangkat ke Mesjid untuk sholat Jum’at. Tiba-tiba Ponsel saya berbunyi, tertulis di sana Nurhasanah Admin Kompasiana. Refleks saya angkat ponsel dan benar, itu suara mbak Nurhasanah Admin Kompasiana, saya kenal benar suara itu. Mbak Nur menanyakan apakah saya bersedia untuk datang ke Istana. Pada besok hari, sabtu 12 Desember 2015.
Acaranya, makan siang bersama Presiden. Sebab, Presiden yang awalnya direncanakan untuk datang ke acara Kompasianival, sedang kurang sehat. Sebagai gantinya, Presiden mengundang 100 Kompasianer ke Istana. Jika saya jawab bersedia, maka tidak bisa dibatalkan lagi. Demikian Mbak Nur. Lalu, mbak Nur membacakan syarat-syaratnya. Harus berbaju batik lengan panjang, memakai sepatu, celana berbahan dasar –Jean’s haram masuk Istana-.

Rabu, 09 Desember 2015

Indonesia Sudah Terkepung ISIS




Pelangi di Pantai Pasput Malingping. Banten (dok. Pribadi)

Keindahan memang relative, kondisi gedung tinggi pencakar langit mungkin indah bagi mereka yang sekali-sekali melihatnya. Pantai mungkin indah bagi mereka yang hidup di dataran tinggi. Demikian juga pegunungan, mungkin oase pelepasan segala rutinitas bagi yang hidup di kota sesumpek Jakarta. Semua itu, gambaran tentang keindahan.
Semua gambaran diatas tentang keindahan. Tetapi soal rasa, adalah sesuatu hasil dari pengalaman yang berulang-ulang. Sehingga, bisa dikatakan ada beda yang terbentang antara rasa dan keindahan.
Hanya mereka yang terbiasa sejak kecil, makan rendang, akan tahu apakah rendang yang dia makan saat itu enak atau tidak?  Bagaimana pula akan mengetahui nikmatnya gudeg, kalau baru mencoba gudeg. Nikmatnya rasa spaghety hanya orang Italia yang tahu. Nikmatnya Papeda hanya orang Papua yang tahu.

Cinta nan Tak Bertepi

Du Yuanfa yang setia merawat Zhou (dok.Merdeka)
Terkadang kehidupan yang sederhana justru memperlihatkan kisah cinta yang sejati.

Seorang pria renta di desa terpencil Sunjiayu, Provinsi Shandong, China, dengan tulus hati dan penuh cinta merawat istrinya yang lumpuh hingga hanya bisa terbaring di tempat tidur selama 56 tahun.

Koran the Daily Mail melaporkan, Jumat (20/11), Du Yuanfa, nama pria itu, berhenti dari pekerjaannya sebagai penggali tambang demi merawat istrinya, Zhou Yu'ai karena sakit lumpuh sejak 1959.


Senin, 07 Desember 2015

Ingin sukses? Ini syaratnya



Bukan hanya Mercy"s Kereta Kencana sekalipun bisa dibeli (Dok.Pribadi)

Banyak diantara kita merasa diri kurang sukses. Benarkah demikian? Benar. Jika, indikatornya menurut indikasi diri sendiri. Bukan seperti nilai yang disepakati bersama.
Beberapa puluh tahun lalu, ketika Ibu saya masih hidup. Adik beliau yang saya panggil dengan Paman, seorang PNS. Pernah curhat pada Ibu. Paman mengatakan pada Ibu, kalau beliau kurang sukses. Ibu hanya mendengar segala curhat Paman.  Paman mengindikasikan ketidak-suksesan beliau, dilihat dari perolehan materi yang dimilikinya, kurangnya waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan kurangnya teman, terutama pada tetangga dilingkungannya berada.
Di akhir curhatan Paman, Ibu menganjurkan beliau untuk berhenti jadi PNS. Menurut Ibu, dengan berhenti jadi PNS, Paman dianjurkan untuk berjualan kecil-kecilan saja di rumah, waktu yang cukup itu, gunakan untuk bergaul dilingkungannya. Tuntaskan waktu dengan lingkungan. Jika perlu, jadilah RT atau RW atau apapun itu dilingkungan tempat tinggal.

Kamis, 03 Desember 2015

Refleksi Cinta Pada Bunda



Cover Buku "Mandeh, aku Pulang" (dok. Pribadi)


Ibu adalah kata kramat bagi seorang anak.
Air dari dada Ibu, itu yang pertama dinikmati seorang anak, untuk kelangsungan hidup diri sang anak selanjutnya. Hanya seorang Ibu yang rela menumpahkan darah untuk menyambut kedatangan sang buah hati. Dengan dekapan ibu yang hangat, sang anak mampu merasa tentram ketika dunia yang baru dilihatnya demikian luas. Keluasan yang menimbulkan ketakutan. Namun, ketakutan itu, segera enyah dalam hangat dekapan sang Ibu.