Kamis, 05 November 2015

Terobosan Melahirkan Budaya Menulis


Beberapa Buku Karya Penulis (dok.Pribadi)

Sudah banyak pemikiran tentang bagaimana caranya, agar lahir generasi yang “menulis minded”. Banyak tulisan tentang itu. Tema bahasan juga beragam. Dari manfaat menulis, cara menulis, dan efek luas yang dapat diperoleh oleh penulis sendiri, oleh pembaca pada umumnya. Hingga pada kesimpulan bahwa menulis dapat mempengaruhi budaya dan memajukan peradaban suatu bangsa.
Sebut saja misalnya, mereka yang mempengaruhi budaya dan kemajuan peradaban seperti, Leo Tolstoy, Shakespeare, John Steinbeck, Kalr Mark, Al Ghazali dan lain-lain. Sedangkan untuk penulis dalam negri, sebut saja misalnya, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Kartini, Muhammad Yamin, Muhammad Diponegoro, Pramoedya Ananta Toer dan masih banyak yang lain.
Usaha-usaha perseorangan dengan melahirkan karya tulis, khususnya berupa buku, juga bukan sedikit sudah dilakukan. Pada komunitas penulis di blog keroyokan Kompasiana, hal serupa sudah juga dilakukan. Sebut saja misalnya Thamrin Dahlan, Tjiptadinata Efendi, Ibu  Rosellina, Thamrin Sonata, Maria Margaretha, Yusran Darmawan, Gaganawati dan masih banyak yang lain.
Disamping dalam bentuk buku tunggal, usaha me-literasi tulisan dalam bentuk buku keroyokan, juga tak kalah serunya dilakukan. Beberapa buku keroyokan telah lahir dari penulis Kompasiana. Sebut saja misalnya Merajut Indonesia, Refleksi 70 Tahun Indonesia Merdeka, Indonesia kita, Satu. Dan masih banyak lain.
Tetapi pertanyaannya sekarang, apakah semua itu cukup?. Sudahkah kita melahirkan generasi “menulis minded” untuk generasi setelah kita. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan sudah cukup dan belum cukup, sudah dilakukan atau belum dilakukan.  Boro-boro untuk melihat hasilnya dalam waktu singkat, untuk melahirkan seorang anak yang berguna bagi orang banyak saja, kadang kita membutuhkan seluruh sisa usia, untuk melihat hasilnya.
Oleh karenanya, menurut hemat saya. Jangan tanya bagaimana hasilnya. Tetapi, bagaimana kita merekayasa  usaha kita, agar lahir generasi “menulis minded” itu. Hasilnya, mungkin saja, dapat dilihat dalam waktu dekat, atau bisa juga, ketika kita sudah tiada kelak.
Dalam rekayasa melahirkan “menulis minded”, saya hanya membatasi diri, pada dunia Kampus. Pertimbangannya sederhana. Di Kampus, suasana  yang terbentuk memungkinkan untuk lahirnya “menulis minded”. Di Kampus ada Dosen yang minimal sudah S2, di kampus ada Mahasiswa yang nota bene calon-calon intelektual. Las but least, di Kampus juga, banyak kompasianer yang rajin menulis. Sebut saja misalnya Thamrin Dahlan, Mohammad Armand, Moch Khoiri dan banyak yang lainnya.
Ibaratnya dalam sebuah industry, maka di Kampus sudah tersedia raw material –bahan material dasar- dengan kualitas baik. Maka, jika dilakukan usaha rekayasa yang baik dan pas, sebagai usaha dalam proses pengolahan. Tidaklah sulit dihasilkan produk dengan hasil yang memuaskan. Kini, masalahnya, bagaimana membuat rekayasa proses pengolahan itu, hingga diperoleh produk sesuai kualitas yang kita inginkan. Untuk membahas masalah itulah, maka tulisan ini saya buat.

Tugas Dosen
Sudah saatnya, para Dosen merubah cara penyampaian materi perkuliahan yang selama ini mereka lakukan. Jika selama ini, Dosen membuat buku untuk materi perkuliahannya, atau membuat paper untuk materi perkuliahan. Maka, kedua kegiatan tulis menulis itu, idealnya segera ditinggalkan. Sebagai gantinya. Dosen menuliskan materi perkuliahan dalam bentuk tulisan lepas.  (seakan-akan demikian, padahal sesungguhnya tidak, karena dapat dibuat berseri hingga menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan. Tetapi, setiap tulisan, selesai dalam satu ide tulisan yang utuh). Lalu tulisan lepas yang dibuat oleh Dosen di upload di Kompasiana atau di blog pribadinya.
Beberapa keuntungan dengan cara mengupload tulisan berupa materi perkuliahan pada Kompasiana atau blog pribadi, dapat berupa, Dosen mampu mentransformasi bahasa ilmiah yang cenderung kaku menjadi bahasa yang mudah dimengerti. Mentransformasikan tulisan ilmiah menjadi tulisan berbentuk feature, mempertanggung jawabkan apa yang dia tulis bukan hanya pada Mahasiswa, melainkan pada khalayak ramai pembacanya. Dari kegiatan ini, hasil yang paling diharapkan. Jika kelak, kumpulan tulisan itu, diedit ulang, maka lahirlah buku ilmiah yang renyah untuk dikunyah bukan hanya untuk konsumsi Mahasiswa, melainkan untuk konsumsi awam sekalipun. Tanpa disadari, kegiatan yang dilakukan Dosen, akan melahirkan penulis-penulis baru dengan jumlah luar biasa banyak. Dari pengalaman saya, beberapa rekan Dosen, banyak yang belum pernah menulis buku, meski menurut mereka, mereka memiliki pengetahuan tentang itu. Tetapi, apa arti pengetahuan itu, jika tidak membuahkan hasil. Dalam hal ini, buku.

Tugas Mahasiswa
Materi perkuliahan yang dituliskan Dosen dalam blog kompasiana  mapun blog pribadi itu, lalu dipresentasikan pada Mahasiswa. Sampai disini, kegiatan perkualian berjalan seperti biasanya. Ketika Mahasiswa menerima tugas dari Dosen, maka tugas  yang diberikan bukan ditulis dalam lembaran tugas seperti biasanya. Melainkan, ditulis dalam bentuk tulisan, seperti yang dilakukan oleh sang Dosen. Lalu, diupload di Kompasiana atau blog pribadi.
Dengan demikian, maka ada nilai tambah yang diterima oleh Mahasiswa. Mereka dipaksa untuk memiliki blog, minimal blog keroyokan seperti kompasiana. Mereka dipaksa untuk memulai menulis dengan gaya tulisan feature, sehingga tulisan atau tugas yang mereka buat, bukan hanya dapat dimengerti oleh Dosen, melainkan dimengerti juga oleh masyarakat pembaca. Ada nalar tulisan yang berbeda antara tugas perkuliahan yang ditulis dalam intern kampus dengan bahasa yang digunakan dalam menulis di media blog. Dalam hal ini, Mahasiswa yang awalnya terpaksa, secara perlahan namun pasti, akan terbiasa mengemukakan pendapatnya melalui media tulisan.
Dengan cara terobosan ini, akan dihasilkan sarjana-sarjana yang memiliki kemampuan untuk menulis. Jika saja, kita gunakan data resmi dari Dikti, jumlah Mahasiswa di Indonesia berjumlah 7.049.112 Mahasiswa. Sedangkan jumlah Dosen 244.238 Dosen. Total keseluruhannya 7.293.350 orang. Suatu jumlah luar biasa, untuk lahirnya sebuah generasi yang “menulis minded”.
Jika saja, dalam event-event tertentu, seperti hari sumpah pemuda, dies natalis perguruan tinggi, hari kemerdekaan, hari pahlawan dll, dilakukan penulisan secara keroyokan, kemudian dibukukan. Maka akan lahir buku-buku yang sangat banyak dan sangat  beragam. Mengingat ada tenaga potensial sejumlah 7,2 juta kaum terdidik yang masih hangat dalam keilmuannya dan mereka membuat buku, nyaris tanpa pertimbangan profit. Namun, lebih  dititik-beratkan guna mempertajam keilmuan yang mereka miliki.
Cukupkah terobosan yang saya tawarkan itu? tentu saja tidak cukup. Masih banyak kekurangan pada terobosan yang saya tawarkan diatas. Bagaimana tekhnis pelaksanaan selanjutnya pada aplikasi tawaran ini, bagaimana reward dan punishment yang diberikan pada Dosen dan Mahasiswa pada pelaksanaannya, hanyalah sebagian dari kekurangan pada bahasan yang saya tawarkan ini. untuk melangkapi semua kekurangan itu. Saya berharap, ada tulisan berikutnya yang lebih komprehensif. Sehingga, mampu menutupi semua sisi kosong dari tawaran yang saya ajukan diatas. semoga!!!.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar