Minggu, 08 November 2015

Perjalanan Dengan KM Kelud



KM Kelud dengan segala kebesarannya (dok.Pribadi)

Sesuatu yang pernah dialami, kadang ada keinginan untuk mengulanginya kembali. Semacam reuni begitu. Begitu juga dengan perjalanan dengan kapal laut. Sekitar tahun 1984-an saya akrab dengan perjalanan dengan kapal laut, khususnya ketika masih sering melakukan perjalanan ke Indonesia bagian timur.
Penulis dianjungan KM Kelud (dok.Pribadi)
Ketika saya di Medan beberapa waktu lalu, dan memiliki cukup banyak waktu. Mengapa tidak mencoba lagi perjalanan pulang ke Jakarta dengan kapal laut. Inilah, sedikit oleh-oleh perjalanan dengan kapal laut menggunakan KM Kelud.
Siang itu, selasa dipertengahan Februari 2015 saya termasuk penumpang yang pertama naik ke KM kelud. Hal ini, sengaja saya lakukan untuk melihat kondisi kapal, mumpung penumpang belum banyak yang naik. Jadi, agak leluasa untuk melihat sesuatunya tentang KM Kelud.
Belawan sesaat sebelum KM Kelud bertolak (dok.Pribadi)
Nampaknya, KM Kelud baru saja dilakukan docking Kapal. Karena, kapal ini, setype dengan KM Umsini dan KM Rinjani buatan Jerman yang pertama masuk Indonesia pada tahun 1983-an. Namun, kondisi KM Kelud terlihat masih segar. Sesuatu yang tidak mungkin. Kecuali, sudah mengalami Docking.
Tampilan dari luarnya begitu menawan. Pada lambung kanan dan lambung kiri ditandai dengan kain Ulos. Khas pakaian Batak. Beberapa fasilitasnya, ada mini Gym, untuk olah raga ringan. Juga ada mini theater di dek 2 ekonomi yang mampu menampung sekitar 70 orang.
Musholla Al-Azhar di KM Kelud (dok.Pribadi)
Beberapa fasilitas lain yang saya rasa cukup baik kondisinya, Ada Kafetaria di buritan kapal pada lantai 8 (delapan), sehingga penumpang dapat bebas memandang ke laut. Dari sini selain melihat air arus laut yang tersibak karena baling-baling mesin kapal. Penumpang juga dapat bebas memandang sekitanya. Ingat, perjalanan Medan-Jakarta. Bukan perjalanan yang melalui laut bebas. Melainkan, perjalanan yang menyusuri Selat Malaka. Di Kafetaria ini, penumpang dapat memesan minuman dan makanan ringan. Warna meja dan kursi di Kafetaria ini, didominasi dengan warna coklat. Satu hal yang tak biasa, Meja dan kursinya, dibaut mati pada lantai kapal. Sehingga, tidak memungkinkan untuk dipindah-pindah. Ketika hal ini, saya tanyakan pada ABK Kapal Kelud, dengan senyum mereka menjelaskan, hal ini, untuk menjaga, jika ada ombak besar, maka posisi meja dan kursi akan aman di tempatnya. Sehingga, para penumpang akan tetap nyaman duduk di kursinya. Hehehe…. Sebuah solusi cerdas.
Ruang makan penumpang Kelas 2 (dok.Pribadi)
Satu lantai dibawahnya, terdapat Polyklinik untuk penumpang. Polykliinik yang setelah mengalami perjalanan. Baru saya tahu, bahwa Poly ini, buka dua puluh empat jam. Masih di lantai yang sama. Terdapat toko mini. Disini, penumpang dapat membeli cindera mata khas Sumatera Utara dan Sumatera umumnya.
Pada bagian buritan Kapal, masih di lantai yang sama, terdapat musholla yang cukup besar dan mewah. Musholla yang bernama Al-Azhar ini, memiliki ruangan  yang cukup besar. Mampu menampung sekitar 70 orang jamaah. Pada jalan masuk, menjelang pintu musholla, terdapat tempat wudhu yang airnya bersih dan berlimpah.
Kafetaria KM Kelud, dari sini penumpang bisa memandang ke segala arah (dok.Pribadi)
Untuk layanan kenyamanan lain, perlu diacungkan jempol untuk KM Kelud. Kamar mandi yang umumnya kotor dan Jorok. Kondisi demikian, tidak kita temui di KM Kelud. Petugas cleaning service dalam waktu-waktu tertentu, secara periodik, menyapu dan mengepel ruangan.
Pada setiap tempat tidur, pada kelas ekonomi terdapat colokan listrik. Di Area kapal KM Kelud juga merupakan Area hot spot berjalan. Sehingga mereka yang ingin internetan, dapat melakukan browsing selama perjalanan. Ada colokan listrik yang tersedia, ada area hot spot sepanjang perjalanan. Luar biasa!!!.
Tanjung Balai Karimun dari KM Kelud (dok.Pribadi)

Kisah dalam perjalanan
Siang itu, tepat jam 12 siang, KM Kelud perlahan-lahan meninggalkan Dermaga Belawan Medan menuju Jakarta. Pada lantai 3 Area tunggu penumpang, beberapa keluarga melepas kepergian anggota keluarga mereka ke Jakarta. “Beberapa tahun silam, bahkan ada keluarga yang melepas dengan melambai-lambaikan sapu tangan dan menangis” kata penumpang sebelah saya, ketika kami menyaksikan perpisahan ini. Susanya yang cukup mengharukan. Sayangnya, tak ada anggota keluarga saya yang ikut berdiri di sana untuk melepas kepergian saya.
Suasana naik-turun penumpang di Tanjung Balai Karimun (dok.Pribadi)
Selesai acara pelepasan, saya turun ke lantai empat. Di ruangan antara ruangan tangga dan lokasi ruangan penumpang kelas ekonomi. Saya temui banyak Inang yang berada di sana. Ibu-Ibu (Inang) ini, adalah sekumpulan Ibu-Ibu yang luar biasa. Mereka membawa beragam sayuran dan makanan panganan khas Sumatera Utara untuk dibawa ke Batam dan kelak,akan mereka dijual di Batam. Kapal KM Kelud, jika sesuai Schedul, KM Kelud akan tiba di Batam pada jam 12 esok hari. Ibu-ibu itu, akan turun di Batam. Distribusi pasokan sayuran di Batam, salah satunya, berkat jasa Ibu-ibu luar biasa ini.
Jam 5 sore, waktunya makan. Kami, semua penumpang kelas ekonomi, dengan tertib, mengantri makanan di loket yang tersedia. Melelahkan memang. Tetapi, disinilah seninya sebagai penumpang kelas ekonomi. Ada kebersamaan yang semakin mengeratkan rasa persaudaraan sesama penumpang ekonomi. Sementara mereka, penumpang kelas 2, makan dengan cara dihidangkan pada ruangan yang telah disediakan di lantai 5. Menu makanan yang kami terima cukup baik, memenuhi standard 4 sehat 5 sempurna. Ada tambahan buah pada setiap acara makan.
Singapura dari nKM Kelud. Begitu dekat (dok. Pribadi)
Selesai acara makan. Saya duduk di deck pada lantai 7. Disini, segala macam manusia ada. Dari mereka yang ABG hingga yang pensiunan. Dari yang berpakaian semaunya hingga mereka yang bersarung. Dari yang hanya ngobrol-ngobrol menghabiskan waktu hingga mereka yang asyik dengan gadgetnya (ingat, sinyal di KM Kelud kuat terus, karena pemancar sinyalnya ada di KM Kelud sendiri).
Ketika adzan Maghrib di Kumandangkan, beberapa penumpang, segera bergerak menuju Musholla yang berada di Buritan. Di Musholla Al-Azhar yang luas dan mewah itu, sholat Maghrib dan Isya secara berjamaah dilakukan.

Selesai acara sholat Maghrib dan Isya berjamaah dilakukan, beberapa penumpang kembali di deck kapal lantai tujuh itu, menghabiskan malam dengan duduk-duduk santai. Sementara nun jauh di daratan sana, beberapa cahaya masih dapat terlihat jelas. Untuk mereka yang memiliki cukup waktu atau mereka para pensiunan. Maka, perjalanan dengan KM Kelud merupakan perjalanan pesiar yang cukup menyenangkan.
Jika saja semuanya lancar. Maka, esok hari, sekitar jam 9 pagi, KM Kelud akan sampai di Tanjung Balai Karimun. Di Tanjung Balai Karimun, akan ada penumpang yang naik, sekaligus ada beberapa penumpang yang turun.
Esoknya, jam lima pagi, kembali sholat subuh berjamaah dilakukan di Musholla Al-Azhar. Selesai sholat subuh, beberapa penumpang berdiri di deck lantai 6, 7 dan lantai 8. Acara kali ini, menyaksikan sun rise, laut dihadapan kami pagi itu, begitu tenang. Sehingga, view yang tersaji pada sun rise pagi itu luar biasa indah. Sementara penumpang lain, ada yang jogging pada areal Jogging di lantai delapan. Kegiatan pagi itu, berakhir dengan sarapan pagi yang disediakan oleh KM Kelud.
Jam baru menunjukkan pukul Sembilan, ketika KM Kelud mulai merapat ke Tanjung Balai Karimun. Kapal tidak bisa sandar. Saya sendiri, tidak tahu alasan sebenarnya. Apakah disebabkan air laut yang sedang dalam keadaan tidak pasang atau di Tanjung Balai Karimun belum memiliki Dermaga untuk merapatnya kapal sebesar KM Kelud. Tetapi yang pasti, naik-turun penumpang dengan menggunakan sampan atau perahu kecil itu, mengingatkan saya pada kapal pengungsi Vietnam. Hari gini, bangsa Indonesia masih menggunakan perahu, untuk naik-turun penumpang? Apa kata dunia?
Tepat jam 12 Siang, kapal KM Kelud merapat di Dermaga Batam. Beberapa waktu sebelum merapat. KM Kelud melintas area yang sangat dekat dengan Singapura. Bangunan yang berada di Singapura, sangat jelas terlihat. Ponsel yang saya pakai, bahkan secara otomatis sudah berganti dengan Sin-Tel. Artinya, jika saja saya menelpon saat itu, maka akan dikenakan roaming atau sama saja dengan tarif yang berlaku ketika saya menelpon dari Singapura.
Di Batam, KM Kelud sandar cukup lama. 4 jam. Inang-Inang sudah turun, saya pun turun dan sempat jalan-jalan ke Nagoya dan Jodoh. Ketika saya kembali ke Dermaga, sesaat sebelum masuk areal Dermaga Batam, suasana yang tersaji, sudah seperti pasar kaget. Ternyata, para Inang yang membawa sayuran dari Medan, menggelar dagangannya pada areal sekitar Dermaga Batam.
Tepat jam 4 sore, KM Kelud melanjutkan perjalanannya menuju Tanjung Periok. Tak ada lagi Dermaga yang akan disinggahi KM Kelud. Sore itu, KM Kelud melewati daerah Tanjung Pinang, keesokan harinya melewati daerah Bangka dan Daerah Belitung. Semua daerah itu, hanya kami lihat dari kejauhan, dari KM Kelud.
Tepat jam sepuluh malam, hari kamis malam Jum’at. KM Kelud merapat di Dermaga Tanjung Periok.  Berakhirlah perjalanan selama dua setengah hari dan dua malam yang penuh kenangan itu.

1 komentar: