Sabtu, 07 November 2015

Kakek Tua dan Ayam Jago


Jenis Anjing Shih-Tzu (sumber: Google)

Kadang aku sering salah dalam melihat masalah. Apakah karena usia ini yang sudah lanjut atau karena kurang rasa syukur pada Allah yang memberikan aku usia panjang. Awalnya, aku merasa senang dengan usia panjang ini. Bayangkan saja, teman-teman di Desaku sudah pada berpulang, bahkan anak-anak mereka semua sudah pula dipanggil oleh Allah untuk menghadap padaNya. Demikian juga dengan anak-anakku, semuanya telah almarhum. Sedang aku? Meski semua rambut di kepala sudah beruban semua, aku masih sehat dan segar bugar.
Hanya, karena cucuku yang mengkhawatirkan kondisiku saja, makanya aku sekarang terdampar di kota ini. kalau tidak, maka aku masih di kampungku. Masih dengan segala kebiasaanku. Kebiasaan yang terlihat aneh dimata masyarakat kampungku. Kebiasaan berbicara dengan hewan. Tak ada satupun warga desa, percaya dengan omonganku, jika aku memiliki kemampuan untuk berbicara dengan hewan. Aku mengerti apa yang mereka katakan dan mereka mengerti apa yang aku katakan. Aku dianggap kakek tua pikun oleh masyarakat kampungku. Hanya karena kebiasaanku itu.
****
Sudah lima hari aku dibuat pusing oleh si Jago. Ayam peliharaan cucuku. Ayam yang sangat dibanggakan oleh cucuku. Ditempatkan di dalam sangkar mewah, tiap pagi dimandikan, lalu dijemur, diberi makan enak. Tetapi, semua perlakuan istimewa itu. Ternyata, tak membawa kebahagiaan pada si Jago. Si Jago, lebih bahagia jika dia tidak berada dalam sangkar. Tetapi, dalam berjalan-jalan di halaman. Jika malam tiba, dia cukup tidur di dalam pohon Jeruk yang tumbuh di halaman. Sehingga ketika subuh tiba, si Jago dapat dengan leluasa menggerakkan tubuhnya, sambil berkokok sekuat yang dapat dia lakukan.
“kakek gak salah tuh” kata Ariel cucuku, ketika aku menyampaikan keinginan si Jago.
“Gak lah, masa kakek salah. Wong, begitu kata si Jago pada Kakek” jawabku singkat.
“Bagaimana kalau dia lari?” tanya Ariel lagi.
“Gak mungkin. Dia kan punya kakek, temen yang dapat dia jadikan tempat curhat”
“Si Jago itu, ayam mahal lho kek” kata Ariel lagi.
“Justru karena mahal itu, makanya, kamu buat dia bahagia. Kabulkan permintaannya”
Begitulah, setelah lelah meyakinkan Ariel, akhirnya si Jago dilepaskan dari Kandangnya. Jadilah si Jago sahabatku, kami bercerita ngalor ngidul ketika Ariel dan istrinya kerja. Sementara mak Inah, yang melihat perilaku aku dan si Jago, tak banyak komentar, mungkin dia berpikir sama seperti orang kampungku. Menganggap aku pikun.
Kini, si Jago membuatku kesal, sudah lima hari ini, si Jago membuat ulah. Menjadikan aku malu terhadap mak Inah, juga malu pada ariel dan istrinya. Si Jago seakan sengaja membuat aku malu.
Mulanya, ketika aku dan Ariel duduk din beranda rumah, si Jago dengan bangganya membuang kotoran dekat Kaki Ariel. Besoknya, ketika Ariel mengeluarkan mobilnya dari garasi, kaca mobil Ariel dikotori B.A.B si Jago.
Kemarin, ketika aku pulang dari membeli rokok, mak Inah melaporkan bahwa si Jago mengotori kasurnya dengan kotorannya. Terlalu benar si Jago. Aku benar-benar dibuat kesal olehnya.
Sudah sejak jam tujuh pagi tadi, aku duduk di kursi diteras rumah sendiri. Ariel dan Istrinya sudah berangkat kerja. Mak Inah sedang kerja di dapur. Saat-saat begini, biasanya si Jago akan datang menemaniku, kalau si Jago tidak datang, aku yang memanggilnya untuk menemaniku. Tapi, pagi ini, aku tak memanggil si Jago, perasaan kesal ini, benar-benar menghilangkan selera untuk berbincang dengan si Jago.
Tiba-tiba si Jago datang. Aku tahu itu dari langkah kakinya dan bau si Jago yang khas. Aku pura-pura memejamkan mata, seakan-akan tertidur.
“selamat pagi kek…” sapa si Jago. Aku masih pura-pura tidur.
“Kakek marah ya…?” sapa si jago lagi.Aku masih pura-pura tidur. Bodo’ amat, bathinku.
“ya udah, kalau kakek bener-bener marah, saya mau pergi aja. Saya, sudah gak punya temen lagi. Terus ngapain saya harus tetap di rumah ini?” kata si Jago lagi.
Dari ujung mataku, kulihat si Jago memang benar-benar melangkah menjauhiku. Aku panik, jika benar si Jago pergi, siapa nanti yang akan menjadi temanku ngobrol? Lalu, apa jawabku nanti, kalau Ariel menyalahkanku, karena si Jago bener-bener lari.
“Hey...!!! mau kemana kau” teriakku pada si Jago. Kulihat si Jago menoleh. Lalu, dengan diiringi senyuman,si Jago berlari mendekati aku. Terlihat, ada rasa kemenangan pada wajah si jago.
“Kakek gak marah, kan?” tanya si Jago.
“Marah…” jawabku singkat.
“gak apa-apa deh, yang penting sudah mau berbicara sama saya” jawab si Jago lagi.
“habis, kamu keterlaluan sih” jawabku lagi.
“Memang saya sengaja kek” jawab si Jago, seakan tak bersalah.
“kok disengaja?” kataku lagi. Aku gak mengerti apa yang dipikiran si Jago.
“Habis… saya kesel, kek” jawab si jago dengan enteng. Wajah itu, makin cuek saja.
“Kok, kesel?”
“Begini kek, saya kan disini sudah lama, saya juga sohib kental kakek. Kekeknya tuan Ariel. Tetapi, kenapa Tuan Ariel gak adil sama saya” kata si Jago lagi. Aku lihat, si Jago bicara serius, tapi kemana arahnya, aku belum sepenuhnya tahu.
“Maksudnya gimana?” tanyaku lagi.
“Pusal kan datang setelah kakek datang. Tetapi, kenapa perhatian Tuan Ariel begitu baik sama Pusal. Dia tidur di atas kursi hangat di teras rumah. Dia dikasi makan daging tiap hari, dia sering diajak nyonya pergi. Sedangkan saya? Tidur di pohon Jeruk, makan sisa makanan kakek atau Jagung atau makanan dari pabrik gilingan padi. Saya juga tidak pernah diajak pergi jalan-jalan nyonya” kata si Jago lagi.
Terlihat si jago bicara serius, air mukanya terlihat sedih. Si Pusal yang dikatakan si Jago adalah anjing peliharaan kesayangan Luna, isteri Ariel dari jenis Shih Tzu. Dengan berat 5 kg, memiliki rambut panjang dan halus.
Mendengar curhatan si Jago, aku hanya tersenyum. Kini masalahnya aku sudah tahu. Akh, itu sih kecil, aku akan memberi pengertian si Jago, supaya dia mengerti dan tak membuat masalah yang akan merepotkan banyak orang.
“kok, kakek senyum-senyum” tanya si Jago, agaknya dia dongkol melihat sikapku.
“Kamu sih, yang begitu aja, dimasalahin”
“Tapi kan bener kek, mereka gak adil?”
“Begini Go, masing-masing kita. Memang, sudah diberikan Allah kekhasan masing-masing. Yang spesipik untuk kita, yang terbaik untuk kita. Kakek, yakin kamu gak akan suka kalo dikasi makan daging. Ya kan? Begitu juga, kalau Pusal tidur di dahan pohon Jeruk, tentu gak bakal bisa tidur. Ya  kan?  Atau kalau kamu diajak nyonya Luna jalan-jalan di mobilnya yang mewah. Lalu, kamu  akan duduk di bangku belakang di sedan mewahnya nyonya Luna bersama nyonya Luna, ketika nyonya Luna membuka kaca mobilnya, kamu dengan bangganya menjulurkan kepalamu. Aneh gak? Apa kata dunia?” kataku panjang lebar.
“Bener juga ya kek?” jawab si Jago, kini dia manggut-manggut.
“Paham kamu sekarang?”
“Iya kek…” jawab si Jago.
Akh, ternyata, si Jago gak pintar-pintar amat. Dengan sedikit logika saja, semua selesai. Tapi, yang paling penting, hubunganku dengan si Jago sudah pulih. Komunikasi kami, kembali lancar. Perilaku aneh-anehnya sudah tak ada lagi.
*****
Sore minggu ini, langit sangat cerah. Langit diatas sana, tak tampak awan. Warna biru tua mendominasi cakrawala. Aku yang baru saja bangun tidur siang, merasakan nikmat yang luar biasa. Ada kopi, ada rokok. Bagi orang setuaku. Apalagi kenikmatan yang akan dicari jika kopi panas dan rokok sudah ada. Rumah terasa sepi, sabtu pagi kemarin Luna dan Ariel disertai si Pusal pergi ke Malang. Katanya ingin berakhir pekan di sana. Semakin terasa sepi, karena si Jago tak terlihat. Kemanakah gerangan dia, sahabatku itu?
Tiba-tiba, kulihat si Jago mendekatiku, langkahnya gontai, semburat sedih terpancar dari wajahnya, air mata itu mengalir dari kelopak mata yang biasanya garang.
“hehehehe…. Kenapa kau? Jelek tahu, kalau ayam Jago yang biasanya gagah, tiba-tiba menangis”  sapaku, coba mengusir kesedihannya dengan sedikit becanda.
“Itulah kakek, gak punya perasaan” kata si Jago setelah duduk di sebelahku.
“Eits… kok nyalahin kakek?” tanyaku.
“Kakek bener-bener gak punya perasaan!”
“kok…? Ada apa sebenarnya?”
“Kakek bener-bener gak tahu?” tanya si Jago lagi.
“Bener. Kakek gak tahu, coba cerita sama kakek, apa yang kamu ketahui”
“Pesawat yang ditumpangi Tuan dan Nyonya hilang kontak kek. Sampai kini belum diketahui keberadaannya” kata si Jago lagi.
“MasyaAllah…. Terus?” kataku kaget. Aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa semalam cepat tidur dan sehari ini, tidak melihat berita di TV.
“Iya gak tahu kek. Tapi saya masih bersyukur” kata si Jago.
“kok, malah bersyukur?” tanyaku lagi. Heran dengan jalan pikiran si Jago.
“Iya iyalah…. Coba kalau saya diajak nyonya jalan-jalan seperti si Pusal. Bagaimana nasib saya?” tanya si Jago.
“iya… matilah” jawabku, seenteng mungkin. Aku sendiri gak tahu, apakah kata-kataku tadi itu, untuk menghibur si Jago atau untuk menghibur diriku sendiri. Kehilangan seorang cucu, bukanlah perkara yang ringan untuk seorang kakek yang kini, tinggal sebatangkara.
“Bukan kematian yang membuat saya takut, kek. Tapi, membayangkan berpisah dengan kakek, itu yang membuat saya sedih kek” kata si Jago dengan suara serak penuh haru. Akupun terharu mendengar suara si Jago. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami, aku dan si Jago sudah berpelukan. Kami sama-sama kehilangan orang terkasih yang kami miliki. Ariel, Luna dan Pusal.
Sore itu, ketika adzan Maghrib berkumandang, aku meluluskan permintaan si Jago untuk ikut hadir ditengah ruangan. Dia ingin menyaksikan aku sholat Maghrib. Setelah selesai sholat maghrib, lama aku berdzikir, memanjatkan do’a, agar Allah memberikan mukjizatnya pada Ariel, Luna dan Pusal. Agar Allah menyelamatkan mereka. Ditengah isak tangisku pada Allah untuk keselamatan orang-orang terakhir yang aku miliki di dunia ini. Tiba-tiba bahuku di rengkuh dan dipeluk oleh Ariel dan Luna. Mereka tidak jadi ke Malang, karena terlambat sampai Bandara. Sebabnya, kendaraan  yang mereka tumpangi pecah ban. Hingga rencana ke Malang, mereka alihkan ke Puncak.
Ariel dan Luna, begitu terenyuh menyaksikan aku tengah tenggelam dalam isak tangis mendo’akan mereka. Sementara sahabatku, dengan takzim menyaksikan sohibnya yang tengah berdo’a. Peristiwa itulah yang membuat Ariel dan Luna tak sabar untuk menunggu aku selesai berdo’a. Mereka memelukku. Kami semua tenggelam dalam suasana yang penuh haru.

4 komentar:

  1. Aha kang IZ kelewatan fantasinya. Senyum di kita insan manusia dimungkinkan karena bibir2 kita lentur dan luwes yang diinisiasi oleh suasana hati, dilanjut oleh urat syaraf dan urat darah sekitar bibir maka tersungginglah yang disebut senyum itu.
    Sedangkan ayam yang miliknya berupa tepian paruh kaku hanya bisa bergerak dalam 2 dimensi, bagaimana kan senyum?

    Tapi yah, cerita punya kang IZ, maka ya serterah si kakang sajalah.
    Tabik dan hahahaha......

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahay... ternyata imaginasi harus sesuai ilmunya. Terima kasih masukannya pan Edy.
      BTW pak Edy gak ikutan ngerame'in cerita Fabel...
      Tabik dan hahahaha....

      Hapus
  2. Ah, fiksi yang amat menyentuh jadi ingat baginda Nabi Sulaiman yang mampu berbincang dengan hewan. K

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe... ceritanya lagi ngebut uni Ika..

      Hapus