Minggu, 15 November 2015

Ini Alasan Kenapa Jokowi Di Berhentikan



Pulang dari mengikuti upacara peringatan hari pahlawan di alun-alun Kecamatan. Kami, para pensiunan yang sudah udzur ini, merasa sedikit terhibur. Betapa tidak, sudah lama rasanya tak saling kunjung, tidak saling bertemu. Maklum, tempat kami tinggal, berada pada desa yang berlainan. Kalaupun kami saling berkunjung, biasanya selalu ditemani oleh anak, atau cucu-cucu, sesekali ditemani oleh isteri. Kenapa sesekali ditemani isteri? Karena, sang nenek lebih betah untuk bercanda dengan sang cucu, daripada menemani sang kakek ke rumah temannya.
Akibatnya, pada setiap kunjungan ke rumah para teman-teman itu, kami tak leluasa untuk bercengkrama seperti ketika muda-muda dulu. Maklum, di depan kami, ada anak atau cucu yang ikut mendengarkan segala pembicaraan, memperhatikan segala yang kami lakukan. Lebih tak nyaman lagi, kami tak dapat merokok sambil mengopi dengan leluasa. Maklum, ada cucu yang akan melaporkan pada neneknya kalau sang kakek kembali menghisap rokok. Atau ada anak yang akan melarang ayahnya untuk merokok. Untuk seusia bapak, merokok tak baik untuk kesehatan. Demikian, selalu alasan yang dikemukakan oleh sang anak. Lalu… kami dengan patuh akan mematikan rokok yang sudah terlanjur dibakar.

Tapi, pagi menjelang siang ini, suasananya benar-benar berbeda, dari yang biasanya. Kami, saya, Makhmud, Ilyas, Sam benar-benar merasa merdeka. Tak ada anak-anak yang menemani, tak ada cucu yang akan melaporkan pandangan matanya pada sang nenek. Kami, benar-benar ingin merasakan kemerdekaan yang jarang terjadi ini. Bebas untuk merokok dan ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul. Merdeka untuk kembali menjadi muda.
Sejurus kemudian, kami berempat, saya, Makhmud, Ilyas, dan Sam sudah duduk di bawah pohon beringin rindang di pojok selatan alun-alun. Saya mulai mengeluarkan bungkus rokok, mulai merobek pembukanya, sebuah kegiatan yang jarang-jarang bisa lakukan setelah memasuki masa pensiunan. Demikian juga yang saya lihat, oleh Makhmud, Ilyas dan Sam melakukan apa yang saya lakukan.
Tiba-tiba…. Apa lacur? Kami semua, ternyata, tak seorangpun yang membawa korek api. Maklum, mungkin saja lupa karena sudah tua, atau karena merokok bukan lagi acara rutin yang biasa kami lakukan. Sehingga, rokok dan korek api, bukan sesuatu yang selalu ada di saku kami.
Mulailah kami saling tengok, memperhatikan siapa yang lalu di depan kami, mungkin saja kami kenal atau ada yang sedang merokok sambil berjalan. Sehingga, dapat kami hentikan untuk dimintakan api, dengan begitu, acara merokok berjamaah ini dapat segera dilakukan.
Tiba-tiba, saya melihat Jokowi sedang berjalan menuju arah kami. Saya tahu persis, Jokowi adalah perokok berat. Jokowi juga masih aktif bertugas. Dia baru akan pensiun sekitar empat tahun lagi. Tentunya, di saku Jokowi ada rokok dan korek api. Hal yang sama, agaknya dipikirkan juga oleh Sam dan Ilyas.
“Sam, kau lihat Jokowi sedang berjalan ke arah sini?” kata Ilyas pada Sam.
“Bener, Yas. Saya yakin, dia pasti bawa korek api” balas Sam lagi.
“Yups…” balas Ilyas
“Kalau gitu, tenang aja, saya yang akan berhentikan Jokowi. Saya akan pinjam korek apinya” Kata Sam lagi.
“Jokowi harus diberhentikan, dia tidak bisa begitu saja melenggang di depan kita” sambung Makhmud lagi.
Memang Sam adalah teman kami yang sejak dulu paling rajin dan paling didepan dalam mengatasi segala masalah yang kami hadapi.  Sam, bagi kami adalah pahlawan yang tiap saat bersedia turun tangan pada masalah yang kami hadapi.
Saya yang sejak tadi hanya berdiam diri, sekarang tahu alasannya, mengapa Jokowi harus diberhentikan.

1 komentar:

  1. Hahahaha...tak kiro urusan politik...tibakno...xixixixi

    BalasHapus