Senin, 02 November 2015

Hari Pahlawan Dalam Konteks Kekinian


Kebakaran Hutan, akibat salah kebijakan

Tidak seperti pada beberapa Negara lain. Hari Pahlawan, biasanya didasarkan pada hari kelahiran sang Pahlawan. Tetapi, untuk Indonesia. Hari Pahlawan, didasarkan pada peristiwa heroik yang melatar belakangi kejadian tersebut. Dengan peristiwa heroik itu. Maka, ditetapkan saat kejadian itu, sebagai hari Pahlawan. Jadi, memperingati hari Pahlawan, memiliki sifat aktif dan progresif. Kejadiannya boleh sekali. Tetapi, ruh yang melatar belakangi peristiwanya, tetap aktual untuk dijadikan spirit kedepan.
Latar Belakang.
Pada tanggal 1 Maret 1942, Tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa. Pertempuran antara Belanda dan Jepang tak terelakkan. Hanya dalam waktu 7 hari Belanda sudah menyerah. Maka, pada tanggal 8 Maret 1942, dilakukan perjanjian Kalijati. Sebagai perjanjian yang isinya menyatakan Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang.
Bayangkan, perjanjian penyerahan kekuasaan tanpa syarat dilakukan di Pangkalan udara Belanda di Kalijati, daerah Subang. Bukan di Jakarta. Artinya. Selama tujuh hari itu, tidak ada perlawanan berarti yang dilakukan Belanda terhadap Jepang. Hingga, penjajahan yang dilakukan Belanda selama tiga setengah abad itu, harus berakhir dalam tempo hanya tujuh hari.
Keadaan begitu cepat berubah, tiga setengah tahun kemudian. Pada bulan Agustus 1945 Kembali Jepang menyerah pada sekutu. setelah Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Dalam kondisi vacuum kekuasaan itu, Bangsa Indonesia. Lalu, memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Euforia akan kemenangan sekutu terhadap Jepang dan umur Republic Indonesia yang baru seumur jagung, serta belum banyak dukungan terhadap pernyataan Kemerdekaan Indonesia. Membuat Belanda merasa diatas angin. Akibatnya, sekelompok kecil Tentara Belanda pada tanggal 19 September 1945 menaikkan Bendera Belanda di luar hotel Yamato di Surabaya. Peristiwa ini, membuat Milisi Indonesia marah. Mereka berusaha merobek Bendera Belanda pada bagian birunya. Kekacauanpun tak terhindarkan. Pada peristiwa kekecauan ini, pimpinan kelompok Tentara Belanda bernama Mr. Ploegman ikut terbunuh.
Peristiwa selanjutnya, ketika seorang Komandan senior Tentara Jepang di Surabaya yang bernama Shibata Yaichiro memutuskan untuk mendukung Republik Indonesia dengan cara menyuplai persenjataan.Sayangnya pada tanggal 3 Oktober 1945 Shibata menyerah pada Belanda. Tetapi, Shibata menginstruksikan pada anak buahnya untuk menyerahkan senjata yang ada pada mereka untuk diserahkan pada Tentara Indonesia. Seharusnya Shibata menyerahkan senjata itu pada Belanda. Pihak Indonesia, menolak menyerahkan senjata itu pada Belanda.
Selanjutnya, Mr Suryo sebagai Gubernur Jawa Timur ketika itu, mendapat kata sepakat dengan AWS Mallaby sebagai komandan Tentara Inggris, bahwa Tentara Inggris tidak akan menyuruh Tentara Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka.
Namun, tiga minggu kemudian, persisnya tanggal 27 Oktober 1945, sebuah pesawat Inggris menyebarkan selebaran diatas Surabaya, isi dari selebaran itu, memaksa Tentara Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka. Isi selebaran itu, membuat geram Tentara Indonesia. Karena, dinilai sebagai pelanggaran terhadap perjanjian yang telah ditanda-tangani oleh Mr. Suryo dan Mallaby. Esok harinya, tanggal 28 oktober 1945 serangan terhadap Tentara Inggris dilakukan. Peristiwa ini, menewaskan 200 prajurit.
Esoknya, tanggal 29 oktober 1945 Inggris menerbangkan Soekarno-Hatta ke Surabaya dengan misi menenangkan Tentara Indonesia. Dan hal yang sama akan dilakukan oleh AWS Mallaby esoknya lagi (tanggal 30 oktober 1945) pada Tentara Inggris. Bahwa benar, Mallaby dan Mr Suryo sudah membuat kesepakatan, bahwa Tentara Indonesia tidak diharuskan menyerahkan senjata pada Inggris.
Ketika tanggal 30 Oktober 1945 AWS Mallaby dalam perjalanan menuju Markas Tentara Inggris, di Gedung Internasional dekat Jembatan Merah, tiba-tiba Tentara Indonesia mengepung dan menembak Mallaby. Banyak versi yang menceritakan tentang kematian Mallaby dalam penyergapan yang dilakukan Tentara Indonesia itu. Namun yang pasti, peristiwa kematian Mallaby inilah yang menyulut awal pertempuran bersejarah yang kelak kita kenal dengan pertempuran 10 November 1945. Dan peristiwa hari itu pula ditandai sebagai hari Pahlawan.   
Pertanyaannya sekarang, ada apa dengan Tentara Inggris? Apa urusannya dengan Indonesia? Tentara Inggris yang bergabung dalam sekutu, dalam hal ini sebagai pihak yang menang perang, datang ke Indonesia dengan tugas yang tergabung dengan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) bertugas melucuti Tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, memulangkan Tentara Jepang ke negaranya. Disamping misi mengembalikan Indonesia kepada Administrasi pemerintahan Belanda. Hal terakhir inilah yang menyebabkan munculnya pergerakan perlawanan rakyat Indonesia dimana-mana. Melawan Tentara AFNEI dan pemerintahan NICA (Netherlands Indies Civil Administration)
Prediksi Tentara sekutu, pertempuran Surabaya, dapat diselesaikan hanya dalam waktu tiga hari. Ternyata meleset. Surabaya dapat mereka kuasai setelah pertempuran yang melelahkan selama tiga minggu. Dari pihak Indonesia gugur Pahlawan sebanyak 16000 Pahlawan dan dari pihak sekutu, gugur sebanyak 2000 orang.
Gaung dari pertempuran Surabaya ini luar biasa. Perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan, merupakan gerakan yang missal dan massive. Sejarah mencatat, usaha Belanda untuk menjajah kembali Indonesia gagal total. Indonesia hingga hari tetap menjadi Negara Merdeka.

Relevansinya dengan kondisi sekarang.
Peristiwa Heroik yang melahirkan hari Pahlawan telah lama berlalu, hari ini, genap tujuh puluh tahun yang lalu. Masih relevankah, hari Pahlawan untuk kita peringati? Nilai apa yang dapat kita petik untuk menjawab tantangan yang kini kita hadapi. Agaknya, inilah saatnya kita untuk merenung, mengintropeksi diri serta membuat strategi ke depan. Menjadikan hari Pahlawan sebagai momen untuk menjawab persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini.
Sesungguhnya, Negara Indonesia sudah merdeka dan hingga kini masih tetap merdeka, merupakan kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Tetapi, apakah kemerdekaan yang kita alami sekarang, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan seperti yang dicita-citakan oleh founding father kita dulu. Adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban tidak sederhana.
Betapa Negara ini sudah ditubir kehancuran, tak dapat dipungkiri. kejahatan Korupsi sudah merambah disemua bidang kehidupan. Merata disemua level pemerintahan, mulai tingkat desa hingga Negara. Dari mulai penerimaan pegawai tingkat golongan satu, pemilihan kepala Desa hingga orang nomer satu di Negara Indonesia tercinta. Grafitasi bukan hanya diterima oleh mereka yang membuat kebijakan. Melainkan, rakyat jelata, juga sudah menikmatinya. Hal paling mencolok, bagaimana para calon pemimpin negri ini, melakukan suap pada calon pemilihnya, ketika terjadi pemilihan kepala Desa, pemilihan anggota Dewan legislative, pemilihan kepala daerah, hingga pada pemilihan Presiden.
Menurut ICW kerugian Negara tahun 2014 akibat korupsi, sebesar  Rp 5,29 Trilyun, melibatkan 1328 koruptor. Angka fantastis dan jumlah pelaku fantastis.
Betapa kekayaan alam kita menjadi bancakan untuk Negara lain. Menurut data FAO Negara kita merugi akibat ilegas fishing sebesar USD 50 Miliar/tahun. Jika digunakan kurs rupiah 13.500. itu artinya, kerugian Negara setiap tahun hanya dari pencurian ikan, sebesar 675 Trilyun. Belum lagi dari sektor-sektor seperti pertambangan, gas alam dan minyak.
Betapa akibat kongkalingkong antara pengusaha dan penguasa, dalam pemberian ijin perkebunan, menimbulkan bencana kabut asap. Data dari BNPB untuk Riau saja 20 Trilyun, jika ditambah dengan wilayah Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat dan Tenga, maka angkanya menjadi 50 Trilyun. Belum termasuk korban manusia yang meninggal, jumlah mereka yang terjangkit penyakit ISPA serta kerusakan ekosistem yang diankibatnya.  
Dari data kehancuran diatas. Sudah saatnya, kita kembali pada Ruh Hari Pahlawan yang terjadi 70 tahun lalu. Jika untuk mengembalikan senjata hasil pampasan perang saja, kita rela untuk bertempuran habis-habisan. Apalagi untuk hal-hal yang lebih dari itu. seperti kehilangan hutan, kehilangan ikan, kehilangan hasil tambang dan korupsi akut.
Masalahnya, semakin kompleks, karena pelaku pencurian harta Negara, bukan hanya dilakukan oleh “pihak asing”. Melainkan, juga dilakukan oleh putra-putra terbaik bangsa, terutama dari mereka yang disebut pemimpin. Baik mereka yang berada di eksekutif, yudikatif dan legislative.
Dari mana memulainya
Sudah saatnya, posisi pahlawan, tidak lagi hanya dilberikan pada mereka-mereka yang bertempur. Tetapi disebarkan pada seluruh masyarakat luas. Apapun posisinya, apakah sipil atau militer, pejabat atau non pejabat. Rakyat jelata atau pemimpin.
Masing-masing kita sebagai individu melakukan keteladanan pribadi. Meningkatkan daya nalar pengetahuan untuk mengetahui hal-hal terbaik yang dapat dilakukan untuk Negara, meng-update diri untuk selalu berperilaku cerdas dan memberikan keteladanan pada keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar lingkungan kita berada. Criteria sederhananya dalam melakukan keteladanan, berupa kejujuran, memiliki harga diri, berani dan suka rela melakukan apapun, untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Jika, setiap individu dalam Negara Indonesia, mampu melakukan hal keteladanan, dapat dibayangkan efek yang dapat dihasilkannya.
Untuk institusi. Apakah itu, organisasi atau pemerintahan. Dibutuhkan sebuah gerakan yang sifatnya massal dan terencana. Rekayasa yang dipikirkan secara matang, tentang teori yang akan dicapai, bagaimana langkah yang akan dilakukan untuk memcapai teori diatas serta dalam setiap kebijakan yang diambil. Pertimbangan kebijakan bukan sekedar berapa nilai nominal yang akan diperoleh. Teapi, selalu berpedoman pada nilai kejujuran, wibawa, harga diri dan pencapaian semaksimal mungkin untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Kebijakan ijin perkebunan, dengan luas lahan demikian luas tanpa disertai pengawasan, cukup sebagai bukti, bahwa akibatnya, sangat merugikan. Bukan hanya nominal uang, juga kesehatan, korban manusia, rusaknya lingkungan dan harga diri bangsa yang hancur akibat kabut asap di eksport ke Negara tetangga.
Kebijakan pinjaman utang luar negri dengan disertai tenaga kerja, sungguh membuat rakyat mengalami kerugian. Betapa ditengah PHK yang terjadi dimana-mana. Tenaga kerja yang mestinya dapat dapat dikerjakan oleh tenaga lokal harus dikerjakan oleh tenaga yang berasal dari Negara donor. Contoh kongkret masalah ini, dapat dilihat pada pembangunan pabrik Semen Merah Putih di Bayah Banten selatan.
Agaknya, hari Pahlawan, masih relevan kita peringati. Masih relevan untuk kita mengaca diri. Mempertanyakan kembali, apa yang sudah kita lakukan untuk Negara Indonesia tercinta ini?

1 komentar: