Jumat, 13 November 2015

Durhaka Ayah Pada Anak Dan Isteri.



Ilustrasi Ayah yang tersia-sia.

Tadi pagi saya bepergian dengan seorang sahabat. Di tengah perjalanan, saya mengisi BBM di sebuah SPBU. Ketika mengisi BBM itu, ada seorang yang jika saya perkirakan, telah berusia sekitar 60 tahun. Beliau ingin ikut dengan mobil saya, dengan menyebutkan nama daerah tujuannnya, yang kebetulan akan saya lewati. Tanpa berpikir panjang. Lalu, saya persilahkan orang tua tersebut untuk ikut. Dalam perjalanan bersamanya, tak banyak yang dapat saya ceritakan.
Setelah orang tua tersebut sampai tujuan dan turun. Sahabat saya, berkata pada saya, ”Kasihan ya, setua itu, beliau bepergian seorang diri, dan terlihat tidak memiliki biaya yang cukup untuk perjalanan itu”.
Saya menjawab ringan:”Itulah type orang tua yang durhaka pada anak isterinya, sehingga miskin di hari tuanya?”
“Kok bisa. Orang tua, durhaka pada anak dan isterinya?” Tanya sahabat saya dengan rasa penuh ingin tahu.
Untuk menjelaskan pertanyaan sahabat saya itu, maka saya buatlah tulisan ini.
Pada dasarnya, ketika kita miskin, hampir bisa dipastikan, semua karena kesalahan kita. Logika sederhananya, Allah sebagai yang Maha menciptakan manusia, adalah zat yang Maha Kaya. Lalu, apa perlunya Yang Maha Kaya itu, menjadikan ciptaanNya dalam kondisi miskin?.
Sebagai lelaki, maka kesalahan itu, dapat dikatakan meliputi dua hal, antara lain;
Satu, Kesalahan Ayah pada anaknya.
Hampir semua Ayah, memiliki pemikiran. Bahwa, membesarkan dan mendidik anaknya sebagai investasi masa depan. Bukan sebagai kewajiban yang memang harus dia kerjakan. Sehingga, ketika orang tua tidak mampu lagi bekerja. Diharapkan, anak akan membantu orang tuanya.
Pemikiran demikian, jelas salah. Dimana salahnya? Mari kita hitung secara matematis.
Jika, biaya makan berserta lauk pauknya sekali makan Rp.15.000,- maka, sehari untuk biaya makannya 45 ribu. Pakaian plus biaya cucinya Rp. 5.000,- maka total biaya seorang anak, 50 ribu/hari. Sebulan 1,5 juta, Satu tahun 18 juta. Jika di asumsikan, anak akan mandiri, tanpa biaya dari orang tua, hingga berusia 24 tahun. Maka, untuk kebutuhan makan dan pakaian saja 432 juta.
Jika umur 6 tahun masuk SD, maka untuk biaya pendidikan, uang pendaftaran 5 juta, biaya pendidikan 500 ribu/bulan, ongkos setiap pp sekolah-rumah, 20 ribu/hari. Jajan 20 ribu/hari.
Biaya buku dll 500 ribu/bln. Maka, biaya pendidikan selama SD-SMA sebesar 348 juta.Jika biaya kuliah, hingga selesai S1 sekitar 200 juta. Maka, total jendral, biaya seorang anak, hingga menyelesaikan S1 sekitar 980 juta.
Jika asumsi 1 gram emas Rp.500.000.-. Biaya seorang anak hingga S1, setara dengan 1,96 Kg emas.
Jika seorang Ayah, menikah pada usia 26 tahun, maka pada usia 50 tahun, sang Ayah baru menghentikan kegiatan investasi. Jika lama usia seorang Ayah tujuh puluh tahun. Maka sang Ayah. Mestinya, memetik hasil dari investasi yang dia keluarkan sebanyak 980 juta di bagi 20, yakni sebesar 49 juta pertahun atau 4 juta perbulan. Sungguh sebuah nominal nilai yang sangat kecil jika dibanding investasi yang dia tanamkan sebesar 980 juta.  
Kesimpulannya, jika anak dianggap sebagai investasi. Jelas sang Ayah mengalami kerugian. Belum lagi, jika sang anak tak mampu atau lupa memberikan nilai yang mestinya dia berikan pada sang Ayah dengan nominal selayaknya sebesar investasi yang diterimanya.
Berbeda halnya, jika saja seorang Ayah beranggapan bahwa membesarkan dan mengasuh anak sebagai kewajiban. Maka, sang Ayah akan bekerja dengan “Nothing to lose”. Ikhlas dan tidak berharap balas jasa. Itulah kata kuncinya. Ikhlas dan tak berharap balas jasa. Akibatnya, seorang Ayah akan mempersiapkan diri untuk anak dan dirinya sendiri. Artinya, Ayah akan berusaha mencari nafkah demia anaknya tanpa melupakan persiapan masa depan untuk dirinya sendiri. Sebab, akan datang masa, ketika anak telah dewasa dan meninggalkan orang tua. Ketika itu, orang tua, tetap berkecukupan secara materi. Karena, jauh hari sebelumnya telah mempersiapkan diri.
Lalu, bagaimana dengan sejumlah nominal yang telah diberikan pada sang anak?  Bukankah semua itu harus ada perhitungannya? Karena sifatnya ikhlas dan tidak berharap balas jasa. Maka, seorang Ayah akan percaya, bahwa apa-apa yang telah dia berikan pada anaknya, sesungguhnya bukanlah rezeki milik sang Ayah. Melainkan, memang rezeki sang anak yang diberikan Allah melalui perantaraan tangan sang Ayah. Sebagaimana firman Allah;”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”  (Qs. al-Israa’: 31)

Dua, Kesalahan  Suami pada Isterinya.
Banyak Suami beranggapan, ketika akad nikah sudah dilaksanakan,  maka posisinya adalah pemimpin dalam rumah tangga. Ketika itu, Suami hanya berpikir,  bagaimana cara memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sehingga, ketika kebutuhan rumah tangga sudah terpenuhi. Maka, selesailah tugasnya. Suami bebas melakukan apa saja di luar rumah. Mulai pulang larut malam tanpa alasan yang jelas, tidak membimbing anak-anak dalam proses belajar mereka, tidak menyediakan cukup waktu untuk anak dan isteri. Bahkan, kondisi ekstreemnya, nikah lagi tanpa sepengetahuan isteri.
Padahal sesungguhnya, selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, Suami masih memiliki kewajiban untuk memperlakukan isteri  dengan sepenuh penghargaan dan kelembutan. Seorang pemimpin dalam rumah tangga, bukan hanya memenuhi kebutuhan apa yang mereka pimpin. Tetapi, memastikan bahwa segala proses yang berlangsung dalam area yang dipimpin berjalan sesuai dengan kebijakan yang dibuat sang pemimpin, tanpa ada pihak yang merasa di rugikan atau ditinggalkan.
Seorang Suami harus ingat, ketika mereka menikahi seorang wanita.  Sesungguhnya, dia telah mengambil alih tanggung jawab seorang  Ayah dari wanita yang dinikahinya. Artinya, bagaimana sang Ayah berusaha untuk membahagiakan anaknya seumur hidup sang Ayah, demikian pula  yang harus dilakukan seorang Suami. Bagaimana seorang Ayah  berusaha agar anak wanitanya tak tersakiti dan tersia-sia dalam kondisi apapun, itu pula yang harus dilakukan oleh seorang Suami pada isterinya.  
Sehingga, ketika seorang Suami akan menyakiti atau menyia-nyiakan isterinya, seharusnya sang Suami bertanya, apakah hal demikian, mungkin  dilakukan oleh Ayah dari wanita yang dinikahinya itu? Jika jawabannya tidak mungkin, maka jangan lakukan itu.
Menjamin kebahagiaan seumur hidup terhadap wanita yang dinikahi, akan melahirkan pola pikir bagaimana menjamin kepastian terpenuhinya kebutuhan Jasmani dan rohani dari wanita yang dinikahi Suami. Suami hendaknya memastikan kebahagian yang dia usahakan ketika muda dulu, tetap dapat dia saksikan hingga akhir hayatnya.
Pengingkaran terhadap kewajiban seorang Ayah pada anaknya, pengingkaran kewajiban seorang Suami terhadap isterinya, akan  berakhir pada pengingkaran kehadiran seorang Ayah dan Suami terhadap anak dan dan isterinya.
Inilah yang disebut dengan kemiskinan mutlak itu. Miskin dari materi dan miskin dari ke-peduli-an anak dan isteri terhadap Ayah dan suami.  Kondisi yang semua kita tak inginkan. Sangat mengenaskan, memang. Seperti yang terjadi pada Bapak tua, diawal tulisan ini.

6 komentar:

  1. Posting yang mengingatkan.
    Tarumuak awak mambaconyo.

    salam,
    http://alrisbog.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mokasi lah singgah sanak. Tingga di Ambon yo kini?
      makin jauah lah kampuang yo?
      salam,IZ

      Hapus
  2. Posting yang mengingatkan.
    Tarumuak awak mambaconyo.

    salam,
    http://alrisbog.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mokasi lah singgah sanak. Tingga di Ambon yo kini?
      makin jauah lah kampuang yo?
      salam,IZ

      Hapus
  3. Mungkin seperti lelaki tua yang ini ya Pak? http://www.kompasiana.com/putput/lelaki-tua-itu_562dc4680323bd6607c47e2a

    salam :)

    BalasHapus