Selasa, 10 November 2015

4 Tahun di Kompasiana, 5 Buku Terbit.



lima buku dalam empat tahun (dok.Pribadi)

Saya mulai menulis tanggal 16 November 2011 artinya beberapa hari lagi, genap 4 tahun saya menulis di Kompasiana. Banyak hal yang dapat diceritakan selama perjalanan 4 tahun menulis di Kompasiana. Mulai dari mana saya tahu Kompasiana, tentang tulisan pertama di Kompasiana, perolehan ilmu apa yang saya peroleh selama di Kompasiana, dll.
Tetapi, pada kesempatan ini, saya hanya ingin membatasi diri pada Buku. Bagaimana akhirnya saya terjebak pada kenyataan, bahwa saya benar-benar telah melahirkan buku.
Hingga saat ini sudah ada lima buku, dua buku full tulisan saya sendiri, sehingga, saya berhak untuk mencantumkan nama saya sendiri tanpa nama yang lain. sedangkan tiga buku yang lain, buku keroyokan. InsyaAllah awal Desember besok, akan terbit kembali buku saya yang baru. Buku kumpulan cerpen. Inilah, buku ke enam. Tentu saja, saya masih berharap, seiring dengan perjalanan waktu bersama Kompasiana akan terbit buku-buku yang lain.   
Jabal Rahmah Rendezvous Cinta Nan Abadi (dok.Pribadi)
Sore itu, masuk sms dari pak Tjiptadinata Efendy. Beliau mengundang untuk Kopdar. Tempatnya disebuah café yang berada di Jl Ir. Juanda, seberang Binagraha. Ketika itu, masih bulan syawal. Beberapa hari setelah lebaran iedul fitri. Saya masih di Bandung. Mengunjungi Mertua dalam rangka mudik lebaran ke rumah mertua. Tentu saja, undangan dari pak Tjip punya arti luar biasa bagi saya. Inilah undangan pertama dari Kompasianer untuk saya dan jika saya datang. Maka, inilah kopdar pertama sesama kompasianer untuk saya. Singkat cerita. Pagi itu, jam sepuluh pagi, saya sudah berdiri di pintu Café yang dimaksud. Surprise luar biasa. Pak Tjip mengenali saya. Kami bersalaman. Belum banyak yang hadir, ketika itu. Pak Tjip membawa saya untuk berkenalan dengan Ibu Rosseline. Entah kebetulan, atau gimana. Pak Tjip dan Ibu Rose memiliki wajah yang mirip dengan kedua almarhum orang tua saya. Khusus Ibu Rose memiliki nama yang hampir sama dengan nama almarhum Ibu saya. Ketika mereka, berbicara dengan bahasa Ibu saya. Lengkaplah sudah, seakan saya menemukan kembali kedua orang tua saya pada kedua “Tokoh”  Kompasianer ini.
Pada Kopdar pertama itu, pak Thamrin Sonata mengusulkan, bagaimana jika seluruh yang hadir menyumbangkan satu tulisan. Untuk selanjutnya, dikumpulkan dan dijadikan satu buku. Hampir semua yang hadir menyetujuinya. Dari hasil silaturahmi itu, saya menyebutnya dengan silaturahmi, karena memang pertemuan itu, bernuansa saling mengenal dengan semangat saling kasih. Maka, lahirlah buku yang pertama secara keroyokan dengan Judul “Merajut Indonesia”. Belakangan, setelah buku terbit, saya tahu, bahwa para penulis, bukan hanya mereka yang hadir pada “silaturahmi” pasca ramadhan itu saja. Melainkan, banyak lagi yang lain.
Buku Catatan Kecil, Perjalanan PNPM-MPd (dok.Pribadi)
Tahun berikutnya, saya bertemu dengan pak Thamrin Sonata di Kota Rangkas Bitung. Dalam pertemuan itu, hadir saya, Isteri saya, anak semata wayang serta pak Thamrin Sonata. Kami berbincang banyak hal. Suasana yang tercipta sangat kekeluargaan. Saya bercerita, bahwa saya sudah menulis banyak tentang “perjalanan”. Apakah itu perjalanan spiritual atau perjalanan Jasmani. Apakah itu perjalanan di Tanah Air atau perjalanan di luar. Pertanyaannya, apakah kisah perjalanan itu, layak untuk dijadikan sebuah Buku. Pak Thamrin Sonata menjawab, mengapa tidak? Beberapa bulan kemudian, lahirlah buku saya yang kedua. Kali ini, buku itu, seluruhnya kumpulan tulisan saya.
Beberapa hari setelah buku kedua terbit, saya yang jarang mengunjungi kampus tempat saya dulu, menuntut ilmu, bagai anak hilang yang kembali ke rumah. Saya main-main ke Kampus, dimana saya menyelesaikan pendidikan Tekhnik tempo dulu. Dalam pembicaraan diantara acara kangen-kangenan itu, saya memperlihatkan buku yang baru terbit itu. Bagaimana, jika kampus mengadakan Bedah Buku? Usulan saya, mendapat respon positif dari pihak kampus. Maka, seminggu kemudian. Buku “Jabal Rahmah, Rendezvous Cinta nan Abadi” di Bedah Kampus saya. Berbagai rasa berkecamuk dalam hati, senang, haru dan sebagainya. Anak hilang itu, kini telah kembali dengan membawa buku. Bertindak sebagai key note speaker pada acara itu, saya sendiri, Isson Khairul dan Thamrin Sonata.
Buku "Indonesia Kita, Satu" (dok.Pribadi)
Buku “Jabal Rahmah, Rendezvous Cinta nan Abadi” yang dikerjakan secara Indie itu, memberikan banyak pengalaman pada saya. Ternyata, menulis adalah sesuatu hal. Tetapi, memasarkan buku adalah, hal yang lain lagi. Beberapa wawancara hingga on air pada sebuah stasiun Radio swasta saya sanggupi dan lakukan. Tak lain, sebagai bagian dari “pemasaran” buku itu sendiri.
Selanjutnya, untuk Buku ke tiga dan ke empat, waktunya tidak terpaut lama. Buku ke tiga adalah buku keroyokan dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan RI. Judulnya “Refleksi 70 tahun Indonesia Meredeka”. Sedangkan buku ke empat berjudul “catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd”. Sebuah buku yang berisi buah pikiran dan beberapa catatan kejadian, selama saya mengikuti program pengentasan kemiskinan yang bernama PNPM-MPd (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat - Mandiri Perdesaan). Selama kurun waktu lima tahun.
Sekedar bocoran, menurut dirjen PMD ketika itu. inilah satu-satunya buku di Indonesia, yang berbicara tentang PNPM, yang ditulis oleh pelaku Program PNPM. Buku  ke empat tentang PNPM itu, Alhamdulillah telah dibedah di komunitas Kompasianer pada bulan Agustus 2015. Di gedung Kompas-Gramedia Jalan Palmerah, kebetulan saya menjadi pembicara di acara itu, bersama dengan Yusran Darmawan dan Thamrin Dahlan. Menurut rencana, buku yang sama, akan di bedah kembali oleh Universitas Mathla’ul Anwar Banten pada bulan November 2015 ini. Tanggalnya, masih menunggu konfirmasi, demikian pihak civitas akademika Universitas Mathla’ul Anwar, mengabarkan pada saya.
Masih tentang buku keempat itu, saya juga berkesempatan untuk menjelaskan isi buku tersebut pada Jambore paguyuban UPK se Jawa-Tengah di Solo, serta Jambore paguyuban UPK se Jawa-Barat di Purwakarta. Ikut hadir pada kedua event tersebut, dari BAPPENAS, OJK, DEPKUMHAM dan Departemen Koperasi.
Namun, sayang, di rumah sendiri, saya tak mendapat kesempatan waktu yang cukup untuk menjelaskan isi buku “catatan kecil, perjalanan PNPM-MPd” pada rakor Faskab yang dihadiri oleh mereka yang datang dari Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Provinsi Lampung dan Provinsi Banten, yang diadakan di Hotel Boutiqe Jakarta, beberapa waktu lalu. Demikian juga, sama mengenaskannya, ketika saya tawarkan pada Satker Pengakhiran PNPM-MPd Provinsi Banten, untuk dilakukan acara bedah buku. Permintaan itu, hingga saat ini, tak mendapatkan jawaban.
Launchin Buku Jabarl Rahmah Rendezvous Cinta Nan Abadi (dok.Pribadi)
Sedangkan buku ke lima, yang berjudul “Indonesia Kita, Satu” dimaksudkan untuk menyambut hari sumpah pemuda. Ada keprihatinan, seakan bangsa ini, sudah tak begitu solid, terutama pasca Pilpres 2014. Begiitu mudahnya masyarakat saling menghujat dan melecehkan mereka yang kebetulan tidak sama dalam pola pikir dan apa yang diyakininya. Betulkah demikian? Buku “Indonesia Kita, Satu” diharapkan, memberikan sedikit pencerahan akan fenomena yang sedang berlaku itu. Ketika Buku ini di bedah, sahabat saya sekaligus orang tua saya Tjiptadinata Effendy di dapuk sebagai key note speaker, sedangkan dari kalangan muda, diwakili oleh Unggul Sagena.
InsyaAllah, jika semuanya sesuai Schedule, maka awal Desember besok, buku ke enam saya, (kali ini, seluruh tulisan, karya saya sendiri) berupa kumpulan Cerpen akan kembali terbit. Apa judulnya? masih dalam perdebatan dengan pihak penerbit. Tetapi, yang jelas, deadline-nya awal Desember 2015. Dengan harapan, dapat meramaikan ajang kompasianival 2015.
Waktu akan terus berjalan, masa terus berganti, sesuai hukum alam. Dengan berlalunya waktu, saya berharap masih ada buku-buku  lain yang akan terbit. Sebagai sumbangsih seorang anak  warga negara untuk negeri tercintanya, Indonesi.  InsyaAllah.   

4 komentar:

  1. Assalamualaikum, bapak orang Rangkas ya?
    Bisa ketemuan? untuk diskusi ringan tentang menulis...saya baca banyak buku yang sudah bapak tulis. saya jadi terinspirasi...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa pak. Kapan mau ketemu?
      Bapak bisa hubungi saya

      Hapus
  2. Salut, produktif menghasilkan buku. Mantap.
    Da Is, nanti buku cerpen tu Insya Allah ambo bali bilo alah beredar di toko buku Gramedia Ambon.

    salam,
    http://alrisblog.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. sanak bisa mambalinyo langsuang pasan se ka ambo
      mokasi sanak

      Hapus