Minggu, 22 November 2015

Merantau Ke Deli


Cover Merantau ke Deli (dok.Pribadi)

Merantau ke Deli, awalnya berupa cerita bersambung yang dimuat pada majalah “Pedoman Masyarakat” dan diterbitkan untuk pertama kali oleh Penerbit Cerdas Medan pada tahun 1941.
Novel yang menurut saya kaya dengan konflik. Bukan hanya, pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel Merantau ke Deli. Juga, bagaimana Buya Hamka, mengangkat konflik adat pada sang tokoh utama, Poniem dan Leman, dalam hal ini, Adat Jawa dan Adat Minangkabau. Penajaman justru terletak pada adat Minangkabau.
Adat yang terasa janggal. Bagaimana dalam masyarakat Indonesia. Umumnya,  dominan memakai sistem patriarchat, adat Minangkabau justru berdasarkan matriarchat.
Sebagai anak, dari kedua orang tua yang berasal dari Minangkabau dan lahir serta besar di “rantau”. Saya mengalami kesulitan untuk memahami konsep “Adat bersandikan syara’ dan syara’ bersandikan kitabullah”. Karena, dalam prakteknya, banyak hal, tidak sejalan dengan syara’ itu sendiri. Seperti, bagaimana garis keturunan ditentukan oleh garis keturunan Ibu, bagaimana anak laki-laki tidak mendapatkan warisan dari keluarga sama sekali. Turunan aplikasi dari kedua “adat” itu, menimbulkan banyak konflik dan itu sangat disadari oleh mereka yang “peduli” akan adat ini. Hingga, untuk meluruskan apa yang dianggap tidak lurus itu, lahirlah novel-novel yang bercerita tentang “akibat” dari adat yang dianggap “nyeleneh” itu. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk bercerita akibat yang dialami seorang anak akibat pernikahan campuran antar etnis suku, dikarenakan sistem keturunan yang didasarkan dari garis keturunan dari Ibu. Sedang Merantau ke Deli, lebih tegas lagi bercerita tentang warisan yang tak diterima oleh anak laki-laki serta apa yang akan dialami lelaki Minang di hari tuanya, jika dihubungkan dengan Adat.

Rabu, 18 November 2015

Hari Guru antara Teori dan Realita.


Kondisi Sekolah di Banten Selatan tahun 2011 (dok,.Pribadi)

Setiap tanggal 25 November, kita memperingati hari Guru. Sebagai penghargaan pada jasa-jasa yang telah diberikan oleh sang Guru. Sang Pahlawan tanpa tanda jasa, pada, kita semua. Karena Gurulah. Maka, kita sekarang menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Tanpa mereka, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Sebagai individu yang telah menerima begitu besar jasa sang Guru. Apa yang sudah kita berikan pada mereka? Sebagai sedikit “balas jasa” dari semua yang telah kita terima selama ini dari Guru.
Sebagai upaya kecil untuk membalas jasa Guru, maka saya buatlah tulisan ini.
Pada masyarakat umum, predikat Guru berlaku secara umum. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menjadikan muridnya menjadi pintar. Mampu mengerti apa yang baik, dan apa yang tidak baik. Mampu mengerti apa yang perlu untuk dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Mampu mengerti untuk menjadi sesuatu dan mampu mengetahui bagaimana untuk hidup bersama. Sedangkan aplikasinya, seorang Guru, mampu menghantarkan muridnya, untuk bagaimana melakukan semua itu. meng-ejawantah-kan semua yang diketahuinya, menjadi sebuah satu kesatuan dalam praktek kehidupan, yang kelak akan mereka lakukan, dalam perjalanan hidup sebenarnya dalam kehidupan di masyarakat.

Selasa, 17 November 2015

Kau Beda Dengan Yang Lainnya



Jika aku takut pada yang lainnya, maka aku akan menghindarinya, sebisa yang dapat kulakukan. Semua akses untuk bertemu dengannya aku putuskan. jalan untuk bertemu dengannya aku hindari. Kalau perlu, aku akan berpindah tempat, berpindah kota lain, atau kalau perlu pindah Negara lain.
Tetapi….
Jika aku takut pada Kau, aku akan menghampiriMu, aku akan menangis di haribaanMu, aku akan bersujud dan mengibakan diriku padaMu, karena aku tahu, Kau tak akan memarahiku, tersebab prilakuku. Selama aku mau takut padaMu. Akan Kulabuhkan semua rasa takutku padaMu.
Jika aku meminta pada yang lainnya, maka mereka akan member. Tetapi, hanya sedikit.  Ketika, aku meminta tambah lagi, mereka akan marah, paling tidak mereka akan menggerutu, mengatakan aku matre, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu diuntung. Meminta sesuatu, yang diluar kewajaran dan tidak seimbang jerih payah yang kupersembahkan pada mereka dengan apa yang kuminta dari mereka.

Minggu, 15 November 2015

Ini Alasan Kenapa Jokowi Di Berhentikan



Pulang dari mengikuti upacara peringatan hari pahlawan di alun-alun Kecamatan. Kami, para pensiunan yang sudah udzur ini, merasa sedikit terhibur. Betapa tidak, sudah lama rasanya tak saling kunjung, tidak saling bertemu. Maklum, tempat kami tinggal, berada pada desa yang berlainan. Kalaupun kami saling berkunjung, biasanya selalu ditemani oleh anak, atau cucu-cucu, sesekali ditemani oleh isteri. Kenapa sesekali ditemani isteri? Karena, sang nenek lebih betah untuk bercanda dengan sang cucu, daripada menemani sang kakek ke rumah temannya.
Akibatnya, pada setiap kunjungan ke rumah para teman-teman itu, kami tak leluasa untuk bercengkrama seperti ketika muda-muda dulu. Maklum, di depan kami, ada anak atau cucu yang ikut mendengarkan segala pembicaraan, memperhatikan segala yang kami lakukan. Lebih tak nyaman lagi, kami tak dapat merokok sambil mengopi dengan leluasa. Maklum, ada cucu yang akan melaporkan pada neneknya kalau sang kakek kembali menghisap rokok. Atau ada anak yang akan melarang ayahnya untuk merokok. Untuk seusia bapak, merokok tak baik untuk kesehatan. Demikian, selalu alasan yang dikemukakan oleh sang anak. Lalu… kami dengan patuh akan mematikan rokok yang sudah terlanjur dibakar.

Jumat, 13 November 2015

Durhaka Ayah Pada Anak Dan Isteri.



Ilustrasi Ayah yang tersia-sia.

Tadi pagi saya bepergian dengan seorang sahabat. Di tengah perjalanan, saya mengisi BBM di sebuah SPBU. Ketika mengisi BBM itu, ada seorang yang jika saya perkirakan, telah berusia sekitar 60 tahun. Beliau ingin ikut dengan mobil saya, dengan menyebutkan nama daerah tujuannnya, yang kebetulan akan saya lewati. Tanpa berpikir panjang. Lalu, saya persilahkan orang tua tersebut untuk ikut. Dalam perjalanan bersamanya, tak banyak yang dapat saya ceritakan.
Setelah orang tua tersebut sampai tujuan dan turun. Sahabat saya, berkata pada saya, ”Kasihan ya, setua itu, beliau bepergian seorang diri, dan terlihat tidak memiliki biaya yang cukup untuk perjalanan itu”.
Saya menjawab ringan:”Itulah type orang tua yang durhaka pada anak isterinya, sehingga miskin di hari tuanya?”
“Kok bisa. Orang tua, durhaka pada anak dan isterinya?” Tanya sahabat saya dengan rasa penuh ingin tahu.

Selasa, 10 November 2015

4 Tahun di Kompasiana, 5 Buku Terbit.



lima buku dalam empat tahun (dok.Pribadi)

Saya mulai menulis tanggal 16 November 2011 artinya beberapa hari lagi, genap 4 tahun saya menulis di Kompasiana. Banyak hal yang dapat diceritakan selama perjalanan 4 tahun menulis di Kompasiana. Mulai dari mana saya tahu Kompasiana, tentang tulisan pertama di Kompasiana, perolehan ilmu apa yang saya peroleh selama di Kompasiana, dll.
Tetapi, pada kesempatan ini, saya hanya ingin membatasi diri pada Buku. Bagaimana akhirnya saya terjebak pada kenyataan, bahwa saya benar-benar telah melahirkan buku.

Minggu, 08 November 2015

Perjalanan Dengan KM Kelud



KM Kelud dengan segala kebesarannya (dok.Pribadi)

Sesuatu yang pernah dialami, kadang ada keinginan untuk mengulanginya kembali. Semacam reuni begitu. Begitu juga dengan perjalanan dengan kapal laut. Sekitar tahun 1984-an saya akrab dengan perjalanan dengan kapal laut, khususnya ketika masih sering melakukan perjalanan ke Indonesia bagian timur.
Penulis dianjungan KM Kelud (dok.Pribadi)
Ketika saya di Medan beberapa waktu lalu, dan memiliki cukup banyak waktu. Mengapa tidak mencoba lagi perjalanan pulang ke Jakarta dengan kapal laut. Inilah, sedikit oleh-oleh perjalanan dengan kapal laut menggunakan KM Kelud.

Sabtu, 07 November 2015

Kakek Tua dan Ayam Jago


Jenis Anjing Shih-Tzu (sumber: Google)

Kadang aku sering salah dalam melihat masalah. Apakah karena usia ini yang sudah lanjut atau karena kurang rasa syukur pada Allah yang memberikan aku usia panjang. Awalnya, aku merasa senang dengan usia panjang ini. Bayangkan saja, teman-teman di Desaku sudah pada berpulang, bahkan anak-anak mereka semua sudah pula dipanggil oleh Allah untuk menghadap padaNya. Demikian juga dengan anak-anakku, semuanya telah almarhum. Sedang aku? Meski semua rambut di kepala sudah beruban semua, aku masih sehat dan segar bugar.
Hanya, karena cucuku yang mengkhawatirkan kondisiku saja, makanya aku sekarang terdampar di kota ini. kalau tidak, maka aku masih di kampungku. Masih dengan segala kebiasaanku. Kebiasaan yang terlihat aneh dimata masyarakat kampungku. Kebiasaan berbicara dengan hewan. Tak ada satupun warga desa, percaya dengan omonganku, jika aku memiliki kemampuan untuk berbicara dengan hewan. Aku mengerti apa yang mereka katakan dan mereka mengerti apa yang aku katakan. Aku dianggap kakek tua pikun oleh masyarakat kampungku. Hanya karena kebiasaanku itu.

Kamis, 05 November 2015

Terobosan Melahirkan Budaya Menulis


Beberapa Buku Karya Penulis (dok.Pribadi)

Sudah banyak pemikiran tentang bagaimana caranya, agar lahir generasi yang “menulis minded”. Banyak tulisan tentang itu. Tema bahasan juga beragam. Dari manfaat menulis, cara menulis, dan efek luas yang dapat diperoleh oleh penulis sendiri, oleh pembaca pada umumnya. Hingga pada kesimpulan bahwa menulis dapat mempengaruhi budaya dan memajukan peradaban suatu bangsa.
Sebut saja misalnya, mereka yang mempengaruhi budaya dan kemajuan peradaban seperti, Leo Tolstoy, Shakespeare, John Steinbeck, Kalr Mark, Al Ghazali dan lain-lain. Sedangkan untuk penulis dalam negri, sebut saja misalnya, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Kartini, Muhammad Yamin, Muhammad Diponegoro, Pramoedya Ananta Toer dan masih banyak yang lain.

Senin, 02 November 2015

Hari Pahlawan Dalam Konteks Kekinian


Kebakaran Hutan, akibat salah kebijakan

Tidak seperti pada beberapa Negara lain. Hari Pahlawan, biasanya didasarkan pada hari kelahiran sang Pahlawan. Tetapi, untuk Indonesia. Hari Pahlawan, didasarkan pada peristiwa heroik yang melatar belakangi kejadian tersebut. Dengan peristiwa heroik itu. Maka, ditetapkan saat kejadian itu, sebagai hari Pahlawan. Jadi, memperingati hari Pahlawan, memiliki sifat aktif dan progresif. Kejadiannya boleh sekali. Tetapi, ruh yang melatar belakangi peristiwanya, tetap aktual untuk dijadikan spirit kedepan.