Senin, 12 Oktober 2015

Sumpah Pemuda, Sumpah Bangsa Indonesia


Pemuda Indonesia

Ketika saya menginjakkan kaki di Papua pertengahan tahuan 1984’an, seorang teman berseloroh, bahwa di Papua, ada Sapi main bola. Saya tertegun sejenak. Apa maksudnya? Benarkah ada Sapi di Papua yang dapat bermain bola. Belum sempat saya bertanya lebih lanjut, sang teman segera menjelaskannya. Begini bu, (bu dalam bahasa sehari-hari Papua, artinya Abang). Jika bu, bertanya pada seseorang “Kopi mana?” (berasal dari Kou mau pergi kemana). Maka, seseorang yang bu tanyakan tadi, akan menjawab; Sapi main bola (saya mau pergi main bola). Demikian, sang teman menjelaskan.
Saya, tertawa mendengar penjelasan sang teman, teman saya juga tertawa, di akhir tawanya ditambah dengan kalimat hahay… Belakangan saya tahu, tawa yang diakhiri dengan hahay adalah tawa ngakak.
Hari-hari berikutnya, saya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, masih di Papua. Satu hal yang membuat saya kagum. Seluruh masyarakat yang saya jumpai mampu berbicara dalam bahasa Indonesia. Meski, terkadang, bahasa yang mereka gunakan bahasa Indonesia yang terpengaruh dengan dialog lokal. Seperti sapi main bola yang saya tulis di awal tulisan.  Bandingkan dengan kondisi di Pulau Jawa. Jika kita masuk kedaerah pedalaman, sering kita jumpai mereka yang tak mampu berbahasa Indonesia. Fenomen yang lazim terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Bagaimana bisa Papua yang jauh di Timur Indonesia, masyarakatnya mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Mungkin salah satu faktor jawabannya. Inilah, hasil yang patut disyukuri dengan adanya Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober 1928.
Sumpah Pemuda, bukan hanya membangkitkan semangat untuk Merdeka, melainkan juga merupakan alat pemersatu diantara anak Bangsa. Dimanapun mereka berada, alat komunikasi itu, bahasa Indonesia.
Di Tanah Ambon, ada istilah Katong samua basodara. (katong = kita orang. Samua=semua. Basodara= bersaudara) sekali lagi, bahasa Indonesia yang memperoleh sentuhan lokal. Tapi, semua anak bangsa akan mudah mengerti apa itu artinya.

Sejarah Panjang Sumpah Pemuda.
Pasca berdirinya Budi Utomo, maka berdirilah berbagai organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Tri Koro Darmo, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Betawi, Jong Minahasa, Jong Java dll. Semangat yang menggelora di dada para Pemuda, sudah benar, semangat Kemerdekaan. Tetapi bentuknya belum jelas, sifat kedaerahan yang mereka bawa masih sangat kental. Mungkinkah memerdekakan Indonesia yang luas wilayahnya sebesar Eropah, akan mampu terwujud jika di semangati dengan semangat  yang bersifat ke-daerah-an?
Pertanyaan inilah yang mengganggu kaum muda terpelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Belanda. Mereka terhimpun dalam organisasi Pelajar Indonesia (PI). Mereka berasal dari berbagai suku, berasal dari berbagai agama. Mereka menjadi satu kesatuan yang solid dengan membongkar sekat-sekat kedaerahan dimana mereka berasal.
Mungkinkah, menghilangkan sekat-sekat yang ada pada para Pemuda yang berada di tanah air, sebagaimana  mereka sudah lakukan di Belanda?  Jika mungkin, bagaimana caranya? Hal inilah yang menjadi topik bahasan dari Pelajar Indonesia di negri Belanda, ketika itu.
Maka, pada tanggal 15 November 1925, diadakanlah Kongres Pemuda untuk membahas Panitia Pelaksanaan kesepakatan bersama.
Lima bulan kemudian, pada tanggal 30 April 1926, organisasi Pemuda kembali berkumpul, lalu melaksanakan rapat Kongres Pemuda I.
Hasil Rapat Kongres Pemuda I. Merumuskan dasar-dasar pemikiran bersama, al;
1.    Kemerdekaan Indonesia merupakan cita-cita bersama seluruh Pemuda Indonesia
2.    Seluruh Organisasi kepemudaan bertujuan untuk menggalang persatuan.
Satu setengah tahun kemudian, setelah Rapat Kongres Pemuda I, Para pemuda kembali,
menyelenggarakan Kongres Pemuda II. Yakni pada tanggal 26 – 28 oktober 1928.
Sebagai Ketua Kongres Pemuda, Soegondo Djojopoespito dari PPPI, wakil ketua RM. Djoko Marsaid dari Jong Java dan sekretaris Moehammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond.
Kongres dibuka oleh ketua Kongres Pemuda, Soegondo Djojopoespito, setelah diperdengarkan lagu Indonesia Raya yang diiringi dengan Biola oleh sang Pencipta lagu, WR Supratman.
Ketika itu, semua ketua utusan diberi kesempatan untuk menyampaikan pidatonya. Guna menyampaikan visi dan pandangan mereka. Ketika giliran Mr Sunario, menyampaikan pidato sebagai utusan dari Kepanduan. Mr Moehammad  Yamin, menyampaikan secarik kertas pada Soegondo, sambil berbisik, bisikan yang kelak terbukti menjadi tonggak landasan perjuangan para pemuda untuk meraih kemerdekaan. Bisikan itu berbunyi :”Ik Heb een eleganter formulering voor de resolutie”  artinya; saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini.
Selesai Mr Sunario menyampaikan pidatonya, maka naiklah Mr Moehammad  Yamin, sebagai peserta terakhir yang menyampaikan pidatonya. Dengan panjang lebar beliau menyampaikan dan membahas isi selembar kertas yang beliau sampaikan pada Soegondo tadi. Dan benar, Mr Mohammad Yamin membuktikan bisikannya pada Soegondo. Karena, dari isi pidato beliau inilah lahir butir-butir apa yang kini kita sebut sebagai Sumpah Pemuda.

SOEMPAH PEMOEDA
Satoe: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Doea: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA  JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Tiga; KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA  MENJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA


Djakarta, 28 Oktober 1928

Konteks kekinian.
Sudah 87 tahun, peristiwa Sumpah Pemuda itu berlalu. Masih relevankah Sumpah Pemuda itu, untuk bangsa dan Negara ini? Bukankah apa yang melatar belakangi peristiwa itu, kini sudah tercapai. Indonesia yang mereka cita-citakan itu, kini telah Merdeka.
Secara de facto dan de jure, Indonesia memang sudah Merdeka. Tetapi, apakah Merdeka yang kita rasakan kini, sesuai dengan Pengertian Kemerderkaan para Pelaku Sumpah Pemuda itu? Disini, kajiannya menjadi menarik. Menjadi melebar dan menyangkut banyak hal.
Kemerdekaan sejatinya, hanya sebuah jembatan, di seberang jembatan itulah, arti dan makna sesungguhnya Kemerdekaan itu patut dipertanyakan. sudahkah kita Merdeka dalam berpikir, Merdeka dalam berbicara, Merdeka dalam bertindak, Merdeka dalam ekonomi dan Merdeka dalam kehidupan yang nyaman, artinya tak ada lagi ekploitasi yang kuat terhadap yang lemah, dominasi Mayoritas terhadap minoritas dan tirani minoritas terhadap Mayoritas. Hilangnya sekat-sekat  yang menjadikan kita sebagai bangsa yang satu. Satu dalam bahasa, tanah air dan bangsa.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era reformasi kini, layak menjadi pertanyaan yang butuh jawaban. Terutama, pada korelasi, antara peristiwa itu dengan semangat Sumpah Pemuda.
Maraknya korupsi misalnya, bagaimana korelasinya dengan sumpah kedua pada butir Sumpah Pemuda, sebagai satu bangsa. Bukankah korupsi sesungguhnya, mengambil hak milik sesama anak bangsa untuk memperkaya diri sendiri. Menisbikan kepentingan anak bangsa yang satu guna memenuhi kepentingan diri sendiri. Ibarat satu tubuh, jika bangsa diibaratkan tubuh. Bukankah menyakiti bagian tubuh yang satu akan menjadikan semua bagian tubuh menjadi sakit. Maka, sesungguhynya, melakukan korupsi adalah perilaku yang mengingkari semangat Sumpah Pemuda itu sendiri.
Munculnya, sentiment kedaerahan yang berlebihan, terutama setelah era otonomi daerah tingkat dua. Melahirkan semangat yang bertentangan dengan Ruh Sumpah Pemuda itu sendiri. Bagaimana dalam pemilukada serempak, yang sebentar lagi kita lakukan, sentiment suku dan asal muasal sang kandidat menjadi issue yang diblow up. Jika, dikorelasikan dengan semangat Sumpah Pemuda, maka akan terasa ganjil dan menggelikan. Bagaimana seorang Mohammad Yamin yang berasal dari kota kecil di Sawahlunto mampu menjadi seorang Sekretaris dari event Kongres Sumpah Pemuda yang fenomenal itu. Bagaimana mungkin, buah pikiran anak desa Talawi di Sawahlunto itu menjadi butir-butir isi Sumpah Pemuda.
Demikian juga tentang issue suku dan Ras. Tentang Pribumi dan non Pribumi. Bukankah nama-nama yang hadir sebagai wakil golongan seperti Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, Jhon Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie sudah jelas menandakan dari mana mereka berada, serta golongan apa yang mereka wakili.
Demikian juga dengan issue agama mayoritas dan minoritas. Dalam era reformasi, yang terasa makin mengarah pada kutub yang saling menjauh. Bukankah pemain biola yang mengiringi lagu ciptaannya di pembukaan Kongres Sumpah Pemuda, bernama Wage Rudolf Supratman. Dari namanya, semua kita tahu, agama apa yang Wage Rudolf Supratman anut.
Atau fenomena pelecehan satu suku terhadap suku yang lain. sama sekali menisbikan ruh atau semangat Sumpah Pemuda itu sendiri. Tak ada satu suku lebih hebat dari suku yang lain. Para pendahulu kita sudah membuktikan itu. Ada Rochjani Soe’oed dari Betawi, ada Senduk dari Celebes, ada Johanes Leimena dari Ambon dan masih banyak yang lain. Perbedaan suku dengan keberagaman budaya lokalnya, merupakan satu kesatuan yang mengokohkan bangunan Bangsa Indonesia. Seperti, beda antara pasir, semen dan batu belah yang menjadi beton, hingga mengokohkan sebuah bangunan kontruksi.

Darimana memulai
Sesungguhnya, bangsa ini, sudah mendekat pada tubir kehancuran jika saja, kita tidak segera melakukan tindakan pencegahannya. Bencana kabut asap yang melanda Pulau Sumatera dan Kalimantan, salah satu contoh kehancuran akibat  korupsi dan nafsu tamak penguasa dan pengusaha. Ironisnya, ditengah rasa frustasi, karena lambannya penanganan masalah asap. Ada provinsi yang mengancam untuk memisahkan diri dari NKRI. Salahkah mereka? Tak seluruhnya salah. Yang salah adalah kita semua, tak terkecuali satupun warga anak bangsa.
Solusi dari masalah ini, hanya dua dua. Keteladanan dan rekayasa.
Keteladanan adalah tampilan akhir perilaku diri, dari proses panjang kita mendidik diri sendiri, memberikan asupan pengetahuan pada diri sendiri, untuk selanjutnya berperilaku baik sesuai dengan ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Proses ketat kita belajar bagaimana menjadi warga Negara yang baik, menghargai warga yang lain, sesama anak bangsa, sebagaimana kita menghargai diri sendiri, tidak merugikan orang lain, sebagaimana kita tidak ingin dirugikan orang lain. memajukan bangsa sebatas kemampuan, karena kita ingin bangsa ini maju. 
Dari seluruh proses belajar itu, selayaknya kita tampilkan dan wujudkan dalam perilaku keseharian kita. Sehingga, ketika ada yang ingin melihat bagaimana sosok warga Negara yang baik sesuai dengan cita-cita Sumpah Pemuda itu, mereka dapat melihat dari tampilan sosok kita. Inilah makna dari keteladanan itu.
Sedangkan Rekayasa, adalah bagaimana menebarkan virus positif itu menjadikan gerakan massal yang menyentuh seluruh aktifitas anak bangsa. Idealnya, rekayasa ini dilakukan oleh Pemerintah. Kenapa Pemerintah? Karena rekayasa bersifat massal dan memberdayakan. Sehingga, untuk menggerakkan aktifitas yang sifatnya massal dan memberdayakan dibutuhkan kesertaan orang banyak dan dana yang tidak sedikit.
Meskipun, sebagai individu, kewajiban kita dalam rekayasa tidaklah gugur. Namun, hasilnya tak sebesar jika dilakukan oleh Pemerintah.
Sebagai individu-individu yang telah melakukan keteladanan. Maka, apa yang kita sampaikan dalam rangka rekayasa, lebih bersifat menceritakan yang yang telah kita lakukan, bagaimana cara melakukannya serta mempersilahkan mereka mencopy pastekan yang telah kita lakukan, agar dapat dilakukan oleh mereka yang kita ajak dalam rangka rekayasa indivudu.
Salah satunya cara, yang dapat dilakukan oleh individu-individu itu, ya menulis tentang Sumpah Pemuda ini…. Wallahu A’laam.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar