Selasa, 20 Oktober 2015

Sawarna Yang Beraneka Warna



Pantai Sawarna (dok.Pribadi)

Jika kita mengunjungi Pantai, maka dalam pikiran kita, akan terbayang indahnya Pantai yang landai, pasir yang putih dengan airnya yang jernih. Lalu, kita berlama-lama di Pantai hingga hari sore dengan harapan, akan menikmati sun set dan mengabadikan keindahan itu. Keindahan yang luar biasa. Lalu, keesokan harinya, kita akan bangun pagi-pagi sekali, denngan harapan mampu mengabadikan sun rise.
Lalu, bagaimana, jika saya katakan  bahwa ada Pantai yang tidak lazimnya, seperti gambaran yang ada diatas. Di Pantai itu, ada beberapa lokasi yang bisa untuk mandi, berenang, juga di Pantai itu, ada lokasi untuk selancar, tetapi di Pantai itu pula ada bagian yang terlarang untuk berenang. Di Pantai yang sama juga ada Gua, ada sawah yang berbatasan dengan laut dan ada karang terjal, seakan menjaga laut dari perompak yang akan datang mengganggu mereka yang sedang pesiar di Pantainya. Juga Pantai itu, dikelilingi oleh hutan lindung.
Tentu, pembaca akan mengatakan saya sedang bermimpi dan mengatakan “Mana ada” Pantai yang begitu.
Dalam perjalanan ke Sawarna (dok.Pribadi)
Dengan sepenuh yakin, saya jawab ada Pantai yang demikian. Namaya Sawarna. Lokasinya di Banten Selatan, Kabupaten Lebak, pada perbatasan Jawa Barat dan Banten. Tepatnya, berada di Kecamatan Bayah. Daerah Bayah yang juga menjadi saksi sejarah tentang kekejaman pendudukan Jepang terhadap rakyat Indonesia. Dengan peristiwa yang disebut Rhomusa. Ketika itu, bahan bakar untuk Kereta Api, Kapal Api dan Industri umumnya, hampir semuanya menggunakan Batu Bara. Pemasok Batu Bara untuk Pulau Jawa hanya ada di satu daerah yang bernama Bayah. Untuk mengangkut Batu Bara dengan kapal laut, sangat riskan, karena kapal sekutu berkeliaran di laut Jawa. Satu-satunya alternative teraman mengangkut Batu Bara, yakni dengan menggunakan Kereta Api. Jalur Kereta Api yang tersedia ketika itu, Jakarta – Rangkas Bitung – Saketi dan berakhir di Merak. Maka, dirasa perlu dibuat jalur baru antara Saketi dan Bayah. Jarak antara Saketi dan Bayah sepanjang 93 km.
Lalu, dibuatlah jalur Kereta Api antara Saketi – Bayah dengan cara kerja paksa, atau yang lebih dikenal dengan Rhomusa. Untuk jalur sepanjang 93 km itu, korban yang jatuh, menurut catatan sejarah sebanyak 93 ribu orang. Jika kita, melakukan perjalanan ke Bayah kini, sepanjang jalan antara Malingping dan Bayah, maka kita akan menjumpai sisa-sisa pondasi jembatan Rel KA itu, beberapa gundukan tanah yang masih tersisa dari jalur KA yang dimaksud serta di kota Bayah, kita akan menjumpai Monumet kekejaman Rhomusa itu, berupa Tonggak setinggi 3 meter.

Akses Menuju Sawarna.
Untuk menuju Sawarna, dari Jakarta dapat melalui jalan toll Jakarta–Merak. Lalu, keluar di pintu toll Serang Timur. Dari Kota Serang, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Pandeglang. Dari Pandeglang perjalanan dilanjutkan menuju Saketi. Kondisi jalan antara Jakarta – Saketi, tak ada halangan yang berarti. Karena, jalan cukup mulus, tanpa lubang berarti. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju kota Malingping. Antara Saketi-Malingping yang berjarak 62 km, perjalanan sedikit terkendala, terutama ketika memasuki daerah sekitar Bojong  karena sedang dilakukan  pekerjaan Betonisasi jalan. Jarak tempuh dengan panjang jalan 62 KM itu, biasanya dibutuhkan waktu dua setengah jam.
Hutan Lindung menjelang Sawarna (dok.Pribadi)
Dari Malingping, perjalanan diteruskan ke Kota Bayah dengan jarak 40 KM. selepas 6 KM pertama, kita akan disuguhi dengan pemandangan alam lautan Hindia. Sebabnya, karena jalan berada di tepi Pantai, menyusuri Pantai sepanjang 34 km. Pemandangan yang terhampar cukup mengasyikkan. Beberapa obyek wisata juga terdapat di sekitar jalan yang dilalui. Sebut saja, Pantai Pasir Putih, Pantai Bobos, Pantai Hati dll. Kondisi jalan, juga dibeberapa tempat sedang dilakukan betonisasi. Sehingga perjalanan dengan jarak 40 KM itu, memakan waktu hampir dua jam. Bonus dari perjalanan yang tersendat itu, kita dapat melihat sisa-sisa pondasi Kereta Api Rhomusa dan gundukan-gundukan tanah tempat jalur KA Rhomusa.
Dari kota Bayah, perjalanan dilanjutkan ke Sawarna. Jarak Bayah-Sawarna 12 KM. Dari sinilah, perjalanan wisata yang sesungguhnya di mulai. Baru saja kita meninggalkan kota Bayah, kita segera disuguhi pemandangan berupa Jembatan Panjang. Lalu, di kiri jalan, gunung terjal, sedangkan sebelah kanan, jauh dibawah sana, ada pemandangan laut lepas, lautan Hindia. Lepas sedikit dari situ ada obyek wisata Karang Taraje pada sisi kanan jalan, sedang pada sisi kiri jalan, pada lereng bukit terlihat pabrik semen Merah Putih.
Sisi lain Sawarna (dok.Pribadi)
Hanya berjarak dua km dari karang Taraje, kita akan sampai pada tanah lapang menjelang jembatan Pulo Manuk. Konon ceritanya, disanalah dulu Stasiun Bayah yang dikerjakan dengan system Rhomusa itu berada. Begitu kita menyeberangi Jembatan Pulo Manuk, maka segera saja kita tersuguhi obyek wisata yang lain lain. Obyek ini bernama Obyek wisata Pantai Pulo Manuk. Pada Pantai Pulo Manuk, kita akan disuguhi dengan kawanan monyet yang suka mendekati para wisatawan. Mereka akan senang, jika diberi makanan. Agak menjorok sedikit ke laut, ada pulau batu yang berbentuk Manuk (Burung), oleh karena itulah, obyek ini disebut dengan Pulo Manuk, pada musim-musim tertentu, memang ada kawanan burung yang beristirahat dalam perjalanan dari Australia ke Ujung Kulon. Para Nelayan tahu, jika burung-burung itu, singgah ke Kapal mereka, mereka memiliki taradisi untuk tidak mengganggu kawanan burung yang lelah dalam perjalanan migrasinya ke Ujung Kulon.
Selepas Pulo Manuk, maka kita memasuki obyek wisata sawarna. Prolognya, dimulai dengan Hutan lindung. Di hutan lindung ini, jalan yang tersedia cukup mulus, hanya saja sedikit sempit, tanjakan dan turunan tajam, berada sepanjang jalan. Disarankan pada pengunjung agar mengurangi kecepatan, sekaligus menikmati nikmatnya hutan lindung.
Belum puas dengan hutan lindung, kita segera memasuki daerah Sawarna, dengan gerbangnya di daerah terjal, dibawah sana, ada pemandangan nan sungguh elok, inilah kampung Gendol. Desa Sawarna yang berjarak 180 KM dari Rangkas Bitung.

Obyek Wisata Sawarna.
Memasuki Sawarna, sungguh obyeknya aneka warna.
Pantai Ciantir, dengan ombaknya yang cukup tinggi. Pantai ini, hanya cocok untuk dipandang saja. Untuk mereka yang benar-benar akhli surfing, silahkan coba. Tetapi, untuk pemula, agar menahan diri, masih ada Pantai lain yang cocok untuk itu. Untuk mereka yang suka berenang, ada Pantai legon Pari, ada juga Pantai dengan ombak yang melewati batu, seakan dinding kapal yang dilewati air laut, sedangakan di tengah kapal ada, layar kapal yang sedang terkembang. Pantai ini, dikenal dengan nama Pantai Tanjung Layar. Pantai lain adalah Pantai Karang Bokor dan Pantai Karang Seupang.
Obyek berikutnya adalah Goa. Pesona Goa yang berjajar sekitar Sawarna begitu variatif, dari Goa yang mudah dimasuki hingga Goa yang terlarang untuk dimasuki. Sebut saja Goa lalay, Goa si Kadir, Goa Cimaul, Goa Singalong dan Goa Bukit Pasir Tangkil. Goa- Goa di Sawarna merupakan Goa Karst (batu Gamping) yang terbentuk dari masa Miosen Awal. Memasuki Goa lalay, merupakan pengalaman luar biasa, medannya berlumpur dan licin, sementara stalaktit dan stalagmitnya mempunyai banyak bentuk yang membuat kita kagum, mulai dari bentuk bintang yang menyeramkan hingga berbentuk tokoh pewayangan.
Obyek berikutnya berupa deretan sawah yang berada di tepi Pantai, bahkan beberapa bagian dari sawah, bahkan ada yang  berbatasan langsung dengan laut. Keadaan semakin eksotis dengan deretan Pohon kelapa sepanjang garis Pantai yang variasi sangat banyak, mulai dari pasir putih hingga yang berbatuan.
Penginapan
Untuk penginapan, di sawarna, belum ada hotel berbintang, umumnya wisatawan bermalam di  penginapan kelas Melati atau guest haouse yang tersebar dibanyak lokasi. Harga yang dipatok untuk itu, terbilang murah, dengan harga 150 ribu, kita sudah dapat bermalam plus makan tiga kali.
sisi lain sawarna (dok.Pribadi)
Pada bulan Agustus, ada hal unik yang dapat kita jumpai. Banyak turis-turis yang berbicara dalam bahasa sunda logat daerah Sawarna. Atau disebut dengan bahasa Sunda Pakidulan. Karena umumnya, memang turis manca Negara –umumnya turis dari Australia- mengunjungi Sawarna dalam waktu lama. Agaknya privacy mereka cukup terjaga di sawarna, hingga lama kunjungan mereka dalam hitungan minggu dan bulan.
Keunikan lain lagi, dari Sawarna, oleh-oleh yang dibawa mereka yang mengunjungi Sawarna bukanlah ikan seperti lazimnya. Melainkan gula merah. Demikian juga dengan kuliner yang disantap, harganya sama seperti daerah biasa. Tak ada harga yang dimahalkan karena daerah Sawarna daerah wisata.
Dari keterpencilan daerah, sulitnya mencapai daerah Sawarna, agaknya tak salah jika salah satu TV swasta Nasional, memasukkan Sawarna sebagai satu dari tujuh Hidden Paradise di Indonesia. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar