Sabtu, 03 Oktober 2015

Saluang, Musik Yang Makin Terdesak


Peniup saluang di Rumah Makan Gunung Medan. (dok. Pribadi)

Awal tahun 1990-an musikus Kenny G begitu fenomenal, dengan irama saxophone yang dia mainkan, begitu menyita perhatian khalayak penggemar musik Indonesia. Lagu ”Forever in Love” dengan iringan saxophone Kenny G mendominasi udara indonesia. Bahkan Presiden Amerika ketika itu, Bill Clinton Mendapat Applous luar biasa ketika mampu memainkan saxophone dengan sempurna.
Awal 1992, saya mengerjakan Proyek Kilang Minyak di Indramayu, di sini saya juga mengenal irama  musik yang tidak kalah fenomenalnya, musik yang dikenal dengan Tarling –Gitar Suling- mendominasi udara Indramayu, diperdengarkan hampir setiap rumah, setiap stasiun Radio dan diputar hampir pada setiap hajatan.
Apakah musik dengan alat tiup hanya saxophone dan Suling saja? Apakah Kenny G dan Tarling saja. Ternyata tidak, di Jawa Barat ada Rebab dengan kendang dan suling, dalam Irama Dangdut, gak kebayang jadinya, kalau suling ditiadakan.
Bahkan pada musik tradisionol Minang, yang disebut Saluang, hanya menggunakan alat musik tunggal yang seperti suling, tetapi dengan bentuk lebih besar. Ditiup oleh sang peniup dalam waktu hampir satu jam mengiringi sang penyanyi, tanpa jeda henti sama sekali.
Rumah Makan Gunung Medan (dok. Pribadi)
Kok saya tahu? Ya tahulah, wong musik saluang ini, menjadi musik yang sangat digandrungi oleh ayah saya yang asli Minangkabau. Ketika itu, jika malam hari, disaat Ayah sendiri, beliau sering mendengar musik ini. saya sebagai anak, yang lahir dan besar di rantau, tak sepenuhnya mengerti apa keindahan musik saluang ini. yang saya tahu, irama musik ini, mendayu-dayu dan isi syair yang dinyanyikannya berisi petuah atau kisah-kisah. Hingga tak mengherankan, jika satu lagu menghabiskan waktu yang demikian lama. Ketika saya tanyakan pada Ayah, mengapa tak terdengar jeda yang disebabkan oleh sang peniup saluang menghirup udara untuk bernapas. Ayah menjawab, itulah kehebatan peniup saluang, mereka dapat menghirup udara dan menghembuskannya dalam waktu yang bersamaan, sehingga tak perlu jeda untuk menghirup udara. Ketika itu, saya hanya mengangguk, tanpa mengerti sepenuhnya  jawaban Ayah.
Cerita tentang saluang, agaknya tak akan pernah ada, jika saja saya tak mengunjungi Bukittingi pertengah September 2015 lalu. Dengan pertimbangan, saya memiliki waktu yang cukup lapang, maka saya memilih angkutan Bus. Melelahkan memang. Tapi, saya berharap, akan dapat banyak bahan tulisan dari kesan yang saya peroleh selama perjalan itu. Dan benar, saya dapat apa yang saya perkirakan itu. salah satunya Saluang yang saya tulis ini.
Malam itu, setelah menempuh perjalanan dua hari dua malam, Bus yang kami naiki, memasuki daerah Gunung Medan. Di Daerah Gunung Medan itu, Bus akan berhenti untuk memberikan waktu bagi penumpang untuk makan, sholat, mandi dan sebagainya. Karena, ini adalah tempat istirahat terakhir sebelum akhirnya kami akan tiba di Bukittingi jam lima pagi.
Sesaat setelah turun, saya kaget, di pelataran depan Restoran, ada pengamen saluang yang sedang “in Action”. Tanpa membuang waktu, saya segera mengabadikan peristiwa langka itu. kapan lagi mendapatkan moment langka ini, kalau bukan malam  ini, demikian kata hati saya. Agaknya, perilaku saya yang mengabadikan pemain Saluang itu, mendapat perhatian dari Pak Andy, seorang penumpang yang sedang beristirahat juga dalam perjalanan menuju Jakarta.
AJanjang Ampek Puluah menuju Pasar Atas Bukittinggi (dok. Pribadi)
Kamipun berkenalan, Pak Andy ternyata banyak mengetahui tentang saluang. Menurut beliau, saluang yang saya lihat malam itu, bukanlah saluang yang asli. Melainkan sudah ada inovasi disana. Saluang yang asli hanya terdiri dari peniup saluang dan seorang penyanyi. Tetapi, yang saya lihat radi, sudah ditambah dengan alat “kencreng”. Tapi, masih menurut pak Andy, beruntung saya masih mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan sebagai lagu asli.
Saluang adalah alat musik tradisionil khas Minangkabau, Sumatera Barat. Dimana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis dari jenis bambu talang. Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari jenis bambu Talang untuk jemuran kain atau Talang yang ditemukan hanyut di sungai.
Berbeda dengan Suling, saluang lebih sederhana pembuatannya, cukup melubangi bambu Talang dengan empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm. Talang juga dikenal sangat baik digunakan dalam pembuatan lamang, salah satu makanan tradisionil Minangkabau.
Pada pembuatan saluang kita harus menentukan bagian atas dan bawahnya terlebih dahulu untuk menentukan pembauatan lubang. Bagian atas dari saluang merupakan bagian bawah bambu.
Untuk membuat  4 lubang pada alat musik saluang, menentukan lokasi lubang pertama dimulai dari ukuran 2/3 dari panjang bambu yang diukur dari atas. Kemudian, untuk lubang kedua dan seterusnya berjarak setengah lingkaran bambu. Untuk besar lubang agar menghasilkann suara yang bagus, haruslah bulat dengan garis tengah 0,5 cm. Demikian penuturan pak Andy.
Pemain saluang legendaries bernama Idris Sutan Sati daengan penyanyinya Syamsinar.
Keutamaan para pemain saluang ini, adalah dapat memainkan saluang dengan meniup dan menarik napas secara bersamaan, sehingga peniup saluang dapat memainkan alat musik saluang dari awal hingga akhir lagu tanpa putus. Yang kadang hingga memakan waktu satu jam atau lebih. Istlah pak Andy, pemain saluang seperti Baruak –Beruk- sebuah tamsil, jika Beruk dapat menyimpan makanan di mulutnya, maka pemain saluang dapat menyimpan napas dimulutnya, hingga mampu menghembuskan napas tanpa henti sepanjang lagu dimainkan.
Cara pernapasan ini dikembangkan, dengan cara melakukan latihan terus  menerus. Tekhnik ini dinamakan juga sebagai Tekhnik Menyisiahkan angok  (menyisihkan napas).
Tiap nagari di Minangkabau memiliki ciri tersendiri dalam bersaluang. Seperti Singgalang, Pariaman, Solok, Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauh. Saluang dengan ciri khas Singgalang diangggap cukup sulit dimainkan. Sedangkan ciri khas yang paling sedih bunyinya adalah Ratok Solok dari daerah Solok.
Konon ceritanya, para pemain saluang, memiliki mantera tersendiri yang berguna untuk menghipnotis penontonnya. Mantera itu, dinamakan Pitunang Nabi Dawud.
Isi dari Pitunang Nabi Dawud itu, kira sebagai berikut
Ambo malapehan pitunang Nabi Dawud
Buruang tabang tatagu-tagun
Aia mailia tahanti-hanti
Takajuik bidodari di dalam sarugo mandanga saluang ambo
Kununlah anak manusia…. Dst

Terjemahannya

 Saya melapaskan pelet Nabi Dawud
Burung yang sedang terbang akan terkesima
Air yang mengalir akan terhenti
Terkejut Bidadari di syurga mendengar saluang saya
Apatah lagi anak manusia… dst.

Halahhhh…. Ngomong opo iki?. Tapi, bisa saja itu semacam motivasi supaya makin PD saja. Masih menurut pak Andy, saya disarankan, untuk lebih jelas melacak keberadaan Saluang, agar berkunjung ke “janjang ampek puluah”  Pasar Atas Bukittinggi. Saran beliau saya lakukan. Namun, saya tak menemukan apa yang saya cari itu. Akhirnya, setelah saya tanyakan pada para pedagang di Pasar Ateh, event yang biasa dilakukan di “janjang ampek puluah”  itu sudah lama tiada. Jika pun saya saya berminat untuk menikmati saluang, saya dianjurkan untuk datang ke RRI pada malam selasa.
Pulang dari pencarian event saluang di “janjang ampek puluah” . Saya hanya bergumam, agaknya kesenian tradisionil saluang, hanya tinggal menghitung hari, menunggu saatnya menjadi sesuatu yang langka dan asing bagi generasi penerus masyarakat Minangkabau. 
 
Di Janjang Ampek Puluah ini, sudah tak dapat ditemui mereka yang bermain Saluang (dok.Pribadi)

Catatan:
1. Pitunang dalam bahasa Indonesia berarti Pelet
2. Pasar atas Bukittinggi dengan istilah “janjang Ampek Puluah” hanya sekedar Istilah, karena, sesungguhnya, anak tangganya berjumlah 130 (seratus tiga puluh) anak tangga.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar