Minggu, 18 Oktober 2015

Program Bela Negara, Siapa Bela Siapa


Sebelum menerbangkan Penumpang, Pilot Menerbangkan dirinya sendiri (dok.Pribadi)

Wacana adanya bela Negara membuat heboh masyarakat Indonesia. Emang Negara dalam kondisi bahaya. Sehingga, perlu adanya mobilisasi massa untuk membela Negara yang dalam kondisi terancam itu. Apakah ABRI sebagai pengawal kedaulatan Negara tidak cukup memiliki kekuatan untuk itu?
Karena secara fisik, pengertian Bela Negara, dapat diartikan, sebagai upaya pertahanan dalam menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak luar yang mengancam ekistensi Negara. Lalu, pertanyaannya. Negara mana yang akan berpikir untuk menyerang Indonesia? Negara dengan luas wilayah yang demikian luas. Dengan kekuatan militer yang konon berada pada rangking 12 dunia. Rasanya, pemikiran akan datangnya bahaya serangan secara fisik dari luar, mustahil akan terjadi.   
Jika alasannya, Negara kita kurang kuat. Maka, kekuatan suatu bangsa, ditentukan oleh banyak aspek. Seperti, soal Integritas para Pemimpin, kekuatan ekonomi yang merata, fasilitas publik yang efektif dan efisien serta kemakmuran yang dirasakan oleh masyarakat.
Jadi, sambil menunggu undang-undang sebagai payung hukum dalam pelaksanaan Bela Negara. Sebaiknya, kita mempertanyakan sejauh mana integritas para pemimpin dalam penyelenggaraan Negara ini. Sejauh mana mereka berpihak pada rakyat? Atau keberpihakannya mereka, baru hanya sebatas pada partai dan golongannya. Jika demikian halnya, lebih mendesak pelaksanaan Bela Negara ditujukan bagi para pemimpin dibandingkan untuk rakyat Indonesia.
Sampai mana kesungguhan para pemimpin untuk mewujudkan kekuatan ekonomi, menjadikan ekonomi kita berdaulat untuk menjadi tuan di negri sendiri? Atau hanya menjual asset Negara, dengan dalih demi kemakmuran Bangsa dan Negara. Dalih yang patut untuk dipertanyakan, bagaimana akan menjadikan bangsa ini makmur, jika kedaulatan ekonomi, tak lagi menjadi milik kita, ketika kedaulatan ekonomi kita sudah dikuasai asing, dikarenakan asset Negara sudah dikuasai oleh mereka.
Fasilitas publik yang semestinya menjadikan warga Negara nyaman menggunakannya. Pada kenyatannya,  sudah menjadi beban yang harus dibayar mahal. Karena, seluruh fasilitas tersebut dibangun dengan pinjaman yang membebani rakyat. Bahkan, pada proses pembangunannya, tenaga yang digunakan tidak menggunakan warga anak bangsa. Melainkan, diimport dari Negara pemberi pinjaman.
Idealnya, seluruh aktifitas yang dikerjakan anak bangsa, melahirkan sikap cinta akan bangsa dan Negara. Melahirkan sikap Nasionalisme yang tinggi dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Sikap demikian, hanya dapat dicapai, hanya jika, seluruh aspek kegiatan mencapai kesejahteraan mengikut sertakan seluruh warga anak bangsa. Bukan seperti  yang terjadi seperti sekarang ini. ketika sarana publik dibangun, masyarakat hanya sebagai penonton. Sedangkan para pekerja didatangkan dari Negara pemberi pinjaman.
Lalu, dimana peran serta anak bangsa yang mampu melahirkan sikap cinta tanah air, mampu melahirkan kesadaran berbangsa dan bernegara, mampu melihat dalam realitanya bahwa Panca Sila sebagai ideoligi yang hidup dalam keseharian, yang menjadikan mereka merasakan nikmat dalam hidup ber-Panca Sila?
Jadi, menurut hemat saya. Jika, Bentuk bela Negara yang diartikan sempit, sebagai gerakan yang wujudnya baris berbaris, melahirkan disiplin dan akhirnya menjadikan sikap cinta dan mau berkorban untuk Negara. Maka, idealnya, gerakan itu. Bukan diperuntukan masyarakat grass root. Tetapi, lebih mendesak diperuntukkan bagi para Pemimpin bangsa.  
Dari kegiatan yang diperuntukan bagi pemimpin bangsa itu, maka diharapkan akan melahirkan para pemimpin yang patuh dan taat pada hukum. Bentuk aplikasinya, bisa dengan disiplin kerja yang lebih baik, tidak bersikap sewenang-wenang pada rakyat yang dipimpinnya, menegakkan rasa keadilan pada setiap keputusan kebijakan yang diambilnya, lebih berpihak pada rakyat kecil dalam penciptaan tenaga kerja, bukan malah pada tenaga kerja pemberi bantuan. Puncak dari semuanya, tidak melakukan korupsi dan grafitasi.
Bagaimana dengan kontribusi rakyat dalam Bela Negara? Yakinlah, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang paternalistik. Rakyat akan berbuat sesuai dengan contoh yang dilakukan oleh para pemimpinnya.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar