Rabu, 14 Oktober 2015

Pesan Hijrah Untuk Jokowi

Hari ini, satu Muharram 1437 H. tahun baru Islam. Tahun  baru yang dilekatkan pada peristiwa hijrahnya –berpindahnya- Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Maka, momen penting ini, perlu diberikan pada Jokowi juga, sebagai momen penting bagi Jokowi untuk melakukan hjrah. Dari kerja yang kurang memuaskan menuju hasil yang lebih memuaskan. Menuju pencapaian yang lebih mensejahterakan rakyat.
Hijrah yang berasal kata dari Hijriah. Memiliki  arti berpindah, berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari kondisi yang kurang baik ke kondisi yang lebih baik, dari system yang kurang baik ke system yang lebih baik, kondisi kurang sejahtera, menuju lebih sejahtera. singkat kata, hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok akan lebih baik dari hari ini. Jika kondisinya stagnan, maka tidak terjadi hijrah disana.
Untuk kondisi hari esok, lebih baik dari hari ini, maka Jokowi perlu melakukan hijrah.
Konteknya dapat diterangkan sebagai berikut:
Satu, konteks kejadian.
Kejadiannya, Jokowi kini sudah menjadi orang nomer satu di Republik Indonesia, beliau bukan lagi sebagai Gubernur atau bahkan sebagai wali kota. Apa yang dulu baik untuk dilakukan sebagai Gubernur atau sebagai Walikota, belum tentu baik untuk sebagai Presiden. Sudah saatnya, Jokowi melakukan hijrah dari rangkaian seremonial yang tidak perlu. Seperti, sering-sering blusukan. Sering-sering menghadiri Panen Raya Petani beras. Nilai kepemimpinan Jokowi bukan terletak berapa seringnya menghadiri Panen Raya. Tetapi, bagaimana menghentikan import beras, menjamin tersedianya stok beras local dan memastikan rakyat mampu membeli beras.
Tak perlu sering-sering bicara dengan wartawan, konsentrasikan diri di dalam Istana untuk menyusun rencana kerja Kabinet dengan segala kemampuan daya yang ada pada Mentri –mentri sebagai pembantunya. Tinggalkan pencitraan yang tak perlu, masalah yang dihadapi bangsa ini sudah demikian rumit, jika Jokowi mampu mengurai kerumitan itu, citra diri datang dengan sendirinya.
Terjadinya kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, hendaknya menyadarkan Jokowi. Bahwa, kebijakan yang berpihak pada para pengusaha perkebunan dengan luas lahan yang sangat luas adalah kebijakan yang salah. Pada mereka yang terlibat pembakaran lahan. Hukuman yang pantas untuk itu. sita lahan mereka, bagikan pada masyarakat dengan bentuk Plasma. Rakyat diminta menanam tanaman yang lebih berpotensi mengangkat ekonomi rakyat, seperti Aren, Pala, Lada, Asam gelugur, Pepaya, Durian, Jengkol dan tanaman obat yang semakin langka di Negri ini. sehingga, penghasilan rakyat meningkat dengan signifikan, rakyat menjadi makmur. Pemborosan biaya pemadaman api, karena pembakaran lahan dapat diminimalisir.
Dua, konteks Strategi.
Untuk memajukan dan mensejahhterakan rakyat Indonesia, Jokowi perlu memiliki strategi yang jelas. Tak perlu mengerjakan semua pekerjaan dalam satu waktu. Tentukan prioritas utama yang hendak diraih. Menurut hemat saya, prioritas pertama adalah bagaimana menata ulang semua kontrak kerja Pertambangan, apakah itu Minyak, Gas dan bahan alam lain sehingga tidak menguntungkan hanya pihak asing, melainkan juga menguntungkan Indonesia. Sehingga potensi kebocoran yang terjadi selama ini dapat tertutupi. segala kekayaan yang dibawa keluar dapat dicegah seminimal mungkin, termasuk kekayaan Ikan yang dicuri selama ini oleh pihak asing. Jika saja potensi kebocoran itu bisa tertutupi, maka kesejahteraan sudah di depan mata. Jika Jokowi mampu melakukan hal ini, maka Prestasi yang dibuat Jokowi, merupakan prestasi  luar biasa, hal yang belum pernah dibuat oleh para pendahulunya.
TigaKonteks Bekal.
Jokowi perlu merubah mindseat berpikir. Bahwa, bekal dan modal bangsa ini, berada pada pengusaha, konglomerat dan kota. Tetapi, sesungguhnya ada pada pengusaha kecil, pengrajin kecil dan Desa. Jika saja, penggelontoran dana pada pengusaha dan konglomerat itu dialihkan pada seluruh pengusaha kecil dan pengrajin seluruh Indonesia, lalu Desa di bangun dengan perhatian yang sama seperti ketika para pemimpin membangun kota, maka akan lahir pengusaha-pengusaha kecil di seluruh Indonesia.
Tugas Pemerintah hanya, membangun infrastukture yang baik dan memadai untuk seluruh distribusi hasil yang dihasilkan pengusaha kecil dan menengah ini. Memastikan bahwa biaya distribusi dapat ditekan seminimal mungkin. Akibatnya, semua Desa akan makmur dengan sendirinya. Kemakmuran Desa akan memakmurkan Kecamatan, kemakmuran Kecamatan akan memakmurkan Kabupaten, kemakmuran Kabupaten akan memakmurkan Provinsi, yang pada gilirannya, akan memakmuran Negara. Strategi semacam inilah yang dikenal sebagai strategi Desa mengepung kota.
Akhirnya… Jokowi harus berani menghijrahkan kebijakan dan dirinya . Dengan demikian, kita akan memperoleh sesuatu yang lebih baik, yang ujungnya pada kesejahteraan bagi seluruh anak Bangsa.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar