Kamis, 01 Oktober 2015

Nasi Kapau, Beli Motor di Jepang




Papan Selamat Datang di Nagari Kapau (dok.Pribadi)

Ketika mengunjungi Sumatera Barat tahun 2011, saya sudah wanti-wanti sama adik, bahwa saya akan mengunjungi Kapau. Sang adik heran bercampur ingin tahu, kenapa saya ingin mengunjungi Kapau. Tokh, kalau sekedar ingin makan nasi Kapau, di Pasar Atas Bukittinggi, jumlah warung nasi yang menjual nasi Kapau cukup banyak. Lalu, apa perlunya harus mengunjungi Kapau?.
Untuk menjawab pertanyaan sang adik, saya memberikan tamsil. Jika selama ini saya membeli motor di dealer motor. Maka, sekarang saya ingin membeli motor di Jepang, Negara dimana motor itu di produksi. Demikian juga dengan Kapau, jika selama ini saya makan nasi Kapau di warung nasi Kapau, maka kini, saya ingin makan nasi Kapau di Kampung Kapau langsung. Mumpung kita masih di Bukittinggi.
Singkat cerita, kami sudah berada di Kampung Kapau. Namun, ada yang salah. Kami tiba di Kampung Kapau ketika jam sudah menunjukkan pukul satu siang, serta hari, ketika itu, hari senin. Kampung Kapau terlihat kosong. Ternyata, di Kampung Kapau ada hari Pasaran. Hari dimana, ketika itu, pasar akan ramai. Selain hari itu, pasar sepi, hanya beberapa toko saja yang buka. Hari Pasar untuk Kampung Kapau, hari selasa dan Jum’at.
Kamipun gagal menangkap aroma Kampung Kapau dengan masakan nasi Kapaunya.
Pertengahan bulan September 2015, kembali saya mengunjungi Sumatera Barat, seorang diri, tepatnya ke kota Bukittinggi dan Payakumbuh. Kenangan tentang “gagal” menangkap Kapau tempo hari kembali lagi. Kali ini, saya bertekad untuk tidak sampai gagal lagi. Saya harus bisa menangkap “Kapau” dengan segala perniknya. Utamanya tentang nasi Kapau.
Inilah ceritanya.
Kantor Wali Nagari Kapau (dok.Pribadi)
Pagi itu, setelah meletakkan barang-barang di kamar, saya langsung mandi dan segera keluar kamar. Tujuannya satu, menangkap suasana Kapau. Pada resepsionis saya tanya kemana arah ke Kapau. Sang resepsionis, menyarankan saya untuk menggunakan angkot saja ke Kapau. Resepsionis, menganjurkan saya, menaiki angkot warna kuning menuju terminal Aur Bukittinggi. Perkiraan ongkos untuk sampai terminal Aur sebesar empat ribu rupiah. Lalu, dari terminal Aur, saya di sarankan untuk naik angkot 01 warna merah dengan tujuan Kamang. Kampung Kapau, berada sebelum Kamang.
Saya dengan patuh, mengikuti anjuran resepsionis. Ternyata benar, ongkos ke terminal Aur Bukittinggi sebesar empat ribu rupiah, dan ongkos ke Kampung Kapau dari terminal Aur Bukittinggi sebesar lima ribu rupiah. Dengan biaya Sembilan ribu rupiah, sampailah saya di Kampung Kapau. Sebuah kanagarian yang masuk dalam wilayah kecamatan Tilatang Kamang. Kabupaten Agam. Berjarak hanya 6 KM dari kota Bukittinggi.
Lazimnya setiap Kampung di Sumatera Barat, khususnya kabupaten Agam, memiliki udara sejuk, hamparan sawah yang luas dan kondisi jalan yang relative  mulus. Demikian juga dengan Kampung Kamang. Memiliki sawah luas, konon ceritanya beras hasil sawah kamang ini, akan di bawa ke berbagai daerah sebagai beras yang akan di masak di warung nasi Kapau. Kapau juga memiliki jalan yang mulus dan udara sejuk.
Di pertigaan Kapau, yang memisahkan arah antara kamang dan Pasar Kapau, saya berhenti. Singgah di warung Kapau Ibu Letti untuk sarapan pagi. Saya lihat jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Ibu Letti menganjurkan saya untuk jalan kaki saja menuju pasar Kapau. “sambia cuci mato” begitu alasan  Ibu Letti.
Nasi Kapau Ibu Leti di Simpang Tiga Kapau (dok.Pribadi)
Apa itu nasi Kapau.
Beruntung saya bisa duduk di warung Uni Ana di pasar Kapau. Warung sederhana, layaknya pasar kaget di Pulau Jawa. Jadi, jangan bayangkan warung Kapau seperti restoran atau kaki lima seperti di jalan Kramat samping Bioskop Grand, senen Jakarta. Uni Ana dengan terbuka dan senang hati, menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan setelah saya selesai makan di warungnya.
Menurut Uni Ana, nasi Kapau memang memiliki ciri khas tersendiri, dibanding dengan masakan Minang lain. Perbedaan itu, dapat disebutkan antara lain:
Satu, gulai pada nasi Kapau lebih kental di banding dengan masakan Minang lain. Istilah uni Ana bumbu nasi Kapau lebih berani di banding dengan masakan Minang lain. Itulah sebabnya, harga jual pada nasi Kapau berbeda dengan nasi Padang lainnya. “labiah maha saketek” begitu kata Uni Ana.
Dua, Jika pada masakan Padang lain, gulai hanya satu jenis saja, seperti gulai nangka saja atau gulai panjang saja. Maka pada masakan nasi Kapau, gulai itu di campur jadi satu yang terdiri dari nangka, rebung, kol dan kacang panjang. Khusus untuk kol, maka kol yang terbaik untuk nasi Kapau adalah kol dari padang panjang atau kol dari Kapau sendiri.


Tiga, Jika di Bukittinggi terkenal dengan bebek samba hijua, maka khas warung nasi Kapau adalah Rendang bebek. Rendang bebek ini, di masak hingga kering, sehingga warnanya mendekati hitam. Tapi, warna hitam bukan berarti “gosong” demikian uni Ana. Memang, setelah saya rasakan rendang bebek Kapau, saya merasa tak memiliki cukup kata untuk menggambarkan sensasi rasa yang dihadirkan rendang bebek Kapau.
Penjual Nasi Kapau di Pasar Kapau (dok.Pribadi)
Empat, para pembeli nasi Kapau, umumnya adalah para pembeli fanatik. Artinya, pembeli nasi Kapau, tahu track rekor dimana dia belanja. Siapa ayahnya, kakeknya dan sebagainya. Artinya, penjual nasi Kapau di kampung Kapau adalah usaha yang sudah dilakukan secara turun temurun, sehingga sangat sulit bagi penjual pemula untuk memulai usaha nasi Kapau di kampung Kapau. Mungkin, inilah jawaban dari pertanyaan saya mengapa dari daerah “Kampung” ini, banyak warganya yang membuka nasi Kapau di perantauan. Sebabnya jelas, dagangan mereka akan sepi pembeli, jika membuka nasi Kapau di Kampung sendiri. Kemungkinan untuk maju malah terbuka luas di perantauan.
Tengah kami berbincang-bincang itu, masuklah ibu-ibu yang akan makan di warung Kapau uni Ana, dari cara mereka bertegur sapa, terlihat mereka sudah akrab. Mungkin saja mereka ini pelanggan tetap uni Ana, yang orang tua mereka juga dulu, pelanggan tetap orang tua uni Ana.
Untuk tidak mengganggu acara mereka, saya pun mohon diri.    
Uni Ana sedangmelayani pelanggan (dok.Pribadi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar