Jumat, 02 Oktober 2015

Islam Itu Nyata, Bukan Wacana


Mesjid Pakan Kamih, Agam. (dok.Pribadi)
Malam itu, sebagaimana biasa saya menghabiskan malam dengan duduk di kedai kopi. Lazimnya di kedai kopi, pembicaraan ngelantur ke sana kemari, tak tentu juntrungannya. Teman saya membicarakan tentang Islam dengan segala analisanya. Mengatakan bahwa agama Islam sangat sempurna dan tak ada yang lebih sempurna dari agama Islam. Dengan berbagai dalil yang dikemukakannya. Saya hanya mendengarkan semua paparan yang dikemukakan sang teman, tidak membantah dan tidak meng-iya-kan. Sementara teman saya yang satu lagi, asyik membantahnya. Semua yang dikatakan teman pertama, selalu dicari alasan penolakannya oleh teman ke tiga. Akhirnya, teman pertama, bertanya pada saya. Apa pendapat saya tentang yang dia kemukakan. Demikian juga pendapat saya tentang pendapat teman ketiga itu? untuk mengemukakan pendapat itu, maka tulisan ini saya buat.
Tentang pendapat hebatnya Islam vs tidak hebatnya Islam, sebenarnya, merupakan issue lama. Karena issue ini, pernah menjadi perdebatan seru dikalangan para pakar dan filosof  jauh sebelum masyarakat kita berdebat tentang itu.  dalam sejarahnya, pernah Syaikh Muhammad Abduh, ulama besar dari Mesir. Begitu geram pada dunia Barat yang selalu menganggap Islam kuno dan terbelakang.
Kepada Renan, sang filosof Perancis, Muhammad Abduh menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat. Cinta ilmu, cinta kebersihan, mendukung kemajuan dan lain sebagainya.
Dengan ringan Renan, yang juga pengamat dunia Timur mengatakan :”saya tahu persis, semua kehebatan nilai Islam dalam al-Qur’an. Tetapi, tolong tunjukkan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”. Dan Mohammad Abduh pun terdiam.
Satu abad kemudian, beberapa peneliti dari George Washintong University ingin membuktikan tantangan Renan. Mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam. Seperti, kejujuran –shidiq-, amanah, keadilan, kebersihan, ketepatan waktu, empati, toleransi dan sejumlah ajaran yang berasal dari al-Qur’an serta akhlaq Rasulullah.
Berbekal dengan sederet indikator yang mereka sebut sebagai “Islamicity Index” mereka datang ke lebih dari 2000 negara untuk mengukur seberapa Islami Negara-negara tersebut. Hasilnya sungguh mencengangkan.
Selandia Baru dinobatkan sebagai Negara paling Islami. Indonesia harus puas diurutan 140. Sedangkan Negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam lainnya, bertengger pada urutan ke 100-200.  
Apa yang salah pada hasil survey ini. apakah survey itu, memang sengaja dirancang untuk mendiskreditkan Islam. Sehingga dari hasil survey itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa  teori tentang Islam sebagai nilai terbaik itu, hanya sebuah utopia, sebuah khayalan dari pemeluknya. Tokh, kenyataan yang ada, jauh berbeda dengan kenyataan yang ada.
Berpendapat demikian boleh-boleh saja, karena indikator  dalam sebuah survey banyak, mulai dari siapa audience yang di survey, tingkat pendidikan audience, bagaimana kondisi ekonomi audience dan masih banyak lain. Namun, satu hal yang umat Islam lupakan, ada kesalahan membaca dari mereka tentang Islam itu sendiri. Umat Islam, sulit membedakan antara indikasi dengan definisi. Bagaimana mungkin itu terjadi? Jawabnya, mari kita lihat apa yang tertulis dibawah ini.
Sebuah hadist yang berbunyi :”seorang Muslim adalah orang yang di sekitarnya, selamat dari tangan dan lisannya”.  Bukankah jelas, ayat itu, menunjukkan Indikasi bagi seorang Muslim.
Hadist lain, :”keutamaan Islam seseorang, adalah yang meninggalkan yang tidak bermanfaat”. Jelas ini, memperlihatkan indikasi. Bukan definisi.
Hadist lain, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati tetangga, hormati tamu” Jelas ini, memperlihatkan indikasi. Bukan definisi.
Hadist yang lain, :“Bicara yang baik atau diam”. Sekali lagi, ini menunjukkan indikasi.
Jika saja, kita mau membaca lebih banyak lagi hadis dan ayat al-Qur’an, maka akan kita temui ratusan hadist dan ayat yang menunjukkan indikasi tentang ke-Islam-an sesorang.
Indikasi-indikasi ini, tidak menunjukkan orang tersebut harus beragama Islam. Tetapi nilai-nilai Islam. Indikasi ini, dapat dilaksanakan oleh tiap individu, Islam atau non Islam. Oleh sekumpulan orang atau komunitas dan pada akhirnya dalam sebuah daerah atau Negara. Maka Negara yang melaksanakan semua nilai-nilai yang berindikasikan Islam itu, akan merasakan terpenuhinya janji Islam.
Dengan indikator-indikator diatas, maka tak heran ketika Muhammad Abduh melawat ke Perancis, dia berkomentar. ;”Saya tak melihat Muslim di sini. Tetapi, merasakan Islam. Tetapi sebaliknya, di Mesir saya begitu banyak melihat Muslim, tetapi hampir tak melihat Islam”.
Ucapan Muhammad Abduh ini, begitu terkenal dan banyak disebut dalam ceramah-ceramah di surau dan Mesjid. Namun, karena tidak diuraikan lengkap dengan proses terjadinya ucapan itu, akhirnya, sering terjadi “miss” pada jamaahnya.
Lalu, dari semua uraian diatas, apakah kita bisa menafikan keberadaan seorang Muslim? Saya tidak mengatakan hal demikian. Karena jelas disebutkan dalam surak al-Mukminun, syarat untuk mendapat syurga Firdaus itu ada tujuh, antara lain, Muslim, melaksanakan sholat, meninggalkan pekerjaan sia-sia dan melaksanakan zakat….. dst.
Inilah yang saya maksud, ketika malam itu, saya dipaksa untuk memberikan pendapat oleh dua teman saya tentang hal yang mereka perdebatkan, saya hanya mengatakan, jangan tinggalkan sholat lima waktu, apapun itu kondisinya. Lalu, jadikan dirimu bermanfaat untuk orang sekitarmu, dari mulai tetangga hingga se Negara. Islam itu nyata bro, bukan sekedar wacana. Kewajiban ente berdua, merealisasikannya dalam kehidupan nyata… Wallahu A’laam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar