Senin, 19 Oktober 2015

Brigjen Polisi Kaharoedin Anomali Celoteh GusDur


Brigjend Polisi  Kaharoedin (sumber gambar Merdeka.Com)

Belum lama ini, dalam perjalanan jalur selatan, saya melewati Patung Polisi yang berada di sisi jalan. Teman seperjalanan saya dengan berkelakar mengatakan “Itulah prototype seorang Polisi jahat. Saking jahatnya, hingga dikutuk masyarakat menjadi batu”. Ketika itu, saya hanya tertawa. Tidak berusaha untuk memberi komentar. Karena, saya ketika itu ingat Gus Dur.
Bukankah celoteh Gus Dur, “Di Indonesia ini, hanya ada tiga Polisi jujur. Yakni, Polisi tidur, patung Polisi dan Hoegeng”. Lalu, bagaimana dengan patung Polisi yang saya jumpai di tepi jalan itu? Apakah dia sosok Polisi yang sangat jahat hingga dikutuk jati batu, atau Polisi jujur versi Gus Dur.
Ternyata, berbicara tentang Polisi tidak sesederhana seperti celoteh Gus Dur.
Masih banyak Polisi lain dengan kejujuran yang perlu diteladani. Sebut saja misalnya Soekanto, Mohammad Jasin, Anwar Maksum, Hoegeng dan Kaharoedin.
Soekanto sudah tak asing lagi untuk kita. Bahkan namanya diabadikan menjadi RS Polri di Kramat Jati. Demikian juga dengan Mohammad Jasin, Anwar Maksum. Untuk Hoegeng bahkan seorang Gus Dur menjadikannya ikon dalam celotehannya tentang seorang Polisi yang jujur. Lalu, siapa Kaharoedin?
Brigjend Kaharoedin, dikenal sebagai Polisi yang tidak suka memakai fasilitas yang diberikan padanya, apalagi menerima pemberian.
Ceritanya, ketika tahun 1967. Setelah pensiun, Kaharoedin didatangi oleh Brigjen Polisi Amir Machmud. Brigjend Amir Machmud adalah keluarga sekaligus sahabat Kaharoedin. Hubungan mereka sangat dekat, sejak awal Kemerdekaan. Amir yang merupakan junior Kaharoedin menjadi jendral polisi yang paling bersinar pada saat itu.
Brigjend Amir Machmud ditugasi Kapolri Jendral Sutjipto untuk menjemput Brigjend Kaharoedin ke Jakarta. Selanjutnya Kaharoedin akan naik haji diongkosi Kapolri. Mungkin Kapolri saat itu sengaja menyuruh Amir Machmud yang menjemput. Karena, tahu kedekatan diantara mereka. Amir diharapkan mampu membujuk Kaharoedin yang terkenal keras menolak semua gratifikasi, termasuk dari atasannya sendiri.
Maka, tanggal 16 Agustus 1967, Amir datang ke kediaman Kaharoedin di Jl. Tan Malaka no.8. Kota Padang. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Namun, kaharoedin menolak pemberian Kapolri untuk naik haji.
“Malu kalau naik haji diuruskan Kapolri” kata Kaharoedin, seperti dikutip dalam buku Brigadir Jendral Polisi Kaharoedin Datuk Rangkayo Basa, Gubernur di Tengah Pergolakan. Terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1998.
Lalu siapakah sebenarnya Brigjend Kaharoedin itu?
Menurut Wikipedia Indonesia. Brigjend Kaharoedin memiliki nama lengkap sebagai Kaharoedin Datuk Rangkayo Basa. Lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat 17 Januari 1906 – Meninggal di Padang, pada 1 April 1981. Pada usia 75 tahun.
Beliau seorang anggota Polisi Republik Indonesia dengan pangkat terakhir Komisari Besar Polisi. (Kepala Kepolisian Sumatera Tengah). Kemudian menjadi Gubernur Sumatera Barat pertama.
Kaharoedin Datuk Rangkayo Basa menyelesaikan pendidikannya di Opleidings School Voor Inslandsche Ambtenaren (OSVIA – Sekolah Pangreh Praja) di Fort de Kock (Bukittinggi). Istrinya bernama Mariah. Yang dinikahinya pada tahun 1926, merupakan tamatan  Hollandsch Inlandsche School (HIS - SD 7 tahun) di Sigli Aceh.
Kaharoedin Datuk Rangkayo Basa, dalam perjalanan kariernya pernah menduduki jabatan mulai dari asisten Demang, Asisten wedana Polisi, Kepala Polisi Padang Luar Kota, Kepala Polisi Keresidenan Riau, Kepala Polisi Kota Padang, Kepala Polisi Provinsi Sumatera Tengah dan Gubernur Sumatera Barat.
Kisah lain yang menunjukkan sikap lurus Kaharoedin, sebagaimana yang ditulis oleh Aswil Nasir, cucu beliau. Dikatakan bahwa Kaharoedin pernah menolak untuk memberikan katebelece pada puteranya, ketika putranya hendak memasuki Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian di Jakarta.
Kaharoedin juga tak pernah mengundang pengusaha-pengusaha tertentu untuk datang ke Perkawinan putranya. Kaharoedin khawatir para pengusaha itu akan membanjirinya hadiah-hadiah besar, sebagai cara untuk memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah daerah.
“Mungkin karena alasan-alasan di atas, konon ketika Awaloeddin Djamin menjabat Kapolri, beliau merekomendasikan buku biografi tentang Kaharoeddin sebagai salah satu bacaan wajib bagi perwira polisi,” tulis Aswil.
Masih banyak kisah lain yang patut dijadikan contoh, bagaimana Kaharoedin menjaga integritas sebagai Polisi yang bersih. Demikian juga ketika beliau menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat pertama.
Ketika saya menuliskan kisah ini, saya teringat seorang sohib saya, seorang Purnawirawan Polisi yang juga saya kenal dengan kebersihan dan aktivitas social beliau. Beliau yang juga sebagai kompasianer itu bernama Thamrin Dahlan. Di tengah lumpur kekacau-balauan negri ini, masih ada mutiara-mutiara yang tetap bersinar. Semoga ini, mengispirasi kita semua. Bahwa harapan itu masih ada. Jayanya negri ini, bukanlah sebuah keniscayaan…. InsyaAllah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar