Selasa, 20 Oktober 2015

Sawarna Yang Beraneka Warna



Pantai Sawarna (dok.Pribadi)

Jika kita mengunjungi Pantai, maka dalam pikiran kita, akan terbayang indahnya Pantai yang landai, pasir yang putih dengan airnya yang jernih. Lalu, kita berlama-lama di Pantai hingga hari sore dengan harapan, akan menikmati sun set dan mengabadikan keindahan itu. Keindahan yang luar biasa. Lalu, keesokan harinya, kita akan bangun pagi-pagi sekali, denngan harapan mampu mengabadikan sun rise.
Lalu, bagaimana, jika saya katakan  bahwa ada Pantai yang tidak lazimnya, seperti gambaran yang ada diatas. Di Pantai itu, ada beberapa lokasi yang bisa untuk mandi, berenang, juga di Pantai itu, ada lokasi untuk selancar, tetapi di Pantai itu pula ada bagian yang terlarang untuk berenang. Di Pantai yang sama juga ada Gua, ada sawah yang berbatasan dengan laut dan ada karang terjal, seakan menjaga laut dari perompak yang akan datang mengganggu mereka yang sedang pesiar di Pantainya. Juga Pantai itu, dikelilingi oleh hutan lindung.

Senin, 19 Oktober 2015

Brigjen Polisi Kaharoedin Anomali Celoteh GusDur


Brigjend Polisi  Kaharoedin (sumber gambar Merdeka.Com)

Belum lama ini, dalam perjalanan jalur selatan, saya melewati Patung Polisi yang berada di sisi jalan. Teman seperjalanan saya dengan berkelakar mengatakan “Itulah prototype seorang Polisi jahat. Saking jahatnya, hingga dikutuk masyarakat menjadi batu”. Ketika itu, saya hanya tertawa. Tidak berusaha untuk memberi komentar. Karena, saya ketika itu ingat Gus Dur.
Bukankah celoteh Gus Dur, “Di Indonesia ini, hanya ada tiga Polisi jujur. Yakni, Polisi tidur, patung Polisi dan Hoegeng”. Lalu, bagaimana dengan patung Polisi yang saya jumpai di tepi jalan itu? Apakah dia sosok Polisi yang sangat jahat hingga dikutuk jati batu, atau Polisi jujur versi Gus Dur.
Ternyata, berbicara tentang Polisi tidak sesederhana seperti celoteh Gus Dur.
Masih banyak Polisi lain dengan kejujuran yang perlu diteladani. Sebut saja misalnya Soekanto, Mohammad Jasin, Anwar Maksum, Hoegeng dan Kaharoedin.

Minggu, 18 Oktober 2015

Program Bela Negara, Siapa Bela Siapa


Sebelum menerbangkan Penumpang, Pilot Menerbangkan dirinya sendiri (dok.Pribadi)

Wacana adanya bela Negara membuat heboh masyarakat Indonesia. Emang Negara dalam kondisi bahaya. Sehingga, perlu adanya mobilisasi massa untuk membela Negara yang dalam kondisi terancam itu. Apakah ABRI sebagai pengawal kedaulatan Negara tidak cukup memiliki kekuatan untuk itu?
Karena secara fisik, pengertian Bela Negara, dapat diartikan, sebagai upaya pertahanan dalam menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak luar yang mengancam ekistensi Negara. Lalu, pertanyaannya. Negara mana yang akan berpikir untuk menyerang Indonesia? Negara dengan luas wilayah yang demikian luas. Dengan kekuatan militer yang konon berada pada rangking 12 dunia. Rasanya, pemikiran akan datangnya bahaya serangan secara fisik dari luar, mustahil akan terjadi.   

Sabtu, 17 Oktober 2015

Maafkan Atau Hancur



Tiba-tiba saja, Melati, sebut saja begitu, mengajak saya mampir ke rumahnya, setelah acara halal bi halal keluarga besar itu selesai. Sebagai Abang yang dituakan, saya tentu menyanggupi. Permintaan Melati yang begitu mendesak, tentu ada yang hal yang urgen. Soalnya, ketika saya suruh ceritakan saja di acara halal bi halal itu, Melati menjawab, tak ingin merusak suasana acara. Jika  nanti, tanpa bisa ditahan, bisa-bisa menangis.
Di rumahnya, Melati bercerita, bahwa dia sedang mengajukan proses perceraian pada sang Suami. Saya diminta saran, apa saja yang harus dilakukannya setelah itu? sebisa mungkin bisa menemaninya dalam proses perceraiannya.

Rabu, 14 Oktober 2015

Hadiah Hijrah Untuk Mande


Rumah Sutan Batuah  (dok.Pribadi)

Kuhirup udara segar khas Agam, sekuat yang mampu aku lakukan, bau udara segar ini, selalu khas terasa. sebentar lagi, kurang dari setengah jam, aku akan menginjakkan kakiku di kampung. Untuk mereka yang sama-sama berasal dari daerahku, keputusan yang aku ambil kini, terasa aneh. Semua yang yang mereka impikan, bagiku bukan mimpi, jabatan dan status sosial itu, hanya selangkah lagi akan dalam genggaman. Tetapi semua aku lepaskan. Aku lebih memilih Mande. Memilih untuk kembali ke kampung. Memilih melupakan semua impian mudaku, untuk selanjutnya menemani Mande menghabiskan sisa hari-harinya di dunia.
“Coba kamu pikir lagi Man, kurang cantik apa Ida yang tergila-gila sama kamu” kata Afrizon, teman se daerahku. “IPnya hanya selisih nol koma dibanding kamu. Kamu nomer satu, sedang Ida nomer dua. Pasangan yang pas”  tambah Afrizon lagi.
“Bener juga sih” jawabku singkat, tak ingin berdebat dengan Afrizon. Sayangnya Afrizon gak tahu, bagaimana cantik-cantiknya gadis di desaku, dilereng Danau Maninjau sana.

Pesan Hijrah Untuk Jokowi

Hari ini, satu Muharram 1437 H. tahun baru Islam. Tahun  baru yang dilekatkan pada peristiwa hijrahnya –berpindahnya- Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Maka, momen penting ini, perlu diberikan pada Jokowi juga, sebagai momen penting bagi Jokowi untuk melakukan hjrah. Dari kerja yang kurang memuaskan menuju hasil yang lebih memuaskan. Menuju pencapaian yang lebih mensejahterakan rakyat.
Hijrah yang berasal kata dari Hijriah. Memiliki  arti berpindah, berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari kondisi yang kurang baik ke kondisi yang lebih baik, dari system yang kurang baik ke system yang lebih baik, kondisi kurang sejahtera, menuju lebih sejahtera. singkat kata, hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok akan lebih baik dari hari ini. Jika kondisinya stagnan, maka tidak terjadi hijrah disana.
Untuk kondisi hari esok, lebih baik dari hari ini, maka Jokowi perlu melakukan hijrah.
Konteknya dapat diterangkan sebagai berikut:

Senin, 12 Oktober 2015

Sumpah Pemuda, Sumpah Bangsa Indonesia


Pemuda Indonesia

Ketika saya menginjakkan kaki di Papua pertengahan tahuan 1984’an, seorang teman berseloroh, bahwa di Papua, ada Sapi main bola. Saya tertegun sejenak. Apa maksudnya? Benarkah ada Sapi di Papua yang dapat bermain bola. Belum sempat saya bertanya lebih lanjut, sang teman segera menjelaskannya. Begini bu, (bu dalam bahasa sehari-hari Papua, artinya Abang). Jika bu, bertanya pada seseorang “Kopi mana?” (berasal dari Kou mau pergi kemana). Maka, seseorang yang bu tanyakan tadi, akan menjawab; Sapi main bola (saya mau pergi main bola). Demikian, sang teman menjelaskan.
Saya, tertawa mendengar penjelasan sang teman, teman saya juga tertawa, di akhir tawanya ditambah dengan kalimat hahay… Belakangan saya tahu, tawa yang diakhiri dengan hahay adalah tawa ngakak.
Hari-hari berikutnya, saya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, masih di Papua. Satu hal yang membuat saya kagum. Seluruh masyarakat yang saya jumpai mampu berbicara dalam bahasa Indonesia. Meski, terkadang, bahasa yang mereka gunakan bahasa Indonesia yang terpengaruh dengan dialog lokal. Seperti sapi main bola yang saya tulis di awal tulisan.  Bandingkan dengan kondisi di Pulau Jawa. Jika kita masuk kedaerah pedalaman, sering kita jumpai mereka yang tak mampu berbahasa Indonesia. Fenomen yang lazim terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Bagaimana bisa Papua yang jauh di Timur Indonesia, masyarakatnya mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Mungkin salah satu faktor jawabannya. Inilah, hasil yang patut disyukuri dengan adanya Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober 1928.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Saluang, Musik Yang Makin Terdesak


Peniup saluang di Rumah Makan Gunung Medan. (dok. Pribadi)

Awal tahun 1990-an musikus Kenny G begitu fenomenal, dengan irama saxophone yang dia mainkan, begitu menyita perhatian khalayak penggemar musik Indonesia. Lagu ”Forever in Love” dengan iringan saxophone Kenny G mendominasi udara indonesia. Bahkan Presiden Amerika ketika itu, Bill Clinton Mendapat Applous luar biasa ketika mampu memainkan saxophone dengan sempurna.
Awal 1992, saya mengerjakan Proyek Kilang Minyak di Indramayu, di sini saya juga mengenal irama  musik yang tidak kalah fenomenalnya, musik yang dikenal dengan Tarling –Gitar Suling- mendominasi udara Indramayu, diperdengarkan hampir setiap rumah, setiap stasiun Radio dan diputar hampir pada setiap hajatan.
Apakah musik dengan alat tiup hanya saxophone dan Suling saja? Apakah Kenny G dan Tarling saja. Ternyata tidak, di Jawa Barat ada Rebab dengan kendang dan suling, dalam Irama Dangdut, gak kebayang jadinya, kalau suling ditiadakan.

Jumat, 02 Oktober 2015

Islam Itu Nyata, Bukan Wacana


Mesjid Pakan Kamih, Agam. (dok.Pribadi)
Malam itu, sebagaimana biasa saya menghabiskan malam dengan duduk di kedai kopi. Lazimnya di kedai kopi, pembicaraan ngelantur ke sana kemari, tak tentu juntrungannya. Teman saya membicarakan tentang Islam dengan segala analisanya. Mengatakan bahwa agama Islam sangat sempurna dan tak ada yang lebih sempurna dari agama Islam. Dengan berbagai dalil yang dikemukakannya. Saya hanya mendengarkan semua paparan yang dikemukakan sang teman, tidak membantah dan tidak meng-iya-kan. Sementara teman saya yang satu lagi, asyik membantahnya. Semua yang dikatakan teman pertama, selalu dicari alasan penolakannya oleh teman ke tiga. Akhirnya, teman pertama, bertanya pada saya. Apa pendapat saya tentang yang dia kemukakan. Demikian juga pendapat saya tentang pendapat teman ketiga itu? untuk mengemukakan pendapat itu, maka tulisan ini saya buat.

Kamis, 01 Oktober 2015

Nasi Kapau, Beli Motor di Jepang




Papan Selamat Datang di Nagari Kapau (dok.Pribadi)

Ketika mengunjungi Sumatera Barat tahun 2011, saya sudah wanti-wanti sama adik, bahwa saya akan mengunjungi Kapau. Sang adik heran bercampur ingin tahu, kenapa saya ingin mengunjungi Kapau. Tokh, kalau sekedar ingin makan nasi Kapau, di Pasar Atas Bukittinggi, jumlah warung nasi yang menjual nasi Kapau cukup banyak. Lalu, apa perlunya harus mengunjungi Kapau?.
Untuk menjawab pertanyaan sang adik, saya memberikan tamsil. Jika selama ini saya membeli motor di dealer motor. Maka, sekarang saya ingin membeli motor di Jepang, Negara dimana motor itu di produksi. Demikian juga dengan Kapau, jika selama ini saya makan nasi Kapau di warung nasi Kapau, maka kini, saya ingin makan nasi Kapau di Kampung Kapau langsung. Mumpung kita masih di Bukittinggi.