Selasa, 15 September 2015

Yang Tersisa Pada Ramadhan di Pesantren



Ada masa ketika, kita merasakan sesuatu yang kurang nyaman, lalu dirasa berat, padahal sesungguhnya, kejadian-kejadian itu, kelak menjadi sesuatu yang begitu berarti, tak tergantikan dan tak mungkin terulang kembali. Sebabnya, mungkin saja karena kita sudah berada jauh dari lokasi yang dimaksudkan, atau memang zaman sudah berubah, hingga kita tak mungkin untuk mengembalikan jarum waktu pada ketika yang kita inginkan.
Berikut ini, hanya sepenggal kisah hidup ketika, saya menghabiskan masa-masa muda, sebagai seorang dengan idealis tinggi, ikut mencerdaskan anak bangsa jauh di sudut terjauh dari pulau Sumatera. Kejadian  yang terjadi pada saat Ramadhan, jauh dari sanak saudara, sementara santri yang akrab dengan kehidupan keseharian kita, sedang berlibur di kampong mereka masing-masing.
Sebagaimana biasa, ketika bulan Sa’ban tiba, kami warga Pesantren gembira, sibuk dengan berjibun kegiatan sekaligus sedih, gembira karena dipenghujung bulan ini, akan datang Ramadhan, bulan yang menjanjikan berbagai bonus pahala yang melimpah  dengan puncak bonusnya itqum minannar (terbebas dari api neraka), yang menurut logika agama, ketika seorang hamba terbebas dari api Neraka, maka tiada tempat lain yang akan dikunjunginya
kecuali Syurga. Suatu tempat yang belum pernah hidung menciumnya, mata melihatnya, telinga mendengarnya, bahkan khayal manusia sekalipun, tak mampu menjangkaunya. Sibuk karena kami harus kerja ekstra keras, mengadakan ulangan-ulangan untuk santri sekaligus menilai dan mengisi raport mereka, yang kelak ketika mereka pulang ke rumah orang tuanya, akan mereka perlihatkan pada orang tuanya sebagai sebuah laporan perjalanan akademik mereka selama setahun di Pesantren. Sedih karena ketika Ramadhan tiba, Pesantren ini akan sepi, para santri akan pulang ke rumah orang tuanya masing-masing, para ustadz dan ustadzah yang dekat Pesantren ini, atau yang masih lajang, tentu  akan meninggalkan Pesantren ini pula, selama Ramadhan, sedangkan kami yang telah berkeluarga dan kampung halamannya nun jauh di sana, akan tetap tinggal di Pesantren, ada kurang lebih 6 keluarga yang akan tetap tinggal di Pesantren.
Kenapa tidak pulang kampung? Imagine……berapa penghasilan seorang ustadz pada sebuah pesantren, sehingga bisa pulang kampung tiap Ramadhan. Kini kami, sebanyak enam keluarga ini terjebak dalam ruang lengang, karena saat normalnya, pesantren ini dihuni oleh sekitar 3000 santri, anda dapat bayangkan………
Mulailah hari-hari sunyi kami lalui, kemanapun kami pergi di komplek pesantren ini, seakan memasuki dunia lain yang sunyi, bagai negri yang ditingal penghuninya karena sesuatu bencana atau perang, ada rasa asing dihati, terasa ada bagian dari keluarga besar ini yang tidak lengkap, meskipun setiap bagian dari Pesantren ini, merupakan bagian yang akrab bagi kami, tetapi kini terasa asing.
Begitulah yang kami rasa pada awal-awal Ramadhan saja, lalu, perlahan-lahan kami mulai akrab dengan kesunyian yang mencekam itu, banyak hal-hal positif lain yang juga bisa kami ambil hikmah dari situasi lengang ini, sebagai manusia, tentu kami banyak memiliki kekurangan, dengan suasana lengang ini kami menjadi akrab satu sama lain, kekeluargaan yang terjalin semakin terasa mengakrabkan kami, kami saling memberi dan menerima, mengajarkan kelebihan yang satu pada yang lain, demikian juga sebaliknya.
Sharing ilmu ini ternyata sangat efektif, karena hal ini mustahil dapat dilakukan ketika Pesantren ini dipenuhi santri, kelompok tadarusan kami terasa lebih khusuq karena hanya diikuti oleh enam keluarga, sehingga kesempatan giliran untuk membaca lebih sering, itu artinya makin sering bacaan kita dikoreksi oleh teman-teman ketika salah baca, kami dapat melakukan sholat Taraweh lebih khusuq dan santai, Khusuq disini maksudnya, kami dapat membaca ayat-ayat panjang yang kami sukai, santai karena kami dapat lakukan dengan tu’maninah, tertib dan perlahan-lahan, tidak terburu-buru mengingat jamaah kami memiliki usia yang hampir sama dan pola pikir yang tidak jauh berbeda.
Refleksi diri dan perenungan diri pada suasana lengang yang terjadi di Pesantren selama Ramadhan, sungguh merupakan hal yang sangat tak ternilai harganya, dan tak mungkin akan terulang lagi, hal ini baru saya sadari, ketika kini, saya tidak berada di Pesantren lagi, meskipun hiruk pikuk Ramadhan merasuk kesemua sisi kehidupan, tetapi kesan yang ditimbulkan pada suasana hati, tak seindah hari-hari sepi yang terjadi pada bulan Ramadhan di Pesantren dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar