Senin, 14 September 2015

Stasiun Binjai



Tampak Depan Stasiun Binjai (dok.Pribadi)

Binjai itu, seperti Bekasi untuk Jakarta. Kota yang mendukung Kegiatan kota Medan. Meski, bagi saya, Binjai memiliki arti dan kenangan sendiri. Banayak hal yang menyertainya, banyak kenangan yang berkaitan dengan Binjai.
Bagi mereka yang mengenal Bandung tahun 70-an, di sudut Jalan Braga Bandung, ada seorang pengamen buta yang memainkan alat musiknya, berupa Kecapi. Berbeda dengan pemain alat musik Kecapi lain, pemain musik dengan alat musik Kecapi ini, tidak memainkan lagu-lagu sunda. Melainkan, memainkan alat musiknya dengan lagu-lagu manca Negara yang sedang in ketika itu. sebut saja, judul lagu “love Hurt” oleh Nazaret, lagu “Delilah” oleh Tom Jones dan lagu Rolling Stones  seperti Paint It Black, Gimme Shelter, Sympathy for the Devil, Satisfaction, You Can’t Always Get What You Want, oleh Mick Jagger.
Wajar saja, jika warga Bandung umumnya, mengenal pengamen buta ini, dengan nama “Braga Stone”. Sedang saya pribadi, mengenal nama aslinya. Slamet dari Binjai.
Saat itu, saya tidak tahu persis dimana Binjai? Yang saya tahu, Binjai di Sumatera Utara, dekat dengan kota Medan.
Awal tahun 80-an, ketika saya kuliah di fakultas Tekhnik Sipil, pada sebuah Universitas swasta, saya aktif di organisasi kemahasiswaan bernama HMI. Ketika  itu kepala rayon HMI tempat saya aktif bernama Ka’ban. Kelak, nama ini menjadi seorang Mentri Kehutanan. Tahukah sahabat, Ka’ban yang kini berdomisili di Bogor itu, adalah putra Binjai.
Pertengahan tahun 80-an, saya mengenal Binjai lebih dekat lagi, secara fisik saya mengunjungi kota ini, bertemu dengan mereka yang terlibat dengan film “Buaya Deli”. Dimana lokasi Shooting film tersebut, di areal perkebunan Tembakau Deli. Hingga akhirnya, saya kenal dan akrab dengan putra Deli, keturunan Belanda yang bermukim di daerah itu, bernama Edy. Karena wajahnya masih menyisakan “Bule”, Edy ini lebih dikenal sebagai Edy Yesus.
Waktu terus berlalu, tiga dasa warsa kemudian, saya kembali mengunjungi kota Medan. Mana mungkin saya akan melupakan Binjai. Pada kesempatan pertama, setelah ada waktu luang, saya kembali ke Binjai. Meski, Binjai yang saya kunjungi, sudah sangat berbeda dengan Binjai yang ada dalam ingatan saya ketika itu.
Tulisan ini, saya persempit ruangnya hanya sekitar perjalanan ke kota Binjai dari Kota Medan. Tepatnya, pada jarak antara Stasiun Medan dan Stasiun Binjai dengan segala pernik-pernik yang menyertainya.
Pagi itu, setelah  membeli karci Kereta Api menuju Binjai,di Stasiun besar Medan, tak lama kemudian, sayapun telah berada di atas KA menuju Binjai. Harga karcis KA yang saya bayar untuk perjalanan ke Binjai, sebesar sepuluh ribu. Harga yang sangat wajar, hamper sama dengan dengan ongkos angkot jika kita menggunakan moda angkotan kota. Tetapi, kelebihannya, waktu tempuh lebih cepat dan terhindar dari perasaan stress. Maklum, angkot kota Medan, berjalan dengan cara yang luar biasa, mensyaratkan pacuan adrenalin yang cukup kencang dan menantang. Ingat, adagiumnya “ini Medang, bung!!!”
Hanya butuh waktu 35 menit kemudian, saya telah berada di Stasiun Binjai. Setelah melewati Stasiun-Stasiun  kecil, Stasiun Sikambing, Stasiun Sunggal, Stasiun Sungai Semayang dan Stasiun Diski
Tampilannya masih sama, seperti ketika dibangun dulu (dok.Pribadi)
Perjalanan sepanjang Medan – Binjai, banyak hal yang telah berubah, beberapa Pabrik yang dulu berdiri dengan megah, kini hanya tinggal puing-puing, beberapa sawah yang dulu begitu luas, kini berganti dengan perumahan. Beberapa Batching Plant, nampak merana serta menyisakan puing-puing, mungkin kalah bersaing, sehingga harus tutup. Namun, begitulah kehidupan, tak ada yang abadi, yang abadi itu, ternyata, perubahan itu sendiri.
Kondisi fisik, Stasiun Binjai tak mengalami banyak perubahan, malah, secara kasat mata, dapat dikatakan sama seperti ketika saya terakhir mengunjungi Stasiun ini. Konon ceritanya, Stasiun Binjai, masih mempertahankan gaya bangunan colonial sejak masa pembangunannya dulu, hingga kini. Sebuah nilai lebih, hingga bagi mereka yang gemar destinasi arsitektur zaman jadul nan mengandung nilai sejarah. Stasiun Binjai, dapat menjadi salah satu alternative, untuk dikunjungi.
Stasiun ini, terletak di Jalan Ikan Paus, bersebelahan dengan Terminal Angkutan Kota Binjai. Terletak di kecamatan Binjai Timur, sesaat sebelum kita memasuki kota Binjai.  Berlokasi pada 3.6096LU dan 98.4978 BU, pada ketinggian +29.52 M dari permukaan laut.
Secara administrasi, Stasiun Binjai, berada pada Divisi Regional 1 Sumatera Utara dan NAD.
Pada masa Jayanya dulu, Stasiun Binjai adalah stasiun besar. Karena, dari Stasiun Binjai, perjalanan dapat diteruskan pada dua arah dengan kota yang berbeda, yakni percabangan menuju ke Besitang dan menuju ke Kuala. Namun, kedua jalur itu, kini sudah tidak difungsikan lagi. Kedua jalur persimpangan itu, hingga kini, masih dapat sisa-sisanya di sebelah utara Stasiun Binjai. Pada posisi sebelah utara Stasiun ini juga, masih dapat dijumpai sisa menara air dan sumurnya, berikut corong pipa pancuran, pengisi air untuk lokomtotif uap.
Melanjutkan perjalanan menuju kota Binjai, dengan menggunakan mobil pribadi, karena saya dijemput oleh seorang teman. Saya berpikir, jika saja kedua jalur KA ke Besitang dan Kuala dapat dihidupkan kembali, tentu sangat membantu mengurangi kemacetan di jalan raya, selain, sebagai bentuk penghargaan bagi generasi sebelum kita.  Tidak harus menambah jalur KA baru. Tetapi, paling tidak, mampu mempertahankan apa yang telah mereka rintis.
 
kondisi stasiun bagian dalam (dok. Pribadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar