Rabu, 16 September 2015

Kedai Kopi, ini Dunia Laki-laki Bung..!!!

kopi Aceh....maknyussss (dok.Pribadi)
Ketika Kompasianival tahun 2014, saya ketemu dengan Boss Penerbit Jentera Pustaka. Lelaki yang sayang keluarga dan Bapak yang baik untuk anak-anaknya. Kami ngobrol kesana-kemari, hingga beliau akhirnya bertanya tentang asal daerah saya. Ketika saya sebutkan asal daerah saya, beliau menyebutkan, jika beliau juga berasal dari daerah yang sama. Bahkan Kampung kecilnya, hanya terpisah Desa saja dengan saya.
Satu hal yang saya ingat dari pertemuan itu, beliau mengatakan, mengapa banyak penulis-penulis handal lahir dari daerah beliau? Jawabnya, dikarenakan adanya budaya “maota di lapau”.
Sebuah budaya ngobrol di warung kopi. Yakni, budaya bergaulnya para laki-laki setelah penat ke ladang atau sawah atau selepas Isya untuk sekedar melepas lelah, menghabiskan waktu sejenak di kedai kopi. Pada saat maota, segala topik dibicarakan, dikupas habis, hingga hal-hal yang kadang tak terpikirkan sebelumnya. Hal yang kadang menyerempet-nyerempet bahaya, meminjam istilah Sutan Batugana, “ngeri-ngeri sedap”. Dari budaya maota ini, jika bahasa lisan dalam pergaulan maota itu, dirubah menjadi bahasa tulisan, maka dengan mudah, menjadi sebuah tulisan.
Apakah benar analisa beliau? Wallahu A’laam. Benarkah budaya maota memberikan kontribusi akan lahirnya penulis handal? Saya sendiri kurang tahu. Tapi, satu hal yang pasti, dari daerah beliau, memang banyak lahir penulis-penulis handal.
Bahkan legenda Koran yang hidup hingga kini, Adinegoro berasal dari daerah beliau. Nama Asli Adinegoro adalah Djamaluddin gelar Datuak Marajo, lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904, meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 pada usia 62 tahun. Dari nama dan tempat lahir beliau, kita tahu darimana asal Adinegoro. Djamaluddin gelar Datuak Marajo adalah adik kandung dari sastrawan dan pejuang Muhammad Yamin.
Jika saja, saya tidak pernah ke Sumatera Barat, ke Sumatera Utara, atau daerah-daerah yang kental dengan Budaya Melayu-nya, juga kental dengan budaya maota atau dengan istilah lain pada daerah yang lain pula, seperti budaya Kombur-kombur di Sumatera Utara, saya tentu akan, beranggapan bahwa apa yang dikatakan Boss Jentera Pustaka itu, hanya ilmu yang digatuk-gatukkan saja. Sesuatu kebetulan, yang dicari-cari pembenarannya, dengan cara dipas-pasin.
Bukankah di Jakarta, juga kota-kota besar lain, ada warung kopi? Bahkan pada era delapan puluhan dan Sembilan puluhan ada istilah yang terkenal dengan coffe shop, dan pada era selanjutnya, dikenal warung kopi yang beken-beken seperti starbuck dll?  Bukankah pada warung kopi itu, juga dilakukan budaya maota?  
Pada kegiatan yang kasat mata, seakan-akan memang sama. Tetapi, secara prinsip, terdapat perbedaan yang mendasar. Pada warung kopi, katakan seperti coffee shop dan Starbuck, para pengunjungnya terdiri dari laki-laki dan wanita. Tujuan mereka datang, juga dengan berbagai alasan, mulai dari kencan, rendezvous, hingga kepentingan bisnis. Tetapi, pada kedai kopi untuk acara maota, pengunjung yang datang, seluruhnya lelaki, tujuannya hanya satu, sebagai ajang komunikasi sesama pengunjung, silaturahmi sesama anak negri, relaks sejenak. Tak ada kepentingan lain yang dituju selain itu.
Akibatnya, jika dalam budaya maota itu, diisi dengan pembahasan tertentu, maka semangat yang lahir disana, semangat mencari kebenaran, mencari informasi yang akurat berserta kajian yang mengiringinya tanpa kepentingan dan tujuan apa-apa. Sekritis dan setajam apapun kajian yang dibahas, semuanya hanya untuk konsumsi  mereka sendiri, tanpa ditunggangi dengan kepentingan diluar komunitas itu. apalagi dengan tujuan mencari keuntungan dibalik itu. Istilahnya Medannya, sekedar melepas suntuk.
Dipertengahan tahun delapan puluhan, ketika itu, saya yang masih aktif di dunia konstruksi, di kirim ke Medan untuk membangun sebuah Bank Swasta Nasional di sana. Di Medan inilah saya berkenalan dengan budaya “maota”.
Di kedai kopi yang seluruh pengunjungnya lelaki itu, suasana yang tercipta sungguh akrab, sesuai dengan namanya, kuliner yang tersedia terdiri dari kopi, biasanya kopi Aceh, yang cara pengajiannya, berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa, bubuk kopi tidak dimasukkan ke dalam gelas, lalu gelas dituang air panas. Melainkan, Kopi di masukkan ke dalam jaring yang khusus untuk itu, lalu air mendidih di tuang ke jaring yang sudah diberi kopi. Hingga air kopi yang masuk ke dalam gelas tidak mengandung bubuk kopi lagi. Sebagai teman dari kopi, biasanya ketan –dalam bahasa Melayu sering disebut dengan pulut-  dan pisang goreng.
Soal rasa, jangan ditanya, saya rasa, kopi Aceh adalah salah satu kopi ternikmat yang pernah saya rasakan. Suasana yang tercipta, luar biasa! Ada keakraban antar pengunjung disana. Pengunjung tidak terpisah berdasarkan status sosial, mulai rakyat jelata, seniman, hingga pejabat yang suka gaul dapat kita temui disana dan berbaur tanpa sekat-sekat.
Salah satu nama yang dapat saya sebut, yang akrab dengan dunia maota di lapau atau kedai kopi, adalah penulis handal dan sastrawan terkenal dari Medan yang bernama Zainudin Tamir Koto, yang lebih akrab disebut dengan Bang Zatako.
Lalu, jika ditanya, dimanakah kedai kopi yang saya maksud dalam tulisan ini? Saya sungguh sulit untuk menjawabnya. Karena kedai kopi itu, tersebar di banyak tempat, dibanyak daerah di seluruh daerah, mulai dari Aceh hingga Sumatera Barat. Luas wilayah, yang jika disatukan akan sama besarnya dengan Pulau Jawa.
Di awal tahun 2015, kembali saya terdampar di kota Medan, untuk urusan yang sama juga, saya ditugaskan untuk membuat proyek yang pemiliknya  Agung Podomoro Land di tengah pusat kota Medan. Kenangan akan kedai kopi pada tahun delapan puluhan itu, kembali hadir. Pada seorang teman yang seusia dengan saya, saya  tanyakan perihal keberadaan dan suasana kedai kopi itu. Sang teman, menjawab, masih ada. Meski ada sedikit perubahan lokasi, beberapa lokasi yang saya sebutkan tempo dulu itu, kini sudah ditumbuhi Mall dan Hotel berbintang serta beberapa kantor Pemerintahan. Namun, jika saja, kita mau sedikit bergeser agak kepinggir, tempat yang saya maksudkan masih ada.
Sejak saat itu, saya bersama teman Alamsyah Pasaribu, mulai kembali duduk di kedai kopi, merasakan nikmatnya dunia lelaki, dunia kombur-kombur, dunia maota, dunia kajian tentang segala hal, dari informasi yang sedang “in” dari segala hal.
Hingga, ketika jam hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, jam yang menunjukkan waktu berakhirnya kerja proyek, jika Alamsyah mendekati saya, lalu bertanya, apakah saya memiliki rokok, itu artinya, Alamsyah mengajak saya untuk maota di kedai kopi. Mengapa tanya rokok? karena maota di kedai kopi, teman yang akrab selain para pengunjung, adalah rokok, kopi, pulut dan pisang goreng.  Dari segi pengeluaran, maka rokoklah yang paling besar nominalnya, sekitar empat belas ribu, sedangkan kopi hanya empat ribu, pulut hanya seribu, demikian juga dengan pisang goreng yang seribu.
Pengeluaran yang kami keluarkan selain rokok, jika hanya untuk kopi, pulut dan pisang goreng paling banyak hanya kurang dari dua puluh ribu rupiah. Untuk menghabiskan nilai nominal yang kurang dari dua puluh ribu, kadang, kami memerlukan waktu tiga hingga empat jam.
Inilah budaya maota di lapau itu, dunia kombur-kombur, dunia kedai kopi, dunia lelaki bung!
Belakangan saya baru tahu, bahwa Alamsyah sohib saya itu, ternyata adalah ketua umum sebuah organisasi kepemudaan yang cukup disegani, dan belakangan Alamsyah baru tahu, bahwa dari kegiatan kami kombur-kombur di kedai Kopi itu, banyak tulisan saya lahir.




1 komentar: